Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya

Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya
Welcome To My World, My Little Angel...


__ADS_3


...(Ilustrasi Fu JiChen...


...(↑ω↑)πŸ’™πŸ€πŸŒ»)...


...-----β€’Β°β€’Β°β€’Β°β€’-----...


Takk... takk...


Mengetuk pelan jendela Mobil, Ian dengan senyum ramah menyapa pria berpenampilan tenang dan terkendali yang keluar dari mobil.


"Selamat malam Pak. Maaf sebelumnya, supir saya telah membuat kesalahan, hampir menyenggol mobil anda".


Asisten Fu JiChen, Chen Yao keluar dari mobil, menutup pintu dengan rapat, lalu tersenyum penuh toleransi.


"Selamat malam juga", Chen Yao menyapa, diam-diam matanya yang tajam menatap dengan jeli penampilan Ian.


"Tidak ada yang mencurigakan dari pemuda ini. Ras asing yah?, mungkin aku salah menebak?". Batin Chen Yao merasa gelisah, dia tidak bisa tidak menerka-nerka.


"Pemuda ini, apakah kamu bukan warga negara Cina?, lain kali hati-hati ketika mengemudi, jangan sampai kamu diundang minum teh di Kantor Polisi".


"Ah?, hahaha... maaf sebelumnya", Ian menggaruk tengkuknya sambil tertawa canggung. "Saya saat ini dalam masalah", Ian menunjuk Mobilnya, dengan alis mengernyit dia berkata dengan nada frustasi, "Di dalam sana ada kerabat dekat saya, dia seorang wanita yang akan segera melahirkan. Keluarga kecil kami sedang terburu-buru mengantarnya ke Rumah Sakit bersalin".


"Wanita?, melahirkankan?", Chen Yao terkejut, dia tidak menyangka alasannya begitu tidak terduga.


"Ya, Tuan. Jadi saya tidak punya pilihan lain selalu mempercepat laju Mobil. Sekali lagi saya minta maaf".


Tindakan Ian sopan dan terukur, dia juga bersikap rendah hati dan mau mengakui kesalahan lebih dulu, terlebih lagi ada alasan yang masuk akal dibalik kesalahannya.


Mengantar ibu hamil tepat waktu ke Rumah sakit jelas adalah prioritas paling penting, karena mempertimbangkan dua nyawa ibu dan anak.


Chen Yao untuk sementara menghilangkan kecurigaannnya.


Kaca mobil hitam diturunkan, dan wajah tampan yang menarik pun terbuka lebar diudara.


"Chen Yao", Fu JiChen memanggil nama asistennya.


"Ya Boss!", Chen Yao berseru, dia mendekatkan diri kearah Mobil, sedikit menundukan kepalanya untuk mendengar perintah Bossnya.


Ian berdiri diam ditempat, masih dengan senyum ringan diwajahnya. Diam-diam, Ian melirik dengan ujung matanya, didalam mobil yang gelap ada profil samping seorang pria dewasa yang sangat tampan.


Ian tidak bisa melihat dengan jelas penampilan pria itu, namun dia bisa menebak dari sorot matanya yang gelap dan mengintimidasi, jelas saja pria didalam Mobil bukan orang yang mudah dipusingkan.


Setelah beberapa saat Chen Yao kembali ke sisi Ian dengan senyum ramah diwajahnya.


"Boss saya berkata, semua yang terjadi malam ini hanya kecelakaan biasa, dan bukan masalah besar yang harus dipusingkan. Tapi lain kali ingatlah untuk tetap berhati-hati. Oh, dan cepatlah!, antar kerabatmu segera ke Rumah sakit!".


"Kau seharusnya menceramahi Beruang Grizzly itu, Pak Oriental. Dialah yang mengendarai Mobilnya, and not me!".


Ian tetap mempertahankan senyum khas bisnis yang standar, namun hatinya terus mengutuk tanpa henti.


"Terimakasih atas pengertiannya, kalau begitu selamat tinggal. Semoga malammu menyenangkan Tuan".


Ian berbalik, dengan tergesa-gesa dia berlari ke arah mobil. Sebelum memasuki mobil, Ian masih menyempatkan diri tersenyum dan melambaikan tangannya pada Chen Yao, sebelum pada akhirnya kerah bajunya ditarik secara paksa oleh Luke, dan pintu Mobil dibanting tertutup dengan suara keras.


Dibawah pengawasan Chen Yao, Bugatti perak segera melesat cepat meninggalkan tempatnya semula.


Chen Yao masuk kembali ke dalam Mobil. Dengan helaan nafas berat dia berujar, "Untung saja tidak terjadi apa-apa, akan sangat buruk jika wanita hamil di dalam mobil itu terkena dampak benturan".


