
...----------------...
Sesampainya.
"Salam bu, Axijim memberi salam pada ibunya yang sedang memintal kapas di depan rumah."
"Salam kembali nak, kenapa terlalu siang pulangnya?," tanya ibu.
"Oh iya bu, maaf Axij agak telat pulangnya."
"Iya tidak apa-apa nak, segera kau ganti pakaianmu, sudah kotor itu pastinya."
"Baik bu."
Axijim lalu memasuki rumah dan mengganti pakaiannya.
Dikamarnya.
Axijim mengambil kertas tadi dari tasnya. Ia penasaran, dan ingin melihatnya kembali.
Ia perhatikan tulisan di kertas itu, huruf yang digunakan kurang bisa di pahami oleh Axijim. Axijim lalu teringat bahwa ada seorang penerjemah di desannya.
"Oh iya, di desa ini kan ada seorang penerjemah bahasa, sebaiknya aku pergi kesana untuk menanyakan arti dari tulisan di kertas ini.
Sebaiknya kutaruh dulu telur-telur burung yang kuambil tadi" (Axijim pergi ke dapur).
"Aku taruh sini saja lah" (Menaruh beberapa telur burung tadi di atas piring).
Axijim kembali ke kamar dan bersiap.
.
.
"Ibu, aku mau keluar dulu ya, boleh kan?."
"Boleh nak, tapi kamu mau kemana?."
"Oh aku mau pergi bertanya tentang sesuatu bu."
"Tentang apa dan kepada siapa?."
"Ini bu," (Axijim menunjukkan kertas itu pada ibu)
__ADS_1
Ibu memperhatikan lalu bertanya "tulisan apa ini nak?."
"Aku tidak tahu bu, oleh karenanya aku ingin tanyakan ini pada penerjemah di desa ini. "
"Oh ya, darimana kau mendapat…
"Boleh tidak bu?(Axijim menyela perkataan ibu), boleh ya boleh(merengek).
"Baiklah nak."
"Baik bu."
Axijim langsung berangakat "Salam bu."
"Salam kembali, hati-hati di jalan."
Untungnya ibu Axijim tidak lanjut bertanya tentang dari manakah asal Axijim mendapakan kertas itu. Ia langsung memotongnya.
.
.
.
Tok tok tok
Tok tok tok
"Salam kembali, masuk! (tedenger suara dari dalam).
"Dorong saja pintunya!."
"Baiklah(Axijim mendorong pintu). Salam tuan." Axijim memberi salam pada seorang laki-laki tua yang sedang serius membaca buku.
"Salam kembali," jawabnya dengan suara tua yang lusuh.
Ia lalu menutup bukunya dan bertanya "Ada perlu apa nak kau kemari?."
"Oh begini tuan, aku ingin menanyakan arti tulisan dikertas ini," Axijim mengambil kertas di tasnya lalu menyerahkannya.
"Oh ya nak, jangan panggil aku tuan, panggil saja kakek Fornax," ucapnya sambil mengambil kertas yang diberikan Axijim.
Kakek Fornax lalu memperhatikan tulisan dikertas itu dengan seksama.
__ADS_1
Ia mengambil kaca pembesar di atas mejanya. Lalu mencoba membaca tulisan yang ada dikertas tersebut.
Kakek Fornax mulai membacanya, "Jika-kamu-ingin-bertemu-kamu-harus-percaya," ucap Kakek Fornax terbatah-batah.
Axijim menyimak dan berfikir. Jika kamu ingin bertemu kamu harus percaya? (bingung), Axijim berusaha memikirkan apa maksud dari kalimat ini?.
"Anak muda, sebelumnya bolehkah aku bertanya siapa namamu?."
"Oh iya kakek Fornax, maaf aku belum memperkenalkan diri, baiklah perkenalkan namaku Axijim Cepheuse."
"Iya Nak Axijim, tulisan dikertas ini sepertinya sebuah teka-teki, aku tidak mengetahui jawabannya, sepertinya hanya kau saja yang mengetahuinya."
"Hmm." Axijim termenung dan berfikir.
"Baiklah nak, untuk membuat kau selalu ingat apa arti dari tulisan ini, akan aku tulis dikertas ini juga artinya."
"Oh iya kek, terima kasih kek," (senyum).
Kakek Fornax lalu menulis artinya dikertas itu juga.
Setelah selesai, "Baiklah ini nak kertasnya," memberikan kertas itu.
Axijim mengambilnya, "Terima kasih kek, sudah mau membantuku."
"Sama-sama nak, kakek senang telah bisa membantu orang-orang. "
"Maaf kek, Axijim tidak bisa memberikan apa-apa atas bantuan kakek."
"Tidak mengapa nak, cukup do'akan saja, agar kakek sehat selalu, supaya dapat lebih banyak menolong orang-orang."
"Iya kek, Kabul, semoga kakek sehat selalu."
(Kakek Fornax tersenyum).
Salam kek, Axij pulang dahulu..
Salam kembali nak.
Axijim lalu bergegas pulang ke rumah dengan masih membawa sebuah pertanyaan di kepalanya, tentang maksud dari arti kata kata tersebut.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih sudah membaca, mohon kritik, saran dan dukungannya supaya aku lebih semangat lagi untuk melanjutkan ceritanya🙏🙏🙏.