Antara Pak Guru Dan Pak Direktur

Antara Pak Guru Dan Pak Direktur
Part 30 the last part


__ADS_3

Tak terasa 2 tahun sudah berlalu. Kini usiaku sudah memasuki 27 tahun. Selama dua tahun ini, kehidupanku biasa-biasa saja dan tidak ada yang spesial. Namun walau biasa-biasa saja, aku cukup bahagia dan tidak ada beban.


Sesekali aku pun melihat keadaan kakakku di RSJ. Aku sudah mulai bisa melepaskan dan melupakan semua yang telah terjadi selama ini.


Dan hari ini, tepat di mana sudah dua tahun telah berlalu. Semenjak kejadian-kejadian waktu itu, kini aku sudah banyak memahami arti kehidupan dan juga arti kebahagiaan serta kesedihan.


Di tempat ini, sudah banyak sekali yang aku kenal. Mereka semua baik padaku. Ketika aku sedang dalam kesulitan, mereka dengan senang hati membantuku.


Dan malam ini adalah malam di mana rasa dalam tubuh ini terasa sakit semua. Mungkin karena banyaknya pelanggan yang makan di rumah makan tempatku bekerja.


“Lelahnya...” gumamku sambil memukul pundakku dan berjalan menyusuri pinggir jalan.


Ketika aku sedang tidak fokus berjalan, tiba-tiba...


“Bruk..”


Aku menabrak seseorang. Namun, saat itu aku yang terjatuh. Orang itu pun menolongku berdiri sambil berkata, “Kamu tidak apa-apa?”


“Tidak... Apa.. Ap..” ucapanku tidak aku lanjutkan karena aku terkejut. Ternyata yang aku tabrak tadi, pak Jimmy.


Aku pun langsung berbalik badan. Berharap dia tidak jelas melihat siapa aku.


“Zahra?” tanyanya.


“Maaf, anda salah orang. Saya bukanlah orang yang anda maksud.” Sahutku sambil hendak pergi meninggalkannya.


Namun, ternyata tanganku langsung di raihnya dan di tariknya. Sehingga membuat aku berbalik dan menjadi ada dipelukannya.


“Kamu mau kemana lagi?” tanyanya dan aku pun menunduk sambil terdiam.


“Zahra, sebegitu tidak sukanya kamu melihatku sampai-sampai kamu hendak kabur lagi?!” ucapnya dan aku pun masih saja terdiam.


“Ya sudah, sekarang ikut aku.” perintahnya sambil menggandeng tanganku.


Aku pun hanya bisa mengikutinya saja. Lalu dia membawaku ke suatu tempat yang sedikit sepi.


“Zahra, lihat aku! Kamu kenapa waktu itu pergi meninggalkan aku? Kenapa kamu tidak menunggu sampai aku datang? Kamu tahu?! Selama 2 tahun ini aku tuh selalu mencarimu kemana-mana. Tapi aku selalu saja gagal. Dan sekarang... Ketika aku menemukanmu, kamu malah menghindariku. Zahra, tolong... tolong kamu beri aku penjelasan.” ucapnya memohon padaku.


“Pak... Maaf.” ucapku lirih


“Apa tadi kamu bilang? Pak?!” tanyanya dan aku pun mengangguk.


“Hadeuh, Zahra. Kamu kenapa memanggilku pak, sih?” protesnya.


“Hmm... Karena... Ka—ka—karena... Hmm... Aku dan bapak tidak ada hubungan apa-apa lagi.” ucapku lirih.


“Apa? Maksud kamu apa dengan tidak ada hubungan apa-apa lagi?” tanyanya bingung sekaligus heran.


“Hmm... Bukannya kita sudah cerai?” tanyaku.

__ADS_1


“Ya ampun, Zahra. Dengar, ya. Kita itu tidak pernah cerai. Kamu itu masih tetap istriku.” ucapnya sambil memegang ke dua lengan tanganku.


“Ha?!” ucapku spontan


“Zahra... Surat permintaan cerai yang kamu titipkan pada pak Doni itu sama sekali tidak aku ACC. Aku malah merobeknya saat itu juga dan membuangnya ke tong sampah.” jelas pak Jimmy.


“La—lalu?” tanyaku.


“Lalu apa, sayang?” tanyanya.


“Lalu, bagaimana dengan pak Rico?” tanyaku.


“Oh... Dia, ya?! Hmm... Saat itu keadaannya mulai stabil dan dia pun sempat sadar. Ketika dia sadar dia menitipkan sebuah surat untukmu dan juga dia pun memberikan seluruh saham yang dia miliki padamu.” jelas pak Jimmy.


“Surat? Lalu pak Riconya di mana, sekarang?” tanyaku.


“Dia... Hmm... Dia sudah meninggal satu hari setelah dia menitipkan surat itu padaku.” ucap pak Jimmy lirih.


Mendengar hal itu, tiba-tiba kakiku lemas. Aku pun langsung terduduk di trotoar jalan.


“Zahra, kamu tidak apa-apa?” tanyanya khawatir


Aku hanya diam saja dan tak terasa air mataku mengalir. Pak Jimmy yang tahu aku begitu syok pun akhirnya memelukku membuatku semakin tak kuasa menahan tangis.


Ketika aku sudah tenang, aku pun di ajak pulang oleh pak Jimmy.


Sesampainya di rumah, pak Jimmy langsung membawaku ke kamarku yang dulu aku tempati.


