
...----------+++----------...
Disebuah Café bergaya Vintage, terlihat dua orang wanita, satu muda dan satu tua, sedang duduk saling berhadapan.
Keheningan menyelimuti suasa diantara mereka, dari awal pertemuan hingga saat ini tidak ada satupun dari mereka yang memulai percakapan terlebih dulu.
"Ehem...", Wanita tua itu berdeham pelan, memecahkan suasana yang canggung.
Setelah beberapa saat, wanita tua itu mengobrak-abrik tasnya dan mulai mencari sesuatu. Wanita muda yang duduk di depannya tidak mengatakan apapun dan hanya menyeruput secangkir Flat White dalam diam.
Tidak butuh waktu lama untuk wanita tua itu menemukan benda yang dia cari. Tanpa ragu-ragu dia langsung menyodorkan secarik kertas dan beberapa dokumen kepada wanita muda yang duduk didepannya.
Secarik kertas itu adalah sebuah Cek, dan dokumen itu adalah surat Perceraian.
Takk...
Dengan pelan wanita muda itu meletakkan cangkirnya di atas meja. Dengan gerakan anggun dia mengangkat wajahnya yang cantik dan menatap wanita tua dengan mata peach-nya.
"Apa yang kamu maksud dengan semua ini, Nyonya Fu?".
Wanita muda itu bertanya, nada suaranya pelan dan sopan, namun terasing dan jauh.
Wanita yang dipanggil dengan sebutan Nyonya Fu tersenyum ringan.
Dia menjawab dengan sopan juga, "Miss Ariel seharusnya sudah mengerti apa yang saya inginkan".
Nyonya Fu menyeruput teh herbalnya sejenak, lalu melanjutkan, "Saya ingin Miss Ariel bercerai dengan Putra saya".
Mendengar kata 'bercerai', gerakkan Miss Ariel sedikit tersendat. Tanpa sadar dia menegakkan punggungnya, dan tawa canggung keluar dari bibirnya.
"Haha, Nyonya Fu, anda pasti bercanda".
"Tidak, saya tidak bercanda". Nyonya Fu menyangkalnya.
"Miss Ariel, saya tau ini terlalu mendadak dan mungkin sedikit tidak adil untukmu. Tapi sayangnya selain jalan ini saya tidak punya pilihan lain".
Nyonya Fu menatap Miss Ariel dengan mata penyesalan dan kasihan. Ariel yang ditatap seperti itu mengernyitkan dahinya, merasa sedikit kesal dan terganggu.
"Alasan mengapa kamu tidur dengan Putraku adalah kerena rencana licik yang telah diatur orang lain. Baik Putraku dan kamu sama-sama sedang dijebak saat itu".
"Aku sudah bertanya kepada Asisten putraku, dan penjelasannya cukup menyakinkan".
"Hah...begitu", Ariel yang mendengarkan penjelasan Nyonya Fu lalu mengangguk pelan. Dia bertindak sangat ringan dan santai, seolah-olah hal yang sedang dibicarakan tidak ada hubungan dengannya sama sekali.
Melihat reaksi Miss Ariel yang santai tanpa sedikitpun riak dan keluhan, Nyonya Fu diam-diam merasa senang dan sedikit bersalah.
Dia senang karena Miss Ariel tidak jatuh cinta dan terjerat secara emosional dengan Putranya, namun dia juga merasa bersalah karena membuat gadis muda yang anggun seperti Miss Ariel menghabiskan masa mudanya yang cerah dengan ikatan pernikahan semu.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Nyonya Fu sangat berterimakasih kepada Miss Ariel. Dia bersyukur, karena orang yang secara tidak sengaja tidur diranjang yang sama dengan Putranya adalah Miss Ariel, dan bukan wanita liar penderita AIDS yang telah diatur oleh musuh keluarga Fu nya.
Jika saja yang tidur dengan Putranya saat itu adalah wanita liar penderita penyakit AIDS, maka masa depan putranya pasti akan hancur!. Nyonya Fu bergidik ngeri ketika memikirkannya.
"Tapi untunglah...hal-hal mengerikan tersebut tidak menimpa Putraku". Nyonya Fu diam-diam menghela nafas lega.
__ADS_1
"Tapi Nyonya Fu..."
Mendengar namanya dipanggil, Nyonya Fu langsung tersadar. Dia mengangkat kepalanya, menunggu Miss Ariel selesai berbicara.
"Apakah suamiku tau tentang perceraian ini?".
Nyonya Fu, "........."
Diam, mendengar pertanyaan Miss Ariel hati nurani Nyonya Fu seketika terhenyak, dia pun terdiam sejenak karena merasa malu dan sedih.
