Antara Pak Guru Dan Pak Direktur

Antara Pak Guru Dan Pak Direktur
Part 29


__ADS_3

Hari itu, entah kenapa tiba-tiba saja bu Ambar menggebrak meja kerjaku yang ada di ruangan pak Doni. Sontak membuatku dan pak Doni menjadi terkejut.


“Bu, ibu ada apa?” tanya pak Doni


“Tidak usah ikut campur kamu, Don.” ucap bu Ambar ketus membuat pak Doni diam.


“Hai, kamu!! Buat apa kamu menyebarkan gosip kalau kamu itu istrinya Jimmy, Ha?” tanya bu Ambar emosi.


“Ha? Maksud ibu menyebar gosip itu apa, ya?” tanyaku yang merasa itu bukanlah gosip tapi kenyataan.


“Halah... Jangan belagak pikun, deh. Bilang saja kamu ingin mendapatkan semua harta Jimmy, kan? Ngaku saja deh.” Ucap bu Ambar dan aku pun terdiam


“Kenapa kamu diam? Kalau diam berarti benar kan?” ucapnya ketus.


“Hahahaha.... Si ibu.. Ilmu mengarang ceritanya ibu, TOP sekali deh. Hahahaha....” ucapku yang entah mengapa ini seperti sebuah lelucon.


“Kamu kanapa malah ketawa?” tanya bu Ambar kesal.


“Ya jelas ketawa lha. Kenapa ibu bisa berpikir ke arah sana? Atau jangan-jangan malah ibu ya, yang ingin mendapatkan harta pak Jimmy?” tanyaku dengan tatapan tajam.


“Sudahlah, bu. Jadi orang tu ya, jangan punya pikiran jelek. Nanti ibu bakalan hilang deh cantiknya. Terus pak Jimmy jadi tidak suka deh. Nah kalau sudah begitu, siapa yang rugi, hayo?! Ibu sendiri, kan?! Sementara aku, selama kerjaanku beres, itu sih tidak ada masalah buat pak Jimmy.” Ucapku ngasal


“Kamu?!” ucapnya sambil hendak memukulku.


“Aku kenapa? Ibu berani memukulku? Pukul saja. Tapi ingat, bu. Di sini banyak saksi. Mereka semua tahu siapa yang memulai duluan dan siapa yang ucapannya benar. Mereka juga bisa saja melaporkan masalah ini pada pak Jimmy lalu pak Jimmy akan memberitahu orang tua ibu kalau anaknya sudah membully karyawan pak Jimmy. Ibu mau seperti itu?! Kalau ibu mau seperti itu, ya sudah. Pukul saja.” Ucapku yang entah mengapa tiba-tiba saja keluar kalimat seperti itu sambil menyodorkan pipiku.


Melihatku seperti itu, sontak membuat bu Ambar mengurungkan niatnya untuk memukulku lalu pergi dan aku pun tersenyum.

__ADS_1


Pak Doni yang melihatku pun hanya menggelengkan kepala. Namun setelah kejadian itu, aku menjadi berpikir kalau memang tak seharusnya aku berada di sekitar mereka lagi.


“Pak... Berhubung pak Jimmy sebentar lagi mau pulang, alangkah baiknya jika aku mulai besok tidak membantu bapak lagi di sini. Ini juga demi kebaikan semuanya dan juga untuk menghidari kesalahpahaman seperti ini terjadi lagi.“ ucapku


“Kamu memangnya mau kemana, Zahra?” tanya pak Doni.


“Mungkin aku akan ke suatu tempat dan menenangkan diri.” Ucapku


“Ya sudah kalau itu yang sudah jadi keputusan kamu. Tapi apa kamu tidak ingin bertemu dengan Jimmy dulu?” tanya pak Doni.


“Tidak, pak. Cukup salam saja dan berikan surat permintaan cerai ini padanya. Di dalamnya sudah ada tandatangan persetujuanku. Tinggal tunggu ACC dari pak Jimmy saja.” jelasku.


“Kamu yakin mau melakukan ini?” tanya pak Doni


“Iya, pak. Aku yakin. Aku tidak mau banyak berhutang budi padanya dan membuat dia menderita.” ucapku.


“Terimakasih, pak.” ucapku dan pak Doni pun mengangguk.


“Maaf pak Jimmy dan pak Rico. Maaf aku sudah mengacak-ngacak kehidupan kalian. Andaikan aku masih punya kesempatan, mungkin aku ingin mengulangi semuanya dari awal lagi.” Gumamku lirih


***


Ke esokan harinya, aku pun berpamitan pada bibi dan kemudian pergi. Namun sebelum aku pergi, aku meninggalkan sebuah surat dan juga ponsel pemberian pak Jimmy.


Di dalam surat itu, aku menulis...


“Untuk mas Jimmy...

__ADS_1


Mas, maaf sebelumnya kalau aku tidak berpamitan langsung pada mas. Ini di sebabkan karena aku merasa aku sudah tidak ada muka lagi untuk bertemu dengan mas atau pun pak Rico. Setelah apa yang telah terjadi selama ini.


Aku juga mewakili kak Lucy untuk meminta maaf pada mas dan juga pak Rico. Karena ulahnya menjadikan pak Rico harus terluka parah.


Aku pergi bukan karena aku kabur dari tanggung jawab. Tapi aku tidak ingin melihat mas menyerahkan aku pada pak Rico.


Jujur, mas. Aku tidak sanggup memilih salah satu dari kalian dan melukai hati yang lainnya. Aku sama sekali tidak mau. Itulah sebabnya aku putuskan untuk pergi dari kehidupan kalian.


Sekali lagi, aku minta maaf dan terimakasih.”


Dengan berbekal 2 pasang baju ganti dan uang dari aku menabung selama bekerja, aku pun mencari pekerjaan.


Akhirnya, aku pun mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan sebuar rumah makan sekaligus tempat tinggal yang cukup nyaman. Di sana lha kehidupan baruku di mulai.


***


Tak terasa 2 tahun sudah berlalu. Kini usiaku sudah memasuki 27 tahun. Selama dua tahun ini, kehidupanku biasa-biasa saja dan tidak ada yang spesial. Namun walau biasa-biasa saja, aku cukup bahagia dan tidak ada beban.


Sesekali aku pun melihat keadaan kakakku di RSJ. Aku sudah mulai bisa melepaskan dan melupakan semua yang telah terjadi selama ini.


Lalu, malam itu tiba-tiba...


“Bruk..”


Aku menabrak seseorang. Namun ketika aku mendongakkan kepalaku, aku sangat terkejut. Karena yang aku lihat itu adalah....


Bersambung...

__ADS_1


Tunggu jawabannya di episode terakhir, ya...😄😄


__ADS_2