Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya

Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya
Luke, Asisten Paman Ian


__ADS_3


...-----+-----+-----+-----...


"La la la....hm hm..."


Ariel menyenandungkan lagu klasik balada yang ceria. Dengan gerakan anggun tangan-tangan nya dengan cekatan merangkai bunga-bunga ke dalam Vas perak.


Senyum manis tidak pernah lepas dari bibirnya yang semerah bunga sakura, alisnya meregang dengan nyaman, dan mata hijau zamrudnya berkilau dengan cahaya lembut.


"Selesai!".


Ariel mundur selangkah kebelakang, dengan puas dia memuji hasil karyanya sendiri. "Akhir-akhir ini aku menjadi semakin mahir merangkai bunga, tidakkah aku terlihat seperti Lady Bangsawan yang cakap?".


Bibi Zhou yang sibuk berkutat didapur mengalihkan pandangannya sejenak, melihat rangkaian bunga cantik yang di pajang di atas meja, dia memuji dengan sungguh-sungguh.


"Wah, itu sangat indah Nona".


"Terima kasih Bibi Zhou".


Sudah seminggu semenjak Bibi Zhou berkerja sebagai Asisten Rumah tangga. Dengan adanya Bibi Zhou, Ariel merasa tidak kesepian lagi, Apartemennya menjadi lebih hidup dan ceria semenjak Bibi Zhou dengan senyum ramahnya membawa kehangatan didalamnya.


Hubungan Bibi Zhou dan Ariel menjadi lebih dekat. Di dalam hatinya Bibi Zhou telah lama menganggap Ariel sebagai Putrinya sendiri, dia tidak akan ragu-ragu melakukan apapun untuk membuat Ariel senang dan terhibur.


Terkadang Bibi Zhou bisa menjadi sangat cerewet dan tegas jika itu berhubungan dengan Ariel dan kesehatan kandungannya.


Dan Ariel saat ini telah memasuki bulan pertama dimasa kehamilannya, yang bisa dikatakan adalah waktu pembentukan janin bayi yang rentan terhadap bahaya.


Bibi Zhou selalu cemas karena hal itu. Untuk menghilangkan kecemasan nya dia selalu rajin mampir ke Kuil untuk meminta berkat dan berdoa untuk keselamatan Ariel dan bayinya.


Oh, dan terkadang di sela-sela doanya, Bibi Zhou tidak pernah lupa mengucapkan doa kebenciannya kepada mantan Suami Bajingan yang telah meninggalkan Ariel.


"Pria brengsek yang meninggalkan Istrinya yang tengah hamil, betapa tercela dan tak tau malunya dia!. Pria seperti itu tidak pantas untuk bernafas!!!. Dasar sampai tanpa moral dan kehormatan!!!".


Bibi Zhou mengangkat pisau dagingnya, matanya berkobar dengan api kemarahan, percikan darah ikan menodai pipi dan celemek putihnya, membuatnya terlihat agak... uhh mengerikan.


"Ehh... Bibi tenanglah. Turunkan Pisau itu dulu".


"Nona kamu telah dianiaya!. Betapa tidak tau malunya bajingan itu. Jangan khawatir Nona, apapun yang terjadi Bibi akan selalu dipihakmu".


"Oke, oke Bibi, tapi turunkan dulu pisaunya yah..."


Saat itu butuh setengah jam lebih untuk Ariel menenangkan Bibi Zhou yang terbawa emosi.


Dalam hatinya Ariel tertawa tak berdaya, seorang Fu JiChen dilebeli dengan julukan "sampah" dan "bajingan". Jika orang yang bersangkutan tau, kira-kira bagaimana reaksinya?.


Fu JiChen yang kehilangan ingatannya tidak akan pernah menyangka dia akan disebut pria brengsek yang tega meninggalkan istrinya kan?.


Diiinggg-----Dongggg-----


Suara bel pintu menginterupsi pikirannya, Ariel mengalihkan pandangannya menatap pintu dengan tanda tanya diwajahnya.


"Oh, ada tamu rupanya". Bibi Zhou melirik kearah pintu, dia berniat menyambut tamu yang tak diundang itu.


"Biarkan aku saja yang melihatnya. Bibi bisa lanjut memasak".


Berjalan kearah Pintu, Ariel membuka pintu dengan pelan.


"Ya, siapa yah...?".


Ketika pintu dibuka, orang yang berdiri di luar pintu langsung mengangkat kepalanya dan menatap Ariel.


"Halo, Nona Scarlett".



...(Luke Vinson)...


Seorang pria muda tampan, dengan jaket biru navy, dan tas hitam yang terlampir di punggung kanan nya tersenyum memperlihatkan dua gigi harimau yang runcing.


