AXIJIM : Sang Pangeran Yang Hilang

AXIJIM : Sang Pangeran Yang Hilang
Dimana Aku?


__ADS_3

...----------------...


Sosok wanita itu, kemudian menggerakkan tongkatnya dan mengucapkan sesuatu, yang tidak dipahami Axijim.


Mungkin itu adalah sebuah mantera sihir.


Dan CLIIIIING.


Bukannya menyembuhkan sengatan lebah ditubuh Axijim.


Dengan manteranya wanita itu membawa Axijim ke sebuah tempat yang tidak ia ketahui.


Tempat itu rimbun, dengan pohon kelapa memenuhinya, semak belukar, dan beberapa pohon yang belum diketahui jenisnya oleh Axijim.


Saat itu perasaan bingung, heran, takut, dan khawatir bercampur aduk dibenak Axijim.


Ia tidak berani bertanya pada wanita itu, ia sangat ketakutan.


Wanita itu tidak berkata apa-apa pada Axijim, dilihatnya wanita itu hanya tertawa kecil sendirian, namun dengan raut wajah yang menyeramkan.


"Dimana aku? siapakah wanita itu? ibu...! ayah...! tolong aku! aku takut, tolong...! di mana ini? tempat apa ini? tolong..!" jerit Axijim dalam hati.


Tanpa berkata sepatah kata pun lagi, wanita tadi kembali menggerakkan tongkatnya.


Dan CLIIING


Tiba-tiba ia menghilang dari hadapan Axijim.


Axijim semakin kebingungan, heran, cemas, dan takut.


Semua itu bercampur aduk menjadi satu.


"Ya Tuhan!, bantu aku! beri aku petunjuk!tolonglah aku !, ibu...! ayah...! apakah kalian tidak mendengar rintihanku ?" Axijim menangis.


Ia lalu terduduk di tanah.


"Hiks hiks hiks

__ADS_1


Ibu... tolong !


Ayah...tolong !


kenapa kalian tidak mendengarkanku ?"


Teriak Axijim menangis.


Axijim terus menangis. Ia bingung harus melakukan apa, wanita itu membawanya ke tempat yang ia tidak ketahui sama sekali.


Axijim masih terus menangis.


Hiks hiks hiks


Ia terus merintih. Bingung, cemas, dan takut masih terus menyelimuti dirinya. Ia terduduk diatas tanah dan masih menangis.


"Apa yang harus kulakukan ? aku tidak tau tempat apa ini ? kenapa wanita itu tega membawaku kesini dan meninggalkanku begitu saja, hiks hiks hiks, aku harus apa? Ya Tuhan! ".


Setelah lama Axijim menangis merintih, ia kemudian mendengar sesuatu, sepertinya mirip suara deburan ombak, Axijim kembali menajamkan pendengarannya. Ia menempelkan telinganya ke tanah.


Perasaan Axijim sedikit lega, ia ingin mencari asal suara deburan ombak itu.


Sepertinya Axijim sekarang sedang berada di sebuah pulau, atau di dekat pantai, entahlah itu belum pasti.


"Sebaiknya aku mencari asal deburan ombak itu, sepertinya tidak jauh dari sini".


Axijim kemudian berhenti dari tangisnya, ia kemudian berdiri dari duduknya lalu mulai berjalan menelusuri tempat itu untuk mencari asal suara deburan ombak tersebut.


Siapa tau dia akan berjumpa dengan seseorang, dan dapat menolongnya nantinya.


"Semoga ada seseorang yang dapat menolongku nanti". Do'a Axijim.


Axijim terus berjalan sembari menajamkan pendengarannya, ia mencoba mengambil belati di tasnya namun, tak disangka tas yang ia bawa sudah tidak ada, sepertinya tas itu telah terjatuh ketika ia berlari dari kejaran lebah-lebah di hutan tadi.


"Aduh, tas ku hilang, apakah telah terjatuh ? entahlah, sebaiknya aku segera mancari asal suara deburan ombak itu, semoga ada yang bisa menolongku nanti." Ia masih berdoa.


Axijim terus menelusuri tempat itu, melewati semak belukar, dan jalan yang sedikit berair, akhirnya ia menemukan sebuah pantai asal dari deburan ombak itu.

__ADS_1


Sebuah pantai yang cukup aneh, pohon-pohon di pantai itu berbentuk tidak lazim, daunnya sangat lebar, sedangkan batang dan rantingnya kecil-kecil.


Axijim tidak mempedulikan hal itu, ia terus menyusuri pantai itu, ia berjalan di pinggiran pantai, mencari seseorang.


Semoga ada orang yang nantinya dapat menolongnya, doa itulah yang dipanjatkan oleh Axijim disetiap langkahnya.


Ia terus melangkah, namun dengan langkahan yang kurang pasti, dihatinya ada rasa cemas dan was-was, tapi ia terus melangkah, dan tetap melangkah, sembari terus berharap ada yang akan dapat menolongnya.


Do'a itulah yang selalu tersebut dalam hati Axijim.


Dan akhirnya doanya terwujud, do'a disetiap langkahnya tidak sia-sia.


Dihadapannya sekarang, ia melihat sebuah gubuk berdiri tegak di pinggir pantai, yaitu sebuah gubuk yang begitu lusuh.


Tampaknya bangunan itu sangat tua, tapi masih tetap terawat dengan baik.


Gubuk itu berdiri di atas sebuah karang di pinggir laut, mungkin tujuannya adalah untuk mencegah robohnya gubuk itu dari kikisan abrasi air laut.


Perasaannya saat itu berubah menjadi lebih baik, tidak seperti tadi lagi.


"Terima kasih Tuhan" Axijim mengucapkan syukur. Ia kemudian bertanya-tanya dalam hati.


"Apakah gubuk itu berpenghuni? apakah ada seseorang? Ya Tuhan semoga ada yang dapat menolongku."


"Sebaiknya aku dekati gubuk itu" Ucapnya.


Axijim lalu berjalan mendekati gubuk.


Bersambung…


.


.


.


Terima kasih sudah membaca, mohon kritik, saran dan dukungannya supaya aku lebih semangat lagi untuk melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2