AXIJIM : Sang Pangeran Yang Hilang

AXIJIM : Sang Pangeran Yang Hilang
Menjadi Naga


__ADS_3

Keesokan harinya.


Guru Draco terbangun dari tidurnya, ia segera mandi dan merapikan diri. Bersiap untuk pergi ke rumah Centa. Diambilnya sketsa kapal di laci meja miliknya, dan juga beberapa koin emas di lemarinya, untuk nanti ia berikan pada Centa.


Setelah siap, ia langsung bergegas pergi menuju rumah Centa.


Diperjalanan, “Semoga Centa ada di rumah, sungguh bersalah diriku jika sampai membuatnya lelah mencariku kemana-mana. Sebaiknya aku percepat langkah kakiku.”


Guru Draco mempercepat langkah kakinya, ditengah pagi yang dingin dan mengembun, jalanan setapak itu ia lalui.


...----------------...


Disisi Centa.


Uaaaah (Menguap). Centa terbangun dari tidurnya. “huuh” (sedikit menggigil) “ternyata pagi ini masih terasa dingin seperti kemarin, apa akan turun hujan salju lagi? hmm Entahlah, sebaiknya aku cuci muka dahulu, supaya segar.”


Centa pergi ke sumur untuk mencuci muka, byurr, byurr, bunyi air ketika dibasuhkan kemukanya.


“Segarnya” ucap Centa.


...----------------...


Kembali kesisi Guru Draco.


Guru Draco semakin mempercepat langkahnya. Ia mulai merasa lelah, ia lalu melihat ke sekeliling, semuanya sepi, ia lalu memutuskan untuk merubah wujud menjadi seekor naga untuk dapat terbang segera menemui Centa.


Guru Draco tidak mau ada seseorang pun yang tahu bahwa dirinya dapat berubah menjadi seekor naga.


Cliiing (guru Draco merubah diri) 



BHYUUSSS, BHYUUSSS, BHYUUSSS, (suara sayap guru Draco ketika menjadi naga).


Ia terbang dengan cepat menuju rumah Centa, hanya beberapa menit saja, ia telah sampai di depan rumah Centa.

__ADS_1


BHYUUSSS suara hempasan terakhir sayapnya ketika mendaratkan diri.


.


.


...----------------...


.


.


BHYUUSSS.


Centa yang baru selesai mencuci muka. “Suara apa itu” (kaget). Centa langsung berlari ke depan rumah dan membuka pintu. Kreek (suara pintu) “Hah, Guru?.”


Centa terkejut dan juga heran, ternyata guru Draco telah berdiri di depan rumahnya.


Ia langsung bertanya “Suara apa tadi Guru?.”


“Oh, tentu guru, mari masuk!.”


Guru Draco pun masuk ke rumah Centa.


“Silahkan duduk guru.” Centa mempersilahkan gurunya duduk di sebuah kursi. Sedangkan ia hanya duduk di atas tikar, mengingat tubuh Centa adalah setengah manusia dan setengah kuda.


Centa memang memiliki kursi dan meja, hal itu karena untuk menyambut dan menghormati mereka yang memiliki tubuh manusia sempurna.


“Bolehkah aku bertanya lagi guru, suara apakah tadi?.”


“Oh itu adalah suara kibasan sayapku.”


“Sayap? Sayap apa guru?.” Centa sedikit menyela.


“Begini Centa, sebenarnya aku dapat merubah diri menjadi seekor naga.”

__ADS_1


“Benarkah.”  (Tercengang).


“Benar Centa, aku tidak mau memperlihatkannya ke orang-orang karena aku takut ada yang mengetahuinya.”


“Kenapa guru?.”


“Karena ilmu ini hanya bisa didapatkan setelah belajar di Kerajaan Nesia, ilmu ini bukan sihir tapi pengetahuan.”


“Oh, begitu ya guru.” Centa hanya bisa terheran.


“Sudahlah, kau sekarang sudah mengetahuinya.


Begini Centa, sebelumnya aku kemari ingin meminta maaf kepadamu, karena kemarin aku ketiduran dan lupa untuk memberimu beberapa koin emas.


Tolong  maafkan aku.”


“Tidak mengapa guru, kau tidak bersalah, jika guru tetap memaksa sudah aku maafkan sebelum guru memintanya.”


“Terima kasih Centa, sebenarnya aku kemarin itu tertidur di ruang bawah tanah, hingga sore menjelang, pasti kau mencariku kemana-mana iya kan?.”


Hehe (nyengir) “Iya guru, aku mencarimu.”


"Benar dugaanku, sekali lagi Guru minta maaf Centa."


"Ahh, tidak mengapa guru, itu kan juga bukan hal yang disengaja" (Tersenyum).


"Oh iya Centa, ini "(memberikan kantong berisi beberapa koin emas), "ambil ini, ini beberapa koin untuk membeli kain layar buat proyek kapal kita."


"Oh iya baiklah guru" (menerima kantong itu).


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca, mohon kritik, saran dan dukungannya supaya aku lebih semangat lagi untuk melanjutkan ceritanya🙏🙏🙏.


__ADS_2