
...-----+-----🌸🌼🍁-----+-----...
Suara melodi yang indah bergema diruang studio yang sepi. Dinamika lagu yang suram dan dalam berhasil membangkitkan suasana malam bulan Purnama yang indah, namun penuh ironi dan kesedihan.
Ariel memainkan lagu Moonlight Sonata dengan sepenuh hati.
Jari-jari nya yang lentik dengan anggun menekan tuts hitam dan putih secara bergiliran. Dengan lincah mereka berpindah, dan terus bergerak memainkan nada yang benar dengan penuh makna dan perasaan.
Bulan Purnama perak terbingkai dengan sempurna dari jendela yang terbuka lebar.
Cahaya Bulan yang misterius merambat masuk kedalam ruangan. Ruangan gelap dengan hanya diterangi satu lampu redup seketika langsung menjadi terang benderang.
Ariel duduk dengan anggun di depan piano. Seluruh tubuhnya bermandikan cahaya Bulan perak yang dingin dan sepi.
Rambut berwarna caramel nya jatuh dan tersebar luas di punggungnya, gaun putih yang dia kenakan membuatnya tampak seperti Fallen Angel yang memainkan melodi sedih. Kedua pupil mata yang warnanya lebih indah dari permata Zamrud terkulai dengan lemah, dengan seribu kata dan rahasia yang tersembunyi di dalamnya.
Setelah menyelesaikan lagunya, Ariel menunduk, dia memejamkan matanya sejenak menikmati ketenangan setelah lagu berakhir dan malam yang kembali sunyi dan damai.
Pa pa pa---!!!
Tiba-tiba suara tepuk tangan tunggal terdengar memecahkan kesunyian. Ariel terkejut, dan secara spontan dia langsung membalikkan tubuhnya, menatap kebelakang.
"Hebat!, kamu memainkan lagu yang sempurna!"
Masih mengenakan piyama tidur dengan raut wajah setengah mengantuk, Ian berdiri diam sambil bersandar pada rak buku.
Berlawanan dengan wajahnya yang kusut, namun kedua tangannya sangat bersemangat membuat suara tepukan tangan yang antusias.
"Paman Ian, kamu membuatku terkejut!".
Kejutan dihatinya menghilang, Ariel menepuk dadanya gusar. Dia menatap Pamannya dengan mata melotot dan pipi menggembung.
"Dari pada aku, kamu yang membuatku lebih terkejut, Honey~".
Ian menguap sebentar, dia menutup mulutnya dan berkata dengan susah payah.
".... Kamu tau, aku sangat terkejut mendengar melodi suram seperti itu ditengah malam, kupikir sesuatu yang horror dan mengerikan telah terjadi, tapi oh.. ternyata itu kamu...hahh..."
Mendengar penjelasan Ian, Ariel mengerucutkan bibirnya dan terkekeh pelan. Setelah menutup Piano dia berdiri dan berjalan keluar dari Studio menuju dapur dilantai bawah.
(Dapur di Apartemen Ariel (↑ω↑)🌷)
Ian secara alami mengikutinya dari belakang dengan langkah kaki yang sedikit sempoyongan.
Setelah lima menit berkutat dengan alat-alat dapur, Ariel akhirnya keluar sambil membawa dua gelas susu jahe.
Ariel meletakkan susu jahe yang hangat dan harum di depan Ian, dan Ian mengancungkan jempol padanya sebagai apresiasi.
Ariel duduk depan Ian, sesekali dia mengaduk susu jahe nya dengan sendok.
Dalam diam mereka berdua mulai menyesap dan menikmati susu jahe yang hangat.
"Jadi apa apa yang membuatmu tidak bisa tidur?".
Ian memulai percakapan lebih dulu.
"Ya, sedikit insomnia". Ariel mengangguk, lalu mendesah dengan ketidakberdayaan.
Menekan pelipisnya yang sakit, Ian bertanya dengan kesulitan yang tidak tersamar dimatanya.
