
...(Ilustrasi Dokter Yan (βΟβ)π)...
...----------+++++----------...
Sebelum pulang ke apartemennya, Ariel menyempatkan diri berbelanja untuk keperluan sehari-hari. Dia pergi ke Mall untuk membeli beberapa pakaian, sayur, buah-buahan, dan berberapa kg daging.
Tangan Ariel dengan cekatan menyentuh, memilih, dan mengambil sayuran segar di rak etalase, namun berbeda dengan gerakan tangannya yang tangkas dan lincah, kesadaran Ariel saat ini justru tengah tenggelam di dalam kebingungan dan keletihan yang ekstrim.
---Bingung karena kehamilannya yang tidak terduga, dan letih karena harus menerima kenyataan tersebut.
"Hahh...", menghela nafas lelah, Ariel mempercepat gerakkannya mengambil sayuran. Dengan wajah tampa ekspresi dia meletakkan semua sayuran dan buah-buah ke dalam trolli, setelah itu dia pun langsung berbalik dan berjalan menuju meja kasir.
Ariel merasa lelah, sangat lelah sampai-sampai dia merasa kegiatan belanja yang dulu dia gemari menjadi sangat menyebalkan dan menguras emosi.
Ariel akhirnya memutuskan untuk menyudahi kegiatan berbelanjanya dan pulang ke apartemen lebih awal.
Hasil pemeriksaan tentang kehamilannya sangat mempengaruhi emosi Ariel. Hal itu menyebabkan emosinya naik dan turun dengan tajam. Agar tidak jauh sakit dan menjadi stress dia harus menenangkan diri sejenak.
Diperjalanannya menuju meja kasir, Ariel berjalan melawati sepasang suami istri muda yang tengah berdiri di depan rak susu dan sereal. Mata Ariel tanpa sengaja melirik pasangan muda itu, dia melihat sang suami tengah memincingkan matanya dengan serius kearah deretan susu ibu hamil di rak.
Sedangkan berdiri di belakangnya sang Istri tengah memeluk perutnya yang buncit sambil menatap suaminya dengan senyum kecil.
"Sayang, sudahlah. Pilih yang mana saja, semua merek susu itu sama", Kata sang istri sambil menepuk lembut bahu suaminya.
"Tidak Honey~, kita harus memilih susu yang memilik nutrisi cukup untukmu dan juga si kecil", kata sang suami sambil mencolek hidung mungil istrinya.
"Haha, baiklah. Kamu yang akan memilihnya".
Sang istri tersenyum dan suaminya juga ikut tersenyum. Mereka pun meledak dengan tawa bahagia. Jika diperhatikan dari jauh mereka terlihat seperti pasangan muda yang ceria dan penuh dengan suasana harmoni yang romantis.
Di sudut tidak jauh dari tempat mereka berdua tertawa, Ariel tengah berdiri sambil memperhatikan interaksi suami-istri itu dalam diam.
Pemandangan suami-istri yang penuh kasih sayang itu sangat indah dimata orang lain, namun entah mengapa terlihat pedas dan mengganggu dimata Ariel.
Kedua tangan Ariel mencengkram erat dorongan trolli, dia menunduk sejenak seperti tengah memikirkan sesuatu.
Kehamilannya ini jelas bukanlah sesuatu yang diinginkan bukan?, baik itu dirinya, ibu mertuanya, dan bahkan Fu JiChen sendiri.
Haruskah dia mempertahankannya? Atau gugurkan?.
Bagaimanaun juga anak ini sama halnya seperti pernikahan mereka, dia adalah keberadaan yang muncul karena sebuah kecelakaan.
Anak ini tidak boleh ada, dan seharusnya tidak pernah ada.
....Tidak boleh.
Dia tidak boleh ada....
Brakkk....
"Ah!, maafkan saya nona!"
"....!!!". Ariel tersadar. Dia terkejut dengan pikiran mengerikan yang terbesit dikepalanya tadi. Kesadarannnya yang semula kosong dan terdistoorsi perlahan mulai pulih dan kembali normal.
---Tunggu!!!, apasih yang tadi kupikirkan??!!.
---Bahkan jika anak ini adalah kecelakaan yang tidak diinginkan siapapun, tapi dia masihlah darah dagingku sendiri!!!.
---Jadi mengapa aku harus membunuhnya?, bayiku yang bahkan belum lahir kedunia ini??.
Ariel tertegun pada dirinya sendiri karena memikirkan hal-hal jahat yang seharusnya tidak boleh dia pikirkan. Dia menepuk jidadnya dengan gusar, matanya lalu jatuh pada karyawan Mall yang tidak sengaja menabraknya tadi.
"Oh, ya tidak apa-apa, lanjutkan saja perkerjaanmu".
"Terimakasih Nona, sekali lagi maaf".
Ariel hanya membalasnya dengan senyum tipis.
__ADS_1
Tanpa mengundur lagi, Ariel kembali berjalan menuju meja kasir.
