
PETUGAS 3
...----------------...
Di perjalanan menuju pasar.
"Aku harus selidiki tentang masalah ini, sebelumnya aku pernah menyidiki perkara yang sama.
Waktu itu ada juga kasus tentang pencurian pedang, sebuah pedang kuno milik suatu kerajaan besar, yang di simpan oleh seorang warga.
Pencurinya juga merusak pintu rumah warga itu dan rusak nya sama persis dengan yang ada di rumah tuan Centa, apakah ini pelaku yang sama?.
Waktu itu sesuai ciri-ciri yang diberikan, aku berhasil menemukan pedang warga yang hilang itu, pedang itu di jual oleh seorang pedagang barang antik di pasar.
Aku tanyakan prihal pedang itu dapatnya dari mana ? dan siapa yang telah menjualnya ? pada pedagang itu tapi ia hanya menyebutkan pedang itu ia dapatkan dari seseorang yang tidak mau menyebutkan identitasnya.
Dan aku terpaksa menebus pedang itu dengan harga yang sangat mahal.
Semua itu demi rasa nyaman dan percaya dari warga desa ini, sayangnya sampai sekarang aku belum dapat menemukan pelakunya.
Dan inilah saatnya, saat ia beraksi kembali, aku harus dapat membongkar kedok siapa yang bertanggung jawab atas kasus pencurian ini" gumam Petugas itu di sepanjang jalan.
Petugas itu pun tiba di pasar.
"Baiklah, sekarang aku harus berlagak layaknya pembeli biasa, jangan sampai ada yang mengenaliku, (melihat orang-orang yang ada di pasar) sepertinya banyak muka-muka mencurigakan di sini."
Petugas itu terus menyusuri pasar mencari penjual barang antik di sana.
Setelah sekian lama petugas itu menyusui pasar.
"Barang antik, barang antik, mari beli kemari".
Terdengar samar-samar oleh petugas itu suara pedagang menawarkan dagangannya.
"Sepertinya aku mendengar sesuatu" (mencari sumber suara).
__ADS_1
"Barang antik, barang antik, mari beli kemari."
"Benar, itu suara penjual barang antik" (masih mencari sumber suara).
Dimanakah ia?. Keadaan pasar yang ramai membuat petugas itu kesulitan menemukan asal sumber suara.
Ketika ia melihat ke arah kanan, tampaklah olehnya seorang penjual barang antik di pojok pasar sedang menawarkan dagangannya.
"itu dia, sebaiknya aku berpura-pura ingin membeli barangnya dan menanyakan asal barang-barang tersebut."
Petugas itu datang menghampiri pedagang itu.
"Salam, benarkah ini tempat penjualan barang-barang antik?."
"Benar, mari! silakan lihat-lihat dahulu."
"Di sini menjual apa saja?" tanya petugas yang sedang menyamar itu.
"Banyak tuan, ada pedang, guci, belati, panah, tungku, dan lain-lainnya."
"Oh... Pembeli Disini paling sering mencari benda-benda pusaka kuno seperti dari jenis pedang dan belati."
"Boleh aku melihat pedang-pedang yang di jual disini."
"Tentu tuan, mari ikut aku."
"Ini tuan, lihatlah (menunjukkan pedang-pedang kuno miliknya)."
"Bagaimana aku bisa tau di antara sini ada pedang milik tuan Centa, aku saja belum tau ciri-cirinya" gumam Centa.
"Tuan! bisa kau tunjukkan pedang mana yang harganya paling mahal ?."
"Oh, ini tuan menunjuk pada pedang yang memiliki motif sangat indah."
"(memperhatikan pedang itu) Itu tidak tampak seperti benda kuno, berapakah harganya?."
__ADS_1
"Benar tuan itu memang bukan benda kuno, tapi motifnya itu tuan yang membuat pedang itu jadi sangat mahal, harganya adalah 10.000 koin emas tuan."
Pada saat itu harga segitu adalah harga yang sangat mahal.
"Kalo boleh tau, kau dapatkan darimana pedang itu?."
"Aku membelinya pada seseorang, ia tidak memberi tau identitasnya, aku membelinya seharga 9999 koin emas, aku tertarik membelinya karena orang itu berkata bahwa pedang ini memiliki motif Kerajaan Nesia yang sangat indah, motif dari sebuah kerajaan super power pada masanya."
Kerajaan Nesia? aku baru mendengarnya, pedagang ini sepertinya mencurigakan, baiklah nanti akan aku selidiki kembali, agar tidak dicurigai sebaiknya aku membeli sebuah belati di sini. Gumam petugas itu.
"(mengarah ke susunan belati) belati ini harganya berapa (menunjuk sebuah belati)?."
"Kau tidak jadi membeli pedang ini?."
"Aku tidak mampu membelinya, uangku belum cukup, lain kali aku akan kembali lagi untuk membelinya."
"Oh... baiklah kalau begitu, oh ya belati itu harganya hanya 100 koin emas tuan."
"Baiklah aku membelinya."
(Pedagang itu memasukkan belati itu pada sebuah wadah) "ini tuan" (memberikan belati itu).
"terimakasih" (menerimanya),"ini",(memberikan sekantong penuh berisi 100 koin emas)
"Terimakasih tuan" (pedagang itu menerima kantong uang itu), "sampai bertemu kembali."
"Baiklah aku pamit dulu, salam."
...✴️✴️✴️...
Terima kasih sudah membaca, mohon kritik, saran dan dukungannya supaya aku lebih semangat lagi untuk melanjutkan ceritanya.
...Terima kasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1