
Saat malam tiba, seperti biasanya aku tidur di kamarku. Tapi tiba-tiba pak Jimmy masuk ke dalam
“Mas, apa mas mau tidur juga di sini?” tanyaku
“Apa kamu membolehkannya?” tanyanya dan akupun menggeleng
“Aku masih belum siap mas.” Sahutku
“Ya udah, aku ga apa-apa. Sebenarnya, aku datang ke sini itu cuma ingin mengucapkan selamat malam dan selamat tidur aja sama kamu.” Ucapnya sambil duduk di sebelahku
“Oh.. Aku minta maaf mas.” Ucapku sambil menunduk
“Ga ada yang perlu dimaafkan sayang. Aku melakukan ini, pasti aku sudah tahu konsekuensinya.” Ucapnya
“Sekarang kamu tidur, besok kita harus bangun pagi dan pergi ke kantor, ya.” Ucap pak Jimmy lembut sambil mengecup keningku
“Iya mas. Mas juga cepat tidur ya.” Ucapku
“Iya sayang..” ucap pak Jimmy
***
Keesokan paginya, aku bangun seperti biasa. Aku mandi dan ganti pakaian yang rapih yang sesuai dengan pegawai kantoran. Setelah selesai, aku keluar dan menemui Pak Jimmy yang ternyata juga sudah siap.
“Pagi sayang, bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak?” tanya pak Jimmy
“Nyenyak mas.” Sahutku sambil tersenyum
“Baguslah klo begitu. Sekarang kita sarapan dulu yuk.” Ucapnya
Lalu kamipun sarapan. Setelah selesai sarapan, kamipun langsung berangkat ke kantor.
“Zahra, mulai hari ini, Kamu yang akan duduk di kursiku ya.” Ucap pak Jimmy tiba-tiba saat di perjalanan
“Maksud mas apa?” tanyaku bingung
“Maksudku, mulai sekarang kamu akan membantu pekerjaanku menginput data sedangkan aku akan duduk di sebelah kamu mengerjakan proyek yang akan kami lakukan.” Jelas pak Jimmy
__ADS_1
“Oh begitu, baiklah mas.” Sahutku
“Tenang saja sayang, ini hanya untuk sementara kok. Setelah itu, kamu akan aku suruh kuliah lagi dan ga usah bantu aku di kantor.” Jelasnya
“Kuliah?” tanyaku bingung
“Iya, kuliah. Apa kamu tidak ingin kuliah?” tanya pak Jimmy
“Ingin sih mas, tapi..” aku ragu melanjutkan ucapanku
“Tapi kenapa sayang?” tanya pak Jimmy
“Tapi jangan sekarang ya mas. Aku masih ingin sekali bekerja dan dapat uang sendiri.” Ucapku membuat pak Jimmy mengrenyitkan dahi
“Maksudnya?” tanyanya bingung
“Begini mas, walaupun sekarang aku ini istrinya mas dan segala macam kebutuhanku, sudah mas yang tanggung, tapi aku masih merasa kurang nyaman. Tolonglah mas, mengertilah keadaanku saat ini.” Pintaku
“Hmm.. Baiklah sayang. Aku akan coba memahami keadaanmu. Tapi dengan satu syarat.” Ucapnya
“Syarat? Apa itu mas?” tanyaku bingung
“Hmm... Baiklah mas. Aku setuju.” Sahutku
“Bagus.” Ucapnya
“Nah, sekarang kita sudah sampai. Ayo kita turun.” Ucap pak Jimmy saat mobilnya sudah terparkir
Akupun lalu turun dari mobil. Kami berjalan beriringan saat masuk ke dalam kantor. Seperti biasa, orang-orang dalam kantor itu terlihat sangat sopan-sopan ketika bertemu dengan pak Jimmy.
Setelah sampai di dalam kantor, seperti biasa kamipun langsung mrngerjakan pekerjaan kami masing-masing.
Disaat yang sama namun di tempat yang berbeda, pak Doni sedang menunggu hasil penyelidikan bu Nia terkait dengan Ivestor yang kemarin ingin sekali menyalonkan diri untuk menjadi istri pak Jimmy
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya yang ditunggupun datang
“Permisi pak.” Ucap bu Nia sopan
__ADS_1
“Bagaiman bu dengan hasilnya?” tanya pak Doni yang sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui latar belakang dari investor itu
“Pak, ternyata bu Vanya itu sudah memiliki suami dan suaminya adalah pemilik sah dari perusahaan investor yang sedang bekerjasama dengan kita.” Jelas bu Nia
“Oh, jadi seperti itu. Baguslah klo begitu. O ya bu, apakah di ruangan ini ada CCTV nya?” tanya pak Doni
“Ada pak.” Sahut bu Nia
“Bagus, tolong copy kan aku satu saat kemarin bu Vanya ada di sini, ya.” Pinta pak Doni
“Baik pak, saya mengerti maksud bapak.” Ucap bu Nia
Setelah itu, bu Niapun pergi dan pak Doni hanya tersenyam senyum sendiri karena heran. Kenapa sampai ada seorang perempuan yang sampai segitunya kepada pria lain?!
***
Saat sore harinya, tiba-tiba bu Vanya datang lagi ke kantor pak Jimmy. Tapi sayangnya, dia tidak berhasil bertemu dengan pak Jimmy, karena pak Jimmy dan aku sudah pulang lebih awal
“Bagaimana? Apa kalian sudah menyampaikan amanat dari saya untuk Direktur kalian?” tanya bu Vanya
yang sudah dipersilahkan untuk duduk di ruang pertemuan
“Maaf sebelumnya bu. Kami belum sempat memberitahukan pesan ibu itu kepada Direktur kami.” Ucap pak Doni
“Kalian ini bagaimana sih? Dimintakan tolong seperti itu saja tidak bisa.” Ucap bu Vanya ketus
“Maaf bu. Sekali lagi maaf.” Ucap pak Doni
“Pokoknya saya ga mau tahu. Saya mau, anda telpon Direktur kalian sekarang juga.” Ucap bu Vanya dengan nada membentak
“Sebelum saya menelpon Direktur kami, ada hal yang ingin saya sampaikan terlebih dahulu pada ibu.” Ucap pak Doni
“Apa itu?” tanyanya
“Sebenarnya saya tahu klo anda ini adalah istri dari pemilik perusahaan investor yang sedang bekerjasama dengan kami, bukan?” ucap pak Doni
“A.. Apa anda bilang?” ucap bu Vanya tergagap
__ADS_1
Lanjut..👇