Anjani Sayang

Anjani Sayang
Malaikat Pelindung Pergi


__ADS_3

Aku nyaris terjatuh saat menabrak kak Zein yang tiba-tiba datang dari dalam. Untung saja ia sigap menangkap tubuhku.


"Maaf, aku tidak sengaja." kataku, khawatir mendapatkan masalah baru.


"Kau darima saja, kenapa baru pulang sekarang?" tanya kak Zein.


"Tidak dari mana-mana."


"Pergi dengan Philip, kan?"


"Anjani, kau baru pulang?" tiba-tiba ibu kepala keluarga dari kantornya.


"Iya Bu, aku tadi menyuruh Anjani membelikan sesuatu." jawab kak Zein.


"Oh begitu." ibu kepala kembali masuk ke kantornya.


"Untung saja kakak membantuku, kalau tidak aku bisa dapat masalah." kataku.


"Lain kali jangan diulangi. Aku tahu kau begini karena diminta oleh Philip kan? Tapi tidak masalah bagiku, sebab besok ia juga harus pergi."


"Kakak tahu kak Philip mau pergi?"


"Ya, dia akan terbang ke Paris."


"Dari mana kakak tahu?"


"Dari Philip. Ia sudah mengatakan sejak sebulan lalu."


"Apa?" aku tidak habis pikir, kenapa kak Philip merahasiakannya dariku, sedang pada orang lain ia sudah memberitahu jauh-jauh hari.


Sampai di dalam kamar aku menangis sejadi-jadinya. Besok, satu-satunya teman yang aku miliki akan pergi. Aku tidak akan bisa lagi melihatnya selama beberapa tahun ke depan. Lalu siapa yang akan menjadi temanku? Siapa yang akan membantuku ketika ada masalah?


***


"Anjani, tadi Philip memberikan surat ini untukmu." kata bibi Desi, saat masuk ke kamarku.


"Apa ini?" Aku membuka surat tulisan tangan kak Philip.


Anjani, aku tahu kau marah sebab aku bau mengabarimu tentang keberangkatanku. Tetapi sebenarnya aku sudah berusaha memberitahu, hanya saja aku tidak sanggup. Aku takut membuatmu cemas jika ingat bahwa aku akan pergi sebulan lagi. Maafkan aku Anjani.


Hari ini aku berangkat jam sepuluh pagi. Ku harap kau mau menemuiku di hutan Pinus sekarang. Aku benar-benar menantimu.

__ADS_1


Masih ada dua jam lagi, aku sengaja mengabaikan pesan dari kan Philip. Berusaha untuk tidak mempedulikannya agar ia tahu bagaimana rasanya tidak dianggap.


Setengah jam sebelum kak Philip berangkat, aku benar-benar dibuat bimbang, antara terus mendiamkan atau menemuinya. Aku takut tidak bisa bertemu dengannya lagi.


"Bi, aku pergi sebentar ya!" Kataku, bergegas pergi menyusul kak Philip.


Rumah milik kak Philip sudah kosong, kata pembantu yang bekerja di rumahnya ia baru saja pergi ke rumah kakaknya yang berada tidak jauh dari sini untuk pamitan. Saat aku hendak ke sana, tiba-tiba kak Zein muncul dengan motor bututnya.


"Ayo naik, kalau kau jalan kaki pasti akan terlambat!" kata kak Zein.


Motor melaju cukup kencang. Aku bahkan merasa mau jatuh saking kencangnya. Tapi usaha kak Zein tidak sia-sia karena akhirnya kami bisa bertemu dengan kak Philip.


"Anjani!" katanya. "Ku kira kau tak akan datang." ia tersenyum lega melihat kedatanganku.


"Bagaimana mungkin aku bisa melepas kepergian malaikat pelindungku tanpa mengucapkan salam perpisahan." kataku.


"Anjani, kau harus baik-baik saja. Tunggu aku kembali. Mengerti!" katanya.


"Hm," aku berusaha agar tak menangis meski sebenarnya dadanya sudah sesak.


"Oh ya, aku menitipkan sesuatu pada Laras. Tadinya mau kuberikan langsung padamu tapi kau tidak kunjung datang ke hutan Pinus."


"Anjani, aku harus pergi dulu. Zein, tolong jaga dia!" pinta kak Philip pada kak Zein.


