Antara Pak Guru Dan Pak Direktur

Antara Pak Guru Dan Pak Direktur
Part 24


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, kami pun akhinya sampai di Rumah Sakit dan segera menuju ke ruang perawatan pak Jimmy.


Sesampainya di dalam ruang perawatan, aku melihat pak Jimmy sedang terbaring lemah tak sadarkan diri. Entah mengapa, hatiku terasa sangat pilu melihatnya.


“Oh, kalian sudah datang?!” ucap pak Doni saat melihatku dan pak Rico datang.


“Iya, pak. Bagaimana keadaannya?” tanya pak Rico


“Masih tetap sama, pak.” sahut pak Doni


“Oh, begitu.” ucap pak Rico


“Ya sudah, kalau begitu aku pamit pulang.” ucap pak Doni


“Iya, pak. Terimakasih.” ucap pak Rico


Setelah pak Doni pulang, aku langsung duduk di samping pak Jimmy. Sangat terlihat jelas wajahnya yang sangat pucat.


“Mas, maafkan aku.” ucapku lirih


“Kay, lebih baik kita doakan semoga kita segera mendapatkan donor untuk Jimmy.” ucap pak Rico mencoba menenangkan hatiku


“O ya, Kay. Aku beli makanan dulu, ya. Kamu kan belum makan seharian.” ucap pak Rico yang kemudian pergi.


Setelah berada di luar kamar, pak Rico berdiri sejenak di depan pintu kamar yang tertutup.


“Kay...andaikan aku yang di posisi Jimmy, apakah kamu juga akan bersikap seperti ini?” gumamnya lirih yang kemudian pergi.


***


Dalam perjalanan membeli makanan, tiba-tiba...


‘bruk...’


Sebuah mobil dengan kecepatan lumayan tinggi menabrak pak Rico. Sehingga mengakibatkan pak Rico terpental jauh.


Sontak membuat semua yang berada di tempat kejadian langsung berhamburan menyelamatkan pak Rico dan membawanya ke Rumah Sakit tempat pak Jimmy di rawat.


Setelah menunggu beberapa saat, aku tiba-tiba merasa gelisah.


“Pak Rico kemana? Kok mencari makanan saja lama sekali.” Gumamku lirih


Dan di saat yang bersamaan, Dokter yang menangani pak Jimmy pun datang. Dokter tersebut memberitahukan kalau mereka sudah menemukan Donor yang cocok untuk pak Jimmy dan akan segera dilakukan operasi secepatnya.


Mengetahui hal itu, aku pun sangat senang sekali. Ingin rasanya aku memberitahukan hal ini pada pak Rico. Namun ketika aku hubungi, teleponnya tidak aktif.


***

__ADS_1


2 hari setelah kabar adanya donor yang cocok, kini keadaan pak Jimmy pun berangsur-angsur pulih. Namun ada rasa sedih juga karena sampai saat ini, pak Rico tiba-tiba menghilang dan tak ada kabar.


“Zahra... Zahra...” panggil pak Jimmy dengan suara lirih.


Aku yang merasa namaku di panggil pun spontan menengok.


“Mas... Mas sudah sadar?” ucapku dan dia pun tersenyum.


“Sebentar, mas. Aku panggilkan Dokter dulu.” ucapku yang kemudian segera pergi memanggil Dokter.


Ketika Dokter datang, Dokter itu pun langsung memeriksa keadaan pak Jimmy dan kemudian berkata, “Suami ibu sudah mengalami kemajuan. Sekarang keadaannya sudah stabil. Ibu tenang saja, ya.”


“Terimakasih, Dok. O ya, Dok. Kalau boleh saya tahu, siapa ya yang sudah mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk suami saya?” tanyaku


“Maaf, bu. Untuk masalah itu, kami tidak bisa memberitahukannya pada ibu karena ini adalah permintaan orang tersebut.” jelas Dokter


“Oh, begitu. Ya sudah kalau begitu. Terimakasih banyak, Dok.” Ucapku


“Sama-sama, bu.” sahut Dokter yang kemudian pergi.


Setelah itu, tinggalah aku berdua dengan pak Jimmy di ruangan itu.


“Bgaiamana keadaan mas sekarang? Apa ada yang masih di rasakan?” tanyaku dan dia pun menggeleng sambil tersenyum


“Oh, syukurlah kalau begitu.” Ucapku


***


“Ada apa, Zahra?” tanya pak Jimmy ketika melihatku tiba-tiba termenung


“Oh. Tidak ada apa-apa, mas.” sahutku sambil menggeleng dan tersenyum


“Oh. O ya... Mas Rico mana, Zahra?” tanya pak Jimmy yang tiba-tiba teringat dengan kakaknya.


