Antara Pak Guru Dan Pak Direktur

Antara Pak Guru Dan Pak Direktur
Part 22


__ADS_3

Keesokan harinya, aku berangkat ke kampus seperti biasa dengan di antar oleh pak Jimmy.


Sesampainya di pintu gerbang, aku pun turun dan tak sengaja bertemu dengan pak Rico.


“Pagi, pak.” Ucapku


“Pagi juga, Kay.” Sahut pak Rico sambil tersenyum sementara pak Jimmy yang ada di dalam mobil pun membunyikan klakson agar pak Rico menoleh ke arahnya


“Mas, titip Zahra, ya.” Ucap pak Jimmy dalam mobil


“Ok.” Sahut pak Rico dan pak Jimmy pun langsung pergi. Sementara aku...


“Apa sih, kalian berdua ini?!” gumamku dan ini masih bisa di dengar oleh pak Rico


“Hihihi... Ya sudah, ayo. Sekarang kita masuk.” Ucapnya sambil merangkul pundakku


“Ish, pak. Apaan sih ini?! Kenapa tangan bapak merangkul pundakku?” protesku


“Halah.. Cuek saja. Ayo, ah.” Ucapnya yang masih tetap saja merangkul pudakku


Ternyata di saat yang bersamaan, Kak Lucy melihat sikap pak Rico ke aku.


“Awas kamu nanti. Kita lihat saja siapa yang akan mendapatkan pak Rico.” Ucap kak Lucy dengan penuh amarah


***


Sesampainya di dalam kampus, aku bertemu dengan Yeni, temanku.


“Hai, Yen. Pagi.” Sapaku


“Pagi juga, Zahra.” Sahut Yeni


Aku pun tersenyum. Sementara tangan pak Rico pun masih melingkar di pundakku


“Kalian?” ucap Yeni sambil menunjuk ke arah kami berdua karena bingung dan juga heran melihat aku dan pak Rico seperti itu


“Eh, ini. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Yen.” Ucapku yang langsung berusaha menurunkan rangkulan tangan pak Rico


“Hehehe...” ucap pak Rico cengar cengir


“Sudah ya. Kalau begitu bapak ke kantor dulu.” Ucap pak Rico dan kemudian pergi sedangkan aku hanya tepok jidat


“Hai, Zahra. Apa kamu tidak mau menjelaskan sesuatu?” tanya Yeni

__ADS_1


“Menjelaskan apa, Yen? Sudah, ah. Yuk kita ke kelas.” Ucapku sambil melangkah meninggalkan Yeni yang menunggu jawaban dariku


“Hai, Zahra..!!! Lha dia malah pergi.” Gumam Yeni yang kemudian mengejarku.


***


Saat Istirahat, aku pun mengajak Yeni untuk makan di kantin kampus. Ternyata, lagi-lagi tidak sengaja aku bertemu dengan pak Rico.


“Kita berjodoh ya, Kay?!” ucap pak Rico sambil tersenyum sumringah


“Ya ampun. Kenapa aku harus bertemu dengan pak Rico lagi sih?” batinku sambil menunjukkan senyumku yang terpaksa.


“Apa bapak boleh duduk juga di sini?” tanya pak Rico


“Oh. Tentu saja boleh, pak. Silahkan.” ucap Yeni


“Terimakasih.” sahut pak Rico sambil tersenyum


“Eh iya, Kay. Tadi suamimu barusan telepon kalau dia hari ini tidak bisa menjemputmu pulang. Jadi dia memintaku untuk mengantarmu.” Ucap pak Rico


“Ha? Kok dia tidak langsung telepon aku sih? Kenapa juga harus minta tolong sama bapak?!” celetukku


“Mana aku tahu, Kay?! Lagipula memangnya kamu tidak suka ya aku antar pulang?” tanya pak Rico


“Ya sudah, Kay. Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Kamu tidak usah khawatir untuk masalah itu karena aku tak akan membiarkan itu terjadi. Ok?!” ucapnya yang membuat Yeni merasa bingung


“Ta—ta—tapi, pak. Bapak kan sekarang sudah tahu semuanya. Kalau misal Kak Lucy nekat, bagaimana?” tanyaku yang merasa takut akan sifat kak Lucy


“Sudahlah, Kay. Aku bilang tidak apa-apa, ya tidak apa-apa. Kamu tidak usah mengkhawatirkan hal itu.” ucap pak Rico yang mencoba meyakinkanku dan akhirnya aku pun mengangguk pelan.


