
Ke esokan harinya, aku yang sedang tidak ada kelas pun hanya duduk santai di depan televisi. Sementara pak Jimmy sedang berada di kantor.
“Nyonya, bibi mau ke pasar. Apa nyonya mau menitip sesuatu?” tanya bi Yati sebelum berangkat ke pasar
Memang selama 3 tahun belakangan ini, bi Yati selalu memanggilku dengan sebutan nyonya. Apalagi setelah mengetahui kalau aku dinikahi oleh pak Jimmy. Hampir tiap hari, bi Tia terlihat sumringah. Entahlah kenapa sampai seperti itu. Tapi yang pasti, itulah yang aku lihat
“Bi, aku ikut donk ke pasar.” Ucapku
“Eh, nyonya. Jangan. Nanti bibi di marahi oleh tuan.” Ucap bi Yati
“Bibi takut?” tanyaku dan bi Yati mengangguk
“Tunggu sebentar, bi.” Ucapku sambil memegangi tangan bibi agar tidak pergi ke mana-mana lalu mencari hpku dan menelepon pak Jimmy
Tak sampai menunggu lama, telepon pun di angkat oleh pak Jimmy
“Halo, mas.” Ucapku memulai percakapan
“Iya, sayang. Ada apa?” tanya pak Jimmy
“Mas, aku boleh ikut bi Yati kepasar, tidak?” tanyaku
“Kamu mau apa ikut bi Yati ke pasar?” tanya pak Jimmy bingung
“Aku tidak mau apa-apa, mas. Aku cuma mau ikut bi Yati saja, mas. Lagipula, aku sudah lama tidak ke pasar. Jadi aku rindu suasana di pasar.” Ucapku
Mendengar jawabanku seperti itu, pak Jimmy pun terdiam. Entah apa yang sedang di pikirkannya. Namun setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pak Jimmy pun menjawab
“Baiklah, kalau itu memang maumu. Tapi ingat, jangan terpisah dari bi Yati.” Pesannya
“Ya ampun, mas. Aku ini sudah dewasa. Aku tidak akan kesasar kali. Ish si mas ini. Ada-ada saja.” Ucapku
“Iya.. Iya.. Tapi apa salahnya kalau aku khawatir. Iya, kan istriku tersayang?!” godanya
“Ish, si mas. Iya.. Iya.. Tidak salah kok kalau mas khawatir. Mas tenang saja. Aku tidak akan jauh-jauh kok dari bi Yati.” Ucapku meyakinkan pak Jimmy
“Nah, gitu donk. Ya sudah, sana. Hati-hati di jalan.” Ucapnya berpesan
“Iya, mas.” Sahutku yang kemudian menutup telepon dan melihat ke arah bi Yati
“Hehehe... Ayo, bi. Kita berangkat.” Ucapku yang langsung bangkit dari tempat dudukku
“Eh, nyonya. Nyonya beneran mau ikut bibi ke pasar?” tanya bibi memastikan
“Iya, bi. Aku beneran mau ikut.” Ucapku
“Terus tuan, gimana? Nanti marah, tidak?” tanya bi Yati yang ragu-ragu mau membawaku ke pasar
“Bibi tenang saja. Tuan tidak akan marah kok. Kan tuan sudah mengijinkannya.” Sahutku yang langsung menarik tangan bi Yati
“Oh. Eh, nyonya. Pelan-pelan jalannya. Bibi nanti tersandung.” Ucap bi Yati yang merasa kalau dirinya sudah tidak muda lagi lalu kami berdua pun berangkat ke pasar
Setelah semua yang di butuhkan sudah terbeli, kami pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku pun membantu bi Yati masak.
***
__ADS_1
Tak terasa waktu sudah menjelang sore hari. Saatnya pak Jimmy untuk pulang. Aku yang sudah lelah seharian membantu bibi pun masih tertidur di kamarku.
Tak selang berapa lama, datang pak Jimmy dan juga pak Rico di saat yang bersamaan.
“Hai, mas. Tidak di sangka ya, kita bisa sama-sama sampai di depan rumah.” Ucap pak Jimmy dan pak Rico pun tersenyum
“Mas, bagaimana kabarnya?” tanya pak Jimmy
“Baik, Jim.” Sahut pak Rico singkat
“Oh, syukurlah.” Ucap pak Jimmy
Mereka pun menghentikan langkah mereka masing-masing dan mengobrol.
