Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya

Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya
Mata Seterang Bintang-bintang.


__ADS_3


...-----+-----+-----+-----...


Fu Jichen melangkah menuruni anak tangga, sesampainya dilantai bawah dia melihat Kepala pelayan, Hu Xiang, sedang sibuk memesan pelayan untuk mengemas beberapa tas.


"Paman Hu". Seperti biasa Fu Jichen menyapa dengan nada dinginnya.


"Selamat pagi, Tuan muda".


Hu Xiang menjawab sapaan Fu Jichen dengan salam standarnya. Setelah memastikan Tuan mudanya tidak membutuhkan apapun darinya, dia kembali mengurus barang-barang ditangannya.


Fu Jichen duduk di sofa, matanya melirik beberapa baju musim dingin dan barang kebutuhan milik Kakeknya yang sedang di kemas ke dalam tas.


"Paman Hu, kenapa mengemas barang-barang milik Kakek, kemana dia akan pergi?".


"Oh, ini...", Hu Xiang baru saja menjawab, sebelum suara lain menghentikan ucapannya.


"Aku akan pergi kerumah sakit untuk pemeriksaan rutin".


Kakek Fu muncul dari sisi ruangan, menginterupsi percakapan mereka. Melihat Kakek Fu muncul, Hu Xiang berniat membantunya berjalan, namun ditolak oleh Kakek Fu.


Dengan dukungan tongkat, Kakek Fu berjalan ke sisi lain Sofa dengan langkah mantab.


"Pemeriksaan rutin bisa dilakukan di rumah. Apa Mansion Fu bahkan tidak memiliki Dokter Pribadi?".


"Memang ada Dokter spesialis yang bertanggung jawab untuk kesehatan Kakek Fu. Tapi sayangnya Dokter tersebut sedang mengambil izin cuti". Untuk pertanyaan yang diajukan Fu Jichen, Kepala Pelayan Hu Xiang, menjawabnya dengan cepat.


"Alasannya?". Alis Fu Jichen sedikit mengernyit, mata hitamnya mendingin. Dokter Pribadi yang tidak ada ditempat ketika diperlukan lebih baik segera diganti.


"Lupakan saja, nak". Suara Kakek Fu kembali menginterupsi mereka. Dia berkata dengan nada lemah, "Dokter pribadiku sebelumnya telah meminta izin secara langsung padaku. Dia berkata, ada Pasien istimewa yang ingin dia rawat selama beberapa hari. Dan Pasien yang ingin dia rawat adalah wanita muda yang akan segera melahirkan".


"Ada banyak resiko dan kesulitan dalam melahirkan anak, seorang wanita yang sedang melahirkan cenderung berada dalam situasi berbahaya, sedikit kesalahan saja bisa membuat dua nyawa ibu dan anak menghilang seperti asap".


"Dokter Yan adalah Dokter muda yang berbakat, di jenius dalam bidang medis. Akan lebih baik Dokter hebat sepertinya menolong lebih banyak orang, daripada mengurus pria tua yang tinggal selangkah kaki lagi dari kuburan sepertiku".


"Tuan!". Hu Xiang terkejut, dia tidak percaya Kakek Fu bisa mengatakan kata-kata masam seperti itu.


"Kakek". Fu Jichen menatap Kakeknya, dia berkata dengan nada suara yang berat dan serius, "Jangan terlalu banyak berpikir, aku yakin kamu pasti akan hidup sampai seratus tahun".


Hu Xiang yang mendengar ucapan Fu Jichen dari samping, diam-diam menghela nafas lega. Untungnya ada Tuan Muda di sini, jadi ada seseorang yang bisa membujuk Kakek Fu ketika dia mulai mengucapkan kata-kata gamblang seperti itu.


Kakek Fu mendengus, "Hmp, ya, masih bagus kamu mau memberkatiku".


Tak... Tak...


Sambil menghentakkan tongkatnya dia melanjutkan, "Tapi simpan saja ucapkan berkatmu itu, karena aku tidak menginginkannya. Itu tidak terlalu berguna, lebih baik sekarang kamu memikirkan cara untuk segera memiliki anak, sehingga aku bisa memeluk Cicit ku tahun depan".


