
Beberapa saat kemudian, pak Doni pun menerangkan semuanya. Dia berkata kalau bu Ambar ini anak dari salah satu pemegang saham nomor 3 di kantor ini.
“Apa? Anak pemegang saham nomor 3? Lha pemegang saham yang tertinggi dan nomor 2 siapa?” tanyaku
“Pemegang saham tertinggi itu pak Rico dengan persentase 35%, lalu nomor 2 adalah pak Jimmy sendiri dengan persentase 30%.” jelas pak Doni
“Oh begitu. Lalu tadi orang tua bu Ambar berapa nilai persentase sahamnya?” tanyaku
“Kalau tidak salah, persentasenya sih 20% dan sisanya itu karyawan yang ada di sini. Kalau bisa di bilang sih semacam tabungan karyawan.” Jelas pak Doni.
“Hmm... Begitu. Sebentar...sebentar... Kita menyimpang sedikit dari pembahasan. Maksud 15% di sini itu apa? Apa total dari jumlah saham atau 15% dari masing-masing gaji karyawan?” tanyaku
“Maksud 15% di sini adalah 15% dari nilai total saham yang ada. Jadi setiap bulannya, karyawan akan dikenakan beberapa persen dari gaji mereka untuk tabungan mereka sendiri tiap bulannya.” jelas pak Doni.
"Oh.." sahutku singkat.
“Eh, Zahra. Kenapa kita jadi bahas masalah ini sih?” protes pak Doni
“Lha... Iya, ya?! Ya sudah. Kita kembali ke pokok masalah. Terus gimana?” tanyaku
“Hmm... Jadi gini. Dulu waktu Jimmy belum bertemu dengan kamu, orang tua si bu Ambar ini tuh niat menjodohkan Jimmy dengan putrinya. Namun, saat itu pak Jimmy hanya diam saja. Tidak menolaknya juga tidak mengiyakannya.” jelas pak Doni.
“Terus?” tanyaku.
“Terus... Mungkin diamnya Jimmy ini yang telah di salah artikan oleh orang tuanya bu Ambar.” ucap pak Doni.
“Ya ampun. Berarti ini tuh salah paham?” tanyaku.
“Iya. Mungkin kurang lebih begitu.” ucap pak Doni.
“Oh.” sahutku yang entah mengapa agak sedikit lega.
Setelah mengatakan itu semua, kami tiba-tiba terdiam. Kami melayang pada pikiran kami masing-masing sebelum akhirnya pak Doni berkata, “Jimmy oh Jimmy... Selalu saja kamu buat jomblo seperti aku menderita. Kenapa kamu terus sih yang di kejar-kejar perempuan. Sedangkan aku tidak.”
“Pak, bapak kenapa? Bapak memangnya masih jomblo, ya?” tanyaku.
“Iya.” sahutnya sedih.
“Bwahahaha... Bapak... Bapak... Hadeuh... Jangan seperti ini lha. Pasti ada kok di suatu tempat, perempuan yang bakal jadi jodoh bapak. Jadi sabar saja ya, pak.” Ucapku
“Haiz...” ucapnya sambil menarik nafas panjang.
Lalu tiba-tiba pak Doni berkata, “Eh iya, Zahra. Kamu tahu tidak?! Ternyata yang menabrak pak Rico itu seorang perempuan lho.
“Perempuan?” tanyaku memastikan dan pak Doni pun mengangguk sambil meminum minumannya.
“Siapa?” tanyaku
“Hmm... Kalau tidak salah namanya itu Lucy.
“Apa? Kak Lucy?” gumamku dalam hati karena terkejut
__ADS_1
“Zahra? Kamu kenapa? Kamu kenal?” tanyanya dan spontan aku menggeleng lalu berkata, “Terus perempuan itu sudah di tangkap?”
“Sudah. Tapi...” pak Doni tidak melanjutkan ucapannya.
“Tapi apa, pak?” tanyaku penasaran
“Tapi, dari kabar terakhir yang aku dapatkan, katanya perempuan itu dimasukkan ke dalam Rumah Sakit Jiwa karena berulang kali dia selalu memanggil setiap orang itu dengan panggilan Rico dan memeluknya lalu bilang minta maaf.” Jelas pak Doni
“Rumah Sakit Jiwa mana, pak?” tanyaku
“Kalau tidak salah, RSJ Sumber Waras, deh.” Ucap pak Doni
“Oh, begitu. Ya sudah... Aku ijin dulu, pak. Sampai ketemu besok. Daaah...” ucapku yang langsung pergi meninggalkan pak Doni
“Hai, Zahra..!!! Kamu mau kemana?!” teriak pak Doni namun tidak aku jawab.
“Ish, di tinggal sendirian.” gerutu pak Doni.
***
Sesampainya aku di RSJ tersebut, aku pun langsung bertanya pada salah satu perawat di sana dan kemudian akhirnya aku pun menemukannya.
“Kak Lucy?” sapaku
“Kay, oh Kay... Kay... Maafkan kakak. Kakak sungguh menyesal. Kakak tidak bermaksud mencelakainya. Kamu percaya kan?” ucap Lucy sambil memegang tanganku.
Belum juga sempat aku jawab, Lucy tiba-tiba...
“Maaf, mba. Mba salah orang. Maaf... Tolong.. Tolong...” ucap orang itu yang tiba-tiba takut dan meminta tolong.
