
Setelah satu bulan telah berlalu, keadaan pak Jimmy pun sudah berangsur-angsur pulih. Namun, satu bulan itu juga kami masih belum mendapatkan kabar apa-apa mengenai keadaan pak Rico.
Semenjak saat itu, aku atau pun pak Jimmy, sama-sama merasakan ada yang telah hilang dalam hidup kami. Tapi, aku tahu. Pak Jimmy pasti sedang berusaha keras untuk menutupi itu semua dariku.
Aku pun kuliah seperti biasa. Sementara pak Jimmy pun sibuk mengurusi perusahaan.
Di kampus, aku hanya duduk termenung saja di taman sampai akhirnya aku melihat sosok laki-laki yang sangat mirip sekali dengan pak Rico.
“Ah, tidak mungkin itu pak Rico. Kalau orang itu memang pak Rico, tidak mungkin kan kalau mata kuliah pak Rico tidak ada yang mengajar.” gumamku.
“Hadeuh... Aku ini kenapa sih?! Kenapa aku sampai segitu terbayangnya ke sosok pak Rico?! Apakah aku masih sayang padanya?!” gumamku lagi.
Di saat aku sedang bergumam seperti itu, tiba-tiba Yeni datang mengagetkanku. Dia berkata, “Hai, Zahra. Bagaimana kabar kamu?”
“Baik, Yen. Tumben kamu tanya kabarku?!” ucapku aneh.
“Lha iya, donk. Apanya yang aneh. Kan hampir satu bulan kamu tidak masuk kuliah. Ya wajar saja aku sebagai teman menanyakan kabar kamu.” ucap Yeni karena memang tidak tahu nomor ponselku.
“Iya... Iya.. Yen. Kamu tidak aneh kok. Kemarin aku tidak masuk karena suamiku sakit dan masuk rumah sakit.” jelasku.
“Apa? Suamimu masuk rumah sakit? Dia sakit apa, Zahra?” tanya Yeni.
“Dia sakit leukimia, Yen.” sahutku.
“Apa?! Terus sekarang bagaimana keadaannya?” tanya Yeni
“Dia sekarang sudah baik-baik saja. Beruntung saat itu ada orang baik yang mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk suamiku.” jelasku.
“Siapa?” tanya Yeni.
“Aku sendiri tidak tahu, Yen. Dokter tidak mau memberitahukannya padaku.” ucapku.
“Oh, begitu. Dia baik sekali ya, Zahra.” ucap Yeni dan aku pun mengangguk.
“Oh, iya. Kamu sudah tahu belum kalau ada dosen baru di kampus kita.” Ucap Yeni
“Tidak tahu. Memangnya kenapa?” tanyaku.
__ADS_1
“Dengar-dengar sih dia dosen yang akan menggantikan pak Rico.” ucap Yeni.
“Oh. Memangnya pak Rico kemana, Yen?” tanyaku.
“Tidak tahu, Zahra. Tapi yang jelas dia menggantikan pak Rico.” ucap Yeni.
“Oh, begitu.” sahutku singkat.
Seketika, aku menjadi berpikir kalau ternyata orang yang aku lihat tadi bukanlah pak Rico.
“Zahra, kamu kenapa melamun?” tanya Yeni
“Oh... Tidak apa-apa.” sahutku.
***
Saat kuliah telah selesai, aku pun pulang ke rumah. Tapi kali ini aku tidak di jemput oleh pak Jimmy. Aku tidak tahu kenapa pak Jimmy seperti sudah berubah padaku semenjak dia tahu masa laluku dengan pak Rico.
Tapi, ya sudahlah. Aku akan mencoba untuk ikhlas menerima apa pun sikap pak Jimmy padaku.
Saat melihat kejadian itu, entah mengapa hatiku terasa sakit juga. Tidak mungkin kan aku menyukai 2 pria kakak beradik ini?!
Di sepanjang perjalanan banyak sekali yang aku pikirkan. Pikiranku kacau dan juga galau. Mungkin ini lah saatnya aku harus menanyakan pada diriku sendiri, siapakah pria yang benar-benar aku cintai.