“Hmm... Pak Rico, dia...” aku tidak meneruskan ucapanku.


“Mas Rico kenapa, Zahra?” tanya pak Jimmy khawatir


“Mas, bukan aku tidak mau melanjutkan ucapanku. Tapi... Aku sendiri tidak tahu di mana pak Rico sekarang.” jelasku


“Tidak tahu bagaimana maksud kamu, Zahra?” ucap pak Jimmy bingung


“Hmm... Jadi begini. Saat pertama kali dapat kabar kalau mas di bawa ke Rumah Sakit, pak Rico masih sempat mengantarku ke sini. Namun, saat itu dia minta ijin membelikanku makanan di luar dan setelah itu dia tidak kembali lagi.” jelasku.


“Kenapa bisa begitu, Zahra? Kamu sudah coba hubungi ponselnya?” tanya pak Jimmy.


“Sudah, mas. Tapi ponselnya tidak aktif.” ucapku.

__ADS_1


“Kira-kira mas Rico kemana, ya? Tidak biasanya dia kalau mau pergi tanpa pamit seperti itu.” ucap pak Jimmy heran.


“Entahlah, mas. Aku juga aneh.” ucapku.


“O ya, coba kamu tolong panggil Doni suruh ke sini. Siapa tahu kita bisa minta tolong ke dia buat carikan mas Rico.” ucap pak Jimmy.


“Oh, iya. Tapi, mas. Aku tidak tahu nomor telepon pak Doni.” ucapku.


“Hmm... Coba kamu cari nomornya di ponselku.” ucapnya lalu aku pun segera mengambil ponsel pak Jimmy dan menyerahkannya padanya.


Setelah ponselnya sudah terbuka, aku pun segera mencari nomor telepon pak Doni.


“Bagaimana Zahra? Sudah ketemu nomornya?” tanya pak Jimmy.


“Eh, ini. Sudah mas, sudah.” Ucapku yang langsung menelpon pak Doni untuk segera ke Rumah Sakit.


Setelah menunggu beberapa waktu, pak Doni pun akhirnya datang.


“Hai, Bro... Akhirnya kamu bisa selamat juga dari dewa kematian.” ucap pak Doni saat masuk ke dalam kamar perawatan pak Jimmy.


“Sial kamu, Don. Kamu doakan aku cepat mati, ya?!” ucap pak Jimmy kesal.


“Peace... Becanda, bro.” ucap pak Doni.


“Becanda sih becanda. Tapi becandanya tidak begitu juga kali. Tidak lucu, tahu.” ucap pak Jimmy sewot.


“Iya... Iya... Maaf. Btw, kamu nyuruh aku datang ke sini ada apa, ya?” tanya pak Doni.


“Eh, Don. Kamu sudah kenal kakakku, kan?” ucap pak Jimmy.


“Hmm... Maksud kamu itu pak Rico, kan?” tanya pak Doni dan pak Jimmy pun mengangguk.


“Kenal. Memang ada apa, ya?” tanya pak Doni.


“Dia menghilang, Don. Sampai sekarang dia belum juga nongol untuk menengokku.” ucap pak Jimmy.


“Lha bukan ngilang kali, Jim. Memang dianya saja yang tidak mau ketemu sama kamu.” ucap pak Doni ngasal.


“Tidak.. Dia tidak mungkin begitu.” ucap pak Jimmy.


“Ya sudah, kalau menurutmu dia hilang, apakah hal ini sudah di laporkan pada pihak berwenang?” tanya pak Doni


“Belum, Don. Justru itu aku menyuruhmu untuk datang ke sini agar kamu mencari tahu tentang keberadaan kakakku sekaligus melaporkannya pada pihak polisi.” ucap pak Jimmy.


“Kamu tuh ya, Jim. Pernah tidak sih kasih aku tugas yang ngenakin. Hadeuh...” ucapnya


“Please lha, Don. Kamu kan sahabatku.” ucap pak Jimmy dengan pasang wajah memelas.

__ADS_1


“Ish.. Ya sudah.. Ya sudah.. Kalau begitu aku pergi dulu, ya.” Ucap pak Doni pamit untuk segera mencari keberadaan pak Rico.


Bersambung...


__ADS_2