Aku masih berdiri di tempat yang sama saat mobil kak Philip mulai meninggalkan kami, perlahan, hingga akhirnya hilang dari pandangan kami.


"Kenapa kak Philip menitipkan aku pada kakak. Kan kak Zein juga akan berangkat ke Jogja." kataku.


"Kata siapa?" ucapnya.


"Lho, bukannya begitu?"


"Sok tahu. Aku akan kuliah di Padang, bukan Jogja."


"Waktu itu aku mendengarnya."


"Tapi aku sudah membatalkan. Aku memilih Padang."


"Kenapa? Kan kakak ingin sekali kuliah di Jogja."


"Karena aku ingin tetap sering melihat kamu!" kata kak Zein sambil berlalu tanpa menghiraukan aku.

__ADS_1


***


Kini, aku dan kamu akan terbentang jarak yang sangat luas sekali. Aku di sini, dan kamu di sana. Kita dipisahkan oleh lautan yang amat jauh. Meski begitu aku percaya kau akan pulang. Kak Philip, kakak adalah pelindungku. Kakak yang selalu menjagaku selama ini, setelah ini aku akan menjaga diriku sendiri.


"Anjani, ini bingkisan dari Philip." kak Laras memberikannya padaku.


Aku membuka kotak yang ukurannya cukup besar. Ada sebuah handphone yang sengaja dibelikan untukku.


"Di dalamnya sudah ada kartu dan pulsanya. Kau bisa menghubungi Philip kapanpun kau mau." ungkap kak Laras. Ia juga memberikan alamat email kak Philip yang ditulis di selembar kertas glossy.


Malaikat pelindungku, ternyata kau tidak benar-benar pergi seutuhnya dariku. Kau selalu ada untukku. Meski jarak kita teramat jauh, kau berusaha menghapus jarak itu dengan menghadiahkan benda ini untukku. Aku benar-benar beruntung pernah mengenalmu.


"Kalau kau ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi aku. Meski aku tidak secekatan Philip, tapi aku siap membantumu kapanpun kau butuh aku siap. Philip adalah temanku, siapapun temannya adalah temanku. Jadi jangan sungkan." tambah kak Laras.


"Terimakasih banyak kak." aku berulang kali mengucapkan terimakasih. Beruntung sekali punya teman seperti kak Philip dan kak Laras.


***


[Anjani, apa kau sudah tidur?] pesan dari kak Philip masuk.


[Belum. Aku bingung memakai hp ini.] jawabku.


[Hahaha, kau tenang saja. Pakai perlahan, nanti lama-lama juga bisa.]


[Kakak sudah dimana?]


[Aku baru sampai di Jakarta.]


Mendengar kata Jakarta, aku langsung teringat ayah dan ibu. Andai Jakarta tidak luas dan tidak banyak penghuninya, mungkin aku sudah meminta bantuan kak Philip mencari ayah dan ibu. Tapi aku juga tidak tahu alamat lengkap rumahku di Jakarta.


[Apa kau memikirkan ayah dan ibumu?] tanya kak Philip.


[Iya. Andai kakak bisa menemukan mereka.]


[Anjani, aku akan berusaha mencari informasi sebanyak mungkin tentang ayah dan ibumu. Kau sabar ya.]


[Ya. Kakak juga konsentrasi dengan kuliahnya agar cepat lulus lalu kembali ke Jakarta.]


Aku tahu betul tentang mimpi kak Philip ke Paris. Selain ingin menuntut ilmu di sana, ia juga ingin menemukan ayahnya kembali. Kami memang sama-sama jauh dari orang tua kami. Makanya kami bisa seakrab ini karena persamaan latar belakang Sejak ayah dan ibunya bercerai, kak Philip tidak pernah lagi bertemu dengan ayahnya. Ia ikut pindah ke kampung ibunya. Namun, kak Philip tak pernah menyerah, ingin selalu menemukan ayahnya entah dengan cara apapun. Semangat itu selalu ditularkan padaku bahwa harapan itu masih ada selagi kita masih terus menjaganya.


Semoga kak Philip bisa segera ketemu ayahnya dan akupun bisa bertemu kedua orang tuaku sebab jauh dari mereka adalah sebuah siksaan yang amat berat.

__ADS_1


__ADS_2