
Entah sudah berapa lama aku berada di hutan Pinus ini, lalu tiba-tiba muncul dua orang, anak laki-laki dan perempuan yang usianya lebih tua beberapa tahun dariku.
"Hei, kamu siapa?" tanya anak laki-laki itu, sambil mendekat. "Kenapa di hutan sendirian? Bahaya lho, nanti ada babi hutan!"
"Babi?" aku langsung gemetaran membayangkan hewan yang pernah kulihat di kebun binatang Ragunan.
"Iya, biasanya di sini suka lewat babi. Makanya jangan main di sini!" ungkap anak laki-laki tersebut. "Kalau babi itu melihatmu, ia bisa menyeruduk mu!"
"Aku tidak sedang bermain!" ungkapku. "Aku takut!"
"Lalu kenapa ada di sini? Rumahmu di mana? Orang tuamu di mana?" tanyanya lagi.
Aku menggelengkan kepala. Sementara anak perempuan yang tadi berdiri agak jauh mulai mendekat.
"Kak Zein, ayo kita pulang!" ajaknya. "Hari sudah mau gelap, nanti Ibu Kepala marah."
"Tunggu sebentar Diana, kita bantu dulu anak ini!" katanya. "Oh ya, nama kamu siapa?"
"Anjani." jawabku.
"Aku Zein, dan ini Diana." ia mengulurkan tangan. "Kamu tidak tahu dimana ayah dan ibumu?"
Aku menggelengkan kepala. Lalu kak Zein berinisiatif mengajakku ke tempatnya sebab berada di sini sendirian sangat berbahaya untuk anak perempuan seumuranku.
"Kak, jangan bawa orang sembarangan. Lagipula di panti sudah terlalu banyak anak-anak, Ibu Kepala sudah kewalahan mengurus kita!" kata Diana.
"Tapi membiarkan Anjani di sini sangat berbahaya, Diana. Biar dia ikut dengan kita." Kak Zein membimbing tanganku.
"Kak Zein!" Diana yang semula tertinggal di belakang, segera berlari menyusul kami.
Kami berjalan cukup jauh, keluar dari hutan Pinus menuju sebuah bangunan yang sudah tua, mereka menyebutnya panti asuhan Dahlia.
Sampai di depan panti, kak Zein menyuruhku menunggu sebentar, lalu ia berlari ke dalam. Tidak lama kak Zein keluar bersama seorang perempuan paruh baya.
"Siapa namamu, Nak?" tanyabya yang kemudian ku panggil ibu kepala panti.
"Anjani." jawabku.
__ADS_1
"Kamu darimana?"
"Jakarta, Bu."
"Lalu kenapa sampai di sini? Apa kamu tersesat?"
"Ibu membawaku naik pesawat, katanya kami akan ke rumah Kakek. Lalu orang suruhan Kakek meninggalkanku di hutan pinus itu."
"Ya Allah ... mereka sudah membuangmu, Nak!" ibu kepala langsung memelukku. Sementara aku sendiri kebingungan memahami maksudnya. "Tunggu sebentar ya." ibu kepala masuk ke dalam, lalu keluar bersama seorang perempuan lagi.
"Nak, aku Bibi Desi. Mulai sekarang aku akan merawatmu. Kau akan tinggal di sini." kata bibi Desi.
"Kenapa begitu? Aku tidak ingin tinggal di sini. Aku ingin pulang. Aku ingin bersama Ayah dan Ibu." aku kembali menangis.
"Kamu itu harusnya bersyukur Ibu Kepala mengizinkanmu tinggal di sini. Bukannya berterima kasih, malah merengek. Menyusahkan saja!" umpat Diana.
"Diana!" bibi Desi menegurnya.
"Sayang, ayo kita masuk. Nanti kau bisa kena flu!" bibi Desi membimbing tanganku.
Panti ini terlihat sangat sederhana, hanya terdiri dari beberapa ruangan saja. Ruangan paling depan adalah tempat menerima tamu, di sebelahnya kantor ibu kepala dan kamar tidurnya. Di tengah ada ruangan kecil tempat anak-anak belajar, lalu tiga buah kamar tidur untuk anak-anak, kamar tidur bibi Desi, serta sebuah dapur sederhana dan dua buah kamar mandi.
"Nah, karena kamar tidur sudah penuh. Kau tidur di kamar Bibi saja," kata bibi Desi.
