
Saat aku sedang menangis, tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Dengan masih sesenggukan, aku mengambil ponselku dan ku lihat nama orang yang tertera di layar ponsel.
“Pak Jimmy?!” ucapku sambil menyeka air mataku.
“Halo...” ucapku.
“Halo, Zahra. Kamu masih di kampus?” tanya pak Jimmy.
“Tidak, mas. Aku sekarang ada di rumah sakit.” sahutku.
“Rumah Sakit?” ucap pak Jimmy terkejut.
“Iya.” sahutku singkat dengan suara lirih.
“Kamu sakit, ya?” tanya pak Jimmy
“Bukan aku, mas.” ucapku.
“Lha terus siapa?” tanya pak Jimmy.
“Dia... Dia.... Dia pak Rico, mas. Pak Rico sedang koma di Rumah Sakit.” ucapku.
“Apa? Mas Rico sedang koma? Di Rumah Sakit mana?” tanya pak Jimmy.
“Pak Rico sekarang ada di Rumah Sakit tempat mas kemarin di rawat.” ucapku.
“Ya sudah. Kamu tunggu di sana, ya. Aku ke sana sekarang.” ucap pak Jimmy yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Setelah telepon terputus, aku pun kembali menatap wajah sendu pak Rico dan berkata, “Pak, apa yang harus aku lakukan sekarang. Kalian berdua sudah banyak berkorban demi aku dan kalian berdua juga orang yang benar-benar menyayangiku. Aku... Aku sungguh tak tega memilih salah satu dari kalian dan juga menyakiti hati yang lainnya.”
Setelah beberapa saat kemudian, pak Jimmy datang dan berkata, “Zahra, kenapa bisa begini?”
“Tidak tahu, mas. Tadi kata pak Gerry, pak Rico ini kecelakaan. Ada mobil yang menabrak pak Rico. Lalu, apakah supir mobil itu tertangkap?” tanya pak Jimmy.
“Aku tidak kepikiran sampai sana, mas. Tadi begitu aku tahu pak Rico koma dan ada di Rumah Sakit ini, aku secara tidak sadar langsung pergi ke Rumah Sakit ini.” jelasku.
Pak Jimmy yang mendengarkan penjelasanku pun terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
__ADS_1
Sesaat kemudian, pak Jimmy berkata, “Ya sudah. Kalau begitu kamu tolong jaga kakakku dulu, ya. Aku ada urusan yang harus aku selesaikan.”
“Mas mau kemana?” tanyaku.
“Kamu tenang saja. Aku tidak lama, kok.” sahutnya sambil mengelus-ngelus rambutku.
“Mas janji, ya. Tidak akan lama.” ucapku.
“Iya.” sahutnya singkat dan kemudian pergi.
Setelah di tinggal oleh pak Jimmy, aku pun kembali merenung mamandangi pak Rico.
“Aku berharap, bapak bisa selamat dan sadar.” Gumamku dalam hati.
****
Saat sore tiba, benar saja pak Jimmy datang menemuiku. Dia berkata, “Kamu pulanglah, istirahat. Biar mas Rico aku yang menunggunya di sini.”
“Tapi, mas..” ucapku terpotong oleh pak Jimmy karena saat itu dia berkata, “Tidak ada tapi-tapian. Nanti kamu bisa sakit kalau kamu memaksakan diri seperti ini.”
“Mas...” lagi-lagi ucapan ku di potong oleh pak Jimmy. Dia berkata, “Zahra, aku paling tidak suka di bantah. Tolong... Kamu pulanglah dan istirahatlah.”
***
Di rumah, aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku benar-benar kepikiran tentang pak Rico. Andaikan saja waktu itu aku tidak membolehkannya pergi.
Keesokan harinya, aku bertemu dengan pak Gerry. Dia sedang ada di lobi Rumah Sakit.
“Bapak? Bapak tidak ada jam mengajar?” tanyaku.
“Ada. Tapi aku ijin untuk tidak mengajar hari ini.” ucap pak Gerry
“Kenapa?” tanyaku
“Aku sedang mengurusi administrasi kepindahan pak Rico ke luar negeri. Ini baru saja selesai.” sahutnya.
“Luar negeri?” tanyaku memastikan.
__ADS_1
“Iya, Kay. Dia dan adiknya, pak Jimmy akan pergi ke luar negeri. Di sana peralatan kesehatannya lebih lengkap.” ucap pak Gerry.
“Apa? Jadi pak Jimmy juga ikut?” tanyaku terkejut.
“Iya.” sahut pak Gerry singkat.
“Apa dengan ke luar negeri itu bisa ada jaminan kalau dia akan pulih?” tanyaku.
“Ya kita doakan saja. Siapa tahu berhasil.” ucap pak Gerry.
“Terus sekarang apa pak Rico masih ada di ruang perawatannya?” tanyaku
“Tidak. Mereka baru saja berangkat.” sahut pak Gerry.
“Apa?” ucapku yang lagi-lagi terkejut.
“Oh iya, Kay. Ini ada titipan surat dari pak Jimmy untuk kamu.” ucap pak Gerry sambil memberikan sebuah amplop.
Aku pun langsung menerimanya. Namun, aku takut untuk segera membacanya.
“Terimakasih, pak.” ucapku
“Iya. Sama-sama.” sahut pak Gerry.
Kami pun akhirnya memisahkan diri ke tempat tujuan kami masing-masing. Pak Gerry entah kemana, sedangkan aku pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku pun langsung masuk ke dalam kamar dan meletakkan tasku di atas meja belajar.
Aku pun membanting tubuhku di atas tempat tidur dan memandangi terus surat yang tadi di berikan pak Gerry padaku.
Dengan hati yang sedih dan takut, aku pun membuka surat tersebut. Ternyata isi surat itu mengatakan,
“Zahra, maaf sebelumnya aku tidak memberitahukan masalah ini padamu dan menanyakan pendapatmu. Tapi percayalah, ini semua aku lakukan demi kamu dan kakakku. Tolong doakan aku agar bisa membuat mas Rico kembali sadar dan pulih. Setelah semua berjalan lancar dan kami pulang, aku berharap saat itu aku akan bisa melepaskanmu dan membiarkanmu kembali pada kakakku. Jadi... Tolonglah tunggu kami dengan sabar.”
Setelah membaca surat itu, hatiku tiba-tiba terasa miris. Kenapa? Kenapa jadi begini?
Setelah malam ini, aku ingin sekali memulai semuanya dari awal dan aku pun menarik nafas panjang.
__ADS_1
“Apa yang harus aku lakukan?” gumamku lirih.
Bersambung...