"Apa karena bayimu?".
"...Bukan".
"Karena bajingan itu?".
"Tentu bukan!!!. Dan jangan sebut dia bajingan, mantan suamiku bukan orang yang jahat!, dan dia tidak seburuk itu!"
__ADS_1
"Oh...", Ian mendengus. Dia pun bertanya lagi, "Lalu karena apa?".
Ariel menggelengkan kepalanya, "Bukan karena apa-apa. Mungkin, aku hanya sedikit kelelahan saja. Nanti juga akan baik-baik saja sendiri".
"Ya, mungkin kamu terlalu lelah karena bersikeras membantu membereskan barang bawaan ku kemarin".
"Hmn... kupikir tidak juga". Ariel menyangkalnya. Selemah apa dia?, tidak mungkin kan berkerja melipat baju akan membuatnya insomnia.
Sudah tiga hari semenjak Paman Ariel, Ian Fayrisi tinggal di Apartemennya. Dan kemarin kebetulan semua barang-barang pribadi milik Ian telah sampai di Cina.
Ariel yang bosan dan jenuh karena terus mendekam dia rumah tanpa melakukan apapun langsung bersemangat dan mulai menggulung lengan bajunya, bersiap membantu.
Namun, Ian dengan tegas menolak membiarkan keponakannya yang sedang hamil membantu. Dia menyuruhnya untuk patuh dan duduk diam menghabiskan sepiring salad buahnya.
Tapi Ariel tetap bersikeras, dia beralasan jika ibu hamil juga butuh olahraga dan harus rajin menggerakan badan. Olahraga secara rutin sangatlah penting terutama untuk kemudahan pasca melahirkan dan kesehatan janin.
Ian yang kalah telak dengan kemampuan berbicara Ariel yang to the point akhirnya tidak bisa berkutik dan hanya bisa pasrah menyetujui bantuan keponakannya.
Namun, dia hanya memperbolehkan
Ariel membereskan barang-barang kecil, seperti pakaian dan beberapa pernak-pernik kecil. Dan sisanya menjadi bagiannya sendiri untuk dibereskan.
Susu jahe hanya tersisa setengah, Ian meletakkan gelasnya dengan suara dentingan.
"Besok asisten rumah tangga yang kupilih akan datang. Namanya Zhou Shulan, umur 42 tahun, seorang janda dengan satu anak".
"Dia punya pengalaman menjadi Asisten rumah tangga selama lebih dari dua puluh tahun, dan dia pernah menjadi pengasuh dalam waktu cukup singkat. Meskipun pengalamannya sebagai pengasuh tidak terlalu lama, namun nilai dan kemampuanya dapat diakui".
"Dia juga telaten dan dapat diandalkan. Jika kamu suka dia akan tinggal disini untuk menemanimu agar kamu tidak kesulitan dan bosan".
Ariel sudah membicarakan masalah pengasuh dengan Ian sejak sehari yang lalu. Ariel sama sekali tidak keberatan. Dia tau pengaturan Pamannya dibuat untuk keselamatan dirinya sendiri dan juga bayinya.
Kehamilan itu waktunya singkat, namun penuh resiko dan ancaman. Kecerobohan dan kesalahan sendikit bisa berakibat fatal. Ariel tidak berani sembrono, dia takut tindakan tanpa aturan dan serampangan akan melukai bayinya.
"Ya tidak masalah. Biarkan dia datang, kamar dilantai bawah akan menjadi tempatnya tinggal nanti".
"Kalau begitu sudah diputuskan".
Tangan besar Ian yang lembut mengelus pelan puncak rambut coklat Ariel. "Sekarang pergilah tidur. Tidur yang nyenyak agar bayimu dapat tumbuh dengan sehat dan kuat".
"Oke, Paman Ian".
"Good Girls". Puji Ian dengan murah hati.
"Ngomong-ngomong Paman, apa kamu sudah mencuci tangan sebelum menyentuh rambutku?. Ah ah!, kenapa ada busa!?".