"Nama saya Luke Vinson, saya adalah Asisten Ian. Aku disini untuk mengurus perkerjaan yang belum selesai".


...-----+-----+-----+-----...


Pria tampan dengan balutan pakaian elit duduk dengan anggun, tangannya sibuk mencoret dan mengoreksi dokumen yang menumpuk di mejanya.

__ADS_1


Tokk....tokk....


Pintu diketuk dengan pelan, dan suara Asisten Chen bergema dari luar.


"Tuan, boleh saya masuk?".


"Yah", suaranya terdengar dingin, sedikit serak dan acuh tak acuh , seperti sosoknya sendiri yang pendiam dan tidak suka banyak berbicara.


Asisten Chen memasuki ruangan, dia berjalan kearah meja yang posisinya ada ditengah ruangan.


"Tuan, silakan melihat dokumennya".


"Letakan saja".


"B-baik".


Asisten Chen berdiri diam ditempat, dengan susah payah dia menahan tekanan batin karena aura Bossnya yang sangat menindas.


Ini sudah seminggu lebih semenjak Boss nya dipulangkan dari rumah sakit, meskipun pemulihan tubuhnya baru ditengah jalan Bossnya tetap bersikeras untuk menyelesaikan perkerjaan dan urusan yang telah dia tinggalkan selama dia koma.


Seperti sebuah mesin tanpa emosi, Boss nya terus berkerja siang dan malam tanpa henti, jika tidak diingatkan maka dia pasti akan lupa waktu istirahat dan makan.


Asisten Chen sedikit kewalahan. Dia hampir tidak bisa mengejar ritme kecepatan tangan Bossnya yang terus menerus menyelesaikan dokumen.


Asisten Chen berpikir ini bukan hal yang baik, jika Boss terus berkerja sekeras ini bisa-bisa dia jatuh sakit lagi, Nyonya Fu telah menyuruhnya untuk mengingatkan Tuan Fu agar tidak berkerja hingga larut malam.


'Seandainya masih ada Saudari ipar...'


'...Hanya saudari ipar yang paling ahli membujuk Boss'


Chen Yao terkejut dengan pemikirannya sendiri, dia menepuk keningnya dengan gusar.


'Ugh... apasih yang kupikirkan!?. Chen Yao bodoh!, saudara ipar apa?! mereka kan sudah bercerai!, sekarang dia mungkin harus disebut mantan saudari ipar!'.


"Chen Yao".


Suara dingin menginterupsi pikiran absurdnya, Chen Yao yang terkejut hampir ingin melompat.


"Ya Pak!", seperti seorang Prajurit dihadapan pimpinannya, Chen Yao menegakkan tubuhnya dan membuat ekpresi lebih serius.


"Asisten Chen, bisa kamu jelaskan apa ini?".


Apa yang diserahkah Fu JiChen adalah sebuah foto dengan ukuran bingkai sedang. Foto tersebut terlihat agak kusut karena terlipat dibeberapa sisi dan agak kusam karena telah disimpan di tumpukkan kertas paling bawah.


Tapi meskipun begitu itu tidak membuat sosok cantik di foto tersebut kehilangan cahayanya.


Wanita cantik berambut coklat caramel tersenyum sangat manis dan memikat, kedua pasang mata seperti zamrud menatap lurus kedepan, penuh dengan cinta dan kasih sayang.


Melihat siapa orang yang ada difoto Chen Yao tidak bisa menahan diri gemetar hebat, lututnya jadi lemas sampai-sampai dia ingin berlutut dan meratap.


'Sialan itu foto mantan adik ipar!'.


"Pak... Boss, ini, ini... dari mana ada mendapatkannya?".


"Tidak sengaja menemukan di bawah lemari Baju".


"Ah...itu...", Chan Yao memaki didalam hatinya, sial!, dia meninggalkan satu bukti tersisa!, ini tidak baik kan?.


"Chen Yao".


"... Y-Ya pak".


"Jelaskan".


"........", QAQ


...-----+-----+-----+-----...


Bulan perak dilangit hitam gelap bersinar dengan cahaya dingin, kabut hitam menyertainya dengan warna-warna samar yang tidak terlihat.


Meneguk segelas anggun merah, Fu JiChen menatap langit malam dengan tatapan mati rasa dimatanya.


Tidak ada kebahagiaan, kesedihan, dan tidak ada emosi apapun. Hanya keheningan sedalam jurang. Emosi diwajahnya tidak terbaca dan tidak bisa ditebak, sangat sulit untuk memahaminya.


Mata sehitam malam Fu JiChen jatuh pada bingkai foto yang diletakkan disamping mejanya.

