
...-----+-----+-----+-----...
Menjelang sore hari Paman Ian masih belum kembali. Ariel yang tidak ingin tamunya merasa bosan menyarankan agar Luke menikmati Teh dan cemilan Sore bersamanya.
Luke yang sejujurnya sudah habis kesabarannya menyetujui ajakan Ariel.
Mereka berdua pun pindah ke balkon, disana ada sebuah meja dan kursi yang diatur menghadap pemandangan Matahari terbenam. Di atas meja sudah disiapkan dua cangkir teh, teko, dan beberapa kue kecil sebagai cemilan.
"Bibi Zhou yang membuatnya, silakan dicoba".
Sepiring Cheese Cake di meja terlihat sangat enak dan menggugah selera. Luke menjilat bibirnya, kebetulan dia sangat suka Cheese Cake.
Hehe... siapa yang bisa menyangka pria besar sepertinya akan sangat menyukai cemilan manis. Sayangnya tidak ada yang tau, hanya modelnya saja yang tau.
Namun, dengan wajah datar Luke menggerakkan garpunya, memotong tepian kue dan membawanya ke mulutnya.
"Ya, sangat enak, sangat berbeda dari yang lain".
"Benarkan!, rasa kue-kue yang dibuat Bibi Zhou tidak akan pernah biasa-biasa saja!".
Keduanya mengobrol santai dan ringan, sesekali menyeruput teh dan memakan kue kecil lainnya.
Matahari senja yang tidak terlalu panas menjadi latar belakang suasana diantara mereka.
Ariel dan Luke terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan dibawah baptisan cahaya keemasan yang hangat.
Suasana perlahan-lahan menjadi agar romantis.
Setidaknya dimata Ian yang baru saja kembali dari luar.
"Ariel keponakan ku tersayang, apa kamu sedang Tea Time?. Paman ingin bergabung---", Kata-kata Ian tertahan ketika melihat keberadaan sosok lain yang tidak diharapkan.
Matanya membulat lebar menatap Pria sebesar beruang yang duduk tanpa rasa bersalah disamping keponakannya yang cantik jelita.
Segera, raungan makian ke luar dari mulut Ian.
"Siapa beruang Grizzly ini!?, dari kebun binatang mana dia!?. Cepat panggil petugas Margasatwa untuk memulangkannya!!!".
Mendengar raungan Ian yang garang seperti ayah Singa, Ariel tertawa sambil memegangi perutnya. Disampingnya Luke hanya memutar matanya, jengah.
...-----+-----+-----+-----...
Pada akhirnya tidak ada Petugas kebun binatang yang datang ke Apartemen Ariel, yang datang justru tetangga sebelah Ariel yang protes karena suara teriakan Ian yang terlalu kencang.
Memegang kedua tangan keponakannya erat-erat, Ian membuat wajah merajuk seolah-olah telah tersakiti. Dengan nada dramatis dia berkata, "Keponakan, kenapa kamu tidak mendengarkan perkataan ku?".
"Perkataan yang mana Paman?".
"Tentu saja perkataanku kemarin tentang menjauh dari pria bajingan agar kamu tidak akan tertipu lagi".
"Tapi tuan Luke tidak terlihat seperti bajingan..."
"Keponakan ku tersayang, percayalah beruang coklat ini nyatanya punya banyak mantan pacar, bahkan melebihi aku".
"Maka kamu sama bajingan juga Paman".
__ADS_1
"Tidak, jelas dia lebih bajingan dariku! QAQ". Ian berusaha menjelaskan dengan gigih, dia ingin membuktikan pada keponakannya, bahwa di dunia ini ada pria yang seribu kali lebih bajingan darinya.
Luke yang duduk disamping sambil menonton drama batin antara paman dan keponakan, memiliki jejak imajiner di dahinya. Dengan tergesa-gesa dia berdiri, berjalan kearah Ian, lalu menarik kerah pakaiannya.
"Hei, Ian. Daripada buang-buang waktu membicarakan masalah siapa yang lebih bajingan diantara kami, kenapa kamu tidak membantuku menyelesaikan masalah yang kamu tinggalkan".
