
...-----•°•-----•°•-----•°•-----...
Pertemuan pertama Ian dengan Luke terjadi empat tahun yang lalu.
Saat itu sedang musim gugur, pohon-pohon Maple di taman kota tertiup angin dingin dan jatuh berguguran ketanah.
Pertemuan pertama mereka membuat Ian memiliki kesan yang sangat dalam tentang Luke.
Itu bukan karena penampilannya yang terlihat tampan, keren, maupun kaya, melainkan karena...
Pria itu, Luke, mengingatkan Ian pada makhluk yang paling tidak dia suka, si mahkluk tinggi berwajah cekung, dengan telinga bulat yang kecil, dan sekujur tubuh yang ditutupi bulu-bulu coklat lembut.
Apalagi kalau bukan, beruang....
Itu adalah pertama kalinya bagi Ian melihat pria setinggi beruang. Setidaknya, dia belum pernah melihat pria Eropa setinggi itu, yang hampir mendekati dua meter.
Ketika melihat Luke hal pertama yang Ian rasakan adalah rasa frustasi dan ketidakberdayaan.
Penampilan Luke membuat Ian kembali mengingat pengalaman masa kecilnya.
Itu adalah pengalaman absurd yang tidak akan pernah bisa Ian lupakan seumur hidupnya, dan aib yang ingin dia kuburkan sedalam-dalamnya hingga kerak bumi.
Pengalaman terburuk, dicium oleh Beruang Grizzly ketika dia sedang berlibur di kebun Binatang.
...-----+++-----...
"Ian, bangunlah..."
Tepukan ringan menyentuh bahunya, Ian mendengus sebal, berusaha menyingkirkan tangan yang mencengkram bahunya.
"Ian bangun, sudah waktunya sarapan".
Kali ini Ian akhirnya membuka matanya, dengan mata hijau berair, wajah yang masih setengah mengantuk, dan bibirnya yang mengerucut, Ian membuka mulutnya dengan sudah payah.
"Selamat pagi, uh... ada apa?".
Melihat tampang malas Ian yang imut dan mirip seperti kucing Orenge, Luke tidak bisa menahan senyumnya.
"Ayo sarapan, keponakanmu dan Bibi Zhou sudah selesai membuat sarapan. Jangan membuat orang menunggu lama, dasar Pangeran tidur".
Sebuah bantal melayang dan hampir menabrak wajah tampan Luke. Dengan gesit Luke menghindarinya, alhasil bantal itu pun dipukul menjauh hingga jatuh dan terkapar diatas karpet.
"Kau yang Pangeran tidur, seluruh keluargamu adalah Pangeran tidur!".
Ian dengan marah memaki, dia meraba-raba sekitarnya, dia mengambil apa saja yang bisa dia raih, bantal, guling, selimut, ****** *****, dan bahkan ******...eh, dan melemparkan semuanya kearah Luke.
Luke dengan mudah menghindari semua itu, dengan gesit tubuhnya yang besar bergerak mundur, bergegas mendekati pintu, lalu berjalan keluar.
"Jangan marah, ayo cepat bangun... apa kamu tidak lapar?, aku sangat lapar. Waffle buatan keponakanmu terlihat lezat, aku ingin segera memakannya".
"Ck, dasar!, Beruang Grizzly pencinta makanan manis!".
"Hahaha....", Yang Ian dengan setelah itu adalah tawa Luke yang penuh dengan aura musim semi.
Ian selalu mengingat hari itu, hari pertama kali mereka bertemu ditaman.
Ian yang saat itu kelelahan karena proses sesi pemotretan yang panjang, tanpa sadar berjalan seorang diri ke taman.
Sengaja atau tidak sengaja dia memilih lokasi taman yang sepi dan tertutup untuk mencari udara segar dan menenangkan diri.
Dilihat dari lokasi taman yang tertutup dan berada di pinggir kota, Ian berpikir tidak akan ada orang yang mendatangi tempat itu.
Namun, siapa yang menyangka, Ian yang ingin menghindari perjumpaan asing dengan orang tak dikenal, justru malah bertemu seseorang, seorang pria yang nantinya akan mengubah laju hidupnya.
Penampilan Luke yang memasuki pandangan Ian saat itu sangatlah mencolok.
...Seorang pria besar dengan tubuh setinggi beruang, dengan penampilan garang seperti gangster, duduk dengan kaki bersilang ditengah kursi taman berwarna Pink.
