AXIJIM : Sang Pangeran Yang Hilang

AXIJIM : Sang Pangeran Yang Hilang
Tersengat Lebah


__ADS_3

...----------------...


Semakin hari Axijim semakin besar, ia sering bermain pedang-pedangan bersama ayahnya.


Tapi kali ini berbeda, Axijim sekarang benar benar menggunakan pedang sungguhan, yang merupakan pemberian ayahnya, ia sekarang berlatih bukan lagi sekedar bermain.


Dengan tekad kuat yang ada dalam diri Axijim, ia berkeinginan untuk mewujudkan yang menjadi keinginannya dahulu.


Selain berlatih pedang, ia juga sering berlatih panahan bersama ayahnya, sesuai dengan apa yang di ajarkan guru Archer dahulu dan latihan mandiri yang di berikan oleh sang ayah, selain itu ia juga sering menemani ayahnya berburu di padang rumput hijau.


Saat itu, kira-kira Axijim telah berumur kurang lebih 17 tahun, dan dia telah lulus dari sekolahnya dahulu.


...----------------...


Suatu ketika ia bangun dari tidur seperti biasa.


"Axijim, bangun! sudah pagi." Ucap ibu.


"Iya bu! Axij sudah bangun."


Ia kemudian bangkit dari tempat tidurnya, berjalan menuju kamar mandi.


* * *


Setelah selesai mandi, ia lalu menemui ayah dan ibunya di ruang depan.


"Pagi bu! pagi yah!." Ucapnya menyapa.


"Adek mana bu? kok Axij tidak melihatnya."


"Adek masih tidur tuh, di kamar."


Meski usia Axijim sudah beranjak dewasa, namun kebiasaan kecilnya yaitu berpetualang ke hutan dan mencari telur burung masih ia lakukan sampai saat ini. Dan hari itu Axijim berkeinginan melakukannya. Ia kemudian berkata pada ibunya.


"Oh. Bu! Axij izin berpetualang di hutan, bolehkah? Axij ingin mencari telur burung, boleh bu?." Meminta izin pada ibunya.


"Boleh yah?." meminta izin pada ayahnya juga.


"Baiklah, ibu perbolehkan tapi ada syaratnya."


"Yuhu, apa syaratnya bu?."


"Ambilkan ibu sebuah belati dulu di ruang belakang!, nanti ibu kasih tahu syaratnya."


"Baik bu."


Axijim langsung melaksanakan perintah ibunya, ia pergi ke ruang belakang mengambil belati yang ibu pinta.

__ADS_1


* * *


"Ini bu!." Menyerahkan belatinya.


Ibu tidak mengambil belati itu.


"Bawalah itu! itulah syaratnya, kau harus membawa belati itu untuk jaga-jaga." Ucap ibu.


"Baiklah bu, terimakasih,


Ayah! bagaimana pendapat ayah? boleh tidak ?, Axijim berpetualang di hutan?."


"Ayah ikut pendapat ibumu saja nak, lagian kau juga sudah besar dan sering melakukannya."


"Boleh?."


"Iya." Jawab ayah singkat.


"Yuhuu... makasih bu! yah! baiklah Axij ambil tas dahulu untuk menaruh belati ini dan telur-telur burung nantinya."


Itulah adab Axijim, meski dia sudah beranjak dewasa dia tidak pernah melupakan untuk meminta izin ke orang tuanya, ketika ingin pergi ke suatu tempat.


...----------------...


"Bu! Yah! Axijim berangkat dulu ya."


dan jangan pulang terlalu siang." Pesan ibu.


"Dengar nak, apa yang dibilang ibu ya." Tambah ayah.


"Iya bu! iya Yah! salam."


"Salam kembali anakku." Ucap orangtua Axijim bebarengan.


* * *


Axijim kemudian berangkat menuju hutan.


Hutan yang lebat dipenuhi pepohonan yang rindang, dan banyak semak belukar disana, juga beberapa hewan buas pasti ada disana.


Sesampainya ia langsung menyusuri semak-semak belukar, mencari sarang-sarang burung disana.


"Wah ketemu satu nih." Menemukan sebuah sarang burung.


"Asik, ada 5 butir telurnya, lumayanlah permulaan."


Ia terus menyusuri semak-semak lebih dalam, telur-telur burung yang ia dapat, semuanya ia masukan ke dalam tas yang dibawanya.

__ADS_1


"Semangat, cari terus sampai banyak." Ucap Axijim menyemangati dirinya sendiri.


Ketika Axijim berjalan di semak belukar yang lumayan lebat, tanpa sadar ia menyenggol sebuah sarang lebah, membuat lebah-lebah berhamburan keluar, menyerang Axijim.


"Aww." Seekor lebah menyengat lengan Axijim.


Axijim kemudian menoleh ke arah kanan, dilihatnya kawanan lebah sedang terbang bergerombol akan menyengatnya.


"Lebah?." Pikiran Axijim masih loading.


Kemudian ia berteriak "Lari... ada kawanan lebah." Axijim lari terkatung-katung, membuat tas yang di bawanya terjatuh.


"Aaaw, aaaw, aaaw." Teriaknya kesakitan, kawanan lebah itu masih terus mengejar dan menyengatnya berulang kali.


Aduh kasihan ya Axijim dapat sengatan lebah berulang kali.


Axijim terus berlari, tanpa sadar ia telah sangat dalam memasuki hutan.


"Cling." Sebuah suara terdengar di telinga Axijim.


Tiba-tiba kawanan lebah yang mengejarnya itu mati semua.


"Kenapa lebah-lebah itu mendadak mati semua?, aduh... bahaya, aku sepertinya masuk ke hutan sudah terlalu dalam, bagaimana ini?, aku tidak ingat jalan yang kulewati saat lari dari kawanan lebah itu tadi, ibu... ayah... tolong aku" Axijim menjerit dalam hatinya.


"Sepertinya aku tadi mendengar ada sebuah suara? ." Axijim mulai merasa takut.


(Merinding). Sepertinya dari pohon itu," Axijim melihat ke arah pohon di depannya.


Tak berselang lama munculah seseorang berjubah hitam panjang dengan sebuah tongkat ditangannya, dengan rambut panjang terurai, membuat kaget Axijim dan membuatnya menjadi lebih takut.


Siapa dia, kenapa ada orang di tengah hutan begini. Ucap Axijim dalam hati ketakutan.


Orang itu menghampiri Axijim dan berkata "Jangan takut, kemarilah! aku obati sengatan lebah ditubuhmu." Bujuk orang itu dengan nada lembut tapi menyeramkan.


Axijim semakin merasa takut, tubuhnya gemetar, banyak pertanyaan muncul dalam hatinya "Siapakah dia? jubahnya sangat hitam dan kotor? kenapa dia tiba-tiba muncul di tengah hutan begini? mau apa dia terhadapku?."


Axijim semakin merinding dan ketakutan, hawa seram hutan menambah suasana mencekam pada saat itu.


"Ayo!, kemarilah aku obati sengatannya". Ucapnya dengan suara yang lembut tapi sangat menyeramkan.


Sosok itu masih membujuk dan menawarkan diri untuk mengobatinya.


(Membuat Axijim semakin merinding takut).


Bersambung...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2