
...-----•°•°•°•-----...
Waktu terus berjalan dan hari terus berganti. Dari musim dingin ke musim semi, hingga pada akhirnya ke musim panas.
Di bulan kesembilan, janin didalam perut Ariel telah berkembang dengan sempurna dan siap dilahirkan kapan saja.
Ariel menyentuh perutnya yang buncit, dia merasa tertekan, takut dan sedikit terharu.
"Uh?", Ariel tersentak, dia bisa merasakan pergerakan janin yang samar-samar di perutnya. Dia pikir, bayinya sedang menyapanya hari ini.
"Nak, ini sudah bulan ke sembilan. Kapan kamu akan keluar?, semua orang sudah menunggu kedatanganmu. Cepatlah segera lahir dan jangan membuatku kesulitan".
Bibi Zhou berjalan dari arah dapur sambil membawa nampan berisi buah-buahan segar. Mendengar ucapan Ariel, Bibi Zhou tidak bisa menahan tawa.
"Aiyoo... Nona, bagaimana bisa bayi dalam kandungan memahami ucapanmu?. Jangan khawatir, ini sudah hampir jatuh tempo, kamu pasti akan segera melahirkan".
"Aku hanya merasa tidak sabar ingin berjumpa dengannya, Paman Ian juga nampaknya tidak sabar ingin menggendongnya".
Bibi Zhou meletakkan piring buah di atas meja, dia berniat kembali ke dapur, tapi gerakannya terpaksa stagnan ditempat. Itu karena lengan bajunya ditarik oleh seseorang.
"Hm?, ada apa Nona?".
"Bibi, aku mau bertanya... itu, apakah melahirkan itu terasa sakit?".
Mendengar pertanyaan to the poin Ariel, Bibi Zhou terkejut. Dia tidak bisa tidak menatap wajah Ariel sejenak
Majikannya saat ini tengah mengadung bayi selama sembilan bulan. Tidak seperti kebanyakan ibu hamil yang semangatnya cenderung murung, labil, sakit-sakitan dan stress, Nona Ariel terlihat tampak santai dan anggun sama seperti biasa.
Jika tidak melihat perutnya yang besar, orang-orang mungkin tidak akan percaya jika wanita menawan didepannya ini adalah ibu hamil yang siap melahirkan bayi kapan saja.
"Memang tidaklah mudah menjadi orang tua, terlebih menjadi ibu singel. Rasanya sangat melelahkan, menguras emosi dan menguji titik kesabaran. Tapi meskipun begitu, meskipun banyak kesulitan yang menunggu didepan sana, seorang ibu tidak boleh menyerah..."
Bibi Zhou tiba-tiba teringat masa mudanya. Tumbuh dikeluarga miskin dia cukup beruntung bisa mendapat Biaya Siswa, pergi kuliah di ibu kota, dan menikah dengan pria yang memiliki perkerjaan yang stabil.
Sampai dia melahirkan Yan Huai, dan menginjak umur 40, Bibi Zhou merasa keluarganya terasa sempurna dan lengkap.
Hingga... nanti setelah dia mengetahui perselingkuhan suaminya, tuntutan perceraian sepihak dari suaminya, cemoohan dari mertuanya, penindasan masyarakat, dan ketidakadilan yang harus diterima seorang wanita karena aib....
Bibi Zhou sudah lama mati rasa karena penghianatan dari suaminya, dia tidak merasa dendam ataupun memiliki keluhan, hatinya sudah lama hampa karena cemoohan tidak berperasaan yang dilontarkan orang-orang.
Bibi Zhou tidak perduli, dan tidak ingin repot-repot perduli.
Bibi Zhou bisa acuh tak acuh pada hidupnya sendiri, dia tidak keberatan hidup susah dan miskin. Asalkan putra satu-satunya, Yan Huai dapat hidup dengan baik dan terhormat, berdiri tegak menghadap Matahari, tanpa harus takut pada celaan orang, dia rela menerima nasibnya.
"....Menjadi ibu merupakan hadiah teristimewa. Bersyukurlah Nona, karena kamu adalah orang yang terpilih untuk menerima hadiah itu".
Kami adalah wanita, kami mungkin terlihat lemah dan tidak kompeten, dan sering dianggap sebagai pajangan dalam keluarga yang hanya bisa bergantung hidup pada suaminya.
Selain sebagai wanita kami juga seorang ibu. Menjadi ibu adalah pekerjaan terberat di dunia. Pekerjaannya tidak ada hari libur, dan tidak memiliki banyak ruang untuk mengeluh. Profesi seorang ibu menggambarkan cinta tanpa syarat, tidak mementingkan diri sendiri, dan rela melakukan pengorbanan.
Dan Bibi Zhou rela melakukan pengorbanan apapun. Bahkan walaupun dia kelelahan, stress, dan nyaris ambruk karena intensitas kerja yang berat, tapi dia tidak perduli.
