
Hari ini pasti asuhan dibuat heboh dengan adanya berita bahwa Fiona, anak yang menggantikan aku diadopsi ternyata bernasib sangat tragis. Ia diambil dari panti ini bukan untuk dijadikan anak angkat seperti pengakuan mereka pada ibu kepala, tetapi dijadikan pembantu di rumah makan milik bapak dan ibu yang mengadopsinya.
Semua ini terbongkar karena ibu kepala sendiri yang mendapati Fiona sedang bekerja di rumah makan orang yang mengadopsinya. Untung saja ibu kepala mengadakan kunjungan pengecekan tanpa memberi kabar sebelumnya, kalau tidak entah bagaimana nasib Fiona.
Kini gadis berusia sepuluh tahun itu sudah kembali ke panti asuhan dengan kendisi yang sangat mengenaskan. Badannya tambah kurus, tangan dan kakinya penuh dengan luka-luka. Ia juga berubah jadi pendiam, takut dengan orang-orang sehingga ibu kepala harus memanggilkan psikolog untuk mengatasi traumanya.
"Ini semua gara-gara kamu Anjani. Andai kamu tidak menolak maka keadaan Fiona tidak akan seperti sekarang. Puas kan, kamu?" ungkap Diana padaku.
"Kenapa aku?" tanyaku.
"Ya, gara-gara kamu. Coba yang diadopsi itu kamu, pasti Fiona masih seperti yang dulu!"
"Jadi menurutmu tidak apa jika aku yang disiksa?"
"Ya tentu saja tidak apa-apa. Kamu malah senang, kapan perlu kau dibawa jauh dari hidup kami."
"Dasar jahat!"
"Hei, apa katamu?" tiba-tiba Diana menarik rambut panjangku hingga aku hampir terjatuh dibuatnya.
"Awww, sakit!" aku berteriak sambil berusaha melepas diri.
"Diana!" sentak bibi Desi. "Apa yang kamu lakukan pada Anjani. Kenapa menarik rambutnya seperti itu?"
"Dia mengatakan aku jahat bi."
"Memang benar, kan. Ini buktinya. Kau menarik rambut Anjani sampai ia menjerit kesakitan!"
"Aku menarik karena ia mengatakan aku jahat. Andai ia tidak bilang begitu, belum tentu aku akan menyerangnya. Bibi tidak adil sekali. Selalu saja membela Anjani. Hati-hati lho, sebagai pengasuh bibi harus adil pada semua anak asuh bibi!"
"Kata siapa aku tidak adil? Lagipula kau tahu apa tentang keadilan? Kau hanya anak kecil yang selalu iri pada Anjani. Iya, kan?"
"Tuh kan, bibi juga ikut-ikutan memojokkan aku."
"Sudahlah Anjaji, ayo kita masuk saja. Biarkan Diana sendiri." Bibi Desi menggandeng tanganku menuju kamarnya.
"Bi, bagaimana kondisi Fiona?" tanyaku, sesaat sebelum kami tidur.
"Dia masih trauma. Dari tadi menangis terus." jawab Bibi Desi yang hampir tertidur.
__ADS_1
"Bi, apa ia akan baik-baik saja?"
"Ya Anjani. Kamu kenapa?"
"Aku iba padanya. Apa ini semua karena salahku?"
"Tentu saja bukan. Semua adalah bagian dari takdir Allah. Harusnya kami sebagai pengurus teliti betul terhadap calon-calon orang tua asuh. Sebenarnya bibi juga bingung dengan ibu kepala, ia selalu memudahkan proses adopsi, alasannya sih keuangan panti yang terlalu kecil, tapi kan tidak melakukan hal yang membahayakan anak-anak juga."
Apa yang dialami Fiona membuatku makin takut kalau-kalau nanti ibu kepala tetap berusaha agar aku diadopsi. Entah kenapa aku takut jika tiba-tiba tidak bisa lagi mebgelak. Lalu bertemu dengan orang tua angkat sejahat yang mengadopsi Fiona. Entah bagaimana nasibku nantinya.
***
Kebencian ibu kepala padaku sepertinya terus bertambah setiap harinya. Itulah sebabnya aku lebih memilih mengurung diri di kamar bibi Desi agar tidak terlihat olehnya. Kalau kamu sampai bertatapan maka ibu kepala biasanya akan marah.
