Anjani Sayang

Anjani Sayang
Calon Ibu Angkat Yang Kedua


__ADS_3

"Anjani, benar kau tidak ingin jadi anak ibu?" tanya Bu Ratih


Setelah selesai mengobatinya, Bu Ratih mengajak kami makan bakso bersama. Aku dan Bu Ratih duduk di meja yang terpisah dengan kak Philip dan kak Zein agar kami bisa bicara secara leluasa.


"Maafkan Anjani, Bu. Anjani suka sama ibu, senang kalau ibu mau menjadi ibu Anjani. Tapi Anjani ingin pulang. Anjani ingin berkumpul dengan ayah dan ibu kandung Anjani." kataku, menjelaskan hati-hati pada Bu Ratih.


"Ibu mengerti sayang. Kau pasti rindu pada ayah dan ibumu. Tapi ...."


"Ayah dan Ibu Anjani pasti akan datang menjemput, Bu."


"Baiklah kalau begitu. Ibu mengerti. Ibu tidak akan memaksamu, Anjani. Tapi kau harus ingat satu hal, bahwa ibu sangat menyayangimu. Kapanpun kau mau, ibu siap menjadi ibumu. Ya Anjani."


"Baik ni, Anjani akan ingat itu." semangkok bakso dan es teh langsung ku habiskan dengan lahap. Kini beban itu sudah hilang.


Usai makan, kami bertiga pamit pada Bu Ratih setelah mengucapkan terima kasih. Sepanjang jalan aku berdendang riang sebab kini bisa menanti ayah dan ibu dengan tenang karena tidak akan ada yang mengambilku sebagai anak angkat.


"Anjani, Zein ... dari mana saja kalian, kenapa baru pulang?" tanya ibu kepala saat melihat kami masuk ke dalam panti.


Berbeda dari biasanya, ibu kepala terlihat sumringah saat melihatku. Ia bahkan mengajakku masuk ke dalam ruang kerjanya. Di sana ada sepasang suami istri sedang duduk di ruang tamu, ada bibi Desi juga.


"Anjani," panggil bibi Desi.


"Jadi ini yang namanya Anjani? Cantik sekali." tamu perempuan itu mendekatiku, ia langsung mencubit pipiku dengan gemasnya.


"Aww," aku meringis, menahan sakit bekas cubitannya. Ini namanya bukan gemas, tapi ia benar-benar mencubit ku dengan sekuat tenaga, bahkan kukunya meninggalkan bekas di pipi.


"Sakit ya sayang, maaf ya." Ia mengelus pipiku.


"Anjani, ayo beri salam pada bapak dan ibu Rianto. Mereka ini calon ayah dan ibu angkatnya." kata ibu kepala.


"Ayah dan ibu angkat?" aku langsung menggeleng. "Enggak, Anjani enggak mau. Anjani nggak mau diadopsi!" kataku. Lalu berlari ke dalam kamar, meninggalkan ibu kepala, bibi Desi dan sepasang tamu yang berniat mengadopsi ku.


"Anjani!" terdengar suara teriakan ibu kepala, tapi tidak ku hiraukan.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Aku tidak mau diadopsi. Aku mau tinggal di sini. Kalau mereka membawaku pergi, lalu bagaimana dengan ayah dan ibu. Mereka pasti bingung karena tidak menemukanku." tangisku pecah, rasa takut membuatku spontan bersembunyi di balik selimut.


"Anjani," bibi Desi masuk ke dalam kamar. "Anjani, kemarilah!" bibi Desi mengeluarkanku dari dalam selimut.


"Bibi," kataku, sambil berlinang air mata. "Anjani nggak mau diadopsi. Anjani mau tetap di sini!" aku merengek manja pada bibi Desi yang selalu menyayangiku.


"Jani sayang, bibi mengerti. Bibi pun tidak ingin kau pergi dari sini,"


"Kalau begitu katakan pada ibu kepala. Biarkan Anjani di sini bi. Anjani janji tidak akan membuat masalah. Anjani akan jadi anak yang manis." aku terus memohon, berharap bibi Desi mau menolongku.


"Tapi sayang,"


"Tolonglah bi. Anjani tidak mau dibawa pergi,"


"Ya Tuhan, bibi bingung." Bibi Desi memelukku erat. Kami saling menanis, sama-sama tidak ingin berpisah.


