
...-----+-----+-----+-----...
Sudah tiga hari sejak audisi Film berakhir. Ariel yang terlalu lelah dan bosan menunggu konfirmasi dari Kru Film, memutuskan pergi ke Mall untuk berbelanja pakaian.
Tenggelam dalam keasyikan belanja hampir membuat Ariel lupa diri dan lupa waktu, oh, dia bahkan hampir melupakan keberadaan Putranya sendiri, Izekiel.
Sejam kemudian Ariel tersadar jika dia telah kehilangan anaknya. Ariel terkejut, dengan panik dia berbalik dan bergegas masuk kembali kedalam Mall.
Ariel berlari kembali mengunjungi toko-toko pakaian yang sempat dia kunjungi. Dia mencari satu persatu, dengan teliti berusaha menemukan keberadaan putranya yang berpenampilan mencolok.
Setelah sekian lama mencari Ariel akhirnya menemukan sosok kecil Izekiel. Pandangan matanya menangkap siluet Putranya yang sedang berdiri terbengong didepan toko sepatu. Raut wajah kecilnya tampak linglung dan polos, dengan alis terkulai lemah, bibir yang mengerucut, dan mata hijau yang lembab dan basah. Ekspresi Izekiel saat itu dimata Ariel terlihat persis seperti bayi kucing yang telah dibuang, penuh dengan keluhan dan kesedihan.
"My Baby~, Izekiel!". Ariel buru-buru berteriak memanggil nama anaknya.
Mendengar namanya dipanggil, Anak kecil berumur lima tahun itu langsung tersentak. Dengan refleks dia menoleh kearah asal suara, seketika matanya berbinar ketika melihat kedatangan ibunya.
"Bu, aku disini", Izekiel berlari mendekat sambil membuka kedua tangannya, dia menginginkan pelukan ibunya.
Dengan kecepatan kilat Ariel langsung membawa putranya kesisinya dan memeluknya dengan sangat erat.
"My little Angel~, maafkan ibu, ibu hampir saja melupakanmu!". Ariel meringis sedih, air mata seperti butiran mutiara mengalir deras di kedua pipinya.
"Tidak apa-apa Bu". Izekiel diam-diam menepuk pundak ibunya untuk menenangkan rasa bersalah dan kegelisahannya.
"Sungguh!, ibu minta maaf!!!".
"Tidak masalah, yang penting ibu tidak benar-benar meninggalkanku, dan mau mencariku kembali ketika mengetahui aku telah hilang". Dengan suara seperti kucing susu, Izekiel menjelaskan dengan hati-hati. Suaranya yang sedikit cadel dan lucu entah mengapa berhasil menenangkan sedikit kegelisahan dihati Ariel.
Sikap pengertian dan kebijaksanaan Putranya membuat Ariel tambah ingin menangis. Dia tidak bisa mengatakan sepatah katapun lagi karena terharu. Saat ini matanya terasa masam dan perih, namun hatinya terasa manis dan segar.
Izekiel dengan telaten mengeluarkan saputangan dan memberikannya kepada ibunya. "Bu, hapus air mata, awas nanti make up mu luntur".
Ariel, ".........", kamu benar-benar anak yang pengertian.
Ariel menerima saputangan itu dan mulai mengusap bekas air matanya. Jauh didalam lubuk hatinya dia berpikir, Putranya sangat bisa diandalkan, padahal di baru berumur lima tahun, dia masih bayi yang mungil dan lucu. Sangat menyedihkan memikirkan Putranya menunggu sendirian di tempat asing, tanpa tau harus bergerak dan melakukan apa.
Dan lagi bagaimana jika Putranya tidak beruntung dan bertemu dengan orang cabul?.
Memikirkannya lagi dan lagi membuat Ariel merasa lebih tertekan. Dengan kesal dia mencela dirinya sendiri, sungguh dia masih belum bisa menjadi ibu yang baik dan kompeten.
"Sayang, ibu sudah selesai berbelanja, ayo kita pulang ah".