__ADS_1
Tangan kanan pria itu memang kerucut es krim, tangan kirinya sibuk memegang sepotong kue coklat, di pangkuannya ada plastik besar berisi banyak makanan ringan yang menumpuk.
Saat itu Ian hanya berdiri sepuluh langkah darinya. Dalam diam dia hanya bisa melongo menatap pria besar yang sibuk mencicipi makan manis seperti anak kecil.
Luke yang selesai melahap kue coklat, memiliki olesan krim diseluruh mulutnya, ketika dia ingin mengambil tisu untuk membersihkan wajahnya, tatapan matanya secara tidak sengaja berpapasan dengan tatapan mata Ian.
Ian, "......."
Luke, "......Mau satu?".
Dan ditaman itulah mereka berdua memulai percakapan pertama yang menarik, terkesan absurd dan juga tidak terduga.
Ian meregangkan pinggangnya yang sakit dan terasa remuk, jari-jemari dengan anggun menyisir rambut pirang lurus kebelakang, memperlihatkan sepasang mata hijau gelap.
Ian melirik kearah jendela, sangat terang... ternyata sudah pagi.
Ian mendengus, dengan enggan dia berguling, lalu bagun dari kasur. Sambil menguap lebar-lebar dia menarik pakaiannya yang longgar untuk menutupi jejak merah-ungu yang mempesona diatas kulit putihnya.
Ia berjalan kearah kamar mandi dan mulai membersihkan diri.
...-----•°•°•°•-----...
"Selamat pagi, paman!".
Ariel menghentikan gerakan meneguk susunya, dan menyapa Ian yang baru saja turun dari lantai atas.
"Selamat Pagi Tuan Ian, ayo, sarapannya sudah siap". Bibi Zhou seperti biasa, tersenyum ceria sambil menyapa dengan semangat.
"Pagi Ariel~, Pagi Bibi~, Ck... pagi Sweet Bear~".
Ian menyapa Ariel dan Bibi Zhou dengan hangat, ketika berhenti dibelakang kursi yang diduduki Luke, Ian menekankan kata "Beruang manis" dengan senyum mengejek.
Luke yang baru saja ingin menggigit Waffle, "........."
Hanya Ariel, Ian dan Luke saja yang sarapan. Bibi Zhou sudah sarapan lebih awal dari mereka, jadi setelah selesai memasak dia bergegas keluar Apartemen untuk membeli sayur di Supermarket.
"Ariel, ini sudah waktunya kamu pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan kan?". Ian bertanya, dia memperhatikan wajah keponakannya yang putih, tidak pucat dan nampak sehat.
"Bagus, kalau begitu Paman akan mengantarmu, dan... Luke, pinjami aku Mobilmu".
Luke mengerutkan dahinya, dia berkata dengan tatapan mata menghina IQ Ian. "Ian, apakah kamu lupa?, semua mobilku ada di Prancis".
"... Sial!". Ian tiba-tiba ingat. Dia baru sadar jika semua asset, rumah, dan mobil mereka kini berada di belahan bumi lain, dan sekarang mereka sedang berada di Cina, bukan di Prancis.
Apa artinya?, artinya selain uang dan diri mereka sendiri, keduanya tidak memiliki apapun...
"Jangan repot-repot Paman, aku punya Mobil". Ariel berkata dengan santai, membuat dua pria tampan itu menoleh kearahnya.
"Selain Apartemen ini, ibu juga meninggalkanku tiga Mobil, ada Porsche, Roll Royce, dan Buggati".
"Jika Paman mau menemaniku, Paman bisa membantuku mengendari Mobil".
"Ya... itu bagus, Oke".
'Sial, Brianna, wahai saudariku yang kini telah menjadi Bidadari di Surga, sebenarnya, berapa banyak kekayaan bersihmu?'
"Apa aku boleh ikut?", Celetuk Luke tiba-tiba.
Ian menatap kearah Luke dan tersenyum penuh arti, "Boleh, tapi. kamu yang jadi supirnya".
Luke, ".........",
'Ian, pagi ini benar-benar menyebalkan', Bantin Luke.
...-----•°•°•°•-----...
"Ah, Nona. Anda akan keluar sendiri?, oh, bertiga?", Menatap tiga orang cantik dan tampan yang berpakaian rapih, wajah Bibi Zhou berseri-seri, dia pun bertanya karena merasa penasaran.
"Ya, Bibi. Hari ini aku akan melakukan kunjungan ke Rumah sakit untuk pemeriksaan rutin, dan bertemu dengan Dokter Yan". Ariel menjawab sambil mengencangkan Syal di lehernya.