"Ops, aku lupa membilas".
(^_^;)
"PAMAN IAN!!!".
Berkat dukungan moral lagi dan lagi dari Pamannya, Ariel merasa hatinya menjadi lebih mantap dan kuat. Setidaknya malam ini dia tidak bermimpi aneh dan gelisah lagi, dan dia dapat tidur dengan nyenyak.
...-----+-----+-----+----...
"Nama saya Zhou Shulan, umur saya 42 tahun. Saya seorang janda dengan anak laki-laki yang sudah dewasa. Saya punya pengalaman menjadi perawat dirumah sakit persalinan selama 5 tahun, menjadi Asisten Rumah tangga selama 20 tahun, menjadi pengasuh selama 2 tahun".
Wanita paruh baya dengan pakaian sederhana namun rapih dan sopan tersenyum ramah pada Ariel.
Sedikit kerutan didahi dan sudut matanya membuat wanita tua itu tampak lebih lembut dan penyabar.
Menanggapi perkenalan diri yang ceria, ramah dan positif, Ariel merespon dengan sangat antusias juga.
"Halo, Bibi Zhou. Namaku Ariel Scarlett, nama China ku Feng Hua. Agar nyaman kamu bisa memanggilku Miss Feng".
"Senang bertemu denganmu, Nyonya Feng. Oh, kamu sangat cantik, ras campuran benar-benar sangat cantik!. Oh Oh, begitu muda!, begitu cantik!. Sungguh wanita yang anggun dan berkarisma!. Saya sangat senang melayani anda Nyonya Feng!".
Sebagai Yangkong sejati Bibi Zhou sama sekali tidak bisa berkutik dihadapan wajah pria atau wanita yang cantik. Apalagi dihadapan Ariel yang modal utamanya adalah kecantikan dan pesona yang tidak terukur.
Dengan mudah dia bertekuk lutut dan langsung menyembah Ariel sebagai pujaan hatinya.
__ADS_1
Ariel tersenyum, dalam hatinya dia merasa puas dengan Bibi Zhou. Dari sekali pandang dia tahu jika Bibi Zhou adalah tipe Bibi yang ceria, ramah, dan sangat easy-going. Meskipun dia berbicara panjang lebar dan tidak ada habisnya, namun itu bagus karena rumah yang sepi ini bisa hidup dan tidak akan sunyi lagi.
Bibi Zhou bisa dikategorikan sebagai kepribadian eksentrik yang bersemangat. Karena cara berbicaranya dan cara bergaulnya dapat dengan mudah membangkitkan suasa hangat dan semarak seperti nyala kembang api yang tidak akan pernah padam.
"Bibi Zhou, tidak terlalu banyak yang harus kamu lakukan jika berkerja kepadaku. Cukup bersih-bersih dan memasak makanan tepat waktu. Jika perkerjaannya selesai Bibi bisa menggunakan sisa waktunya untuk bersantai atau beristirahat".
"Hohoho, jangan khawatir Nyonya, meskipun pengalaman saya sebagai pengasuh hanya sebentar, namun saya tau dasar-dasar yang harus saya kuasai dan pahami sebagai Asisten rumah tangga yang profesional. Jadi percayalah, saya pasti akan melakukan yang terbaik!".
"Kalau bergitu aku menantikan bantuanmu. Selamat berkerja di sini, Bibi Zhou".
Ariel mengulurkan tangannya, dan Bibi Zhou dengan antusias menjabat tangan majikan barunya.
"Saya juga, Nyonya. Selamat berkerja sama!, Oke!, hari ini saya akan mulai berkerja...."
...-----+-----+-----+-----...
Pukul 10 pagi, menjelang siang Matahari diluar mulai terasa lebih panas.
'Sempurna'.
Satu kata yang sangat cocok untuk menilai sosok Bibi Zhou.
Ini adalah hari pertamanya berkerja, namun dia sudah membuat perubahan yang signifikan di apartemennya.