Tapi sebelum itu, dia menyempatkan diri menuju rak tempat susu ibu hamil berada. Ariel mengambil secara acak beberapa kotak susu dengan rasa yang dia suka dan meletakkannya dengan hampa kedalam keranjang, lalu dia berbalik, pergi dengan menahan rasa malu dihatinya.
...----------+++++-----------...
Sesampainya di apartemen, Ariel langsung meletakkan semua barang belanjaannya di dapur, menyalakan pemanas ruangan, dan menyegarkan diri sejenak.
Setelah berganti pakaian rumahan barulah Ariel mulai membereskan semua barang belanjaannya.
Sayur dan buah-buahan dicuci terlebih dahulu lalu dimasukkan kedalam kulkas, daging dimasukkan ke dalam dispenser, dan susu ibu hamil yang dia beli tadi di letakkan kedalam kotak dan memasukkanya ke dalam lemari.
Setelah selesai membereskan dapur, Ariel lanjut membereskan kotak-kotak kardus yang masih belum dia buka. Semua kotak itu rata-rata berisi beberapa set perhiasan dan gaun mahal milik ibunya, Ariel dengan santai meletakkan semuanya di ruangan ganti.
...(Ilustrasi Ruang Ganti (^_^βͺ)π)...
Butuh sekiranya dua jam untuk membereskan semuanya, Ariel memutuskan mengakhiri kegiatan bersih-bersihnya hari ini setelah dia merasa tubuhnya terasa sakit dan keram.
Ariel melirik kearah jendela. Di luar awan putih tampak dicampur dengan kabut kelabu, Matahari yang bersinar hangat walaupun dipertengahan musim dingin telah terbenam dan digantikan dengan Bulan perak yang dingin.
Ternyata tanpa Ariel sadari waktu sudah beranjak malam.
Seharusnya tidak butuh waktu lama untuk membereskan semua ruangan di apartemennya, namun Ariel mengingatkan dirinya jika dia sekarang tengah berbadan dua, jadi dia tidak boleh bergerak sembrono dan harus menjaga keamanan perutnya dengan hati-hati.
Meskipun kandungannya belum berkembang sepenuhnya namun ada baiknya waspada dan siaga bukan?
"Ughhh....khhk..."
Tiba-tiba rasa mual yang familiar menyerang perut Ariel. Tanpa ragu-ragu Ariel langsung melempar alat penyedot debu ditangannya, lalu berbalik dan dengan cekatan berlari menuju kamar mandi, tentunya untuk memulai sesi muntah lagi.
"Uweeekkkk----!!!".
Setengah jam kemudian.
Terbukti, jika berendam di air panas bisa menghilangkan penat dan kelelahan akibat aktivitas berat. Ariel merasa sangat nyaman setelah berendam di air hangat, tubuhnya yang pegal-pegal juga mulai rileks dan tidak kaku lagi.
Tanpa tergesa-gesa Ariel berjalan ke dapur, dia membuka kulkas, mengambil botol air, dan menuangkan air dingin ke gelas, lalu meminumnya dalam sekali tenggak.
Setelah menghilangkan dahaganya Ariel lekas kembali ke kamarnya.
Di kamar, Ariel duduk diatas ranjang, terlihat tengah merenungkan sesuatu.
Setelah beberapa saat, dia mengambil handphonenya yang berada diatas nakas, membuka kontak pribadi, dan mencari nomor yang ingin dia panggil.
Setelah menemukan nomer tujuannya, Ariel langsung menekan tombol 'panggil'.
Tuuuuuuuutttt--------
Setelah beberapa saat kemudian sambungan pun mulai terhubung, dan orang disisi lain telepon akhirnya menjawab panggilan.
Orang disisi lain telepon: "Oh, lihat!, siapa yang meneleponku malam-malam begini?, ada apa memanggilku baby~".
"Hei...", Ariel tidak repot-repot membalas godaan orang disisi lain telepon, dia juga tidak merasa keberatan dan hanya menyapa semestinya. "Selamat malam, apa kamu sedang istirahat?, maaf jika aku mengganggumu".
"Oh, no problem dear~, ngomong-ngomong ada apa?".
"Begini, aku butuh sedikit bantuan"
"Hmn...bantuan?".
"Ya, tolong aku. Aku sedang hamil".
Orang disisi lain telepon tertegun sejenak dan tidak bisa berkata-kata: "......????"
Setelah beberapa menit kemudian.
__ADS_1
Orang disisi lain telpon: "T-tunggu, Baby.... Kamu tidak salah membuat panggilan kan?, kenapa kamu malah menelponku?, kenapa tidak menelpon pria yang membuatmu hamil saja?".
"Aku ingin, namun sayangnya itu tidak mungkin, karena kami sudah bercerai".
Orang disisi lain telepon sedikit terhenyak: "..........ops itu mengerikan".
"Karena kamu tau itu mengerikan jadi tolong bantu ba".
Orang disisi lain telepon mengerang, seolah-olah tidak berdaya:"Oke baiklah. Nah, sayang, apapun yang terjadi jangan bertindak sembrono. Besok setelah jadwal ku berakhir aku akan langsung memesan tiket ke China dan pergi menemuimu".
