
...-----•°•°•°•-----...
"Xiao Chen!, jelaskan pada ibu, apa maksudnya dengan membatalkan pertunanganmu dengan Nona muda kedua Lin?!".
Nyonya Fu menatap dengan tidak percaya pada Putra satu-satunya. Anak kebanggaannya, pewaris dari keluarga Fu yang berbakat dan jenius, pria idaman semua wanita, Fu Jichen.
Baru sehari yang lalu setelah dia kembali dari berlibur di Bali, dia mendapat telepon dari Nyonya Lin, Fei Qiang. Di telepon Nyonya Lin bertanya padanya tentang apa yang membuat Putranya, Fu Jichen, membatalkan pertunangan dengan putri mereka, Lin Nuan.
Setelah mendengar dan memahami semua seluk beluk permasalahannya, Nyonya Fu yang saat itu tidak bisa berkata-kata karena terkejut, menjadi geram dan marah. Dia geram karena Putranya seenaknya saja memutuskan pertunangan, dan marah karena putranya tidak mengatakan sepatah katapun padanya perihal masalah yang sangat penting ini.
"Maksudnya jelas, karena aku tidak ingin menikah dengan Nona Lin". Jawaban Fu Jichen berhasil membuat Nyonya Fu merasa tidak berdaya dengan sikap Putranya yang acuh tak acuh.
Nyonya Fu tidak bisa mengerti. Mengapa semuanya menjadi seperti ini. Sejak bangun dari komanya, Putranya tiba-tiba berubah menjadi lebih pendiam dan dingin. Perlahan-lahan dia berubah menjadi orang yang sulit dimengerti, dengan pikiran yang sulit ditebak. Nyonya Fu merasa Putranya saat ini menjadi lebih misterius, lebih suram, dan...
.... Menjadi lebih jauh darinya.
Duduk di ruang kerja, dengan cahaya lampu yang remang-remang, wajah Fu Jichen masih tetap sama, dingin dan sunyi, tanpa arus emosi dan ekspresi yang jelas.
Mata hitam gelap Fu Jichen seperti jurang kegelapan, menatap ibunya dengan tatapan yang dalam.
"Aku sudah mempunyai istri, jadi tidak mungkin untukku bertunangan, apalagi menikah".
Kalimat Fu Jichen, 'Aku sudah mempunyai Istri' berhasil mengejutkan hati Nyonya Fu.
"K-Kamu... kamu tau?". Nyonya Fu membulatkan matanya, dia tidak bisa mempercayainya, mengapa Putranya bisa mengetahui keberadaan Ariel, padahal dia sudah menghapus semua jejak keberadaannya.
Dengan amnesianya, Nyonya Fu selalu berpikir putranya tidak akan memiliki sedikit pun kesan dan nostalgia untuk Ariel, karena pernikahan mereka hanya berjalan satu tahun, dan lagipula tidak ada cinta diantara mereka, hanya perjanjian hitam putih diatas kertas yang dingin.
"Xiao Chen, apakah ingatan mu sudah kembali?, kapan itu----", Ucapan Nyonya Fu terhenti ketika matanya secara tidak sengaja bertabrakan dengan tatapan suram dan acuh tak acuh yang dilontarkan Putranya. Tangan Nyonya Fu sedikit bergetar, dengan ekspresi panik dan rasa bersalah dia mengalihkan pandangannya kesamping.
"Aku tidak mengingatnya, tapi aku selalu tau jika ada keberadaan seperti dirinya".
"Setiap malam, ketika kepalaku terasa pusing, dan sekujur tubuhku yang penuh luka menjerit kesakitan, aku akan pingsan karena tidak tahan dengan rasa sakitnya. Ketika aku jatuh pingsan dan tertidur lelap ditemani rasa sakit yang tiada akhir itu, aku selalu bermimpi tentangnya..."
