
Keesokan harinya, aku kuliah dan di antar oleh pak Jimmy. Sampai di gerbang kampus, aku di sambut oleh Yeni, teman pertamaku.
“Hai, Zahra. Hai, suaminya Zahra.” Sapa Yeni saat aku keluar dari mobil
“Hahaha.. Hai juga.” Sahut pak Jimmy sambil tersenyum lebar dari dalam mobil
“Lha, kok ketawa?” tanya Yeni bingung melihat pak Jimmy tertawa saat menyahuti sapaannya.
“Maaf.. Maaf... Panggil saja aku, Jimmy. Jangan panggil aku dengan sebutan suaminya Zahra.” Ucap pak Jimmy
“Hehehe... Iya.. Iya... Pak Jimmy.” Ucap Yeni dan pak Jimmy pun mengangguk
“O ya, sayang. Aku pergi dulu ya. Sebentar lagi ada meeting. Aku harus cepat sampai di kantor.” Ucap pak Jimmy
“Iya, mas. Hati-hati di jalan.” Ucapku dan dia pun mengangguk lalu menjalankan mobilnya
“Wuih, kamu keren, Zahra.” Ucap Yeni takjub saat kami jalan memasuki kampus
“Keran apanya?” tanyaku bingung
“Iya, keren. Kamu itu punya suami tampan dan kaya, 2 dosen ganteng yang juga ingin menjadikan kamu adik. Terus ada lagi dosen tampan dan single yang ternyata juga kamu kenal alias guru SMU kamu. Hu... Keren banget deh pokoknya.” Ucap Yeni
Saat mendengar itu, aku tiba-tiba menghentikan langkahku. Aku agak sedikit miris. Karena masa laluku itulah yang membuat aku terpuruk.
“Hai.. Hello... Lha dia malah melamun. Woi, Zahra..!!” ucapnya sambil menyenggol badanku
“Eh, iya.. iya.. Ada apa?!” tanyaku
“Haizz... Ini orang. Ya sudahlah. Ayo kita masuk.” Ucap Yeni kesal sambil melanjutkan langkahnya
Kami pun masuk ke dalam kampus. Di sana aku melihat pak Rico sedang berjalan menuju ruangan Dosen.
Betapa sedih dan pedihnya hati ini. Kenapa semua ini harus menjadi seperti ini.
“Hai, Zahra. Kamu itu sedang memikirkan apa, sih?” tanya Yeni saat melihatku termenung sambil berjalan
“O.. Tidak ada apa-apa. Ayo kita masuk kelas.” Ucapku dan lagi-lagi Yeni hanya memicingkan matanya tanda tidak percaya.
***
Sementara di tempat lain, ternyata pak Rico pun memperhatikanku.
“Kayla... Andaikan waktu dapat berputar kembali. Aku sama sekali tidak ingin kehilanganmu.” Ucap pak Rico dalam hati
Tak selang berapa lama, mata kuliah pun di mulai. Aku yang tadi sempat melihat pak Rico, akhirnya hanya bisa melamun tanpa bisa fokus
“Ya ampun. Kenapa pikiranku bisa kacau begini, sih?!” gumamku dalam hati
Aku benar-benar tidak habis pikir. Kenapa setelah tiga tahun sudah berlalu, aku masih saja belum bisa melupakan pak Rico.
“Haiz..” gumamku sambil menghela nafas panjang dan ini di sadari oleh Yeni
“Hadeuh, Zahra. Kamu itu hari ini kenapa sih?” tanya Yeni bingung
__ADS_1
“Oh. Aku tidak kenapa-kenapa, kok.” Sahutku
“Lagi-lagi seperti itu.” Protes Yeni
“Hehehe...” sahutku cengengesan
“Ish..” ucapnya singkat sambil kemudian meneruskan mencatat materi kuliah.
***
Tak terasa hari ini kuliah sudah selesai. Aku dengan langkah gontai berjalan menyusuri koridor kampus tanpa di temani Yeni.
Saat di pertengahan perjalanan, tanpa sengaja aku bertemu dengan pak Rico.
“Kayla..” panggilnya dengan lembut seperti biasanya
Aku yang semula ingin pura-pura tidak tahu pun akhirnya dengan terpaksa menghentikan langkahku
“Iya? Apa bapak tadi memanggil namaku?” tanyaku
“Iya. Aku tadi memanggilmu.” Sahutnya
“Oh. Ada apa ya, pak?” tanyaku
“Bagaimana kabarmu selama ini?” tanya pak Rico
“Aku baik-baik saja, pak.” Sahutku
“Pacar?! Oh. Iya iya. Dia juga baik-baik saja, kok.” Ucapku yang hampir saja lupa kalau dulu alasanku meninggalkan pak Rico itu karena sudah ada pria lain.
