Antara Pak Guru Dan Pak Direktur

Antara Pak Guru Dan Pak Direktur
Part 8


__ADS_3

Beberapa saat setelah sampai di dalam kantor...


‘tok.. tok.. tok..’ pintu di ketuk dari luar


“Ya masuk.” Ucap pak Jimmy


“Pak, Rapat akan segera dimulai 5 menit lagi.” Ucap Bu Nia sekretaris pak Jimmy


“Baik bu. Saya akan segera ke sana sekarang.” Sahut pak Jimmy


“O ya bu, sebelum saya ke sana, saya minta tolong panggilkan Pak Doni ke sini.” Perintah pak Jimmy


“Baik pak.” Sahut bu Nia


Setelah menunggu beberapa saat, pak Doni pun datang..


“Hai Jim, ada apa kamu nyuruh aku ke sini?” tanya pak Jimmy


“Oh begini, aku mau minta tolong ke kamu, tolong jagain calon istriku ini ya sampai aku selesai rapat.” Ucap pak Jimmy


“Calon istri? Sejak kapan kamu punya calon istri?” tanya pak Doni penasaran


“Udah, nanti aja aku ceritain. Aku buru-buru. Tolong ya.” Ucap pak Jimmy tanpa memberi kesempatan pada pak Doni untuk menjawab


“Ni orang satu kebiasaan banget sih. Main pergi gitu aja.” Gerutu pak Doni sementara aku sedang serius nginput data yang tadi disuruh pak Jimmy


“Eh, maaf, aku boleh kenalan ga?” tanyanya padaku tapi aku tidak menghiraukankannya


“Hallo... Aku boleh tau namanya ga nih?” tanyanya lagi tapi aku masih saja tidak menghiraukannya


“Lha buju buset dah ni cewe’ satu. 11 12 dah sama si Jimmy. Klop, cocok. Ga heran kalo mereka berjodoh.” Gumamnya tapi aku masih bisa dengar

__ADS_1


“Eh, maaf, tadi bapak ngomong sama aku ya?!” tanyaku yang baru sadar klo di ruangan itu ada orang lain yang sedang ngajak ngomong


“Gubrak.. Hadeuh...” gumam pak Doni


“Iya tadi aku nanya ke kamu, nama kamu siapa?” tanya pak Doni


“Oh, namaku Zahra. Bapak sendiri siapa?” tanyaku


“Kenalkan, namaku Doni. Aku sahabat sekaligus wakil Direktur di kantor ini.” Jelasnya


“Oo... Eh tunggu.. Tunggu.. Tunggu... Bapak wakil Direktur?” tanyaku dan diapun mengangguk


“Trus apa Direktur tidak marah klo bapak ada disini?” tanyaku polos


“Ngapain juga dia marah. Kan yang nyuruh aku disini tuh dia.” Sahut pak Doni


“Yang nyuruh pak Direktur?” tanyaku yang masih saja oneng


“Berarti pak Jimmy juga deket banget ya sama pak Direktur?” ucapku polos


“Gubrak..” Tiba-tiba pak Doni yang tadinya duduk di bangku, sekarang jadi duduk di lantai


“Pak, bapak kenapa?” tanyaku heran


“Hadeuh Jimmy.. Jimmy.. Apa kamu ga salah pilih cewe buat jadi istri?! Kenapa oneng begini sih?!” gumamnya dalam hati


“Pak, bapak kenapa? Sini aku bantu bapak berdiri.” Ucapku sambil menolongnya berdiri


“Terimakasih.” Ucapnya setelah berdiri dan duduk di bangku lagi


“Kamu memang benar-benar ga tahu ya siapa Jimmy dan juga siapa Direktur disini?!” tanyanya

__ADS_1


“Ga.” Sahutku singkat


“Oh ya ampun Jimmy.. Jimmy.. Anak orang tega lo mainin kaya begini.” Ucap Pak Doni


“Maksud bapak tadi apa ya?” tanyaku bingung


Saat aku sedang menunggu penjelasan dari pak Doni, tiba-tiba...


“Maksudnya kamu itu hanya dibuat mainan saja oleh Jimmy.” Ucap bu Wendy yang tiba-tiba saja masuk


Aku yang mendengar hal itu tiba-tiba sangat down dan frustasi.


“Jadi selama ini, apa yang dilakukan pak Jimmy itu hanyalah sebuah kebohongan saja?!” gumamku dalam hati


“Awalnya memang dia selalu seperti itu dengan wanita manapun yang dia mau. Tapi saat dia sudah puas dengan wanita itu, dia langsung membuang wanita itu jauh-jauh dari kehidupannya.” Tambah bu Wendy lagi


“Cukup..!! Aku bilang cukup..!!” teriakku dan pergi sambil menangis


Aku sudah ga peduli lagi. Aku sungguh sudah ga peduli lagi


“Nona Zahra, anda mau kemana?” teriak bu Nia namun tidak aku hiraukan


Mengetahui hal itu, bu Nia langsung melaporkannya pada pak Jimmy


“Pak, maaf mengganggu. Nona Zahra pergi, pak, sambil menangis keluar dari ruangan bapak.” Ucap bu Nia


“Apa?” tanyanya terkejut


“Ya sudah. Rapat hari ini kita akhiri dulu.” Ucap pak Jimmy yang langsung keluar dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Lanjut...👇

__ADS_1


__ADS_2