
Berdiri diatas panggung, dibawah penerangan lampu sorot, kedua wanita itu berdiri berhadapan, tubuh mereka nyaris bersentuhan.
Keduanya tampak sangat cantik. Masing-masing dari mereka memiliki keindahan dan pesonanya sendiri. Wanita berambut pirang pendek memiliki tubuh yang jauh lebih tinggi dari yang lainnya, dengan tubuh sexy dan senyuman menggoda seperti Sucubus, dia tersenyum lebar penuh dengan perasaan asmara yang merayu.
Sedangkan wanita yang satunya, dia memiliki wajah dingin seperti bongkahan es, dengan pesona liar yang bercampur dengan keindahan glamor. Pinggangnya yang ramping dan tubuh bergelombang yang tak kalah Sexy, membuatnya tidak kalah menarik dari wanita berambut pirang.
Meskipun penampilannya penuh dengan godaan tetapi dia tidak terlihat vulgar sama sekali, karena masih ada sedikit ketajaman dan keganasan diantara alisnya, hal itu membuat sikapnya terlihat lebih tinggi dan superior, lebih tidak terjangkau dan tidak realistis. Dan hal yang paling mencolok dari dirinya adalah warna matanya yang langka, warna hijau Emerald, mendekati warna Giok yang hangat.
Kedua wanita itu adalah Ariel dan Model cantik bernama Dahlia. Saat ini mereka berdua sedang memainkan peran dan adegan dalam film.
Yang tengah mereka mainkan adalah adegan ketika Duchess Coralisa, salah satu Vampir berdarah murni, sedang menggoda tawanan perangnya. Dan tawanan perang itu adalah Luna, salah satu wanita pertarung kuat dari Ras Werewolf, serta peran yang sedang dimainkan Ariel.
Bibir montok berwarna merah darah menarik garis melengkung keatas, bersamaan dengan itu sepasang mata segelap Samudra Biru memancarkan kilat dingin yang menusuk.
"... Bagaimana menurutmu, Serigala kecilku?. Apakah kamu bersedia menerima tawaranku?".
"Mustahil!", Wanita dengan pupil hijau menatap Vampir licik didepannya penuh dengan kemarahan. Dia menggeram, memperlihatkan taring tajam khas Binatang Buas di celah bibirnya.
"Aku lebih suka menerima seribu luka dan seribu kematian dari pada menjadi tungganganmu!, Dasar Vampir kotor!".
Pupil merah darah Duchess Vampir melebar, dia tertegun, tapi hanya untuk sementara sebelum dia kehilangan kendali dan mulai tertawa, "Ahahaha---!!!, Vampir kotor?, sungguh lucu!. Luna jika kamu berpikir aku adalah Vampir kotor, lalu kamu apa, Serigala yang bersih dan suci?", Senyum mengejek menghiasi wajah cantik Coralisa. Dia mencibir penuh ejekan, "Sayang~, berhenti memaki orang, sekarang patuh saja, berlutut ditanah dan jadilah tunggangan, kendaraanku yang cantik".
Setelah mengatakan kata-kata kejam dan memalukan dengan cara yang manis, Coralisa mulai menggerakkan tangannya. Atas perintah Duchess Vampir, tanaman bunga mawar merah mulai tumbuh dan menjulur, bergerak luas kesegala arah.
Perlahan tapi pasti tanaman rambat mulai mengikat Luna dengan kekangan dan batasan yang tak terelakkan.
Luna terkejut ketika merasakan lehernya diikat, tubuhmu ditarik melayang ke udara, dan kedua kaki dan tangannya terjerat sulur tanaman.
Perasaan diikat dan kendalikan ini sangat tidak nyaman, sangat memalukan juga. Sangat memalukan berpikir pertarung yang hebat sepertinya akan ditekan dengan cara menjijikkan seperti ini.
"........"
"...!!!"
Pada saat itu Luna tiba-tiba melebarkan kedua matanya. Dia syok karena... karena...
"Coralisa!, kamu---!!".
"Khehehe....", Melihat wajah Luna yang memucat dalam sekejab mata, Duchess Vampir tertawa tanpa menahan diri.
Merasakan gerakan tanaman merambat pada daerah yang memalukan, tanpa sadar Luna berusaha berjuang untuk melepaskan diri. Dia tidak sabar untuk melepaskan diri agar bisa menyingkirkan sulur tanaman yang bermain didalam tubuhnya. Sayangnya perjuangannya berakhir dengan sia-sia takala duri-duri tajam muncul satu-persatu dari sulur tanaman, menghentikan perjuangan amatirnya.
Tanpa halangan apapun duri-duri itu langsung menusuk kulitnya.
Sedikit demi sedikit, kulit putih mulus Luna yang sehalus porselin digores dan lukai oleh ratusan Duri yang tajam. Luka yang besar dan kecil, dalam dan ringan, perlahan mulai terbuka, dan dari sana setetes darah mulai menetes satu persatu.
Duri tajam ini sebenarnya tidak seberapa untuk Luna. Baik luka goresan, maupun sabetan pedang tidak akan menghambatnya saat bertarung. Bagaimanapun dia adalah Ras Werewolf yang kuat dan ganas, normalnya luka kecil karena tusukan duri tidak akan bisa membuatnya tumbang.