Ariel sangat kagum dengan keterampilan dan kecekatan Bibi Zhou dalam mengurus perkerjaannya.
Membereskan ruangan seperti; ruang kerja, ruang tamu, balkon, loteng, kamar mandi, ruang makan, dan kamar-kamar, semua itu dilakukan Bibi Zhou seorang diri hanya dalam waktu tiga jam.
"Saatnya menyapu~, la la la~".
Seorang wanita tua dengan anggun menyalakan penyedot debu, dengan gerakan gemulai bak penari waltz dia mulai membersihkan kesana-kemari sambil menyenandungkan melodi jadul.
Ariel sedikit gelisah melihat wajah keriput Bibi Zhou yang penuh dengan butiran keringat.
Dia sadar jika Bibi Zhou hampir sudah memasuki usia senja. Ariel ragu-ragu apakah dia harus menghentikan Bibi Zhou agar tidak berkerja terlalu serius, dia sangat takut Bibi Zhou akan pingsan karena kelelahan jika berkerja terlalu energik seperti itu.
Ini hari pertama Bibi Zhou berkerja, dan Ariel tidak ingin membebani perkerjaan yang terlalu berat kepada Asisten rumah tangganya.
Namun, ketakutan Ariel nyatanya tidak dibutuhkan. Karenanya Bibi Zhou lebih kuat dari yang dia duga.
"Nyonya jangan khawatir, meskipun saya sudah tua, sepuh dan rentan namun semangat dan stamina saya masih sangat bagus. Tubuh saya masih kuat layaknya anak muda yang semarak!. Jadi jangan terlalu dipikirkan, Nyonya!".
"O-oke...", Ariel hanya bisa meringis sambil mengangguk membiarkan seorang Bibi tua bergerak gesit menyapu lantai hingga lantai tiga.
Dia pikir, 'Bibi Zhou ternyata adalah wanita tua eksentrik yang workaholic'.
Setelah selesai merapihkan dan membersihkan seluruh ruangan dan seisi rumah hingga berkilau, Bibi Zhou pergi menemui Ariel untuk meminta izin keluar membeli beberapa bahan makanan.
Mendengar Bibi Zhou ingin pergi keluar, Ariel menjadi bersemangat dan ingin ikut.
"Kalau begitu aku juga akan pergi. Cuacanya sangat cerah hari ini, aku ingin berjalan-jalan sebentar".
Bibi Zhou tidak keberatan, dia justru senang dan sangat antusias. Dia yakin berbelanja bersama pasti akan membuatnya lebih cepat akrab dengan majikan barunya yang cantik.
"Benar, aku juga harus membeli beberapa persiapan untuk bayi kecilku. Ini sudah waktunya untuk mulai menghiasi kamarnya".
Dengan pelan, Ariel mengelus perutnya yang rata. Dia baru saja teringat untuk memberi barang untuk bayinya.
"Kebetulan saya tau toko yang menjual peralatan bayi terbaik, murah dan dekat dari sini!, saya akan merekomendasikan tempat itu padamu, Nyonya!".
"Terimakasih Bibi, kalau begitu ayo!".
Dengan begitu, satu wanita muda dan satu wanita tua, berjalan keluar dari Apartemen sambil bergandengan tangan .
Keduanya tampak akrab seperti kakak dan adik atau teman diusia yang sama.
Orang-orang tidak akan percaya ketika diberitahu jika dua wanita muda dan tua yang akrab itu sebenarnya baru saja bertemu dan berkenalan.
Ya, lagipula siapa yang akan percaya kedekatan dua wanita bak ibu dan anak itu terjadi dalam waktu singkat. Itu jelas mustahil.
Tapi apakah orang lain percaya atau tidak, itu tidak akan mengusik dua wanita yang sibuk asyik bersenang-senang itu.
__ADS_1
Yang terpenting semuanya tetap bahagia kan. (´∧ω∧`💙)