Ariel menurunkan Izekiel ke lantai dan membiarkannya berjalan sendiri. Namun, tanganya masih menggenggam tangan Izekiel dengan erat, untuk berjaga-jaga takut kejadian yang tidak mengenakan seperti sebelumnya terjadi lagi.
"Ya, Bu, Izekiel juga sudah lapar, Izekiel mau makan masakan ibu". Bayi berumur lima tahu itu menepuk-nepuk perut kecilnya, membuat isyarat dengan bertingkah manja jika dia lapar.
"Oke, oke, nanti ibu akan membuat semua masakan favoritmu". Ariel dengan tegas mengangguk. Untuk menembus kesalahannya dia rela berkompromi, apapun yang ingin dimakan bayinya pasti akan dia buat.
"Bu, aku juga mau sepotong Kue Coklat". Tambah Izekiel tiba-tiba.
"Hah?, bukankah kamu sudah memakannya tadi di rumah?".
"Belum, Kuenya sudah terlanjur masuk kedalam perut Paman Luke". Ucap Izekiel dengan sebelah pipi yang mengembung karena kesal.
"........oke, nanti Mommy buatkan yang baru".
"Terimakasih, I Love You Mom!".
"Love You Too, my little angel".
Kedua ibu dan anak berjalan bersama diantara lautan orang di Mall. Mereka berdua mulai berbincang dengan penuh semangat untuk melupakan kejadian tak mengenakan sebelumnya, suasana disekeliling mereka perlahan-lahan mulai menjadi hidup dan semarak lagi.
Perlahan-lahan, suara tawa wanita yang lembut yang diiringi suara celotehan bayi yang imut, mulai menghilang dari kejauhan.
__ADS_1
Sebelum menuruni tangga eskalator, Izekiel kecil masih menyempatkan diri untuk membalikan badannya sejenak. Mata hijau Giok yang bulat memindai ke arah tempat dimana dia berdiri sebelumnya.
Disana dia tidak bisa melihat tanda-tanda kemunculan pria aneh itu, pria yang sebelumnya berjanji akan membelikannya teh susu.
---Pria yang berperawakan tinggi dan misterius, dengan aura yang tajam, dan tatapan mata hitam yang sangat menindas.
Selain ibunya yang cantik, Paman Ian yang brilian, dan Paman Luke yang serba bisa, Izekiel kecil belum pernah bertemu dengan orang yang bisa membuatnya terkesan.
Di dunia imajinatif-nya yang kecil, Izekiel tidak pernah berpikir dia dapat bertemu dengan orang yang dapat membuatnya terkesan.
Namun, pria aneh itu dapat membuatnya terkesan. Kesannya sangat dalam seolah-olah selulit pria itu selalu terpatri jelas di kepalanya, tanpa bisa dihilangkan, dan terus-menerus muncul.
Siapa pria itu?, kenapa sebelumnya dia bertanya tentang Mommy?.
...-----•°•°•°•-----...
"Boss, itu...", Chen Yao berkeringat dingin, dengan gugup di berusaha melanjutkan kalimatnya yang terbata-bata. "Teh susumu, mau tumpah...."
Didalam hatinya, Chen Yao sebenarnya ingin mengatakan pada Bossnya, jika dia terus menggenggam gelas teh susu seperti itu maka gelas plastik yang tidak berdosa itu pasti akan remuk, hancur, dan isinya akan berceceran kemana-mana.
Tentunya, Chen Yao hanya berani mengucapkan kalimat tersebut dihatinya. Selebihnya, dia tidak mau banyak bicara lagi karena... karena... aura Bossnya saat ini sangat menakutkan.
Benar-benar menakutkan, Bossnya terlihat seperti binatang buas hitam yang telah terprovokasi, emosinya yang biasanya dingin tiba-tiba pecah menjadi amarah yang dicampur dengan aura membunuh yang kuat.
Oh, lihatlah mata hitam Bossnya yang dingin, rahangnya yang ketat, dan aura gelap yang melingkupi tubuhnya. Jelas sekali keadaan Bossnya saat ini tidak normal!.