__ADS_1
"Bagus, bagus... kalau begitu hati-hati dijalan... eh tunggu. Nona, tadi bilang apa?, Dokter Yan?. Apakah maksud Nona Yan Huai dari Rumah sakit Zhejiang?".
"Ya, Bibi. Ada apa?". Ariel mengangkat sebelah alisnya, dia heran mengapa Bibi Zhou bisa mengetahui nama Dokter Yan, apakah mereka saling mengenal?.
"Ah~, ya ampun, sungguh ini suatu kebetulan!".
"Nona, Yan Huai, dia adalah Putra saya!".
Mata hijau Ariel melebar ketika mendengar ucapan Bibi Zhou.
"Sungguh, sangat kebetulan...", Ariel dengan lucu perpikir, dunia ini terasa sangat sempit.
...-----•°•-----•°•-----•°•-----...
Tok... tok...
Mendengar pintu ruangannya diketuk, Yan Huai tidak mengalihkan pandangannya dari dokumen yang sedang dia baca, dia hanya mengucapakan kalimat persetujuan, "Ya, silahkan masuk".
"Permisi, selamat pagi Dokter Yan".
Mendengar suara yang familiar, Yan Huai tanpa sadar mendongak, seketika tatapannya langsung terkunci pada sosok wanita cantik berambut coklat caramel.
"Nona Feng?, Ariel kan?. Selamat pagi, silakan duduk dulu sebentar".
Yan Huai ingat Ariel, dia memiliki kesan yang mendalam tentang gadis rasa campuran itu. Alasannya adalah karena selama pemeriksaan awal Yan Huai menemukan jika Ariel tidak tau dirinya telah hamil diluar nikah.
Dan yang membuat Yang Huai lebih terkesan adalah setelah mengetahui dirinya sedang hamil Ariel tidak bertingkah histeris, dia hanya sedikit terkejut dan syok ditempat.
Ariel duduk kursi, Ian dan Luke juga bergerak dan mengambil posisi nyaman masing-masing.
Ian duduk disamping Ariel, sedangkan Luke, dia cukup nyaman bersandar pada dinding sambil memperhatikan dalam diam.
Barulah Yan Huai menyadari jika Ariel tidak datang seorang diri, ada dua pria dengan penampilan luar biasa yang ikut bersamanya kali ini.
"Sepertinya Nona Ariel tidak datang seorang diri lagi. Sekarang ada yang menemani".
"Ya, mau bagaimana lagi. Aku tidak yakin apakah kondisiku yang sekarang memungkinkan ku untuk mengendari mobil".
"Jelas tidak boleh, dan jangan dicoba". Yan Huai mengangguk, Pasien yang baik, adalah orang yang selalu berpikir kritis tentang kesehatan dan keselamatan pribadinya.
"Halo, Dokter Yan. Saya Ian Fayrisi, saya adalah pamannya, mohon bantuannya".
"Tentu saja, kalau begitu ayo kita mulai".
Pemeriksaan dilakukan selama sejam lebih, ketika jam makan siang tiba, pemeriksaan pun telah selesai.
"Ariel, sebelum pulang mau membeli sesuatu?".
"Hm... aku ingin sesuatu yang asam". Ariel berpikir sebentar sebelum menjawab seperti itu.
"Oke, kalau begitu ayo kita beli hal-hal yang asam-asam, tapi... apa yang harus kita beli?".
"Jeruk?", Ariel berpikir jeruk mungkin cukup asam.
Luke yang duduk di kursi kemudi membuka mulutnya, "Cuka".
"........."
"........."
Dua Paman dan Keponakan itu secara bersamaan menatap Luke dengan tatapan mengejek dan menyelidik.
"Baiklah, kalau begitu ayo beli cuka, entah mengapa aku merasa kita akan memperlukan cuka nanti".
"Terserah paman...", Ariel tidak akan berkomentar. Pamannya adalah orang aneh, dan jika teman dekatnya bukan orang aneh maka akan lebih terasa sangat aneh.
Disisi lain, di Apartemen. Terlihat bibi Zhou yang sibuk menari dan bermain dengan alat-alat dapur.
Bibi Zhou menatap kearah rak lemari, dari kiri hingga ke kanan dia tidak bisa menemukan apa yang dia butuhkan. Baru saat itulah Bibi Zhou menyadari, jika dia telah lupa membeli sebotol cuka.
__ADS_1
"Aiyah... kenapa aku bisa lupa?. Cuka!, tanpa cuka masakan ku tidak akan sempurna!".