Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya

Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya
Kita Bertemu Lagi


__ADS_3


...-----+•°•°•°•+-----...


"Kamu ingin pergi menggunakan motor?", Ian menatap keponakannya dengan tidak percaya, mata hijaunya penuh dengan rasa urgensi.


"Ya, naik motor lebih cepat, bisa menerobos macet dijalan". Ariel mengenakan jaket kulit berwarna soft pink, dengan bawahan rok hitam yang dipadukan dengan sepatu Lita boots hitam selutut. Dengan gagah berani dia berdiri di depan ketiga pria yang menatapnya dengan mata tercengang dan terbuka lebar.


"Wow~, Ibu, kamu terlihat sangat keren, cantik dan keren!!!". Izekiel menatap ibunya dengan tatapan memuja, sejujurnya anak kecil sepertinya tidak begitu mengerti apa itu arti kecantikan, namun dimatanya saat ini sosok ibunya adalah keberadaan yang paling cocok dan paling pantas untuk menyandang sebutan "cantik" melebihi dari siapapun.


"Keponakan, kenapa tiba-tiba kamu berdandan seperti gangster wanita?". Ian bertanya sambil menekan pelipis kepalanya yang berdenyut.


"Gengster wanita apa!?, gaya pakaianku jelas kasual dan cool!". Ariel dengan keras kepala menyangkal ucapan Pamannya, menurutnya gaya berpakaian sangat bagus, berkesan seperti wanita kuat, sexy dan berani. Sejujurnya, Ariel sendiri memang sengaja memilih berpakaian dengan nuansa liar seperti punk ini, hal itu dia lakukan untuk menciptakan citra wanita yang penuh percaya diri dan bersemangat dimata para anggota kru Film.


Sebagai pendatang baru, Ariel tidak mau langsung mendapat julukan Vas panjangan atau Xiaobaihua di mata para calon penggemarnya. Ariel ingin menjadi eksistensi yang berbeda, mencolok dan lebih bersinar dari siapapun. Intinya dia harus terlihat lebih unik dan lebih mempesona dibandingkan pendatang baru manapun, dia tidak mau terlihat sama atau biasa-biasa saja seperti pendatang baru lainnya!.


"Itu terlihat bagus, seperti anak muda", Luke memuji dengan tulus. Dan dengan murah hati dia menyerahkan kunci motor miliknya kepada Ariel.


Ariel mengaitkan rambut caramel panjangnya yang ikal, dengan bangga dia menjentikan klip berbentuk ular ditelinga kirinya. "Hehe... berpakaian seperti ini membuatku terlihat lebih muda dari gadis remaja kan?".


"Lebih terlihat seperti gadis remaja dimasa pemberontakan", Ucap Ian tiba-tiba, memotong pujian narsis Keponakannya. Setelah mengatakan itu Ian menunduk dan menyeruput kopinya dengan santai.


"Paman Ian!". Ariel berteriak kesal, dia ingin menerjang Pamannya, namun dengan cepat dihentikan oleh tubuh setinggi beruang yang menutupi Pamannya.


"Ariel, jangan marah pada Pamanmu. Dia hanya bercanda sedikit". Luke dengan sepenuh hati membela kekasihnya, dia tidak ragu-ragu atau pun malu-malu.


Sudut bibir Ariel berkedut, mata hijau Ariel bertabrakan dengan senyum lebar Ian yang masih bersembunyi dibalik tubuh Luke. Senyum Ian seolah-olah bermakna, lihat aku punya kekasih dan kamu tidak, jadi jangan bertindak seperti gangster karena kamu tidak punya kekasih untuk membelamu.


Keengganan dihati Ariel padam dan digantikan dengan kejenuhan. Dia berpikir, sangat menyebalkan menonton drama cinta yang dipentaskan di pagi hari, sungguh sangat manis dan masam...


Ariel memeluk Izekiel dan mencium pipinya dengan keras.


"Huh, sudahlah... Paman, Luke, Izekiel aku pergi dulu, bye~".


"Hati-hati dijalan bu, Izekiel sayang ibu~". Izekiel menonton dari balkon, dengan semangat melambaikan tangannya pada Ariel.



...(Bayangkan Motor yang dikendarai Ariel)...


Ariel duduk diatas motor besar yang mewah dengan penampilan gagah dan elegan. Tanpa kesulitan Ariel menggunakan tubuhnya untuk menyeimbangkan dan menopang body motor yang besar dengan sebelah kakinya.


Mendengar suara Putranya, kepala Ariel berputar secara refleks, tatapan matanya lalu jatuh pada sosok kecil Izekiel yang melambaikan tangannya dari atas balkon.


Dibalik kaca hitam helm yang menutupi fitur wajahnya, ada sepasang mata Giok hijau yang bersinar cerah penuh dengan vitalis. Ariel juga melambaikan tangannya sebentar.


Setelah puas, Ariel mulai menyalakan mesin motor dan menarik gas secara perlahan.