"Setiap waktu, setiap malam, dan disaat dia muncul dalam mimpiku, aku selalu tau kehadirannya pasti begitu istimewa bagiku".
Nada suara Fu Jichen terdengar serak dan rendah, dengan intonasi yang dingin dan kelabu, namun sarat akan kerinduan, kegigihan dan hasrat.
Didalam lorong hatinya yang membeku seperti Es dan gletser ada percikan nyala api yang tersembunyi didalamnya. Api itu kecil dan lemah dan tidak akan memiliki kesempatan untuk berkobar. Namun, ketika tangan putih dan ramping itu menekan hatinya, maka yang akan terjadi adalah....
Hatinya yang membeku akan retak dan mencair, dan nyala api yang awalnya tidak memiliki kesempatan untuk berkobar akan menyala dengan api yang begitu besar dan dasyat.
"Aku tidak ingat seperti apa hubunganku dengan Istriku sebelum Amnesia, namun yang aku tau saat ini adalah...aku ingin bertemu denganya, hidup bersama dengannya, dan mencintainya hingga akhir".
"Aku tidak bisa menerima perceraian, ataupun menikah dengan wanita lain. Aku mencintainya dan tidak perduli apapun yang terjadi aku ingin menemukannya kembali, lalu membawanya pulang ke rumah ini".
"Nak, Ibu....", Nyonya Fu tidak tahan lagi, dia sangat patah hati dengan narasi Putranya. Dia ragu-ragu dan gelisah, apakah keputusannya saat itu untuk mengakhiri pernikahan Putranya secara sepihak adalah benar?. Atau dia salah?, salah karena bertindak gegabah seperti itu.
"Ibu", panggil Fu Jichen.
"Y-Yaa?".
Fu Jichen dengan sungguh-sungguh menatap mata ibunya. Ada ungkapan permohonan yang dalam disorot matanya yang gelap.
"Bu, tolong katakan padaku. Ada dimana Istriku?".
__ADS_1
...-----+-----+-----+-----...
Triing~
Nontifikasi ponsel membuat Luke mengalihkan perhatiannya dari layar Laptop di pangkuannya. Dengan jari-jemari tangan kiri yang masih asyik menari diatas keyboard, dia merentangkan badannya dan mengambil ponsel yang berada tepat diatas meja.
Luke menunduk, dan dia melihat Notifikasi dari Kru Film "The Evil Imperial Concubine", milik Sutradara Wang. Rupanya ada E-mail baru yang masuk.
Luke buru-buru membuka E-mail, dengan hati-hati dia mulai membaca kata-demi kata yang tertera di layar ponsel hingga tuntas. Setelah selesai membaca dia menutup layar Ponselnya dan meletakan ponselnya kembali keatas meja.
"Selamat Ian, kamu lulus audisi menjadi Pria nomor dua dari Film milik Sutradara Wang".
"Ah, benarkah?. Wah, betapa hebatnya aku", Ian menyingkirkan majalahnya mode yang sedang dia baca ke samping, dengan ekspresi penuh kepuasan dia mulai membual dan memuji betapa mempesonanya dirinya sendiri.
Luke melirik Ian dari sudut matanya, dia tidak mengatakan sepatah katapun perihal sikap pasangannya yang narsis. Dia kembali berkata, "Syuting dimulai Minggu depan, tempat pengambilan gambar ada di Kota kuno, Nanjing".
Ian berdiri dan mulai meregangkan pinggangnya sambil berkata, "Oke, baiklah kalau begitu. Besok kita bisa mulai mengatur semua perlengkapan yang dibutuhkan".
Luke hanya menjawab "Hmn", yang singkat.
Ian berjalan tanpa alas kaki menginjak permadani tebal dilantai. Dia berdiri tepat didepan jendela kaca transparan sambil menatap pemandangan Matahari yang akan terbenam.