Chen Yao, pria bertubuh kekar dengan balutan jas, merasa dirugikan, dia menangisi kepahitan hidupnya.
"Siapasih... Orang yang berani-beraninya menyinggung Boss Fu?, di siang hari ini, masih ada orang yang mau mati yah?".
Disisi lain, berdiri beberapa langkah dari Chen Yao, adalah Fu Jichen, pria yang sedang memegang/mencengkram gelas teh susu.
Sejak tadi Fu Jichen tidak mengeluarkan suara, dia hanya berdiri diam disana seperti patung mewah yang diukir sempurna. Jika tidak melihat alisnya yang berkerut, jakunnya yang bergerak naik-turun, dan pembuluh darah ungu yang mencuat dari kepalan tangannya, orang mungkin akan benar-benar percaya dia adalah patung.
"Boss, anak itu sudah pergi, haruskah kita melanjutkan Inspeksi dadakan ini...."
Satu-satunya gerakan ada pada tatapan matanya yang tidak pernah berpaling dari arah perginya wanita berambut coklat panjang.
...Yaitu, arah dimana Ariel berjalan pergi.
"Itu kamu...", Tidak ada yang tau jika dibalik wajah Fu Jichen yang dingin dan tenang, ada kegembiraan dan kegilaan yang luar biasa.
---Kebahagiaan karena reuni yang tidak terduga, dan kegilaan karena waktu perjumpaan yang singkat.
Fu Jichen merasa hatinya sangat panas, otaknya juga menjadi kosong dan lambat. Dipikirannya saat ini hanya ada satu suara yang terus bergema.
Ambil dia!. Dia milik-ku!
Ambil dia!. Dia milik-ku!
.....
Milik-ku!. Milik-ku!. Milik-ku!.
Dia adalah wanitaku!
.....
Aku sudah menantikan kembalinya dirimu cukup lama. Lima tahun lamanya aku berjuang sendirian untuk mengalahkan rasa sakit karena kehilangan dan kerinduan padamu.
Aku bangun dari keterpurukan karena cacat dan amnesia, aku belajar sendiri untuk memahami masa lalu kami yang terkubur dalam kabut, aku juga yang diam-diam mengemis dalam mimpi agar kamu datang....
Akhirnya, setelah sekian lama kamu muncul lagi dalam hidupku, istriku... wanita cantik dengan mata seterang bintang-bintang.
Xiao Hua... My Ariel....
__ADS_1
"Kembali ke perusahaan".
Fu Jichen berkata, dia membalikan badannya tiba-tiba, mengejutkan Chen Yao sampai membuatnya terjungkal ditempat.
Sebelum berjalan melewati asistennya, Fu Jichen menyerahkan segelas teh susu ke Chen Yao, yang diterima Chen Yao dengan wajah penuh horror.
Tanpa memperdulikan asistennya yang gelisah, Fu Jichen pergi tanpa melihat kebelakang, meninggalkan Asistennya yang berdiri diam ditempat seperti orang bodoh.
...-----•°•-----•°•-----•°•-----...
Uap kabut putih menyelimuti tubuh Ariel yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Rambut coklatnya yang masih basah dia sampiran dengan santai dipundak kirinya, alhasil sisa tetesan air pun mengalir turun membasahi tulang selangka hingga meluncur kebawah...
Mandi dengan air panas membuat kulit Ariel yang semula berwarna putih menjadi pink-kemerahan. Kedua pipinya bahkan bersemi merah, seperti kelopak bunga sakura yang mekar dengan genit.
Setelah lima menit menyibukan diri mengeringkan rambut, Ariel mulai meraba-raba rambut coklatnya yang wangi, halus dan indah. Dia tersenyum puas setelah memastikan rambutnya sudah kering.
Sambil menyenandungkan lagu klasik, Ariel meraih kopernya dan dengan santai mengeluarkan gaun suspender hitam yang terlihat cukup sexy, namun tidak begitu terbuka.
Dibawah lampu kamar yang terang, tubuh yang semula terlilit handuk perlahan mulai terbuka. Segera, pemandangan indah yang dapat membuat semua wanita iri, dan semua pria mimisan darah, dipentaskan.