Sementara itu, Yeni masih saja bengong memperhatikan sikap kami berdua.


“Kay, sepertinya temanmu ini sedang merasa bingung.” ucap pak Rico dan aku pun langsung spontan menengok ke arah Yeni


“Yen, kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu bengong begitu?” tanyaku memastikan


“Eh, iya. Aku tidak apa-apa, Zahra. Cuma...” Yeni tidak melanjutkan ucapannya.


“Cuma apa, Yen?” tanyaku lagi


“Hmm... Cuma aku bingung dengan apa yang sedang kalian bicarakan.” ucapnya dengan nada ragu-ragu


“Oh, masalah tadi. Begini... Pak Rico ini adalah kakak dari suamiku yang berarti kakak iparku dan kak Lucy adalah kakak kandungku yang juga menyukai pak Rico. Namun, kakakku itu memiliki cemburu yang sangat besar. Oleh sebab itu, aku merasa khawatir kalau nanti aku diantarkan pulang oleh pak Rico ini, tiba-tiba kakakku itu melihatnya. Bisa habislah aku.” jelasku

__ADS_1


“Oh... Jadinya cemburu buta, donk.” Ucap Yeni dan aku pun mengangguk


“Ya... Mungkin bisa di bilang begitu.” Ucapku


“Oo...” sahutnya singkat


Setelah mengobrol-ngobrol sebentar dan juga makan, kami pun kembali ke tempat kami masing-masing. Pak Rico kembali ke kantor, sedangkan aku dan Yeni pun kembali ke kelas. Karena memang kami berdua masih memiliki satu mata kuliah lagi.


***


Tak terasa sangat cepat sekali jam berlalu. Kini saatnya untuk pulang sekolah. Namun saat hendak meninggalkan kelas, tiba-tiba aku mendapatkan pesan singkat yang isinya,


“Kay, tunggu aku di pintu gerbang. Aku akan ambil mobilku dulu.”


Sesuai dengan isi pesan tersebut, akhirnya aku pun menunggu pak Rico di pintu gerbang kampus sementara Yeni sudah di jemput oleh pacarnya.


Saat sedang menunggu pak Rico, tiba-tiba kak Lucy datang dan langsung berkata, “Eh perempuan tidak tahu diri. Buat apa kamu masih ada di kampus ini? Kan sudah aku bilang untuk jauhi dia. Apa kamu tidak juga mengerti atau jangan-jangan kamu tidak paham bahasa manusia?”


“Ya ampun, kak. Kakak kok begitu sih? Tega bicara seperti itu sama adik sendiri. Datang-datang langsung marah tidak jelas begitu.” ucapku


“Ha? Adik tadi kamu bilang? Maaf, ya. Aku sudah tidak merasa punya adik lagi tuh semenjak dia kabur dari rumah.” ucap Lucy sinis dan ini juga dapat di dengar oleh orang-orang yang ada di tempat itu.


“Kak... Aku itu tidak pernah kabur dari rumah. Aku itu bukannya di usir oleh kakak?!” ucapku tak mau kalah


“Halah... Maling mana ada yang mau ngaku. Kamu itu, ya. Bisanya hanya lempar batu sembunyi tangan saja.” ucapnya ketus


“Kak... Kakak itu benar-benar tega, ya. Bisa-bisanya mengatakan itu.” ucapku sambil berusaha menahan air mata


“Kenapa? Kamu malu ya kalau hal ini sampai ketahuan oleh orang-orang?” ucap Lucy


“Kak... Kakak maunya apa, sih?! Kok sampai sekarang, kakak selalu saja membuat hidupku menderita?” tanyaku putus asa


“Kamu benar mau tahu aku maunya apa dari kamu?” bentaknya dan aku pun mengangguk


“Aku minta sama kamu, kamu berhenti kuliah di kampus ini dan jauhi dia.” ucap Lucy


“Baik. Aku akan menjauhinya tapi aku tidak bisa berhenti dari kampus ini.” ucapku


“Apa kamu bilang?! Kamu tidak mau berhenti dari kampus ini?” suara Lucy meninggi dan tangannya pun hendak menamparku


Namun, ketika Lucy hendak menampar tanganku. Tiba-tiba...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2