"Sungguh, sangat langka menemukan ibu hamil yang akan melahirkan dimalam hari. Itu pasti akan sangat sulit".


Fu JiChen tidak mengatakan apa-apa atas ocehan Asistennya, dia hanya memejamkan matanya dan kembali beristirahat.


"Berkendara, kembali ke Mansion Fu".


"Roger!"


...-----+-----+-----+-----...


Di lobi Rumah Sakit, Dokter Yan telah menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


Bibi Zhou menatap putranya dan menyapanya dengan tergesa-gesa.


"A-Huai, tolong lakukan yang terbaik, Nona Ariel, dia...."


Melihat wajah ibunya yang pucat, Yan Huai tersenyum lembut, berusaha menenangkan Ibunya.


"Bu, jangan khawatir, serahkan padaku. Aku akan melakukan yang terbaik untuk menjaga keselamatan ibu dan anak".


Bibi Zhou tidak mengatakan apa-apa lagi, namun telapak tangannya masih menggenggam tangan putranya erat-erat.


"Dokter Yan, apapun yang terjadi tolong prioritaskan keselamatan keponakanku", Ian menepuk bahu Yan Huai, yang dibalas anggukan mantab dari sang Dokter.


Segera Ariel pun dibaringkan di brankar dan didorong menuju ruang persalinan.


Ian, Bibi Zhou, dan Luke duduk di kursi luar, mereka menunggu dalam keheningan proses persalinan yang panjang dan menyayat hati ini.


Tubuh Ian sesekali menegang ketika mendengar teriakan kesakitan Ariel. Saat ini, pria pirang yang selalu berpenampilan anggun dan lembut itu memiliki tatapan mata yang berkobar penuh amarah.


Matanya yang memerah menatap pintu ruang persalinan dengan kebencian.


Didalam hatinya, Ian tidak bisa berhenti mengutuk pria bajingan yang telah membuat keponakannya hamil.


Duduk disampingnya, Luke hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun, namun telapak tangannya yang besar dan hangat terus-menerus menepuk punggung Ian, berusaha menenangkan emosi kekasihnya yang bergejolak.


Berkat ucapan menenangkan dari Putranya, Bibi Zhou sekarang tidak begitu panik lagi. Dia hanya duduk diam sambil terus melantunkan Sutra Buddha, dengan serius dia berdoa untuk keselamatan dan kesehatan ibu dan anak.


Sepuluh jam kemudian, waktu yang sangat menyiksa akhirnya berakhir, pintu bangsal tiba-tiba dibuka dan seorang Perawat wanita keluar dengan senyum bahagia.


"Selamat, sang ibu sudah bekerja keras!, ia berhasil melahirkan seorang Bayi laki-laki yang lucu!".


...-----β€’Β°β€’Β°β€’Β°β€’-----...


Sakit... sangat sakit.


Rasanya sakit sampai mati.


Ariel tidak pernah menyangka melahirkan bayi akan terasa sesakit ini. Tubuh bagian bawahnya terasa kaku dan terkoyak, seperti ada pisau tumpul yang menembus tubuhnya, menyiksanya terus-menerus.


Nafasnya perlahan menjadi sesak dan tersenggal-senggal, seperti ikan diatas talenan yang kehabisan air.


Kenapa?.


Kenapa dia harus mengalami semua hal ini?, kenapa dia harus melakukan sampai sejauh ini?.


Tidak bisakah rasa sakitnya berhenti?.


"Menjadi ibu merupakan hadiah teristimewa. Bersyukurlah Nona, karena kamu adalah orang yang terpilih untuk menerima hadiah itu".


Tiba-tiba saja, dalam seperkian detik, Ariel merasa seperti telah mendengar suara Bibi Zhou.


Ditengah rasa sakit yang intens, Ariel kembali mengingat percakapannya dengan Bibi Zhou dia siang hari.


Samar-samar, Ariel mengingat sentuhan tangan kasar yang dengan lembut menepuk punggung tangannya.


Senyum yang damai dan menenangkan milik wanita yang sudah keriput itu, dan sorot matanya yang penuh dengan apresiasi dan penghargaan, berhasil meredakan sedikit rasa sakitnya.


"Jadi Nona, jangat takut, apapun yang terjadi, jangan gugup, Bibi Zhou ada disini, menemani mu..."


"Bu, tolong berjuang!, kepalanya sudah keluar!".


"Sedikit lagi!, berjuanglah untuk bayimu!".


"Akh--!!!, S-Sakkit!!!". Tubuh Ariel mengejang, rasa sakitnya semakin lama semakin besar, hampir mengacaukan kesadarannya, membuat rohnya ingin melayang keluar.


Tapi meskipun dia hampir kehilangan kewarasannya, Ariel tetap menggertakan giginya, dan menarik nafas sekuat-kuatnya!.