Fu Jichen, "........"


Hu Xiang, "........"


"Hu Xiang, apa semuanya sudah selesai?. Jika sudah, segera pergi ke Rumah Sakit". Kakek Fu tiba-tiba bertanya, Hu Xiang tertegun sebentar sebelum menjawab.


"Ya, ini sudah selesai, kita bisa berangkat kapan saja". Hu Xiang menepuk-nepuk tas diatas meja sebagai isyarat siap.

__ADS_1


"Tunggu dulu Kakek, aku akan ikut". Fu Jichen berniat pergi menemaninya Kakeknya, karena dia merasa tidak aman memberikan dua pria tua itu pergi keluar tanpa pengawasan.


Fu Jicheng berdiri berniat kembali ke kamarnya dilantai atas untuk mengambil Handphone dan dompetnya.


Kakek Fu melirik cucunya dengan tatapan datar, dia belum mendapat jawaban perihal masalah Cicitnya, jadi dia hanya menjawab dengan ketus, "Terserah, lakukan saja sesukamu".


...-----+-----•°•°•°•-----+-----...


"Nona, semua telah dikemas, kita bisa pulang kapan saja".


Bibi Zhou menyerahkan tas terakhir pada Ian. "Ini tas yang terakhir, terimakasih".


Dan Ian dengan sikap gentleman menerima tas berat yang ke-tiga tersebut tanpa sedikitpun mengubah raut wajahnya. "Sama-sama, dengan bisa membantu".


"Kalau begitu ayo, mari kita pulang".


Ariel tersenyum, tubuhnya berbalut busana yang rapih dengan Sweater merah muda yang pasangkan dengan Coat Mantel Silver, celana legging putih, dan sepatu boots suede musim dingin.


Penampilan dan gaya berbusana Ariel terlihat seperti Model atau Artis ternama yang sedang berlibur di musim dingin, alih-alih terlihat seperti seorang wanita yang baru melahirkan.


Jika tidak ada sosok tambahan dalam dekapannya, orang-orang pasti tidak akan percaya jika Ariel adalah seorang ibu.


Ariel menatap bayi kecil yang cantik dan imut seperti Malaikat dalam gendongannya.


"Haoran, My Little Angel, Izekiel~, kita akan segera kembali, pulang ke rumah barumu, apa kamu senang?".


Nada suara Ariel yang manis dan lembut langsung dibalas senyum manis dan buih gelembung dari Putranya.


Ariel tertawa kecil, dia mengelap sudut mulut Izekiel dengan sapu tangan.


Feng Haoran adalah nama Cinanya, sedangkan Izekiel adalah nama asing yang dipilih Ariel sebagai nama panggilan putranya. Kedua nama tersebut adalah nama final yang mereka pilih setelah sekian lama berdebat dan membolak-balikan kamus.


Itu adalah arti dari nama Izekiel. Dengan memilih nama tersebut Ariel berharap Putranya kelak akan tumbuh menjadi sosok pria yang kuat dan tangguh. Semoga selama masa hidupnya dia akan selalu dijaga dan dilindungi dibawa kasih dan karunia Tuhan Yang Maha Esa dan Roh Kudus.


"Keponakan~, Luke mengirim pesan, katanya Mobilnya sudah siap dibawah".


"Benarkah?, kalau begitu ayo!, lebih cepat lebih bagus kan?!".


"Ya, ya, ya!, lebih cepat lebih bagus. Sigh... sungguh, ketiga tas ini sangat berat".


"Hahaha", Ariel hanya bisa tertawa menyaksikan Pamannya masih berusaha bersikap gentleman walaupun sedang kesulitan membawa tiga tas berat.


Ketiganya berjalan bersama ke lantai bawah, sesekali terlihat dua pasangan Paman dan Keponakan akan mulai berdebat tentang sesuatu, membicarakan gosip hangat, atau mengutarakan beberapa lelucon sambil tertawa garing.


Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di lobby.


Ketika ketiganya sampai di depan pintu, terlihat tiga sosok lain berjalan masuk dari luar.