"Ini sudah malam. Luke, ayo kembali untuk makan malam di Apartemen keponakanku". Ujar Ian dengan semangat. Ian memikirkan Keponakannya yang cantik dan Cucu Keponakannya yang imut, dia tidak bisa menahan rasa rindu berpisah dari kedua makluk lucu itu.
Luke menutup Laptop, dengan wajah ragu-ragu dia bertanya, "Ian, apa tidak masalah?".
Ian melirik pasangannya dengan sebelah alis yang terangkat. Dia bertanya dengan bingung "Hm?, masalah apa?".
"Apa keberadaanku tidak akan mengganggu Keponakanmu?, apa baik-baik saja aku tinggal disana?. Bagaimanapun juga aku bukan bagian dari keluargamu...."
"Apa maksudmu, huh?", Ian berjalan ke arah Luke, lalu berhenti tepat didepannya. Sepasang tangan putih dengan lima jari yang ramping mencubit pipi coklat Luke, lalu dengan kencang menariknya kesamping, tarikannya lumayan ganas.
"Beruang Grizzly, kamu terlalu banyak berpikir. Percayalah, keponakanku sangat berpikiran terbuka, dia tidak akan malu dengan Pamannya yang membawa pulang Pacar prianya".
"Aku tau, keponakanmu memang gadis yang sangat baik, tapi...", Luke berkata dengan lirih, nadanya terdengar ragu-ragu.
"Betulkan, jadi apa lagi?!. Berhentilah terlalu banyak berpikir dan ikut pulang bersamaku!, sekarang!".
Ian dengan sekuat tenaga berusaha menarik Luke dari Sofa, dengan senyum manis dia mulai merapihkan kerah Luke yang acak-acakan dan kusut.
Ada senyum kepuasan di bibirnya, dan kebahagiaan yang tercermin jelas dipupil zamrudnya. Dengan penuh percaya diri Ian menggandeng pasangannya dan berjalan bersama keluar hotel.
Disudut yang tidak bisa dilihat Ian, Luke yang mengikuti disampingnya memiliki senyum lebar dibibirnya. Senyumannya sangat manis dan penuh dengan kebahagiaan serta cinta yang membara.
Sambil bergandengan tangan, kedua pasangan yang bertolak belakang dengan aturan dunia itu kini berjalan bersama dengan percaya diri dibawah sinar Matahari yang hangat.
Hubungan mereka memang tabu dan cinta mereka tidak bisa dimengerti, namun kasih sayang diantara mereka adalah nyata, dan lebih nyata dari pada kasih sayang diantara pasangan biasa lainnya.
Hanya dengan cinta, dunia yang sulit dimengerti ini, tampak terlihat lebih indah dan berwarna.
Keindahannya seperti sinar Matahari, yang mewarnai dunia dengan warna emas yang terindah.
...-----•°•°•°•-----...
"Bagaimana kabar Nona Feng, Ibu?".
Yan Huai menatap ibunya, dibalik bingkai kacamata perak, ada sepasang pupil berwarna coklat yang gelap bersinar dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
Zhou Shulan, atau yang dikenal dengan sebutan Bibi Zhou, terus meletakan daging dan sayur-sayuran di piring Putranya.
Mendengar pertanyaan Putranya dia segera menjawab dengan penuh semangat, "Miss Ariel?, Oh dia baik-baik saja. Sungguh, untuk seorang ibu muda yang baru pertama kali melahirkan, dia pulih dengan sangat baik".
"Itu bagus bu, tapi tetaplah memperhatikannya. Selama 12 minggu ini, lihatlah apakah ada perubahan signifikan pada tubuhnya, entah itu nyeri, gangguan pencernaan atau perubahan emosi yang ekstrim".
"Tentu nak, ibu tau. Kamu lupa yah?, ibu pernah menjadi Perawat di Rumah Sakit Bersalin ketika ibu masih muda dulu".
"Ya aku tau. Ibu hebat, dan ibu yang terbaik".