“Oh syukurlah kalau kalian baik-baik saja.” Ucap pak Rico dan aku pun tersenyum
Dan di saat yang bersamaan, datang seseorang yang memanggil pak Rico
“Pak, ada yang sedang mencari bapak di kantor, tuh.” Ucap orang itu
“Siapa?” tanya pak Rico
“Tidak tahu. Tapi yang pasti dia seorang perempuan.” Ucap orang itu
“Pasti itu kak Lucy.” Gumamku dalam hati
“O ya sudah. Nanti saya ke sana.” Sahut pak Rico dan setelah mendapat jawaban dari pak Rico, orang itu pun pergi.
“Hmm.. Kay. Kalau begitu aku ke kantor dulu ya. Kapan-kapan kita lanjutkan lagi ngobrolnya.” Ucap pak Rico dan aku pun mengangguk
Setelah itu, kami pun berpisah. Pak Rico ke kantor dan aku pun menuju pintu gerbang.
***
Saat sudah sampai di kantor, pak Rico terkejut melihat siapa yang sudah mencarinya
“Lucy.” Ucapnya spontan
__ADS_1
“Hai, mas Rico.” Sapa kak Lucy
“Buat apa kamu datang ke sini?” ucap pak Rico ketus
“Haizz.. Kok tanyanya begitu sih?! Memang tidak boleh ya kalau aku cari mas Rico di sini?” ucap kak Lucy dengan nada yang dibuat secentil mungkin.
Di saat yang bersamaan, datang pak Azka dan pak Alvaro.
“Lucy?” ucap pak Azka
“Bapak kenal dia?” tanya pak Rico bingung
“Iya, pak. Dia kan kakak kandungnya adik angkat kami.” Sahut pak Alvaro
“Jadi kalian juga kenal dengan Kayla?” tanya pak Rico yang terkejut
“Tentu saja kami kenal, pak. Dia kan adik angkat kami yang sudah kami cari selama ini.” Jelas pak Alvaro
“Kok bisa?” ucap pak Rico bingung
“Sudah mas, kita pergi saja dari sini. Aku tidak kenal dengan mereka.” Ucap kak Lucy hendak melarikan diri
“Kamu mau kemana, Luc? Apa kamu masih belum puas menyakiti hati adikmu sendiri? Kakak macam apa, kamu?” ucap pak Azka ketus
“Maksud bapak apa, ya?” tanya kak Lucy hendak berdalih
“Luc, kamu benar-benar tidak berubah. Kamu itu sudah tega mengusir adikmu sendiri dari rumah.” Ucap pak Azka
“Apa, pak?! Dia ini mengusir Kayla dari rumah?” tanya pak Rico memastikan
“Iya, pak.” Sahut pak Azka
“Bohong itu, mas. Aku tidak mengusir Kayla. Kaylanya sendiri yang pergi dengan selingkuhannya.” Sanggah kak Lucy
“Ha? Pergi dengan selingkuhannya sendiri?! Bwahahahaha... Lucy.. Lucy.. Kamu itu perempuan licik. Entah apa tujuan kamu itu yang sebenarnya tapi coba pak Rico pikir baik-baik. Jika bapak memang benar-benar mengenal Kayla, pasti bapak akan tahu betapa tidak mungkinnya bagi seorang Kayla untuk melakukan tindakan seperti itu.” Ucap pak Azka
Pak Rico pun terdiam dan memikirkan kembali semua hal yang sudah terjadi selama ini.
“Tidak, mas. Itu tidak benar. Bisa saja kan seiring berjalannya waktu, kepribadian orang bisa berubah?” ucap kak Lucy
“Memang benar kalau seaeorang itu bisa berubah kapan saja. Tapi kami berdua tahu jelas kalau Kayla tidaklah berubah. Dia tetaplah gadis manis yang baik hati.” Ucap pak Alvaro sementara itu pak Rico masih menyimak semua obrolan mereka
“Atas dasar apa, bapak bilang seperti itu? Bapak kan belum lihat Kayla yang sekarang.” Ucap kak Lucy
“Bwahahahaha... Lucy.. Lucy.. Kamu tuh aneh. Ya jelas saja kami tahu lha. Dia kan kuliah di kampus ini juga dan beberapa hari yang lalu, orang yang sudah baik hati itulah yang sudah menjelaskan semuanya pada kami.” Ucap pak Azka
“Terimakasih, pak. Atas informasinya.” Ucap pak Rico
“Sama-sama, pak.” Ucap pak Azka dan pak Alvaro pun tersenyum
“Ayo, Luc. Kita perlu bicara.” Ucap pak Rico yang menarik kasar tangan kak Lucy
Bersambung...
__ADS_1