Kini tinggal lah aku sendiri di dalam kamar. Lalu aku pun duduk di pinggir tempat tidurku dan membuka surat dari pak Rico.


Isi surat itu adalah...


“Kayla sayang... Di saat kamu membaca surat ini mungkin aku sudah tidak bisa bersamamu lagi. Maafkan aku karena selama ini sudah banyak meragukan kesetiaanmu padaku. Namun, Kayla... Lebih baik mulai saat ini kamu jangan lagi bingung dengan perasaanmu sendiri. Aku tahu, sebenarnya cintamu untukku itu sudah tidak ada lagi. Sekarang, di hatimu sudah ada Jimmy. Jadi tolong... Jangan ingkari perasaanmu sendiri dan terimalah kenyataan atas kepastian cintamu sendiri.


Kayla sayang... Walau saat ini aku tidak bersamamu lagi. Tapi cintaku selalu ada untukmu melalui adikku. Tolong jaga dia dan juga sayangi dia. Kini hanya kamulah keluarganya. Aku mohon... Kalian berbahagialah demi aku.”


Membaca isi surat itu, hatiku seperti teriris pisau. Pedih sekali. Lagi-lagi air mataku menetes tak tertahankan.


“Pak Rico... Sungguh baiknya dirimu. Terimakasih... Terimakasih banyak.” ucapku lirih sambil menangis sesenggukan.


***


Keesokan paginya, aku bangun pagi-pagi sekali hendak berangkat kerja, namun lagi-lagi tanganku di tarik oleh pak Jimmy.


“Sayang... Kamu mau kabur kemana lagi?” tanyanya


“Ish... Siapa juga yang mau kabur?! Aku tuh mau kerja, mas.” ucapku.


“Kerja?! Di mana?” tanyanya

__ADS_1


“Di sebuah rumah makan, tidak jauh dari tempat semalam kita bertemu.” ucapku


“Oh. Ya sudah, aku antar.” ucapnya yang langsung menarik tanganku tanpa bertanya padaku dulu mau apa tidaknya.


Dalam perjalanan, kami hanya saling diam saja. Tidak ada salah satu dari kami yang memulai untuk bicara duluan.


Sampai akhirnya kami pun sampai di rumah makan tempat aku kerja. Di saat aku turun, dia pun ikut turun.


“Mas? Mas untuk apa ikut turun?” tanyaku


“Ya aku mau ikut kamu kerja lha.” Ucapnya dengan ringan sambil melangkahkan kaki masuk terlebih dahulu ke dalam.


“Eh? Hei, mas...!!” panggilku namun tak di hiraukan oleh pak Jimmy.


Saat di dalam, lagi-lagi aku merasakan hal yang sama seperti saat pertama kali aku masuk kantor pak Jimmy. Aku pun langsung melihatnya dengan tatapan curiga.


“Apa, sayang? Kok melihatku seperti itu?” ucapnya yang aku tahu sebenarnya dia sedang menahan tawa.


Lalu dari arah dalam, tiba-tiba...


“Oh, Zahra. Aku sangat rindu sekali padamu.” ucap orang itu yang ternyata pak Doni.


“Pak... Pak Doni?” tanyaku bingung


“Iya, ini aku. Bagaimana? Mudah-mudahan mulai detik ini, kamu betah jadi nyonya bos di sini.” ucap pak Doni.


“Ha? Nyonya bos? Ini tuh sebenarnya ada apa?” tanyaku bingung.


“Sayang... Mulai detik ini, rumah makan ini adalah milikmu sekaligus mahar untukmu.” ucap pak Jimmy lirih di samping telingaku


“Ha?” ucapku percaya tidak percaya.


“Zahra, mulai saat ini... Boleh tidak aku menjadi suamimu yang sesungguhnya?” tanyanya sambil berlutut dan membuka sebuah kotak yang berisikan sebuah cincin.


Melihat pak Jimmy seperti itu, tiba-tiba jantungku berdetak sangat cepat. Entah mengapa tapi ini berisik sekali.


“Hmm... Bagaimana dengan bu Ambar?” tanyaku


“Jangan hiraukan dia. Dia sudah tidak ada apa-apanya lagi. Dan saham ayahnya pun sudah di beli oleh pak Doni.” ucap pak Jimmy yang melirik ke arah pak Doni dan pak Doni pun berkata, “Hehehe... Keren, kan?”


“Astaga... Masih belum berubah.” gumamku dalam hati.


“Zahra, lalu bagaimana jawabanmu?” tanyanya lagi sambil masih berjongkok.


Aku yang melihat kesungguhannya dan juga kesabarannya menungguku membuat aku berkata, “Hmm... Baiklah, mas. Mas boleh menjadi suamiku yang sesungguhnya.”


Mendengar jawabanku, dia pun langsung spontan memelukku sambil berkata, “Terimakasih... Terimakasih banyak, sayangku.”


Dan setelah kejadian itu, kini kami sudah menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya. Kami pun sudah di beri keturunan. Seorang anak laki-laki yang tampan dan juga pandai. Kami sepakat memberikan nama Riza yang artinya Rico dan Zahra.

__ADS_1


Ya walaupun ini anak kandung pak Jimmy, tapi justru nama ini adalah nama yang di buat sendiri oleh pak Jimmy sendiri.


****TAMAT****


__ADS_2