Antara Pak Guru Dan Pak Direktur

Antara Pak Guru Dan Pak Direktur
Part 23


__ADS_3

“Lucy, kamu mau apa? Kamu itu, ya. Tidak ada kapok-kapoknya menyakiti adikmu sendiri.” Ucap pak Rico yang ternyata tiba-tiba datang dan sempat menahan tangan Lucy agar tidak menamparku


“Mas Rico?!” ucap Lucy yang terkejut


“Iya, ini aku. Kenapa?” ucap pak Rico ketus


“Mas, ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Aku tidak akan melakukan ini jika bukan Kayla duluan yang membuat aku tersulut emosi.” kilah Lucy


“Sudah... Aku tidak mau dengar penjelasan apa-apa lagi. Karena bagiku, apa yang aku lihat itu adalah hal yang sebenarnya.” ucap pak Rico yang tahu kalau Lucy itu berbohong karena rupanya pak Rico sudah sempat mendengar ucapan Lucy


“Ayo, Kay. Kita pulang.” Ajak pak Rico dan aku pun mengikuti langkahnya.


Sementara itu, Lucy terlihat sangat kesal sekali. Mungkin dalam hatinya ingin sekali membalas dendam padaku.


***


Dalam perjalanan, kami pun lagi-lagi hanya saling diam. Saat di tengah perjalanan, aku mendapatkan sebuah panggilan telepon. Namun, aku tidak tahu itu telepon dari mana dan dari siapa.


Melihat aku ragu untuk mengangkat teleponnya, pak Rico pun berkata, “Dari siapa, Kay?”


“Aku tidak tahu, pak.” Sahutku


“Angkatlah. Siapa tahu penting.” ucap pak Rico dan kemudian aku pun mengangkatnya.


“Halo...” ucapku saat telepon sudah aku angkat.


“Halo. Zahra... Tolong, Zahra. Kamu segera datang ke rumah sakit.” Ucap orang dalam telepon tersebut


“Rumah Sakit? Siapa yang sakit dan ini siapa?” tanyaku bingung


“Aku, Doni. Jimmy masuk rumah sakit, Zahra. Tolong kamu segera datang ke sini. Nanti aku kirimkan alamatnya” ucap orang itu yang ternyata pak Doni


“Apa? Mas Jimmy masuk rumah sakit? Ya sudah. Aku ke sana sekarang.” sahutku yang kemudian menutup sambungan telepon


“Ada apa, Kay?” tanya pak Rico


“Pak... Mas Jimmy, pak. Mas Jimmy...” ucapku yang tak sanggup aku lanjutkan


“Ada apa dengan Jimmy, Kay?” tanya pak Rico yang mulai khawatir

__ADS_1


“Pak Jimmy masuk Rumah Sakit, pak.” Sahutku


“Apa? Masuk Rumah Sakit? Ya sudah, kita ke sana sekarang. Kamu tahu kan tempatnya?” tanya pak Rico dan aku pun mengangguk lalu kami pun segera putar arah dan menuju Rumah Sakit.


Sesampainya di rumah sakit, aku dan pak Rico langsung mencari ruangan pak Jimmy di rawat. Setelah menemukannya, aku melihat sudah ada pak Doni di dalam ruangan pak Doni di rawat.


“Pak, bagaimana keadaannya?” tanyaku saat memasuki ruangan


“Baiklah, akan saya jelaskan di luar.” ucap pak Doni mengajak kami keluar.


Setelah di luar, pak Doni pun terdiam sejenak dan akhirnya berkata, “Zahra, kamu tahu tidak kalau Jimmy mengindap penyakit Leukimia?”


“Apa? Leukimia?” ucapku dan juga pak Rico bersamaan dengan nada terkejut


“Iya.” sahut pak Doni singkat


“Aku sama sekali tidak tahu, pak. Mas Jimmy tidak pernah menceritakannya padaku.” ucapku


“Jangankan kamu, Kay. Aku sebagai kakaknya saja tidak di beritahu olehnya.” ucap pak Rico


“Oh, rupanya begitu.” ucap pak Doni


“Sudah kurang lebih 4 tahunan, pak.” sahut pak Doni


“4 tahun? Itu berarti saat bertemu dengaku, mas Jimmy sudah sakit?!” ucapku dan pak Doni pun mengangguk.


Setelah mengetahui itu, aku pun langsung terduduk di lantai karena syok mengetahuinya.