"Masalah apa?. Hei, bicaralah dengan benar!, jangan menggunakan kekerasan!".
Ariel menyeruput teh, dia tidak bergeming sedikitpun melihat pamannya dibawa/diseret oleh Luke ke lantai atas.
Bibi Zhou yang menyaksikan hal itu dari dapur keluar dan menghampiri Ariel.
"Nona, apa Tuan Ian akan baik-baik saja. Pemuda itu, wajahnya terlihat cukup garang?".
"Ya, tidak apa-apa. Paman dan Asistennya baru saja akan membahas masalah pekerjaan, sebaiknya kita tidak menggangu".
Mendengar ucapan Ariel, Bibi Zhou langsung mengangguk.
"Lalu Nona, Kue keju ini...", Melihat Kue yang baru di makan beberapa potong, Bibi Zhou ragu-ragu.
"Simpan saja di Kulkas Bi, kuenya enak~!. Nanti malam aku pasti akan menghabiskannya!".
Bibi Zhou tersenyum, dia merasa senang dan puas karena hasil karyanya disukai oleh majikannya. Sambil menyenandungkan lagu, Bibi Zhou melayang dengan gemulai kembali ke dapur.
Sementara itu dilantai atas.
"Apa kamu pernah melakukan one the night stan dengan Model Dahlia Elmer?".
"Uh!, uhuk!, Luke... sialan, dari mana kamu tau?".
"Hahh... ternyata itu benar".
Ian tidak takut melihat tatapan mata Luke yang garang, dia masih memasang wajah santai, dan menjelaskan tanpa beban.
"Jangan marah, itu hanya kecelakaan. Disebuah pesta Koktail, aku dan Dahlia secara tidak sengaja mabuk dan terkunci bersama dikamar hotel, jadi yah... kamu bisa menebak hasilnya".
Ian duduk disofa sambil menyilangkan kakinya yang ramping, mata hijaunya yang sedalam danau menatap Luke dengan kilatan main-main.
"Berguling dikasur ketika baru pertama kali bertemu, perilakumu sangat buas, Ian. Jika keponakanmu yang cantik itu tau perbuatan mengesankanmu, menurutmu dia akan bereaksi seperti apa?".
"Beruang Grizzly, kamu cari mati huh?".
"Kamu yang cari mati, Ian".
Dengan gerakan secepat kilat, Luke menarik pergelangan tangan Ian, dan menariknya ke sisi-Nya. Dengan paksa mendudukkan pria muda yang ramping itu dipangkuannya, Luke yang kemarahan dihatinya terus berkobar karena termakan api cemburu, mendesak Ian dengan ciuman Prancis yang gila dan kejam.
"Umm... lebih ringan!", Ian tidak menolak ciuman itu, dia justru aktif dengan melingkarkan kedua tangannya dileher Luke.
Luke memperdalam ciumannya dengan menekan kepala belakang Ian. Tangannya yang kuat dan berotot dengan sempurna melingkari pemuda ramping itu dari segala arah, tanpa menyisihkan ruang dan jarak, keduanya menyatu dan tenggelam bersama dalam suasa mabuk cinta.
...-----•°•°•°•-----...
"Maaf Tuan Luke, hanya ada empat kamar di Apartemen ku. Aku dan Paman sudah menepati dua diantaranya, yang satunya sudah diisi dengan barang-barang pribadi milik Bibi Zhou, dan kamar terakhir...aku sudah mengubahnya menjadi Studio".
"Malam ini aku harus menyusahkanmu untuk tidur sekamar dengan Pamanku".
Ariel tidak berdaya, dia merasa malu karena tidak bisa menyiapkan ruang privasi yang nyaman untuk tamunya.
__ADS_1
Semenjak dia pindah ke Hangzhou dan mengetahui dirinya sedang hamil, Ariel sudah mengatur banyak hal untuk membatasi ruang lingkup kehidupannya.
Karena dia hamil dalam posisi sudah bercerai, Ariel sebagai Singel Mom, memutuskan untuk mengasingkan diri dari lingkungan sosial, setidaknya sampai bayinya lahir.
