
Satu minggu telah berlalu, aku pun tidak tahu bagaimana keadaan pak Jimmy dan pak Rico sekarang. Karena sejak saat itu, pak Jimmy sama sekali tidak menghubungiku dan aku pun sulit menghubunginya.
Saat aku sedang memandangi diriku di depan cermin, tiba-tiba aku mendapat pesan pendek dari pak Jimmy yang isinya,
“Zahra, tolong bantu pak Doni di kantor. Dia kewalahan jika harus mengerjakan semuanya sendirian.”
Setelah selesai membaca pesannya, aku langsung mencoba menghubunginya. Namun ternyata tidak bisa.
“Kenapa begini, sih?! Aku kan ingin sekali tahu kabar mereka?! Ya sudah aku kirim balasan balik saja. Terserah mau di bacanya kapan.” gumamku.
Setelah itu pun aku langsung mengetik balasan pesan dari pak Jimmy. Isi balasan itu adalah..
“Mas, gimana kabarnya mas di sana? Apakah baik-baik saja? Lalu bagaimana keadaan pak Rico? Apakah sudah ada perkembangan dan sadar? Baiklah, mas. Aku akan membantu pak Doni sampai mas dan pak Rico kembali. Jangan lupa kasih kabar ke aku agar aku tenang.”
Pesan itu pun aku kirim. Walau dalam keterangan pesan bahwa pesan itu masih status menunggu (pending), tapi aku yakin bahwa pesan itu akan terkirim dan sampai.
Setelah mengirim balasan pesan pak Jimmy, aku pun langsung mandi dan siap-siap untuk ke Kantor. Untuk masalah kuliah, mungkin aku akan ambil kelas karyawan. Hitung-hitung seperti KKN.
Sesampainya di kantor, aku langsung mencari pak Doni. Setelah bertemu dengannya, aku langsung berkata, “Pak, apa kabar?”
“Hai, Zahra. Untunglah kamu akhirnya datang. Lihat nih suamimu. Selalu saja kasih aku kerjaan yang buat aku stres.” keluh pak Doni yang terlihat kusut. Sepertinya dia belum tidur dari semalam.
“Hehehe... Sabar, pak. Sini aku bantu. Mana yang perlu aku kerjakan?” ucapku.
“Seperti biasa, Zahra. Kamu mengimput semua data-data ini sekaligus mengkoreksinya. Aku khawatir kalau aku salah mengerjakannya.” ucap pak Doni.
“Baiklah, pak. Bapak sekarang lebih baik cuci muka, sarapan, setelah itu istirahat.” ucapku.
“Lha? Kok kamu tahu kalau aku belum sarapan dan cuci muka? Jangan-jangan kamu juga tahu kalau aku belum tidur dari semalam?!” ucapnya dan aku pun tersenyum.
“Wah... Hebat benar kamu, Zahra. Ya sudah, kalau begitu aku istirahat dulu.” ucapnya dan aku pun mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
***
Saat mendekati jam istirahat kantor, tiba-tiba datang seorang wanita yang aku sendiri tidak tahu siapa itu.
Dia pun datang menghampiriku dan berkata, “Kamu sedang apa di ruangan ini?”
“Aku kerja. Maaf, kalau boleh tahu anda ini siapa, ya?” tanyaku
“Aku ini tunangannya Direktur di sini.” Sahut wanita itu.
Mendengar jawaban wanita tersebut, sontak membuat aku terkejut. Apa mungkin selama ini pak Jimmy memang sudah berniat melepaskan aku dan menikahi wanita lain.
“Terus kamu sendiri, siapa?” tanya wanita itu.
“Oh, aku hanya karyawan biasa di sini.” sahutku.
“Kalau hanya karyawan biasa, kenapa kamu bisa ada di ruangan ini? Kemana Jimmy?” ucap wanita itu ketus
“Kenapa dia tidak cerita padaku? Lalu mana Doni?” ucapnya lagi.
“Oh, pak Doni mungkin sedang ada di ruangannya sekarang.” sahutku.
“Ya sudah, tolong panggilkan Doni sekarang. Ada yang perlu saya sampaikan padanya.” ucap wanita itu ketus.
“Baik, bu.” sahutku dan aku pun langsung memanggil pak Doni via telepon kantor.
Beberapa saat kemudian, pak Doni pun muncul dan terkejut lalu berkata, “Bu Ambar? Bagaimana kabarnya?”
“Halah, tidak usah basa basi. Ini tolong ya, perempuan kalau kerja jangan di ruangannya Jimmy.” ucap wanita itu yang ternyata bernama bu Ambar.
“Hmm... Tapi, bu...” ucapan pak Doni pun di potong oleh bu Ambar. Karena saat itu bu Ambar berkata, “Tidak ada tapi-tapian. Kamu tidak mau kalau hal ini sampai ketahuan oleh papiku?!”
__ADS_1
“Aduh, ini gimana? Bisa berabe urusannya.” gumam pak Doni lirih tapi cukup bisa aku menebak apa yang di katakannya.
“Ya sudah, pak Doni. Aku kerja di ruangan bapak saja kalau begitu.” ucapku sambil tersenyum.
“Apa tidak apa-apa jika begini, Zahra?” tanya pak Doni
“Tidak apa-apa.” Sahutku
“Hai, Doni. Kenapa kamu lebih takut pada wanita ini di bandingkan padaku? Memangnya di kantor ini, selain aku, siapa yang akan jadi nyonya bos di kantor ini, hah?” ucap bu Ambar yang benar-benar pedas.
“Bu—bu—bukan begitu, bu. Tapi pak Jimmy sendiri yang memerintahkan untuk dia bekerja di ruangan ini.” jelas pak Doni.
“Halah, omong kosong. Biar aku yang tanya langsung ke Jimmynya.” ucap bu Ambar yang langsung mengambil ponselnya di tas dan langsung menghubungi pak Jimmy.
Setelah beberapa saat, wajah bu Ambar terlihat sangat kesal sekali. Dia berkata, “Si Jimmy kemana dan ngapain sih? Kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi?”
Aku dan pak Doni pun saling tatap. Kami memang sama-sama tidak bisa menghubungi pak Jimmy. Tapi hanya pak Jimmy yang bisa menghubungi kami.
“Ya sudah. Sekarang kamu pindah ke ruangannya Doni. Biar nanti aku yang akan tanggung jawab ke Jimmy.” ucapnya sok berkuasa memberi perintah.
“Baiklah, bu. Aku akan pindah. Tapi sebelumnya aku minta ijin untuk mengkopi file pekerjaan yang tadi sudah saya kerjakan.” ucapku
“Ya sudah, sana. Jangan lama-lama. Ruangan ini mau saya kunci masalahnya.” Ucap bu Ambar sambil melipatkan ke dua tangan di depan dada.
“Baik, bu.” sahutku.
Setelah beberapa saat, aku pun selesai mengkopi file pekerjaan dan kemudian aku bersama pak Doni langsung pergi dari ruangan itu. Sementara bu Ambar pun ikut keluar dan langsung mengunci pintu ruangan.
Setelah berada di luar ruangan pak Jimmy, pak Doni berbisik padaku dan berkata, “Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Lebih baik sekarang kita cari tempat untuk mengobrol.”
“Oh. Ya sudah kalau begitu.” Sahutku yang kebetulan sekali bertepatan dengan waktu jam makan siang kantor.
__ADS_1
Bersambung....