Hanya...dia tidak tau ekstasi dan zat apa yang terkandung dalam duri tersebut, sehingga mampu membuatnya merasa lesu dan lemah.
__ADS_1
"Ughh... kamu!, sialan kamu!, Coralisa!!!".
"Hehehe...Racunnya mulai bekerja".
Coralisa mencubit dagu mulus Luna, dengan matanya yang gila dan jahat dia menatap langsung pada perjuangan menyedihkan Werewolf yang berhasil dia taklukan.
Coralisa mendekatkan wajahnya pada Wajah Luna, pada jarak ini jembatan hidung mereka hampir bersentuhan, dan kedua bibir mereka nyaris bertemu.
"Sstttt... Luna, malam ini Bulan Purnama bersinar sangat terang, malam masih sangat panjang, dan masih ada banyak waktu...."
"Sebelum menjadi tungganganku aku akan mempersiapkanmu terlebih dulu. Nanti, jika aku terlalu kasar, ingatlah untuk memohon keringanan jika sakit~".
Mendengar suara Coralisa yang menyihir, Luna hampir melunakan kedua kakinya. Ada naluri dan keinginan untuk melarikan diri saat ini, namun sekuat apapun keinginannya untuk bebas, sebesar apapun tekadnya untuk melarikan diri, hasilnya sama saja....
Pada akhirnya yang dia dapatkan hanya rasa sakit dan kelelahan tanpa akhir.
Malam didalam Kastil tua bernuansa Gothic terasa sangat menyesakkan dan mendebarkan.
Di dalam sebuah ruangan tersembunyi, sedang dimainkan sebuah drama, yaitu jenis drama yang membuat darah mendidih karena panas.
Tidak ada yang tau drama seperti apa itu, namun yang jelas itu bukan drama yang bagus.
Tidak bagus, setidaknya untuk Luna. Karena bagaimanapun juga yang sedang ditindas dan dipermainkan saat ini adalah dia.
Malam itu, Luna seperti boneka yang dikendalikan hingga tendon dan talinya putus, dia dimainkan ditangan Coralisa hingga titik kehancuran dan kerusakan, tanpa ada ruang untuk bergerak, kesempatan untuk bisa melawan, dia hanya bisa merengek, seperti binatang buas yang terjebak dan putus asa.
Hingga dia tumbang dan jatuh tersukur ketanah, siksaan yang panjang perlahan mulai berhenti.
Diluar Cahaya Matahari muncul mengusir kegelapan, langit biru dan awan putih bertebaran menghiasi cakrawala, membawa serta angin dingin yang sejuk.
Sebelum Luna menutup kedua matanya, samar-samar dia mendengar suara tawa wanita gila yang bergema keseluruh ruangan.
"Cut!, baiklah!, kerja bagus!".
Ariel terkejut dengan suara tepuk tangan dan sorakan pujian dari segala arah. Dia tertegun sejenak, dan tanpa sadar menatap semua orang disekitarnya.
Semua Staff dengan antusias terus bertepuk tangan, dari ekspresi wajah mereka Ariel bisa melihat ada keterkejutan dan kekaguman yang tak tersamarkan.
Disisi lain ada juga wajah penuh makna milik penulis skenario, dan senyum hippy milik Sutradara.
Terakhir dia menatap kearah wanita yang sedang duduk disampingnya. Wanita itu saat ini sedang sibuk merapihkan kancing baju atasnya yang sedikit berkerut.
Setelah merapihkan dirinya wanita itu dengan anggun melirik kearahnya, mata birunya yang gelap sejujurnya sangat menusuk sehingga menganggu Ariel.
Meskipun hatinya merasa sedikit tidak nyaman, namun Ariel tidak bisa mengalihkan tatapan matanya, dia juga menatap lurus kearah sepasang mata biru safir itu.
Sejujurnya Ariel harus mengakui, Dahlia Elmer, patner bermainnya dalam adegan sebelumnya, adalah wanita yang sangat kuat dan berbakat. Sungguh mengejutkan, bermain adegan bersama Dahlia dapat membuatnya merasa tenggelam dan jatuh sepenuhnya dalam alur plot cerita. Tanpa dia sadari jiwanya mulai tertutup dengan kamuflase peran dari tokoh yang dia mainkan, sehingga kesadarannya membentuk busur refleksi diri jika dia benar-benar adalah "tokoh" itu sendiri.
Sutradara berdehem kecil, suaranya membuat Ariel menatapnya. Sutradara tersenyum sangat ramah pada Ariel.
"Kamu sangat menakjubkan, apa ini benar pertama kalinya kamu bermain adegan?, sangat fantastis!, kamu dapat menguasai peran ini dengan sangat handal".
__ADS_1
"Ya, ini pertama kalinya saya bermain adegan, terimakasih atas pujaanmu, Pak Sutradara". Atas pujian murah hati dari Sutradara, Ariel dengan anggun menjawab, tidak sombong maupun rendah hati.