__ADS_1


Baru setelah menatap wajah menawan milik wanita difoto tersebut, ada kilatan senang yang muncul di dalam matanya.


"Rupanya... kamu adalah istriku".


Suaranya bergema, dengan nada sendu yang sedikit bersemangat.


"Tapi sekarang kamu adalah mantan istriku".


"Sungguh memilukan".


Ketika mendengar penjelasan panjang dan rumit yang diutarakan Asistennya, hati Fu JiChen penuh dengan keterkejutan, kebingungan, dan penyesalan.


Dia terkejut setelah mengetahui gadis cantik yang sering muncul didalam mimpinya adalah istrinya, dia bingung mengapa mereka sudah bercerai walaupun pernikahan baru berjalan satu tahun, dan dia sangat menyesal mengetahui tidak bisa bertemu dengan wanita itu lagi.


Fu JiChen masih ingat apa yang diucapkan Asistennya.


'Nona Ariel pulang ke kampung halamannya tiga hari setelah anda mengalami kecelakaan, Tuan'.


Saat itu Fu JiChen bertanya dengan penuh keraguan.


'Mengapa dia menceraikanku?'.


'Saya tidak tau, masalah tentang mengapa Nona Ariel menceraikan anda itu hanya bisa dijawab oleh Nyonya Fu'.


'Ibuku?'.


Memejamkan matanya, Fu JiChen berusaha membuang semua pikiran dikepalanya.


Jari jemarinya mengetuk pelan sudut pinggiran meja, dalam diam dia berpikir.


"Aku ingin bertemu dengan mu".


...-----+-----+-----+-----...


"Silakan di minum, pasti sulit bergerak ketika cuaca sedang dingin".


"Ah tidak juga, untungnya semua berjalan dengan lancar".


Ariel tersenyum, dia menatap pemuda di depannya dengan penasaran.


"Apa pamanku tidak memberi tau Tuan Luke jika dia sedang pergi hari ini?. Paman pasti akan pulang terlambat, menunggunya pulang akan sangat lama".


"Hahaha, tidak masalah. Aku tau seperti apa tabiat aslinya. Aku sejujurnya sudah terbiasa dengan kebiasan Ian yang agak sulit diatur oleh waktu".


Luke tertawa canggung, tangannya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Mata coklatnya berkeliaran keseisi ruangan bernuansa elegan dan nyaman, lalu jatuh pada dua piring pay daging dan dua cangkir Teh Lavender yang hangat dan harum.


Pemanas ruangan dan aroma kue Pay yang baru dipanggang membuat tengkuknya yang dingin menjadi rileks, Luke merasa tubuhnya tidak kedinginan lagi.


Luke menghela nafas, dia akhirnya bisa merasa tenang. Terbang dari Prancis untuk mengejar Modelnya yang hobi kabur-kaburan sangat membuatnya kelelahan. Untungnya Ian tidak begitu kejam membiarkannya tersesat di China atau memberinya alamat palsu.


Luke menyeruput tehnya, dia mengerang nikmat ketika merasakan teh hangat dengan wangi yang khas mengalir mulus ditenggorokan nya. Rasanya seperti semua keluhan dan rasa sakit disekujur tubuhnya menghilang dengan sendirinya.


Luke meletakkan cangkir tehnya, dan menatap wanita dengan gaun putih elegan di depannya dengan apresiasi.


'Sialan Ian, dia sangat beruntung punya keponakan yang cantik dan perhatian. Entah pahala apa yang dia kumpulkan dari masa lalu'.


"Tehnya sangat enak, terimakasih".


"Syukurlah jika Tuan Luke menyukainya".


Keduanya mengobrol dengan akrab, masing-masing memiliki topik pembicaraan yang baru dan hangat. Walaupun mereka baru mengenal beberapa jam yang lalu mereka tidak canggung ataupun acuh tak acuh satu sama lain.


Di dalam hatinya Luke merasa Ariel sangat menyenangkan dan ramah saat diajak bicara, dan Ariel merasa Luke seperti kotak obrolan yang tidak pernah sunyi, dan dia menyukai hal itu.


"Itu sangat menarik".


"Nona Ariel bepikir sama dengan saya, yaa itu memang menarik".


Dibalik tembok dapur, Bibi Zhou diam-diam menatap dua pasang wanita dan pria yang sedang asyik mengobrol dengan tatapan bijaksana.


Wanita tua itu dengan percaya diri berkata pada diri sendiri, 'Di musim dingin takdir telah lebih dulu menabur bibit cinta yang baru'.


Anak muda zaman sekarang sangat pemberani dan mengesankan.


...-----+-----+-----+-----...

__ADS_1


__ADS_2