Ariel selalu menunduk untuk melihat Izekel yang tertidur digendongannya, setelah memastikan Putranya tidak terganggu dengan ritme kakinya berjalan, dia mulai mengangkat wajahnya untuk melihat jalan.


Tepat pada saat itu....


Ketika Ariel mengangkat wajahnya, pandangan matanya secara tidak sengaja bertemu dengan tatapan mata pria itu.


Detik itu juga, Ariel merasa seperti detak jantungnya berhenti sementara.

__ADS_1


Deg...deg...


Sedetik kemudian, jantungnya kembali berdetak, kali ini berdetak lebih kuat dan lebih cepat dari biasanya.


Di udara sepasang mata hijau Giok dan mata hitam gelap bertemu, untuk sementara mereka saling menatap, sebelum pada akhirnya kedua pandangan mereka terputus dan berpisah dibelokkan.


...-----+-----+-----+-----...


"Fu Jichen?". Ketika nama itu muncul dipikirannya, kesadaran Ariel seperti mengambang dalam kebingungan.


"Apa yang terjadi?, kenapa Fu Jicheng ada disini?, di Hangzhou?!".


"Bukankah seharusnya dia sibuk mengurus kerajaan Bisnisnya di Haicheng?, apakah dia masih amnesia?, apa dia sudah lama pulih?".


Ketika sosok tinggi dan menjulang Fu Jicheng berjalan melewatinya, hati Ariel yang tegang mulai rileks.


"Ah, dia benar-benar amnesia. Dia tidak mengenaliku".


Ariel menunduk, sisi rambutnya yang ikal menutupi pandangan matanya yang redup.


"Yah, itu bagus".


Ariel tanpa sadar mengeratkan pelukannya pada putranya, Izekiel.


"Ini yang terbaik untuk semua orang".


...-----+-----+-----+-----...


Langkah kaki pria itu tiba-tiba berhenti. Dia berbalik, matanya yang hitam dan gelap seperti jurang di bawah langit malam diam-diam memindai kerumunan disekitarnya.


"Tuan muda, ada apa?". Hu Xiang melihat Tuan Mudanya berhenti ditengah jalan, jadi dia bertanya dengan penasaran.


"Kenapa nak?, apa kamu menyesal menemani Kakekmu ke Rumah Sakit?". Ini pernyataan Kakek Fu yang masih bernada ketus seperti sebelumnya.


"Bukan apa-apa". Wajah Fu Jichen dingin, dia menjawab dengan nada datar.


Setelah terdiam sejenak ditempat dia segera berbalik, kakinya yang tinggi dan proposal segera pindah dan kembali berjalan mengikuti dua pria tua yang memimpin jalan didepan.


Fu Jichen menunduk, diam-diam dia menyembunyikan tatapan mata suramnya dibalik bayang-bayang.


Itu hanya seperkian detik, namun sensasinya terasa sangat nyata.


Hanya beberapa saat yang lalu dia merasa jantungnya terus berdetak kencang, hampir seolah-olah dia ingin melompat dari tempatnya.


Ada juga rasa sakit yang familiar. Rasa sakit itu sama seperti yang selalu dia rasakan setelah terbangun dari mimpi panjangnya.


Rasanya seperti jantungnya telah ditikam dengan pisau, dadanya dibelah, lalu jantungnya ditarik dan dicincang hingga hancur.


Rongga dada yang telah dirobek hanya menyisakan lobang hitam kosong. Dari lobang tersebut aliran darah yang tidak ada habisnya terus mengalir.


Fu Jicheng memejamkan matanya, samar-samar selulit wanita misterius itu kembali muncul di benaknya.


Rambut coklatnya yang ikal dan panjang berkibar dengan lembut di pundaknya, pinggangnya yang tipis dan ramping dapat dengan mudah dia patahkan hanya dengan sekali "klik". Dan juga kedua tungkai kakinya yang kurus dan menyedihkan itu, Fu Jichen membayangkan betapa indahnya melihat mereka bergetar dengan lemah.


"Apakah itu kamu?".

__ADS_1


"... wanita cantik dengan mata seterang bintang-bintang".


...-----+++-----...


__ADS_2