Yang terpenting Putranya bisa memakan makanan yang enak, mengenakan pakaian terbaik, dan sekolah setinggi mungkin, lalu tumbuh menjadi pemuda dewasa yang Mandiri dan stabil.
"Nona, saya tidak bermaksud menakut-nakuti mu, tapi melahirkan itu terasa sangat, sangat sakit!. Sakit hingga tak tertahankan!, tapi... itu semua sebanding, untuk bisa melahirkan Malaikat kiriman surga kedunia yang indah ini".
Tes...
__ADS_1
Air mata mengalir dipipi Ariel, lalu jatuh ke punggung tangannya. Ariel tertegun, dia merasa terhenyak karena kata-kata yang diucapkan Bibi Zhou.
"Jadi Nona, jangat takut, apapun yang terjadi jangan merasa gugup, Bibi Zhou ada disini, menemani mu..."
Melihat Ariel meneteskan air mata, hati Bibi Zhou merasa tercekat. Dia sedih karena harus membuat Ariel menangis, tapi dia tidak menyesal.
Sesama sebagai seorang ibu, Bibi Zhou ingin berbagi dengan Ariel. Dia ingin mengingatkan Ariel jika menjadi ibu itu tidak mudah, itu bukan pekerjaan yang ringan, melainkan sangat berat dan melelahkan.
Bibi Zhou ingin Ariel bersiap untuk setiap hal yang terburuk.
Seorang ibu, bertapa besar pengorbananannya.
Tapi, di dunia ini siapa yang bisa memahami penderitaan seorang ibu jika bukan seorang ibu juga?.
Bahkan suami kita sendiri... atau bahkan anak yang kita lahirkan, apakah keduanya benar-benar bisa memahami besarnya pengorbanan seorang wanita dan ibu?.
...-----•°•°•°•-----...
"Keponakan~, bagaimana kabarmu hari ini?, bayinya tidak membuat masalahkan?".
Ian tanpa perasaan melemparkan semua tas belanja kearah Luke. Setelah itu, dia pun langsung terjun ke sofa, mengambil posisi duduk disamping Ariel.
Disisi lain, dengan ekspresi datar Luke menyingkirkan selusin tas yang hampir akan bertabrakan dengan wajah tampannya. Dia mendengus kearah Ian, dengan langkah lebar dia pun berjalan ke lantai atas untuk meletakkan barang belanjaan.
"Karena semuanya sudah kembali, ayo makan malam bersama". Melihat awan gelap dan langit malam dari jendela balkon, Ariel mengingatkan.
"Oke, ayo kita makan. Hati-hati, paman akan membantumu berjalan..."
Ian dengan serius menuntun Ariel kearah meja makan. Dia mengambil langkah-demi langkah, stabil dan dan fokus.
Setetes keringat mengalir dipelipisnya, Ian merasa sedikit takut, atau lebih tepatnya dia merasa gugup dengan perut besar Ariel, dia takut sewaktu-waktu perutnya akan meledak dan bayinya akan keluar tanpa tanda-tanda.
Suasanannya sangat harmonis, dengan segala macam topik dan gosip mulai dibahas dimeja makan. Bibi Zhou selalu bisa menemukan gosip yang menarik dan membuat orang ketagihan mendengarnya, Ian selalu menanggapi segala hal dengan komentar lucu dan suka tertawa terbahak-bahak, dan Luke... selama massa tinggal di Apartemen Ariel, dia mulai menunjukkan tabiat aslinya. Dia pendiam, tapi bukan karena terasing dengan orang luar, itu karena dia tidak mau hobinya sebagai pencinta makanan manis diketahui orang lain.
Suasana terasa hangat dan harmonis sampai...
"Akh!", teriakan kecil Ariel berhasil membuyarkan suasana. Ketiga orang diseberang meja secara bersamaan menatap kearahnya.
Ian melihat wajah keponakannya menjadi pucat pasi, dia merasa panik seketika. "Ariel, ada apa?".
Mata Bibi Zhou cermat, dari bawah kolong meja samar-samar dia bisa melihat jejak tetesan air yang basah. Sebuah tebakan berani muncul dikepalanya
"Uhh... Bibi, sepertinya air ketubanku pecah..."
Bibi Zhou mengubah wajahnya, tebakannya ternyata benar!. Majikannya akan melahirkan!, dimalam hari ini!.
Bibi Zhou berdiri, dengan tergesa-gesa dia menginstruksikan Luke.
"Nak Luke, cepat siapkan Mobil. Tuan Ian, tolong ambilkan tas yang telah saya siapkan dilantai atas, saya akan mengambil mantel terlebih dahulu..."
"Bibi Zhou ini...", Ian merasa bingung, dia ingin bertanya apa yang sedang terjadi.
"Tuan Ian, tidak ada waktu untuk menjelaskan, Nona Ariel akan segera melahirkan, kita harus membawanya segera ke rumah sakit, saya sudah menghubungi anak saya, dia akan segera menyiapkan ruang persalinan!".