Hal itu dia lakukan bukan karena tanpa alasan, alasannya cukup sederhana, karena bayi ini tidak memiliki ayah...
Entah tatapan mata seperti apa yang akan dilontarkan orang-orang ketika mengetahui anak ini lahir tanpa seorang ayah, Ariel tidak mau anaknya malu dengan kekurangannya itu.
Karena itulah, dia berusaha menutup diri, mengunci diri di apartemen, membeli banyak makanan, dan segala macam alat hiburan untuk mencegahnya terlalu banyak bersosialisasi atau nerasa bosan di rumah.
Alhasil, Apartemennya menjadi penuh dengan pernak-pernik yang tidak ada habisnya. Dan semua barang-barang itu memakan banyak tempat di Apartemennya.
Menyadari kekakuan dan ketidakberdayaan Ariel, Luke tidak mengubah ekspresi diwajahnya, dia menjawab dengan toleran.
"Jangan khawatirkan itu, Nona. Saya dan Ian terbiasa bekerja dengan intensitas yang tinggi, terkadang kami bisa bergadang bersama saat menyelesaikan tugas, jadi tidur sekamar denganya bukan pertama kalinya..."
Sejujurnya, setiap malam Luke selalu tidur bersama Modelnya, tanpa terkecuali. Tidak ada malam tanpa mereka berdua tidur bersama, juga tidak ada malam yang mereka habiskan tanpa melakukan berolahraga intens. Singkatnya, setiap malam ada waktu Binatang buas memakan daging.
"Begitu, maaf yah... tidur dengan Paman pasti membuatmu tidak nyaman, postur tidur Paman selalu buruk, dia suka menendang orang ketika sedang tidur".
"Keponakan, aku bisa mendengar ucapanmu loh...", Ian berbaring miring diatas Sofa, tangannya sibuk memencet remot untuk mengganti saluran TV.
"...Oh, dan asal kau tau, Beruang Grizzly ini sering mendengkur ketika tidur. Dan suara dengkurannya sangat kencang".
"Seolah-olah kamu tidak pernah seperti itu, Paman". Ariel mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Sudahlah, Hei, apa kamu sudah meminum susumu?".
"Aku sudah meminumnya, aku akan naik ke atas untuk tidur lebih awal. Selamat Malam Paman, malam Tuan Luke".
"Malam Sweety~".
"Selamat malam".
Kedua pria itu menjawab bersamaan, keduanya menyaksikan Ariel langkag demi langkah menaiki tangga, lalu menghilang ditikungan.
Luke duduk disamping Ian, tanpa basa-basi dia bertanya, "Sudah berapa bulan?".
"Hampir dua bulan, kenapa kamu bertanya?". Ian secara pasif mengabaikan tangan seseorang yang bermain-main ditengkuknya, dia mengubah saluran, dan berhenti pada adegan XXX yang dipentaskan dilayar TV.
Luke menonton adegan XXX yang panas tanpa mengubah wajahnya.
"Untuk wanita seusia Keponakanmu, memiliki anak terlalu awal".
"Ya, memang. Keponakanku sangat menyedihkan, dia ditipu oleh pria bajingan hingga perutnya membesar".
"Butuh bantuan?".
"Tidak perlu, sepertinya keponakanku masih memiliki beberapa jejak nostalgia untuk pria itu".
Luke tidak mengatakan apa-apa, karena Ian menolak uluran tangannya maka dia tidak akan ikut campur. Dia menghormati sikap teguh Ian, dan Ian menghargai pilihan keponakannya, jadi semua dapat dikatakan baik-baik saja.
"Sudah larut, kita juga harus tidur". Luke merebut remot dan langsung mematikan TV. Tangannya yang lain menarik tubuh seseorang kembali ke kamar.
"Ugh...Sayangnya, aku tidak mengantuk".
Meletakkan pemuda yang memerah seperti tomat diatas kasur, Luke mendekatkan wajahnya ditelinga Ian. Dengan senyum menggoda, Luke berbisik di telinga Ian.
__ADS_1
"... Kalau begitu, malam ini, mau mencoba postur baru?".
"Pakai ****** mu, dasar Beruang Grizzly..."