Setelah handuk dilepas, tubuh yang sempurna benar-benar terbuka diudara, kulit seputih salju yang sehalus Giok, payud*ra yang montok, pinggang langsing yang dapat dengan mudah dikaitkan dengan satu tangan, dan area pribadi yang terjaga sempurna....
Hanya sangat disayangkan, tidak ada satu pun orang yang beruntung bisa melihat pemandangan yang seindah musim semi ini.
Memang pernah ada seseorang yang cukup beruntung untuk melihatnya, namun sayangnya butuh waktu yang akan lama untuk orang itu bisa melihat pemandangan menakjubkan ini lagi.
Ariel dengan cepat berganti pakaian, setelah menata rambut dan menggunakan pelembab wajah, dia langsung menghempaskan tubuhnya yang kelelahan ke atas ranjang pink yang empuk.
"Hah... hari ini adalah hari yang menguras banyak tenaga dan emosi".
Ariel mendengus sebal, dia lalu mengubur wajahnya lebih dalam keselimut.
"...Tidak bisa dipercaya, bagaimana bisa aku keasyikan berbelanja sampai-sampai melupakan Putraku sendiri!?. Aku benar-benar ceroboh, bagaimana jadinya kalau Izekiel benar-benar hilang di Mall?, belum tentu Mall sebesar dan semewah itu aman dari pelaku tindak kejahatan kan?".
Ariel meringis dan kembali mengutuk perbuatan tercelanya, tidak lupa dia juga menyeret nama ibu mertuanya... atau lebih tepatnya uang dari mantan ibu mertuanya, yang merupakan dalang utama penyebab dirinya menjadi gila belanja akhir-akhir ini.
"...Baiklah, tidak apa-apa. Yang terpenting ingatlah Ariel, kamu tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama. Selalu ingatlah!, Putramu adalah duniamu!".
Ariel terus menghipnotis dan memotivasi diri sendiri. Dengan melakukan hal itu setidaknya bisa menenangkan sedikit kegelisahan yang tersisa di hatinya
Beberapa menit kemudian hatinya pun menjadi jauh lebih tenang, segera rasa kantuk dan lelah mulai menyerang kesadarannya. Tanpa sadar Ariel jatuh tertidur lelap.
".......Zzzzzz".
Baru saja Ariel ingin menyeberangi jembatan mimpi menuju negeri ajaib, sebelum dering ponsel memanggilnya kembali ke kenyataan.
'Tring---Tring---'.
"Hah---!!!, apa!?", Ariel terkejut, tanpa sadar dia melompat dari tempat tidur. Dengan heran dia mengedarkan pandangannya. Baru setelah melihat kesana-kemari dia akhirnya menyadari ponselnya yang membuat suara.
Ariel menguap lebar, dia berjalan kearah meja rias sambil menggaruk rambutnya yang berantakan.
"Huh, siapa sih yang menelpon malam-malam begini..."
Tidak ada nama orang, hanya ada deretan angka yang asing, Ariel terdiam sejenak. Dia hanya ragu sejenak, setelah berpikir jernih dia langsung menekan tombol hijau.
Ariel menempelkan handphone di telinganya, segera suara wanita yang dingin dan profesional dengan sedikit barington menembus gendang telinganya.
"Halo, selamat malam. Maaf menggangu waktu malammu yang berharga, Nona Ariel. Nama saya Yin Lou, saya berasal dari anggota inti dari Kru Film "The Devil's Night", saya ingin mengucapkan selamat karena anda berhasil lulus audisi".
"Kemampuan akting dan perfomancemu telah kami lihat sendiri saat audisi, sejujurnya itu sangat menakjubkan. Dengan segala hormat kami berharap anda bisa memainkan peran Luna si Serigala Putih".
"Jika Nona Ariel bersedia, maka tolong menyisakan waktu lusa untuk bertemu dan menanda tangani kontrak".
__ADS_1
...-----•°•°•°•-----...
🌸🍀💙Beri aku dukungan, terimakasih 🌺🍀💜