Setelah beberapa detik kemudian, Nyonya Fu menjawab dengan pelan.
"Tidak...dia tidak akan tau apapun".
"....Karena Putraku sekarang menderita amnesia".
"Amnesia?", kilatan penasaran muncul di mata Ariel, dia segera bertanya lagi, "Apa itu karena kecelakaan mobil?".
"Ya, itu benar", Nyonya Fu mengangguk, "Kamu pasti telah melihat beritanya, itu tentang kecelakaan mobil yang menimpa anakku baru-baru ini".
Ariel bertanya lagi, kali ini nadanya sedikit bergetar, seolah-olah merasa khawatir, "Sekarang, apa suamiku baik-baik saja?".
"Selain geger otak ringan dan amnesia, Putraku baik-baik saja". Jawaban Nyonya Fu seketika menenangkan saraf tegang Ariel.
"Kecelakaan itu, apa sudah direncanakan seseorang sebelumnya?".
"Ya, dan itu adalah kecelakaan yang diatur oleh orang yang sama pula", Nyonya Fu meremas telapak tangannya, kilatan kebencian terbesit di mata hitamnya, namun kilatan itu segera menghilang dengan cepat, seolah-olah dari awal tidak pernah ada.
Mendengar penjelasan dan pengakuan tegas dari Nyonya Fu, Ariel menghela nafas pelan.
Pernikahan kami adalah sebuah kecelakaan yang terjadi secara tiba-tiba. Berkat hubungan tubuh satu malam, kami langsung terikat dengan tali yang disebut 'pernikahan'. Dan semua itu terjadi begitu cepat hingga terasa sangat aneh.
Awalnya, kami berdua hanyalah dua orang asing yang tidak saling mengenal, namun secara tiba-tiba kami dipertemukan oleh takdir. Lucunya, kami bertemu dalam keadaan sama-sama sedang dibius dengan obat.
Di bawah rangsangan obat-obatan, kami berguling bersama di atas kasur, berpelukan dan berciuman dengan mesra, lalu melakukan hubungan cinta yang seharusnya tidak lakukan.
Lucunya lagi, setelah kami tersadar, kami berdua langsung diseret tanpa sepatah katapun ke Biro urusan sipil untuk menerima akte pernikahan.
Baru setahun kami melaksanakan pernikahan konyol ini, waktu ternyata berjalan sangat cepat. Tanpa sadar, hari ketika kami akan bercerai pun telah tiba.
Dan untuk kecelakaan mobil yang menimpa Suaminya, Ariel sebenarnya tidak bisa berkata-kata atau menanggapi banyak tentang hal itu. Dia sangat bersyukur suaminya sehat dan tidak mendapatkan luka serius, dan disatu sisi dia juga merasa sangat luar biasa tentang insiden suaminya yang hilang ingatan.
"Dilihat dari sisi manapun, situasi saat ini jelas sangat cocok untuk bercerai. Dengan begitu aku bisa segera terpisah dari jeratan sebab-akibat pernikahan ini", batin Ariel.
Maka ayo lakukan, perceraian!!!
Meskipun dia merasa menyedihkan menjadi janda, namun itu lebih baik dari pada menjalani Pernikahan semu kan?.
Lebih baik hidup bebas dan tak terkekang seperti kuda liar yang memacu kakinya di padang rumput yang luas.
"Aku mengerti, Nyonya Fu".
Miss Ariel, dengan nama panjang Ariel Scarlett, tersenyum lembut. Dia memberikan anggukan paham pada Nyonya Fu.
Mendengar jawaban yang dia tunggu-tunggu, Nyonya Fu akhirnya bisa menghela nafas lega, dia berkata dengan tulus, "Terimakasih sudah mau mengerti".
__ADS_1
Ariel hanya membalas dengan senyum tipis.
Nyonya Fu melanjutkan, "Benar, ini ambilah cek ini, isinya tidak terlalu banyak. Namun, aku berharap uang itu akan cukup untukmu bertahan hidup ditempat lain".
Mata Ariel melirik dengan santai deretan angka nol yang tertera diatas cek, diam-diam dia menahan diri untuk tidak bersiul.
"Baiklah, karena pernikahan ini tidak memiliki masa depan yang jelas, maka lebih baik segera diakhiri saja".
"Khehe...dan uang ini lumayan banyak. Itu sudah cukup untukku bertahan hidup tanpa perlu berkerja selama 40 tahun", batin Ariel terkikik geli.
Ariel mengambil dokumen kertas dan pena, dia melihat kolom kosong yang harus dia tanda tangani. Dengan mata tegas Ariel tidak ragu untuk langsung menandatangani isi surat perceraian tersebut.