Mendengar ucapan Bibi Zhou, baik Ian maupun Luke segera bergegas melakukan bagian mereka masing-masing.
Ian berlari ke lantai atas untuk mengambil tas berisi pakaian dan segala macam keperluan pasca melahirkan, Luke mengambil kunci mobil milik Ariel yang diletakkan di lemari, tanpa basa-basi dia berjalan ke tempat parkir.
Bibi Zhou datang dengan membawa mantel tebal, dia menggunakan mantel itu untuk menutupi tubuh Ariel dengan erat.
__ADS_1
Terlihat Ian yang turun dari lantai atas dengan dua tas besar dipundaknya.
Ian bertanya, "Bibi, aku sudah mengambil tasnya. Ayo kita harus segera ke Rumah sakit".
Bibi Zhou mengangguk, "Tuan Ian, serahkan kedua tas itu, Tuan bisa menggendong Nona ke garasi".
"Ya", Ian dengan hati-hati mengangkat Ariel, setelah memastikan gendongannya erat, dia pun mulai bergerak dengan kecepatan konstan.
"Ughh... paman, aku..."
"Ada apa sayang?, apakah sakit?. Jangat khawatir kita akan segera sampai".
Ariel merasa tersiksa, kepalanya tiba-tiba terasa pusing, ditambah perasaan mulas dan sakit diperutnya membuatnya tidak bisa mempertahankan kesadarannya sejenak, dengan sudah payah dia memaksakan diri tersenyum, "Santai saja Paman, aku bisa menahannya..."
Duduk dikursi belakang, Ian menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri perjuangan dan dengusan sakit Ariel. Ian merasa hatinya tercabik-cabik hingga berdarah melihat keponakannya tetap berusaha tersenyum, walaupun sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Ian memeluk Ariel dengan erat, berusaha menjaganya, menghangatkannya, dan menghiburnya dari rasa sakit.
Luke berkata dengan wajah serius, "Aku akan mempercepat laju Mobil, kencangkan sabuk pengaman kalian".
"Percepat, segera", ucap Ian dengan nada serius.
"Tetap hati-hati", Bibi Zhou mengingatkan.
Luke mengangguk, segera dia mulai menaikan kecepatan.
Di jalan beraspal, dibawah penutup langit malam, Bugatti perak melesat dengan kecepatan maksimum seperti kilat yang memotong udara.
Awalnya jalanan sepi dan mulus tanpa ada banyak kendaraan yang menghalangi jalan, namun tiba-tiba saja dipersimpangan jalan sebuah Mercedes-Benz hitam muncul, hampir berbentrokan dengan Bugatti Perak.
Dalam seperkian detik, kedua mobil tersebut nyaris saja hampir bertabrakan.
Untungnya kedua belah pihak berhasil menginjak rem tepat waktu, sehingga tragedi yang mengerikan itu tidak jadi terjadi.
Didalam Mercedes-Benz hitam.
Pria itu perlahan membuka kedua matanya, memperlihatkan pupil hitam yang dalam dan gelap.
Mata sehitam malam, penuh dengan kedinginan dan kesuraman menatap lurus ke arah depan.
Dia cukup acuh tak acuh untuk seseorang yang baru saja merasakan goncangan akibat melakukan rem secara paksa.
Pria itu tidak bergerak, dia masih sama seperti biasa, dingin dan sunyi, tanpa ekspresi tambahan yang tidak perlu diwajah tampannya.
"Ada apa?". Suara pria itu sama dingin seperti orangnya. Nadanya serak, seperti cello yang anggun, namun secara tersirat menyimpan bau berkarat seperti darah dan bubuk mesiu.
"Lapor Boss, Bugatti perak tiba-tiba saja muncul di pertigaan jalan dan nyaris saja menabrak mobil kita, untungnya hanya ada sedikit goresan saja..."
Asisten Chen melaporkan semuanya secara lengkap, setelah selesai menjelaskan dia ragu-ragu sejenak sebelum bertanya, "Boss, apa perlu saya memeriksanya, saya takut tabrakan tadi adalah kecelakaan buatan..."
...Lagi
Asisten Chen menambahkan kata-kata itu didalam hatinya.
Fu Jichen tidak berbicara, mata hitamnya yang terkulai melirik kearah berlawanan, dia melihat pintu Mobil Bugatti perak terbuka, dan seorang pria asing berambut pirang keluar dan dengan tergesa-gesa menghampiri mobilnya.
Sebelum pintu mobil tertutup, mata hitam tajam Fu Jichen tanpa sadar menangkap sosok wanita dengan rok putih yang duduk dikursi belakang.
Pintu mobil ditutup kembali, dan selulit wanita itu pun terhalangi, Fu Jichen dengan acuh tak acuh segera mengalihkan pandangannya kearah lain.
__ADS_1
"Terlihat familiar....", Ucap pria itu dengan nada lirih yang sendu.