***
Sesampainya di kampus aku tak sengaja bertemu dengan dosen yang akan menggantikan pak Rico. Dia pun datang menghampiriku.
“Kamu jangan-jangan Kayla Azahra, ya?” tanya dosen itu.
“Iya. Itu saya. Bapak ini siapa, ya? Dan bapak tahu nama saya dari siapa?” tanyaku.
“Oh, kenalkan. Nama saya Gerry. Saya temannya Rico. Saya dulu pernah mengajar di sekolah tempat kamu dulu SMU. Hanya saja saat aku masuk, kamu sudah lulus.” ucap dosen itu yang ternyata bernama Gerry.
“Oh, pantas. Ternyata bapak ini temannya pak Rico, ya?!” ucapku dan dia pun mengangguk.
“Bagaimana kabarnya kamu dan suamimu? Rico banyak sekali bercerita tentang kalian, lho.” ucap pak Gerry.
__ADS_1
“Kabar saya baik, pak. Memangnya pak Rico suka cerita apa tentang kami?” tanyaku
“Hmm... Dia sering sekali cerita kalau dia sangat mencintai salah satu muridnya. Dia hampir tidak pernah bisa melupakannya. Namun sayangnya, ternyata kamu sudah menikah dengan kakaknya.” ucap pak Gerry.
“Oh, begitu.” sahutku singkat tapi dalam hatiku lagi-lagi terasa pedih.
“Tapi sekarang... orang yang mencintai kamu itu sedang terbaring di Rumah Sakit. Sudah satu bulan ini dia koma akibat kecelakaan.” ucap pak Gerry.
“Apa? Kecelakaan? 1 bulan? Sekarang dia di Rumah sakit mana dan kenapa pihak rumah sakit tidak memberitahukan masalah itu ke keluarganya?” tanyaku yang sebenarnya menahan rasa syok dan juga rasa sedih.
“Iya. Satu bulan yang lalu, dia kecelakaan di sekitaran Rumah Sakit Dandelion. Dia di tabrak oleh sebuah mobil sedan berwarna putih. Saat itu dia terpental jauh hingga membuatnya mengalami pendarahan di kepala. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya.” jelas pak Gerry.
“Lalu masalah kenapa pihak Rumah Sakit tidak menghubungi keluarganya, itu karena sebelum dia benar-benar pingsan, dia memberitahukan pada orang yang membawanya ke Rumah Sakit agar tidak memberitahukan hal ini pada keluarganya.” jelas pak Gerry lagi.
“Dan orang itu memberitahukannya pada Dokter di Rumah Sakit?” ucapku menebak.
“Rasanya iya. Buktinya kalian tidak di hubungi, kan?!” ucap pak Gerry
“Lalu kenapa pihak Rumah Sakit bisa memberitahukan masalah ini pada Bapak?” tanyaku
“Itu karena pihak Rumah Sakit membutuhkan seseorang untuk mengurus masalah administrasi dan kebetulan, nomorku ada di daftar panggilan yang sering dihubungi oleh Rico. Jadinya mau tidak mau, Rumah Sakit menghubungiku.” jelas pak Gerry.
“Oh begitu. Ya sudah, pak. Saya ijin tidak masuk kuliah hari ini. Saya mau ke Rumah Sakit.” ucapku.
“Ya sudah, sana.” sahut pak Gerry.
“Terimakasih, pak.” Ucapku yang kemudian langsung lari tanpa memperdulikan apa-apa lagi.
Sesampainya di Rumah Sakit, aku langsung mencari tahu tentang di mana ruang perawatan pak Rico.
Setelah menemukan ruang perawatannya, aku pun masuk ke dalam. Untuk ke sekian kalinya aku merasakan pedih yang teramat sangat menyiksa.
“Kenapa dalam hidupku, aku salalu merasakan kepedihan ini?!” gumamku yang langsung duduk lemas dan menangis sendirian di samping pak Rico yang sedang koma.
“Pak... Maaf kan aku. Maaf...!!!” ucapku sambil menangis sesenggukan.
Bersambung....
__ADS_1