Wajah cantik Ariel masih menampilakan senyum lembut yang sopan dipermukaan, namun diam-diam di dalam hatinya dia membuat sorakan senang.
"Hebat!!!, sekarang aku jadi janda kaya raya!, Hahaha---!!!".
"Baik, saya sudah selesai menandatanganinya", Ariel mengembalikan kertas dokumen ke sisi Nyonya Fu, sedangkan tangannya yang lain menarik cek kesisinya.
Nyonya Fu melihat surat penceraiaan yang sudah ditanda tangani dengan mata takjub. Dia tidak menyangka akan semudah ini membujuk Miss Ariel untuk bercerai dengan Putranya. Sebelumnya, Nyonya Fu sempat berpikir dia harus melakukan beberapa trik kotor untuk mengancam Miss Ariel jika dia menolak untuk bercerai. Tapi siapa sangka, akan semudah ini membujuk menantu, oh tidak, sekarang mantan menantunya.
"Miss Ariel memang berbeda dari wanita lain. Dia berbudi luhur dan anggun, sopan namun tidak rendah diri, dan memiliki sikap stabil orang dewasa", Batin Nyonya Fu yang tidak bisa tidak merasa takjub dan memuji mantan menantunya.
Nyonya Fu mengangkat wajahnya, diam-diam menatap profil depan Miss Ariel dengan hati-hati.
Ariel terlahir dengan watak seorang wanita Jiangnan yang lembut dan semarak. Wajahnya sangat putih dan cantik, dengan perpaduan ras timur dan barat.
Dia memiliki rambut berwarna Caramel bergelombang yang panjangnya hingga sepinggang, sepasang mata Peach berwarna hijau zamrud, hidung kecil yang mancung, dengan bibir semerah kelopak bunga.
"Dilihat dari sisi manapun, penampilan Miss Ariel jelas cocok dengan lebel 'Menantu Idaman'. Sungguh sangat disayangkan gadis secantik dan seanggun dirinya tidak bisa menjadi menantu Keluarga Fu ku". Nyonya Fu berpikir dengan penyesalan.
Dia tidak bisa tidak berpikir lebih jauh, "Jika saja Putraku belum bertunangan dengan Nona muda kedua dari rumah keluarga Lin, kiranya bisakah mereka bersama?".
Nyonya Fu tidak berani memikirkan lebih jauh, dia menggelengkan kepalanya, berusaha membuang jauh-jauh pikiran absurdnya.
"Sudahlah", Nyonya Fu menenangkan dirinya. Diam-diam dia berpikir, cinta dengan banyak drama terlalu sulit untuk dijabarkan dengan otak tuanya.
"Mungkin Putraku dan Miss Ariel ditakdirkan untuk tidak memiliki ikatan cinta. Karena itulah, mereka tidak mungkin bisa bersama".
Nyonya Fu berpikir seperti itu, dia berulang kali berusaha menyakinkan dirinya sendiri. Setidaknya dengan melakukan itu bisa mengurangi rasa bersalah dihatinya karena melepaskan 'menantu idaman'.
Ariel mengulurkan tangannya dan tersenyum, "Terimakasih sudah memperlakukan saya dengan baik. Saya sangat senang bisa menjadi menantu anda walaupun hanya sebentar". Dan terimasih juga untuk Ceknya~, lanjut Ariel di dalam hatinya.
Nyonya Fu buru-buru mengulurkan tangannya, dan menjabat tangan Ariel, "Ini adalah pertukaran yang setara dan adil, jadi jangan sungkan, Miss Ariel". Hmn, kenapa rasanya seperti melakukan kesepakatan bisnis?, batin Nyonya Fu terheran-heran.
Ariel membalas dengan senyum manis yang lebih lebar. Dengan ringan dia menoleh kesamping, menatap kearah jendela kaca transparan yang menampilan keramaian dunia luar.
Di luar sana Matahari bersinar cerah. Ada hiruk-piruk orang yang datang dan pergi melawati jalan di depan cafe, bunga-bunga harum yang ditanam di pinggir jalan mekar dengan sempurna, dari jauh samar-samar terdengar suara musik Piano dan Cello yang menghibur suasana hati.
Melihat pemandangan yang harmonis dan hidup ini membuat Ariel yang suasana hatinya sedang baik merasa cuaca menjadi lebih indah dari biasanya.
"Hanya sayang sekali, kamu tidak bisa melihat pemandangan indah ini bersamaku..."
Ariel menunduk, dia menelan tegukan terakhir Flat White nya. Dalam diam di berpikir.
Hilang ingatan yah?, sungguh sangat disayangkan. Tapi itu juga bagus.
__ADS_1
"Suamiku, oh tidak, maksudku mantan suamiku...."