"Bagus!. Baiklah, audisi-mu telah selesai. Tunggu saja pengumumannya, setelah tiga hari kemudian hasilnya akan segera keluar".
Ariel mengangguk ringan, dia dengan sopan menjawab, "Terimakasih".
Ariel keluar dari ruang audisi dengan hati rileks. Wajahnya tenang dan dingin, namun hatinya sebenarnya meledak-ledak dengan perasaan semangat.
"Bagus, sepertinya aku melakukannya cukup baik kali ini. Seharusnya peran ini dapat ku mainkan?".
Meskipun konten Film ini cukup absurd dan berbahaya, dan ada kemungkinan penolakan massal, Ariel benar-benar ingin bermain didalamnya. Dia sangat menyukai peran Luna Si Serigala Putih, dia sangat berhasrat untuk bermain menjadi peran yang mempesona itu.
Sejujurnya didalam hatinya Ariel memiliki firasat. Dia yakin Film ini pasti akan menjadi kuda hitam dimasa depan!.
"Jika benar-benar terpilih aku harus bermain dengan baik, tapi jika tidak.... uhhh, maka jadilah apa adanya kan..."
Ariel berjalan keluar gedung sambil sibuk bergumul dengan pikiran batinnya. Tanpa dia sadari ada seseorang yang berjalan diam-diam di belakangnya. Hanya sampai seseorang itu menepuk bahunya, barulah Ariel menyadari kehadiran orang lain didekatnya.
"Siapa?", Ariel menoleh, dia berbalik dan terkejut ketika menemukan keberadaan wanita berambut pirang yang cukup eyecating.
"Hey!, mau hangout bersama?".
Dahlia Elmer dengan senyum lebar menyapa Ariel dengan antusias.
Dahlia Elmer adalah tipe Wanita dewasa yang cantik, dengan rambut pirang pendek, mata biru safir dan tinggi badan yang sangat proposional. Dilihat dari penampilannya dia seharusnya orang Barat murni, namun sungguh mengejutkan dia dapat berbahasa Cina dengan fasih dan lancar.
Meskipun tawaran Dahlia untuk makan siang bersama terlalu mendadak, Ariel tidak berniat untuk menolaknya. Menurutnya, Dahlia adalah orang yang cukup ramah dan mudah diajak bergaul, juga dia adalah seorang Model. Profesinya yang mirip dengan Ibunya membuat Ariel merasa dekat secara naluriah.
Setelah diputuskan keduanya memilih sebuah Caffe yang letaknya tidak jauh dari tempat mengikuti audisi. Setelah menemukan meja dan duduk, keduanya mulai memesan makanan ringan.
Beberapa menit kemudian, makanan dan minuman tiba, dan mereka berdua pun mulai mencipipi makanan ringan. Bersamaan dengan itu percakapan mereka pun dimulai.
Anehnya, walaupun ini adalah pertama kalinya mereka bertemu dan pertama kalinya mereka berkenalan, tidak ada kecanggungan ataupun jarak dalam percakapan mereka. Semuanya berjalan semulus air, dan selembut sutra, tidak ada halangan dan kesusahan.
Bahkan belum satu jam sejak keduanya mengobrol dan bertukar pikiran, tanpa keraguan sedikit pun mereka langsung mengakrabkan diri dengan membicarakan keluhan masing-masing.
"...Dari pagi hingga siang ini aku merasa sangat kesal!, sekelompok cewek manja itu hanya membuat kepalaku sakit!, mereka hanya idiot yang menyebalkan!".
Dahlia dengan frustasi mengungkapkan semua keluhannya selama menonton acara audisi. Rupanya dia cukup marah dan terusik dengan kelakuan kasar dan tidak beradab dari para pengikut audisi sebelumnya.
"Para idiot itu... mereka tidak suka bermain di film gay karena berpikir film ini tidak realistis, huh!, alasan!, katakan saja jika mereka tidak tau cara berakting!, sungguh... kenapa mereka harus marah-marah dan terus menerus menyemprotkan air ludah mereka ke wajahku?!!".
Dahlia mengingat kembali adegan ketika salah satu peserta audisi mendatanginya, dengan wajah marah dia menunjukkan wajahnya, sambil memaki kata-kata kasar yang tidak menyenangkan.
Kata-kata makian itu sangat membuat hati Dahlia kesal. Untungnya dia sudah terbiasa bertemu situasi yang tidak terduga, jadi dia bisa tenang bertindak dalam kondisi yang memanas itu. Tapi meskipun wajahnya tenang, namun hatinya tidak. Hatinya sejak tadi sudah berkobar dengan api kemarahan, dalam benaknya sudah banyak kata makian dalam Bahasa Inggris yang dia lontarkan dengan cara mengebu-ngebu.
"****!, What a *****!, Get the **** out of here!, Damn it, you!".
"Tapi....", Dahlia menjilat cream vanila yang menempel dibibirnya, "Meskipun hari ini sangat menyebalkan, tapi aku senang karena bisa bertemu denganmu".
Dahlia lalu melanjutkan dengan sunguh-sungguh, "Peran tokoh 'Luna si Serigala Putih', menurutku hanya kamu yang cocok memainkannya".
__ADS_1