
Saat pagi tiba, akupun terbangun dari tidurku dan kemudian duduk. Namun ketika aku duduk termangu sambil menunduk, aku merasa bahwa ada hal yang masih mengganjal di hatiku.
“Hadeuh... Kenapa aku lupa ya klo pagi ini aku harus memberi jawaban ke pak Jimny?!” gumamku
“Hadeuh.. Pikun.. Pikun..” ucapku sambil memukuli kepalaku sendiri dan langsung menghempaskan tubuhku lagi ke tempat tidur
Ketika aku sedang merasa kebingungan, tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk.
“Non, non sudah bangun?” tanya bi Yati dari luar kamar
“Sudah bi.” Sahutku
“O klo begitu, non di tunggu sama tuan di ruang makan.” Ucap bi Yati
“Iya bi, sebentar lagi aku ke sana.” Sahutku
“Aduh.. Gimana nih?!” gumamku
“Ah.. Mandi dulu aja lah. Biar fresh.” Ucapku yang langsung bangun dan turun dari tempat tidur lalu langsung menuju ke kamar mandi
__ADS_1
Setelah semuanya sudah selesai, akupun keluar menuju ruang makan. Tapi sebelumnya aku ngambil nafas panjang dulu karena gugup klo harus berhadapan dengan pak Jimmy saat ini.
Di ruang makan, aku melihat pak Jimmy sudah menungguku untuk sarapan dan seperti biasanya dia terlihat fresh, rapih, dan tampan. Namun sayangnya, kenapa hatiku tak bisa tergerak sedikitpun.
Akupun langsung duduk di bangku meja makan yang posisinya berhadapan dengannya.
“Pak, maaf aku kelamaan ya?!” ucapku
“Tidak apa-apa kok. Kebetulan tadi sambil menunggumu, aku ngecek berkas-berkas untuk rapat nanti.” Jelasnya
“O iya Zahra, sekalian nanti saat aku sedang rapat, tolong kamu ketik berkas yang sudah aku siapkan ini ya.” Ucap pak Jimmy
Setelah ngobrol sebentar seperti itu, kami pun memulai sarapan kami.
***
Di perjalanan, aku bingung bagaimana cara memulai obrolan. Jadinya aku putuskan untuk diam. Tapi tiba-tiba...
“Zahra, untuk pertanyaanku semalam, aku ingin sekali kamu mau menerimaku. Aku tak peduli kamu cinta atau ga padaku. Aku ga peduli itu. Tapi satu hal yang aku pedulikan. Kamu tahu apa itu?! Aku sangat peduli padamu. Aku ingin sekali menjagamu dan melindungimu. Aku sakit hati jika ada orang lain yang membuatmu sedih. Aku ingin sekali mewakilimu membalas semua rasa kecewamu pada mereka.” Ucap pak Jimmy yang membuatku tidak tahu harus bagaimana
__ADS_1
“Zahra, maaf jika aku memaksa. Aku tidak peduli bagaimanapun perasaanmu padaku, aku akan tetap menikahimu dan jika dalam pernikahan kita nanti, kamu masih tidak ingin disentuh olehku, aku tidak apa-apa. Aku akan sabar menunggu sampai kamu tulus bisa menerimaku juga.” Ucap pak Jimmy
“Pak.. Ini tidaklah adil untuk bapak.” Ucapku
“Aku ga peduli masalah itu. Yang aku pedulikan hanya ingin membuatmu bahagia. Itu saja.” Ucapnya tegas lalu akupun hanya bisa diam dan tidak tahu lagi harus bicara apa.
Sesampainya di parkiran kantor, kami pun turun dari mobil. Namun sebelum turun, lagi-lagi pak Jimmy menahanku.
“Cup.” Dikecupnya keningku dengan lembut dan ini membuatku sangat terkejut
“Zahra, jangan takut. Mulai saat ini dan seterusnya, aku akan selalu melindungimu. Ga akan satupun orang yang bisa menyakitimu lagi. Termasuk kakakmu.” Ucapnya lembut namun dengan tatapan tajam
“Terimakasih pak atas semuanya.” Ucapku pada akhirnya dan diapun tersenyum
“Ya udah sekarang kita turun.” Ajaknya dan akupun mengangguk
Setelah itu, kamipun langsung masuk ke dalam gedung kantor dan seperti biasa, banyak orang dalam gedung itu yang menyapa pak Jimmy dengan sopan.
Lanjut..👇
__ADS_1