"Anjani ... Bu Desi!" panggil ibu kepala dari luar kamar.


"Apa yang kalian lakukan di sini. Bi, siapkan semua barang-barang Anjani, bawa ia segera keluar dari sini!" perintah ibu kepala. "Aku sudah menyetujui anak ini diadopsi oleh keluarga itu."


"Tapi ibu kepala, kenapa prosesnya cepat sekali. Apa tidak sebaiknya kita ...." bibi Desi mencoba menyanggah.


"Tidak ada tapi-tapi. Bawa ia segera keluar!"


"Enggak!" aku langsung berdiri. "Anjani enggak mau ibu kepala. Anjani punya ayah dan ibu!" tanpa mau mendengarkan jawaban ibu kepala, aku segera berlari keluar. Langkahku sempat terhenti karena berpapasan dengan kak Zein, tapi aku segera berlari keluar.


"Hei, anak itu ...." Perempuan yang ingin mengadopsi ku menunjuk aku yang berlari melewatinya menuju luar panti.


Aku berlari secepat mungkin, tanpa menghiraukan panggilan siapapun.


Lari Anjani ... lari. Jangan biarkan mereka membawamu dari sini. Satu-satunya yang boleh menjemputku hanyalah ayah dan ibu. Aku tidak ingin ikut dengan siapapun. Aku hanya ingin. Jadi anak ayah dan ibu.


Bruk. Langkahku terhenti karena tersandung akar pohon. Aku langsung terduduk di atas tanah. Luka yang tadi sudah diobati Bu Ratih kembali berdarah. Sakit sekali.

__ADS_1


***


Langit semakin gelap, udara pun menjadi semakin dingin. Di sini, siang hari saja sudah dingin, apalagi kalau sudah sore seperti sekarang ini. Biasanya orang-orang kelaut memakai jaket ataupun sarung, tetapi aku hanya memakai seragam sekolah yang sudah usang.


"Ayah ... ibu. Anjani akan menunggu di sini." kataku, dengan berurai air mata.


"Anjani ... Anjani ... Anjani!" panggilan itu menyadarkanku dari lamunan. Bukannya menjawab, aku buru-buru naik ke atas pohon Pinus dengan susah payah. Tidak ku hiraukan rasa sakit di lutut bekas tersandung tadi.


Apa bibi Desi, kak Philip dan kak Zein lalu lalang mencarimu. Tapi aku memilih tetap diam di atas pohon Pinus, berpegangan di atas dahan yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menopang badanku yang kecil.


"Anjani, keluarlah. Aku tahu kau di sini. Kau tidak ingin keluar? Kau tahu Anjani, kalau malam, ada banyak babi yang lalu lalang di sini. Kalau mereka melihatmu, bisa-bisa kau diseruduk. Tidak apa-apa, Anjani?" seru kak Philip.


"Kau bicara apa?" kak Zein, melihat ke arah kak Philip.


"Aku hitung sampai tiga ya. Kalau kau tidak mau keluar juga, maka kami akan pergi. Kami akan menganggap kau memilih tinggal di sini sendiri selamanya! Satu ... dua ... ti ...,"


"Ahhhh, jangan pergi!" aku menjerit dari atas pohon.


"Anjani!" panggil bibi Desi dan kak Zein bersamaan. Sementara kak Philip tertawa.


"Apa yang kau lakukan di sana. Ayo turun Anjani!" panggil bibi Desi dengan posisi siaga, siap untuk menangkap tubuhku.


"Anjani nggak mau turun!" kataku.


"Heh, kau bisa jatuh nanti, nak!" panggil bibi Desi lagi.


"Biarin. Biar saja. Semua orang ingin membuang Anjani!" aku bicara dengan mata berkaca-kaca. "Mungkin bagi kak Philip ini lucu, tapi aku benar-benar takut. Aku tidak mau lagi ke panti, ibu kepala pasti akan memberikanku pada orang tadi."


"Anjani, maafkan aku," pinta kak Philip. Ia tampak menyesal sudah menertawaiku.


"Sayang, kemarilah. Kita bicarakan semuanya baik-baik. Ayo turun. Bibi takut kau jatuh." Bibi Desi memintaku turun.


Meskipun masih takut, aku tetap turun sebab tangan dan kakiku sudah pegal menjaga keseimbangan di atas pohon.

__ADS_1


__ADS_2