Melihat ada sedikit keributan, akhirnya petugas RSJ pun langsung membawa Lucy.
“Kak, kenapa bisa jadi seperti ini?” gumamku lirih.
Akhirnya satu hari pun sudah terlewati. Aku pun bisa menarik nafas panjang. Tapi setelah di pikir-pikir benar juga ya yang di pikirkan oleh orang tuanya bu Ambar. Biasanya orang kalau tidak menjawab alias diam saja berarti tandanya iya. Lalu... Kenapa masalah kak Lucy, pak Jimmy tidak memberitahukannya padaku.
“Hadeuh, mas...mas... Kenapa sih?!” gumamku.
***
Beberapa hari setelah kejadian itu, terjadi sesuatu yang aneh. Tiba-tiba terjadi sebuah keributan di kantor saat aku baru tiba.
“Eh, ada apa ya?” tanyaku pada salah satu staff di kantor.
“Oh, bu Zahra. Itu... Itu ada seorang wanita yang ngaku-ngaku calon istrinya pak Jimmy. Dia memaksa membuka pintu ruangan pak Jimmy dengan kunci yang katanya itu kunci ruangannya.” Jelas staff tersebut.
Memang selama ini, sebagian besar karywan di sini itu sudah tahu siapa aku.
“Lha terus... Kenapa dia ribut?” tanyaku bingung
“Pintunya tidak bisa di buka, bu.” sahut staff itu
__ADS_1
“Kok bisa?” tanyaku heran sekaligus bingung.
“Tidak tahu, bu. Mungkin dia bohong. Itu bukan kunci ruangannya pak Jimmy.” Ucap staff tersebut.
“Tidak mungkin. Bukankah memang bu Ambar yang kemarin mengunci pintu ruangan mas Jimmy. Kenapa sekarang jadi tidak bisa di buka?” gumamku dalam hati
Ketika aku sedang keheranan dengan masalah itu, tiba-tiba saja pak Doni datang dan berkata, “Hai, Zahra. Gimana? Seru tidak tontonan kehebohan kecil ini? Hitung-hitung bisa di jadikan hiburan buat yang kerja di kantor ini?”
“Ha? Maksud bapak apa, ya?” tanyaku yang sama sekali tidak paham dengan apa yang sudah dikatakan pak Jimmy.
“Hehehe... Jadi begini... Malam hari setelah kejadian bu Ambar ngambil kunci kantor Jimmy, aku akhirnya mengirim pesan singkat ke Jimmy dan memberitahukannya tentang masalah ini. Lalu paginya aku melihat balasan dari si Jimmy yang isinya kalau dia memerintahkanku untuk mengganti kuncinya.” jelas pak Doni.
“Ha? Kalian ini, ya?” ucapku sambil menggelengkan kepala.
“Lha terus sekarang ini bagaimana?” tanyaku sambil menunjuk ke arah bu Ambar yang sedang marah-marah.
“Oh, itu ya?! Ya sudah. Kamu tunggu di sini dan lihat caraku mengatasinya.” ucapnya sambil tersenyum licik.
“Ha?!” sahutku bingung sambil melihat dia berjalan menuju bu Ambar.
“Hai, bu.” sapa pak Doni.
“Eh kebetulan sekali kamu datang. Ini kenapa pintu ruangan Jimmy tidak bisa di buka?” tanya bu Ambar
“Lha? Kok bisa tidak bisa di buka? Kan ibu sendiri yang kemarin mengunci pintunya dan membawa kuncinya?” celetuk pak Doni.
“Don, aku itu bicara serius. Kenapa pintunya tidak bisa terbuka?” tanya bu Ambar dengan wajah serius.
“Entahlah. Mungkin ibu salah bawa kunci kali.” ucap pak Doni.
“Masa’ iya aku salah bawa kunci, sih?” gumamnya
“Coba, bu. Ibu ingat-ingat lagi. Apa benar itu kunci yang kemarin ibu ambil?” ucap pak Doni
Seketika, bu Ambar menjadi diam seribu bahasa. Entah apa yang ada di pikirannya. Lalu tak lama kemudian dia berkata, “Ya sudah kalau begitu. Aku balik. Aku cari lagi di rumah.”
“Ya sudah.” Sahut pak Doni
Bu Ambar pun kemudian pergi dengan wajah kesal. Sementara pak Doni jangan di tanya. Dia sepertinya sangat puas sekali bisa ngerjain bu Ambar.
“Hedeuh... Baru kali ini aku lihat pak Doni yang seperti ini.” gumamku lirih.
“Ada apa?!” ucapnya
Ketika aku hendak mengucapkan sesuatu, pak Doni tiba-tiba merangkulku dan berkata, “Ya sudah... Ya sudah.... Kita kerja supaya bisa cepat selesai.”
****
Setelah hampir 4 tahun berlalu, kuliahku pun sudah selesai dan pak Jimmy pun akhirnya memberikan kabar kalau dia beberapa saat lagi akan pulang. Tapi sampai saat ini juga, dia tidak memberitahukan perihal keadaan pak Rico padaku.
Sementara itu, bu Ambar masih saja sok berkuasa di kantor. Tidak ada satu orang pun yang berani mencoba bicara tentang sebenarnya. Karena mereka pada umumnya ingin mencari aman.
__ADS_1
Bersambung...