Zhou Shulan tertawa geli pada pujian Putranya yang murah hati, dengan semangat dia meletakan lebih banyak daging dipiring Putranya. "Cepatlah habiskan makanannya, dan jangan khawatirkan Nona Ariel lagi. Dia akan baik-baik saja, karena dia adalah wanita yang sangat diberkati melebihi wanita manapun".
Yan Huai tersenyum, dia mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa.
Dia kembali fokus pada tumpukan daging di Piringnya. Dengan ekspresi penuh perjuangan dia mulai memakan semuanya hingga habis.
...-----+-----+-----+-----...
Ketika udara menjadi lebih dingin Daun Maple pun mulai jatuh berguguran. Dengan desiran angin musim gugur segera beralih ke musim dingin yang panjang.
Ariel berdiri diam didepan bingkai jendela dengan Izekiel kecil berumur hampir satu tahun dalam gendongannya.
Pada saat musim dingin, seluruh kota akan diselimuti oleh salju dengan suhu rata-rata minus 7 derajat. Karena Apartemen Ariel berada di area pusat Perkotaan, salju-salju dijalan tidak akan dibiarkan menumpuk begitu saja. Sejak pagi salju-salju tersebut telah dibersihkan agar tidak mengganggu penggunaan jalan raya.
"Mwuu...aaa...", Izekiel kecil mengulurkan tangan-tangan kecilnya ke arah bingkai jendela, dengan mata bulat yang berbinar-binar dia memperhatikan butiran-butiran salju yang berjatuhan dari langit. Rupanya Izekiel tertarik dengan benda putih aneh yang terlihat berguguran di luar sana, dia penasaran ingin merasakan dan menyentuh benda-benda putih tersebut.
"Itu salju. Bagaimana, sangat cantik kan?, Apa Izekiel menyukainya?".
"Awuuu.. waa...", Izekiel kecil menatap ibunya dengan mata besarnya yang berair. Ariel merasa hatinya seketika luluh melihat keimutan Putranya. Dia tidak tahan lagi dan mulai mencium pipi gemuk putranya
"Bagus jika Izekiel menyukainya, nanti jika Izekiel sudah tumbuh lebih besar ibu akan membawamu melihat dan bermain dengan salju, oke?".
"Wooo...waa...", Izekiel mengeluarkan banyak celoteh yang tidak bisa dimengerti, Ariel tersenyum dan menganggapnya sebagai persetujuan.
"Ibu berjanji sayang~, ibu pasti akan membawamu melihat keindahan dunia luar. Tidak hanya Pemandangan musim dingin saja, ada juga musim panas dan musim semi...."
Mata Ariel menjadi cerah karena ingatan nostalgia yang indah.
"Jika semua baik-baik, dan segalanya berjalan sesuai dengan rencana... kita berdua bisa menikmati kebahagian diantara ibu dan anak selama-lamanya".
Ariel tidak sabar, dia sangat menantikan hari-hari yang akan mereka lewati dimasa depan.
"Kebahagiaan, semoga selalu menyertai jalan hidup kamu..."
Hari ini salju pertama turun, Ariel pun dengan tulus mengucapkan harapannya.
...-----+-----+-----+-----...
Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:
Kalian mungkin bertanya-tanya mengapa ML tidak menggunakan koneksinya sebagi CEO yang mendominasi dan keren untuk langsung menemukan keberadaan FL.
Sebenarnya mudah menemukan FL jika ML mau mengerahkan semua kekuatannya, namun jika memang begitu maka rasanya terlalu sederhana dan muluk.
Aku lebih suka ML menemukan FL secara kebetulan lewat permainan dan kesempatan takdir, bukankah jadi bagus jika mereka bertemu lagi secara alami?.
Oke, Bab berikutnya adalah lompatan waktu lima tahun tahun kemudian. Dan pertemuan FL dan ML semakin dekat.
__ADS_1
Nantikan Bab-bab berikutnya.
(☆/>u</)