"Anjani, ibu kepala memanggilmu." baru saja aku memikirkannya, kini sudah dipanggil.
"Ada apa?" aku takut-takut, apalagi tidak ada bibi Desi di sini, mungkin sedang disuruh belanja.
"Cepatlah ke sana sebelum ibu kepala marah. Ia kan tidak suka padamu. Aku tidak mau dapat masalah karena kamu." kata anak yang memanggilku.
Di ruang tamu ibu kepala sudah ada seorang ibu bertubuh tambun ditemani oleh seorang perempuan yang lebih muda.
"Jalan-jalan kemana?" tanyaku.
"Tolong antarkan Bu Rini dan adiknya keliling Alahan Panjang. Melihat kebun teh dan kebun bunga." pinta ibu kepala.
"Iya nak, aku ingin jalan-jalan. Bisa, kan kamu temani?" kata ibu Rini.
"Tapi aku tidak terlalu hafal jalannya," kataku.
"Tidak apa-apa, cukup tunjukkan jalan yang kau tahu, nanti kita bisa tanya-tanya pada orang di jalan." ungkap Bu Rini.
"Nah Anjani, sekarang bawa beberapa lembar baju ganti juga ya." kata ibu kepala.
"Untuk apa?"
"Nanti kalian kan mau jalan-jalan, siapa tahu bajumu kotor kan ada gantinya. Apa kau tidak malu jalan-jalan dengan pakaian kotor."
"Oh iya, baik ibu kepala."
__ADS_1
Aku segera ke kamar, mengambil satu pakaian ganti, memasukkan dalam tas, lalu kembali ke ruang tamu panti untuk menemui ibu Rini.
"Kau sudah siap?" tanya Bu Rini.
"Iya, siap!" jawabku.
"Ayo naik!" ia membantuku naik di tempat duduk belakang, lalu mengunci pintu. Sebelum pergi aku sempat melihat Bu Rini memberikan amplop pada ibu kepala.
Bu Rini duduk di depan, adiknya yang mengemudi. Mobil melaju tidak terlalu cepat sebab jalanan yang cukup sempit.
"Kalau mau ke kebun teh, beloknya itu ke kanan ya." kataku.
Mobil terus melaju, meskipun tidak terlalu cepat. Aku langsung protes saat mobil tidak berbelok ke kanan.
"Kita mau kemana? Kebun teh di sebelah kanan." ungkapku.
Tidak ada jawaban, dua orang itu seperti tidak mendengar kata-kataku, meski aku protes hingga muncul kecurigaan dalam hati.
"Kalian mau membawaku kemana?" tanyaku lagi.
"Diamlah anak kecil. Lebih baik kau tidur dari pada berisik terus." ungkapnya.
"Aku tidak mau diam apalagi tidur kalau kalian tidak memberitahu kemana akan membawaku? Jangan-jangan kalian berbohong ya? Sebenarnya tidak mau ke kebun teh. Kalau begitu turunkan aku di sini!" pintaku.
"Berisik. Kalau kau bicara terus aku akan menyumpel mulutmu!"
"Aku akan adukan kalian,"
"Mau mengadu pada siapa? Kami sudah membelimu, jadi jangan banyak omong!"
"Tolong ... tolong ... tolong!" secara spontan aku langsung berteriak keras setelah berhasil membuka jendela mobil.
"Anjani ... Anjani ... Anjani!" dari belakang terdengar suara kak Zein memanggil, ia juga berlari mengejarku dengan sepedanya.
"Berhenti. Aku mau ketempat kak Zein!" pintaku.
Mobil masih melaju, tetapi tiba-tiba terhenti sebab orang-orang mencoba menghadangnya. Mungkin karena aku berteriak minta tolong, atau juga karena kak Zein memanggilku sambil berteriak-teriak penculik ke orang-orang.
"Hai, kalian siapa?" seorang bapak-bapak yang menghadang mobil mempertanyakan Bu Rini.
__ADS_1
Masa semakin banyak berkumpul. Ada yang membawa parang, kayu hingga cangkul. Mereka sangat marah saat mendengar penjelasan kak Zein bahwa dua orang perempuan ini ingin menculikku. Mungkin karena tidak mau ada masalah, mereka segera kabur setelah menurunkan aku