"Kenapa dia tidur di kamar Bibi? Ini tidak adil. Dari dulu aku minta tidur di kamar Bibi, tapi tidak diizinkan. Sedangkan anak ini langsung diajak!" Diana protes pada bibi Desi.
"Diana, lihat kamar tidur di sini sudah sangat penuh. Kalau Anjani harus tidur di sana, dimana kasurnya akan di letakkan?" ungkap bibi Desi.
"Kenapa dia tidak bertukaran denganku saja?" Diana masih belum terima. "Dia tidur bersama anak-anak yang lain. Aku dengan Bibi!"
"Tidak bisa. Aku yang menentukan, bukan kamu." bibi Desi langsung mengajakku masuk ke kamarnya, laku menutup pintu dari dalam agar Diana tidak bisa masuk.
Kamar bibi Desi tidak terlalu besar, hanya berukuran dua kali dua meter. Bibi Desi mengizinkanku untuk tidur di tempat tidurnya, sementara ia akan tidur di lantai dengan alas tikar.
"Ini untukmu, Anjani." bibi Desi memberiku sebuah boneka salju berwarna merah muda dan putih. Boneka itu langsung mengingatkanku pada boneka yang sama persis diberikan ibu pada saat ulang tahunku yang ketujuh.
"Boneka ini sama seperti boneka yang diberikan Ibu," ungkapku.
__ADS_1
"Oh Tuhan. Maafkan Bibi, Anjani. Bibi tidak bermaksud mengingatkanmu pada Ibumu. Bibi menghadiahkan ini supaya kau tidak bersedih lagi." bibi Desi memelukku.
"Bibi, apa Ayah dan Ibu akan menjemputmu? Apa mereka tahu aku ada dimana? Aku ingin pulang!"
"Bibi tidak tahu Anjani. Tapi selama kau di sini, Bibi akan menjagamu seperti seorang Ibu menjaga anaknya."
***
Sudah cukup jauh kami berjalan, ibu masih belum juga berhenti. Sementara kedua kakiku sudah sangat lelah. Ketika kami memasuki hutan pohon Pinus, aku pun mulai mengeluh karena sudah sangat lelah sekali.
"Bu, kita mau kemana? Anjani lelah. Ayo kita istirahat!" pintaku, sambil duduk di atas tanah. Sementara angin bertiup sepoi-sepoi, membuat penatku sedikit hilang.
"Anjani, ayo jalan. Sekarang bukan saatnya untuk istirahat!" kata ibu, sambil meraih tanganku. "Ayo cepat bangkit!"
"Tapi Anjani masih lelah,"
"Jani, kalau kamu tidak mau bangkit, ibu akan meninggalkanmu!"
Ibu mulai menghitung, tetapi aku tetap tidak bergerak. Hanya duduk di lantai sehingga membuat ibu geram.
"Baiklah kalau begitu. Kamu duduk di sini saja. Ibu akan meninggalkanmu!" kata ibu.
Ku kira ibu hanya bercanda, tetapi ibu benar-benar serius meninggalkanku. Ibu terus berjalan menjauh. Sementara aku masih melihat sambil tetap duduk. Saat ibu menghilang dari pandanganku, barulah aku tersadar bahwa ibu benar-benar pergi.
"Bu," panggilku.
Ibu tidak juga muncul-muncul meski aku sudah memanggil berkali-kali. Kuputuskan untuk bangkit, menyusul ibu ke arah saat ia pergi. Tapi tidak kutemukan ibu di sana. Sepertinya ibu benar-benar meninggalkanku.
Aku langsung panik, menangis memanggil-manggil ibu.
"Ibu maafkan Anjani. Jangan tinggalkan Anjani. Anjani janji akan menuruti Ibu!" panggilku.
Hari semakin gelap. Aku sangat takut, tapi tidak tahu harus berbuat apa selain berlari sambil memanggil-manggil ibu. Tiba-tiba aku terjatuh ke tanah saat kakiku tersandung akar pohon. Rasanya kedua kakiku sangat perih sehingga tidak bisa bangkit lagi.
"Ibu ... Ibu ... jangan tinggalkan Anjani!" ucapku, dengan suara lemah.
"Anjani ... Anjani ... bangun sayang!" seseorang mengguncang tubuhku, pelan. Saat kubuka mata, tampak wajah bibi Desi. "Kamu mimpi, nak?"
__ADS_1
"Ibu," aku menangis. Sementara bibi Desi memelukku erat.