
Tanpa terasa 3 tahun pun telah berlalu dan selama 3 tahun itu pula, pak Jimmy belumlah menyentuhku. Sesuai dengan perjanjianku dengan pak Jimmy, aku pun berhenti bekerja dan memulai untuk kuliah.
Aku di daftarkan kuliah di salah satu Perguruan Tinggi ternama di kota A oleh pak Jimmy. Aku mengambil jurusan Bahasa sesuai dengan pelajaran yang aku kuasai selama ini.
Saat hari pertama aku kuliah, aku sangat bingung sekaligus gugup. Karena aku melihat orang-orang yang kuliah di sana itu seperti orang-orang dari kalangan elit atau kaya.
“Mas, apa mas tidak salah menguliahkanku di sini?” tanyaku ragu saat hendak turun dari mobil
“Tidak.. Tidak salah kok. Aku memang mendaftarkanmu di sini. Memangnya ada apa, Zahra?” tanya pak Jimmy
“Ini kan tempat kuliahnya mahal. Lagi pula tuh lihat. Mereka semua sepertinya orang kaya semua. Sedangkan aku ini bukan siapa-siapa.” Ucapku minder
“Tidak usah merasa minder seperti itu. Kamu kan istriku. Istri seorang Direktur, lho. Harusnya kamu itu percaya diri.” Ucap pak Jimmy
“Iya. Tapi kan mas lihat sendiri. Walau penampilanku ini juga tak kalah dari mereka, tapi rasa tidak percaya diri ini yang tidak bisa aku tutupi.” Keluhku
“Hehehe... Santai saja, Zahra. Aku yakin kamu bisa melewatinya.” Ucap pak Jimmy
“Ayo, sekarang aku akan mengantarmu ke ruang administrasi.” Ucap pak Jimmy lagi dan aku pun mengangguk
Kami pun akhirnya turun dari mobil dan berjalan menuju ruang administrasi. Dalam perjalanan, banyak sekali yang melihat ke arah kami
“Mas, kenapa mereka semua melihat kita seperti itu, ya?” ucapku lirih
“Sudah, tidak usah di hiraukan.” Ucap pak Jimmy
Saat sampai di ruang administrasi, pak Jimmy langsung mengurus semuanya. Sementara aku lagi-lagi melihat sekeliling.
“Pagi semuanya...” teriak salah satu dosen
“Pagi, pak Azka. Bahagia sekali. Baru dapat lotre ya, pak?” goda salah satu dosen
“Ah, ibu bisa saja.” Sahut pak Azka
Setelah menyahut seperti itu, tanpa sengaja pak Azka pun melihatku.
“Kayla?” ucapnya spontan dan ini bisa di dengar oleh pak Jimmy
“Mas Azka?” sahutku yang juga spontan
“Kalian sudah saling kenal?” tanya pak Jimmy bingung
“Iya, mas. Mas Azka ini anaknya temannya Almarhum ayahku.” Jelasku
“Oh.” Sahutnya singkat
__ADS_1
“Eh, tunggu sebentar. Maksudnya dengan Almarhum itu jangan-jangan pak Lutfi itu sudah meninggal?” tanya pak Azka memang tidak tahu tentang kabar terbaru orang tuaku
“Iya, mas. Mereka sudah meninggal 6 tahun yang lalu. Sepulang dari acara pernikahan kalian.” Jelasku
“Apa? Kenapa kamu atau kakakmu tidak memberitahukannya pada kami?” tanya pak Azka
“Kak Lucy melarangku memberitahukannya pada kalian.” Sahutku
“Astaga, Lucy. Kamu itu benar-benar, ya.” Ucap pak Azka kesal
“Lalu sekarang kabar kamu dan kakakmu bagaimana?” tanya pak Azka
“Kabar kami baik-baik saja, pak.” Sahutku dengan senyum membawa luka
“Oh, begitu. Syukurlah. Lalu ini siapa?” tanya pak Azka
“Oh, dia ini mas Jimmy, suamiku.” Sahutku dan pak Azka pun terkejut
“Suami?” tanya pak Azka heran
“Iya.” Sahutku
“Oh, begitu.” Ucap pak Azka singkat
“Ya sudah, pak. Aku pamit dulu. Nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi. Salam untuk semuanya.” Ucapku
Sesaat setelah berada di luar, pak Jimmy tiba-tiba menghentikan langkahnya
“Ada apa, mas?” tanyaku bingung
“Sebenarnya nama kamu itu Zahra atau Kayla? Dan Dosen tadi itu sepertinya baik. Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku kalau kamu masih memiliki kerabat jauh?” protes pak Jimmy
“Namaku yang sebenarnya adalah Kayla Azahra dan mereka itu hanya teman-teman baik Almarhum ayahku. Aku tidak ingin mengganggu mereka dan menyusahkan mereka.” Ucapku
“Kamu itu, ya? Jangan pura-pura tegar kalau kamu sendiri tidak sanggup menahannya. Ada kalanya seseorang itu membutuhkan orang lain untuk sekedar mendengarkan keluh kesahnya.” Ucap pak Jimmy
“Iya, mas. Aku tahu itu. Tapi aku benar-benar tidak ingin menyusahkan mereka.” Ucapku
“Baiklah kalau begitu. Jika itu yang jadi keputusanmu, aku hargai. Tapi aku minta sama kamu, tolong kalau di hadapanku, kamu jangan pura-pura tegar. Jika ingin menangis, maka menangislah. Jangan kamu tahan. Ok.” Ucap pak Jimmy
“Iya, mas. Terimakasih banyak.” Ucapku sambil tersenyum
Setelah itu, kami pun melanjutkan jalan kami. Setelah beberapa saat, kami berpisah. Dikarenakan aku harus memulai mata kuliahku yang pertama.