“O ya, mas. Mas kapan mau membantuku memegang perusahaan milik Almarhum ayah?” tanya pak Jimmy
“Maaf, Jim. Aku tidak ingin memegang perusahaan. Aku hanya ingin tetap mengajar saja. Itu sudah cukup.” Sahut pak Jimmy
“Tapi, mas...” ucap pak Jimmy di potong oleh pak Rico
“Jim, sudahlah. Perusahaan itu lebih cocok jika kamu yang jalankan. Sedangkan aku, aku lebih suka mengajar seperti ini.” Ucap pak Rico
“Oh begitu. Tapi misalkan suatu saat nanti perusahaan menemukan suatu masalah, mas mau bantu aku kan?” tanya pak Jimmy
“Tentu saja aku akan bantu kamu selama aku bisa.” Ucap pak Rico dan pak Jimmy pun tersenyum
“O ya, mas. Mas sekarang mengajar di mana?” tanya pak Jimmy
“Oh, sekarang aku mengajar di Perguruan Tinggi Adiasa.” Ucap pak Rico
***
Adiasa adalah nama perguruan tinggi tempat Alvaro, Azka, pak Rico bekerja sekaligus Perguruan Tinggi tempat Kayla kuliah dan baru kali ini Author memberitahukannya
***
“Perguruan Tinggi Adiasa?” tanya pak Jimmy memastikan
“Iya. Memang kenapa?” tanya pak Rico
“Perguruan Tinggi itu kan tempat istriku juga kuliah. Tapi...” ucap pak Jimmy tidak di teruskan
“Benarkah? Tapi apa, Jim?” tanya pak Rico penasaran
“Tapi sudah 3 tahun ini aku sama sekali belum menyentuh istriku.” Ucap pak Jimmy sedih
“Lha, kok bisa?” ucap pak Rico bingung
“Iya, mas. Jadi waktu itu sebenarnya aku bertemu dengan istriku saat dia sedang terpuruk. Dia di usir oleh kakaknya dari rumah. Awalnya aku hanya merasa kasihan padanya dan akhirnya mengajaknya ke rumah ini. Tapi saat aku lihat dan dengar sendiri bagaimana cara kakaknya memperlakukannya, hatiku ini terasa sakit dan tidak terima. Lalu akhirnya aku pun menikahinya. Saat itu dia menolak tapi aku yang memaksanya. Hingga sekarang, aku masih belum bisa mendapatkan hatinya.” Jelas pak Jimmy
“Oh begitu. Lalu orang tuanya di mana? Kenapa kakaknya bisa dengan leluasa memperlakukan dia seperti itu? Memangnya orang tuanya tidak membela istrimu?” ucap pak Rico bingung
“Orang tuanya sudah lama meninggal, mas.” Ucap pak Jimmy
“Meninggal?” tanya pak Rico memastikan lagi
__ADS_1
“Iya.” Sahut pak Jimmy dengan raut wajah sedih
“Kok ini seperti kisah hidup Kayla, ya?” gumam pak Rico dalam hati
“Terus kalau boleh tahu, siapa nama istrimu?” tanya pak Rico
“Dia...” ucapan pak Jimmy terpotong karena tiba-tiba...
“Eh tuan dan pak Rico ada di luar. Kenapa kalian berdua tidak masuk?” tanya bi Yati
“Oh iya, bi. Ini kami baru mau masuk.” Ucap pak Jimmy
“Ayo, mas. Kita masuk. Akan aku perkenalkan istriku sama mas.” Ucap pak Jimmy
Akhirnya mereka pun masuk ke dalam rumah. Setelah berada di dalam, pak Jimmy pun mencari-cariku namun tidak juga melihatku
“Bi, nyonya mana?” tanya pak Jimmy
“Oh, nyonya sepertinya sedang tidur, tuan” Ucap bi Yati
“Sudah lama tidurnya, bi?” tanya pak Jimmy
“Sudah lama, tuan.” Sahut bi Yati
“Oh.” Ucap pak Jimmy singkat
“Apa perlu saya bangunkan, tuan?” tanya bi Yati
“Ya sudah. Coba saja tolong di bangunkan. Bilang kalau aku memanggilnya.” Ucap pak Jimmy
“Baiklah, tuan.” Sahut bi Yati yang kemudian pergi untuk membangunkan aku
Setelah meminta bi Yati untuk membangunkanku, pak Jimmy pun kembali mengobrol dengan pak Rico
Sementara itu, di tempat berbeda, bu Yati mencoba memanggilku dari luar kamar
‘tok.. tok.. tok..’ pintu kamarku di ketuk oleh bi Yati
“Nyonya!! Nyonya ada di dalam?” tanya bi Yati dari luar kamar
Aku yang baru bangun dan belum sepenuhnya sadar pun hanya bisa diam dan tidak menyahut. Karena aku merasa apa yang aku dengar itu seperti dalam mimpi
“Nyonya..!! Nyonya apa ada di dalam?” ucap bi Yati mengulangi ucapannya.
Ketika bi Yati mengulangi perkataannya, aku pun akhirnya sadar kalau apa yang aku dengar itu nyata. Aku pun langsung menjawab ucapan bi Yati.
“Iya, bi. Aku di sini. Ada apa, bi?” ucapku dari dalam
“Itu nyonya. Nyonya di panggil sama tua di ruang tamu.” Sahut bi Yati
“O ya sudah. Nanti aku keluar. Aku mau mandi dulu.” Ucapku
“Baik, nyonya.” Sahut bibi yang kemudian pergi
Bersambung..
__ADS_1