Pak Rico yang tahu perasaanku yang sedang syok pun akhirnya membantuku berdiri sambil berkata, “Kamu tidak sendiri. Ayo kita hadapi ini semua bersama-sama.” ucap pak Rico


Setelah mengatakan itu, pak Rico pun bertanya pada pak Doni, “Pak, sekarang bagaiman keadaan kondisi adikku?”


“Jimmy sekarang sedang kritis, pak. Dia saat ini sedang memerlukan Donor sumsum tulang belakang dan batas waktunya adalah 3 x 24 jam.” jelas pak Doni


“Itu tandanya, kita harus bergerak cepat dan mencari donor yang cocok dengan Jimmy. Jika tidak, maka nyawa Jimmy ada dalam bahaya?!” tebak pak Rico dan pak Doni pun mengangguk


Mendengar hal itu, aku lagi-lagi merasa syok. Aku tak menyangka kalau selama ini pak Jimmy menyimpan penderitaannya seorang diri.


Setelah beberapa saat aku termenung, aku pun mengatakan kalau aku ingin pulang dulu sebentar untuk mengambil pakaian ganti dan juga beberapa keperluan lain.

__ADS_1


“Iya. Tidak apa-apa, Zahra. Biar aku yang akan nenunggu Jimmy sampai kamu datang.” ucap pak Doni


“Terimakasih, pak.” ucapku yang kemudian pulang dengan di antar oleh pak Rico.


Sesampainya di rumah, aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Air mata yang aku tahan di Rumah Sakit pun sudah tidak bisa aku tahan lagi. Aku pun menangis dan ini terlihat oleh pak Rico.


Tanpa banyak bicara, pak Rico pun langsung memelukku dengan erat. Bukannya tangisanku berhenti, aku malah menangis kencang.


Dengan lembut dia mengelus-elus punggungku dan juga rambutku.


Setelah aku jauh lebih tenang, aku pun perlahan melepaskan pelukan pak Rico dan berkata, “Pak, aku ingin ke dalam dulu untuk menyiapkan beberapa keperluan yang di butuhkan di Rumah Sakit.”


“Baiklah, Kay. Aku akan menunggumu di sini.” ucap pak Rico


Saat aku sudah berada di dalam, aku pun ke kamarku terlebih dahulu lalu kemudian aku memberanikan diri masuk ke dalam kamar pak Jimmy.


Di dalam kamar pak Jimmy, aku pun menyiapkan beberapa hal sebelum akhirnya aku menemukan secarik kertas yang di lipat menjadi 4.


Aku pun membuka lipatan dan kemudian membacanya. Ternyata isi dari kertas itu adalah


“***Kayla Azahra... Kau adalah penyemangat hidupku. Karena kau, aku jadi berusaha semaksimal mungkin untuk tetap hidup dengan baik agar bisa selalu menjagamu dan melindungimu. Setiap saat aku pun selalu ingin melihatmu tersenyum karena senyummu itu adalah kebahagiaan dalam hidupku.


Namun... Saat kau menemukan kertas ini, mungkin aku sudah tidak bisa bersamamu lagi. Aku tahu kau mencintai kakakku dan aku tidak akan bersikap egois. Aku ingin kamu juga bahagia. Oleh karena itu, kembalilah kamu pada kakakku, Rico.


Ini adalah permintaanku padamu. Tolong kamu pertimbangkan lagi***.”


Setelah membaca surat itu, spontan aku pun memanggil pak Rico sambil menangis kembali. Mendengar teriakanku, pak Rico pun langsung lari dan menghampiriku.


“Ada apa, Kay?” tanya pak Rico


“I—i—ini, pak. Bapak bacalah sendiri.” Ucapku sambil menangis


Kemudian pak Rico pun segera membaca tulisan yang ada di dalam kertas yang aku berikan padanya.


“Ini?? Sejak kapan Jimmy tahu tentang masalah kita?” ucap pak Rico bingung dan aku pun menggeleng.


“Ya sudah. Jangan di pikirkan dulu masalah ini. Sekarang yang penting, kita fokus pada pencarian donor untuk suamimu. Ok?!” ucapnya dan aku pun mengangguk


“Ya sudah. Kalau semua sudah selesai di persiapkan, kita kembali ke Rumah Sakit. Kasihan pak Doni. Mungkin keluarganya sedang menunggunya pulang.” ucap pak Rico dan aku pun mengangguk.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2