
...----------------...
(Mengulang)
Centa berpikir tentang motif Kerajaan Nesia yang ada di pedangnya.
"Kenapa motif Kerajaan Nesia yang ada dipedangku bernilai sangat mahal ya?, aku jadi penasaran,
aku pernah diperlihatkan sebuah Bulu Emas oleh guru Draco,
bulu itu diletakkan di sebuah wadah yang sangat indah,
katanya bulu itu adalah benda berharga yang dimiliki oleh Kerajaan Nesia,
kita harus menjaganya ucap guru Draco saat itu, ini sebenarnya adalah sebuah pedang,
pedang yang akan digunakan untuk memberantas kezaliman dan menegakkan keadilan ucapnya,
setelah guru memperlihatkannya padaku, ia kemudian menyimpannya,
aku tidak tahu ia menyimpannya dimana,
apa motif itu ada di setiap benda milik Kerajaan Nesia ?,
dan apa yang membuatnya menjadi berharga?,
* * *
Di episode ini ia kembali akan berpikir tentang pedangnya.
* * *
"Benar" ucap Centa sambil tersenyum.
"Baiklah tuan aku pamit dulu, terima kasih minumannya, ini uangnya !" menaruh uangnya di atas meja kedai.
Centa langsung bergegas meninggalkan kedai itu dengan sedikit terburu-buru.
"Ini uangnya lebih tuan?" (sedikit berteriak) ucap pemilik kedai pada Centa yang langsung meninggalkan kedai.
"Jika ada lebihnya untuk tuan saja, ambilah!, salam".
"Ya sudah, terimakasih tuan, kau sungguh baik" ucap Pemilik Kedai.
"Semoga keberuntungan selalu menyertaimu" gumam Pemilik Kedai mendo'akan.
Setelah meninggalkan kedai itu Centa kembali melanjutkan mencari Guru Draco dan Sagitt di pasar,
__ADS_1
ia terus menelusuri setiap penjuru pasar dan terus memperhatikan orang-orang disekitar satu-persatu.
Siapa tahu ia dapat bertemu dengan Guru Draco dan Sagitt.
"Pedang!, pedang!, barang antik!, barang antik!, mari belilah kemari!" ucap seorang Pedagang terdengar di telinga Centa, yang menarik perhatiannya.
Centa lalu mendekati Pedagang itu. Membuatnya terhenti dari mencari Guru Draco dan Sagitt.
"Salam tuan" ucap Centa.
"Salam tuan, mari, lihat-lihat dulu! " jawab Pedagang itu.
"Sebaiknya aku membeli pedang yang murah sajalah untuk berlatih menggantikan pedangku yang hilang" gumamnya.
Centa lalu melihat-lihat pedang-pedang itu yang tersusun rapi di dinding dan di atas meja. Dilihatnya satu-persatu.
Pedang-pedang yang berada di dinding dan di meja, adalah pedang-pedang kuno atau yang pedang yang berharga jual tinggi.
"Tuan adakah pedang dengan harga termurah yang kau jual di sini?" tanya Centa.
"Tentu tuan, ada. Tunggu sebentar ya !".
Centa kembali melihat-lihat pedang-pedang yang tersusun rapi di dinding dan di meja itu,
ia cukup tertarik dengan apa yang dijual pedagang ini,
ia berpikiran akan membelinya suatu saat nanti.
Sekarang ia hanya akan membeli pedang yang berharga murah saja untuk digunakan sementara menggantikan pedangnya yang hilang.
Ada satu pedang menarik perhatiannya.
Tatkala ketika ia ingin mengambil sebuah pedang yang menarik perhatiannya dan ingin melihatnya dengan detail.
Tiba-tiba datanglah pedagang tadi sedikit mengagetkannya.
"Tuan! " panggil pedagang itu agak kencang.
"Oh iya ada apa? " jawab Centa gelagapan.
"Ini tuan pedang dengan harga termurah yang ada di sini, harganya hanya 75 koin emas tuan".
Melihat pedang itu Centa berkata dalam hatinya,
"Lumayanlah untuk sekedar digunakan latihan, menggantikan pedangku yang hilang, lagipula aku membawa cukup uang".
"Baik tuan, aku akan membelinya" ucap Centa.
__ADS_1
"Terima kasih tuan, tunggu ya!, ada bonus untuk tuan" ucap pedagang itu pula.
Pedagang itu lalu mengambil sebuah sarung pedang pas dengan pedang yang akan dibeli Centa.
"Ini tuan!, (menyodorkan pedang itu pada Centa) kau beruntung tuan hari ini, pedang yang kau beli punya sarung pedang yang pas".
" (Menerima pedangnya) terima kasih tuan, ini uangnya (menyerahkan kantong berisi uang) ".
"Itu ada 75 koin lebih, sisanya untuk tuan saja" ucap Centa.
"Wah!, benarkah tuan?, terima kasih banyak, terima kasih telah mau belanja di tokoku,
semoga tuan selalu dilimpahkan rezeki" ucap pedagang itu dengan nada gembira.
"Kabul 🤲, baiklah tuan aku pamit dulu, salam".
"Salam kembali tuan, terima kasih banyak".
Centa kemudian pergi meninggalkan Pedagang itu dan kembali melanjutkan mencari Guru Draco dan Sagitt.
Ia terus berkeliling memutari pasar. Di sela-sela ia berkeliling,
ia memikirkan pedang yang sempat menarik perhatiannya di Toko itu, tadi.
Ia berpikir, "Kenapa sekilas pedang itu tadi memiliki motif yang sama dengan pedangku yang hilang ya?,
apakah itu memang pedangku?,
atau hanya mirip saja?,
entahlah, sebaiknya aku terus mencari Guru Draco dan Sagitt".
Setelah sekian lama berputar keliling pasar, memperhatikan orang-orang di sekitar,
namun, Guru Draco dan Sagitt belum juga berhasil ia temukan,
Centa sedikit putus asa saat itu,
ia kemudian memutuskan untuk kembali saja ke rumah, dan beristirahat karena ia sudah lumayan kelelahan.
* * *
Terima kasih sudah membaca, mohon kritik, saran dan dukungannya supaya aku lebih semangat lagi untuk melanjutkan ceritanya.
Terima kasih
🙏🙏🙏
__ADS_1