"Terima kasih banyak, dan maaf telah merepotkanmu".
Orang disisi lain telepon menghela nafas panjang: "Mau bagaimana lagi. Aku tidak mungkin membiarkan wanita hamil tinggal dan mengurus dirinya sendiri kan?, oh ya, ngomong-ngomong kapan kamu menikah dan sudah berapa bulan usia kandungan mu?"
"Aku menikah setahun yang lalu. Dan usia kandunganku baru dua minggu".
"Oh My, sungguh, itu sangat mengejutkanku My Dear~. Sepertinya kamu baru memutuskan hubunganmu dengan pria itu baru-baru ini kan?".
Sebelum Ariel bisa menjawab, orang disisi lain telepon sudah lanjut berbicara terlebih dulu.
"Dan lagi, pria brengsek mana sih yang telah menceraikan mu ketika kamu sedang hamil?. Pria itu pasti sampah tanpa moral!".
Nada ucapan orang disisi lain telepon naik satu oktav, terdengar jelas jika dia tengah menahan amarah.
Ariel enggan menjawabnya, jadi dia mengabaikan pertanyaan itu dan menjawab dengan asal-asalan, "Hmn...hmn...ya begitulah adanya".
"Hah, baiklah. Tidak masalah jika kamu tidak mau menjawab. Tapi nanti setelah kita bertemu kamu harus menjelaskan semuanya padaku".
"Ya, tentu saja".
"Nah sayang, aku masih ada sesi pemotretan lagi, jadi kuakhiri dulu yah, Oke, bye~".
Tuuuuttt-----
Sambungan terputus, dan percakapan pun selesai.
Ariel dengan asal-asalan melempar ponselnya, setelah itu dia menghempaskan tubuhnya ke kasur, dan tenggelam di dalam tumpukan selimut yang empuk dan harum.
Sambil menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih, Ariel mendesah frustasi.
"Apakah keputusan ku ini benar-benar hal yang baik?".
Tangan Ariel tanpa sadar menyentuh perutnya yang datar, dengan ringan dia mengelus-elusnya dengan gerakan sayang dan lembut.
"Hei nak, aku tidak tau apakah roh mu sudah ada ditubuhku atau belum, dan apakah kamu bisa mendengarkan ibumu ini atau tidak. Tapi aku akan mengingatkanmu lagi kali ini. Kamu harus mengerti jika keberadaanmu adalah sebuah kecelakaan, kemungkinan besar setelah kamu lahir kamu akan melihat bertapa busuk dan tidak adilnya dunia ini padamu. Dan juga kamu akan tumbuh tanpa ditemani seorang ayah, kamu hanya akan memiliki aku sebagai ibumu, satu-satunya yang akan menerima kecelakaan sepertimu di dunia ini".
"Jadi nak", sambil menepuk-nepuk pelan perutnya yang datar, Feng Hua tersenyum kecil, "Setelah lahir kedunia ini janganlah bersedih, dan jangan menyesali kelahiranmu di rahimku".
"Bagaimanapun juga menyesal itu sia-sia dan percuma".
"Dan tidak pernah ada obat untuk penyesalan".
Setelah mengucapkan kalimat panjang yang tidak bisa dia mengerti apalagi oleh bayinya sendiri yang belum terbentuk, Ariel menundukan kepalanya.
Rambut caramelnya jatuh menghalangi wajahnya, mata hijau Giok yang selalu menampilkan kilau terang sekarang memudar dan terselimuti kabut, samar-samar terlihat jika bahu dan tubuh kurusnya sedikit bergetar, dan terkadang terdengar juga suara isakkan tangis yang sangat pilu.
"Hiks... oh hidupku yang malang, hiks...".
...-----+++-----...
Semenjak ibuku meninggal, aku hanya menangis beberapa kali saja, setelah itu aku berhasil menegarkan diriku dan berjanji untuk tidak pernah menangis lagi.
Ketika ayahku membawa pulang istri baru dan anak tirinya memasuki rumah Feng, aku tetap tidak bergeming, namun saat itu hatiku terasa sangat hampa dan kosong, seolah-olah hatiku tengah terkoyak dengan seribu bilah pisau, dan akhirnya hancur, penuh luka dan berdarah-darah. Namun saat itu aku juga tidak menangis.
Suatu ketika aku dijebak oleh Ibu tiri Lu Yao dan Putrinya Feng Nian, di jual ke rumah bordil, dan hampir kehilangan kehormatan sebagai wanita, aku masih tidak menangis.
Namun kali ini, ketika aku memikirkan keberadaan bayi yang akan tumbuh seiring berjalannya waktu di perutku, dan ketidakpastian masa depan yang tertutup kabut samar, aku menemukan diriku tidak bisa merasa tenang sedikitpun.
Akhirnya semua emosi yang telah lama ku tahan pecah, semuanya hancur berkeping-keping dan berserakan dimana-mana.
__ADS_1
Pada akhirnya aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya malam ini, menenggelamkan diriku ke dalam pusaran kesedihan dan keputusasaan.