Oh, anakku... Malaikat kecilku, aku ingin melahirkanmu ke dunia ini, aku ingin mendengar tangisan lucumu, menjadi orang pertama yang menyaksikanmu membuka mata, dan menyaksikan fase bertumbuhanmu yang gemilang.


Banyak orang yang menunggu kedatanganmu, mereka sangat mencintaimu, dan akan selalu begitu selama-lamanya.


Jadi tolong nak...

__ADS_1


Untuk ibumu, dan untuk orang-orang yang mencintaimu,


...Jangan melawan dan cepatlah keluar!, ibumu hampir sekarat karena kesakitan!!!. β‹Œ (β‰§γƒ˜β‰¦) β‹‹


"Ukh.. Aaakkhhh----!!!". Bersamaan dengan teriakan Ariel yang memekakkan telinga, bayi yang dengan susah payah dia perjuangkan untuk dilahirkan selama 10 jam pun, akhirnya keluar...


Segera suara tangisan bayi ikut bergema didalam ruangan persalinan. "Ooee.. oe... oe..."


"Selamat Bu!, anda sudah bekerja keras!".


Mendengar suara Perawat yang berseru bahagia, Ariel yang kelelahan dengan susah payah membuka matanya.


Dia menatap kearah Perawat wanita, "Perawat... dimana bayiku?", Ariel bertanya dengan suara serak dan lemah.


"Ada disini Bu!, lihatlah dia, begitu cantik, mirip sepertimu!".


Perawat itu dengan semangat mendekatkan bayi dalam gendongannya kearah Ariel.


Meskipun lelah dan merasa kantuk, Ariel tetap berjuang untuk menjaga sedikit kesadarannya. Setidaknya sebelum jatuh pingsan dia ingin melihat bayi yang telah dia lahirkan sebentar.


Ariel menunduk dan menatap bayi kecil yang berada dalam gendongan perawat.


Ariel, "........"


Ariel, "...!!!!".


Tiba-tiba saja Ariel tercengang. Bola matanya berputar dan dia pun jatuh pingsan. Menyaksikan Ariel yang tiba-tiba tidak sadarkan diri, Perawat itu menjadi panik.


Perawat itu buru-buru memanggil Dokter, " Dokter Yan!...."


Ariel tidak tau apa yang terjadi setelahnya.


Yang dia ingat, setelah menyaksikan sendiri penampilan bayinya, Ariel tidak bisa menahan rasa tertekan dan syok.


Anak siapa ini?, berwarna merah, berlendir dan berkerut.


Jangan katakan, ini bayiku?.


Sepertinya, iya?.


Alhasil, Ariel pun jatuh pingsan.


Sebelum jatuh pingsan, Ariel masih sempat memarahi dengan keras didalam hatinya.


"Aku telah berjuang selama sepuluh jam, hanya untuk melahirkan makhluk merah berkerut ini??!!".


"Sungguh, apakah dia benar-benar anakku?!. Tapi kenapa dia jelek sekali..."


...-----+-----+-----+-----...


Pada tanggal 29 November, ketika suhu udara menjadi rendah dan daun-daun yang berguguran berubah menjadi coklat kemerahan, bayi kecil bak Malaikat pun terlahir kedunia ini.


Dari hamil dan mengandung bayi dari musim dingin, lalu beranjak 40 minggu melewati musim semi, musim panas, hingga memasuki awal musim gugur...


Di musim gugur, pancaran sinar Matahari tampak berkurang dan suasana langit terlihat lebih gelap dari biasanya.


Namun meskipun begitu, awan gelap yang menutupi langit tidak dapat mengusik suasana bahagia milik keluarga kecil Ariel.


Ada banyak orang di bangsal Rumah Sakit, suasananya nampak berseri-seri, seperti tengah diselimuti susana musim semi dan kebahagiaan yang semarak.


Tawa suka cita, tangisan bahagia, ucapan selamat, dan tangis manis si bayi mungil, menghidupkan suasana musim gugur yang suram dan dingin.


Ariel duduk diatas ranjang dengan bayi mungil dalam pelukannya.


Mereka berdua adalah pusat perhatian dibangsal ini, semua orang berbahagia untuk mereka bedua.


Wajah cantik Ariel menampilkan senyum lembut, sorot matanya yang teduh penuh dengan kebahagiaan. Dia menunduk, mendekatkan bibir merahnya ditelinga si bayi.


Suara merdu Ariel penuh dengan cinta dan kasih sayang.


"Welcome to my world, my little angel...."

__ADS_1


Dengan suara bisikan dari Ibunya, bayi kecil dalam buaian itu untuk pertama kalinya membuka kedua matanya.


Dibawah tatapan sang Ibu yang secantik Peri, bayi secantik Malaikat itu cekikikan dan tersenyum manis.


__ADS_2