Sementara itu, rupanya pak Jimmy tidak langsung pulang. Dia kembali ke ruangan dosen.
__ADS_1
“Permisi, pak.” Ucap pak Jimmy
“Iya?!” sahut pak Azka yang saat itu tidak tahu kalau pak Jimmy ternyata kembali lagi
“Eh, maaf. Pak Jimmy rupanya. Ada apa, pak?” tanya pak Azka sopan
“Begini, pak Azka. Apa bisa kita bicara berdua di luar?” tanya pak Jimmy
“Oh.. Tentu saja bisa. Kebetulan sekali aku sedang tidak ada jam mengajar.” Ucap pak Azka
Tanpa banyak bicara, mereka berdua pun akhirnya bicara di taman kampus.
“Begini, pak. Maaf sebelumnya. Ada hal yang ingin sekali saya tanyakan.” Ucap pak Jimmy membuka pembicaraan
“Mau tanya masalah apa ya, pak?” tanya pak Azka bingung
“Hmm, begini. Apa benar kalau keluarga bapak dan keluarga Zahra eh maksud saya keluarga kayla itu berteman baik?” tanya pak Jimmy
“Iya. Bisa di bilang begitu. Orang tua kami adalah sahabat baik. Memangnya ada apa, ya?” tanya pak Azka bingung
“Maaf lagi nih, pak Azka. Bapak tahu tidak kalau beberapa tahun belakangan ini setelah orang tua Zahra atau Kayla meninggal, hidup Kayla itu sulit. Apalagi setelah dia di usir oleh kakaknya?!” ucap pak Jimmy
Pak Azka yang mendengar perkataan pak Jimmy pun sontak terkejut. Karena ternyata ada kejadian seperti itu.
“Pak Jimmy, saya sama sekali tidak tahu akan kejadian itu. Setelah acara pernikahanku waktu itu, keluarga kami memang sudah lost contact dengan keluarga Kayla.” Jelas pak Azka
“Lalu apa kalian tidak coba untuk mencari tahu tentang keadaan mereka?” tanya pak Jimmy
“Kami saat itu sudah mencoba berusaha untuk mencari tahu, namun tetap saja nihil. Rumah yang sempat di datangi oleh mertuaku pun ternyata sudah di jual oleh keluarga Kayla.” Jelas Pak Azka
“Memang kalian tidak bertanya lebih lanjut tentang kondisi keluarga mereka pada pemilik rumah yang baru?” tanya pak Jimmy
“Sudah kami tanyakan. Tapi mereka jawab rumah yang mereka beli itu ternyata pemilik yang ke empat. Jadi mereka tidak mengenal pemilik rumah yang pertama.” Jelas pak Azka
“Oh, jadi seperti itu ceritanya.” Ucap pak Jimmy
“Lalu bapak sendiri apa sudah lama mengenal Kayla?” tanya pak Azka
“Ya kalau di bilang sih sudah 3 tahun semenjak ada insiden pengusiran itu.” Sahut pak Jimmy
“Itu berarti bapak baru bertemu Kayla dengan kondisi yang seperti itu, langsung bapak ajak nikah?” tanya pak Azka tidak habis fikir
“Awalnya sih tidak seperti itu. Hanya saja, entah mengapa saat dia di sakiti oleh kakaknya, hatiku itu terasa pedih dan juga sedih.” Ucap pak Jimmy lalu pak Azka pun tersenyum
“Tetaplah pertahankan perasaanmu yang sekarang. Karena perasaan yang seperti itulah yang sedang di butuhkan oleh Kayla saat ini. Aku titip, tolong jaga adikku yang satu itu, ya.” Ucap pak Azka pada pak Jimmy dan pak Jimmy pun mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
Bersambung...