__ADS_1


Dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi dan rendah, dia mengendarai motornya mengarungi jalan raya.


...-----+-----+-----+-----...


Millicent Entertainment


Karena Ariel telah membuat janji sebelumnya, dia langsung dituntun dengan sopan di ruang tamu untuk menunggu sebentar. Resepsionis bahkan dengan ramah menawarinya minum secangkir kopi.


"Ada juga kue caramel disini, apa anda mau sepotong?".


Menanggapi antusiasme Resepsionis yang ramah, Ariel dengan tulus menggelengkan kepalanya.


Ariel berkata sambil tersenyum, "Terimakasih, tapi tidak. Kamu bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri".


"O-Oke...", Resepsionis balas tersenyum, dengan cepat dia berbalik dan berjalan dengan langkah riang keluar dari ruang tamu.


Baru saja keluar dari ruang tamu, Resepsionis itu langsung ditarik oleh beberapa temannya ke sudut ruangan. Salah satu temannya dengan penuh semangat mulai bertanya.


"Xiao Wei, katakan, siapa wanita tadi?. Dia sangat cantik, apa dia pendatang baru?".


Nama Resepsionis itu adalah Xiao Wei. Dengan antusias Xiao Wei mengangguk pada rekannya, "Ya, dia adalah pendatang baru, seharusnya dia akan menandatangani kontrak pembuatan film nanti".


"Dia terlihat seperti ras campuran, apa kalian memperhatikan warna rambutnya?, aku yakin 100% bahwa rambutnya berwarna coklat caramel alami!, alias tidak diwarnai sama sekali!".


"Matanya!, matanya juga berwarna hijau!, kalian tau, warna hijau adalah warna mata paling langka didunia!". Seru karyawan lainnya, sambil mengingat kembali sepasang mata hijau Giok yang cerah dan penuh vitalis.


Sementara Resepsionis bernama Xiao Wei dan rekan kerjanya sedang bergosip disudut, Ariel yang menunggu di ruang tamu dengan sepenuh hati mulai menyeruput secangkir kopi dalam diam dan ketenangan pikiran. Ariel tampak tenang dan tidak terlihat tegang maupun gugup sedikitpun, gerak-geriknya santai dan alami, seolah-olah dia disini bukan untuk membicarakan pekerjaan melainkan untuk bertamu di rumah teman.


Setelah menunggu 10 menit, pintu ruang tamu tiba-tiba dibuka dari luar, dan seorang wanita dengan pakaian kerja profesional memasuki ruangan dengan beberapa dokumen yang diapit diketiak kirinya dan sebuah Laptop dengan layar terbuka yang masih menyala ditangan kanannya.


"Maaf menunggu lama, Nona Ariel kan?, mari kita bahas kontrak Film terlebih dahulu".


Ariel dengan sigab berdiri dan berjabat tangan dengan wanita berpakaian profesional itu.


"Tidak, saya tidak menunggu lama. Senang bisa bekerja sama denganmu, emn...", Ariel terdiam, dia tidak tau harus menyebut wanita didepannya ini dengan sebutan apa.


Wanita cakap berpakaian profesional itu mendorong bingkai kacamata perak yang dia kenakan, "Nama saya Yin Lou, saya adalah orang yang menghubungi Nona Ariel kemarin malam".


Ariel tersenyum tipis, "Ah, jadi seperti itu. Patas saja suara Nona Yin terdengar sangat familiar, mirip dengan suara wanita di telepon".


Setelah bertukar salam dan sapa sebentar, keduanya mulai fokus pada topik.


"Oke, sekarang mari kita fokus pada topik utama", Yin Lou duduk sembari memberi isyarat agar Ariel juga ikut duduk.


Setelah keduanya duduk saling berhadapan, Yin Lou langsung menyerahkan selembar kertas pada Ariel. "Ini Kontraknya, silakan dibaca terlebih dahulu untuk melihat apa ada kesalahan dan kekurangan".


"Baik", Ariel mengambil kontrak itu dan mulai membacanya dengan hati-hati. Beberapa menit kemudian dia meletakan kontrak kembali ke atas meja, mengambil pulpen yang diberikan Yin Lou dan mulai menandatangani.

__ADS_1


"Kontraknya masuk akal dan remunisinya sangat pas, sebagai pendatang baru saya senang bisa bermain di Kru Film Ini", Ariel menyerahkan Kontrak kembali pada Yin Lou.


Yin Lou tertawa kecil, "Nona Ariel, jangan terlalu rendah hati. Sebagai pendatang baru anda juga tidak buruk, anda cukup berbakat untuk bisa memperoleh peran ini dengan kemampuanmu sendiri. Pesanku adalah...lakukanlah yang terbaik".


"Terimakasih". Ariel dengan tulus berterimakasih.


"Sama-sama", Yin Lou menyimpan kontrak kedalam folder, setelah beberapa detik terdiam dia mengangkat sesuatu. "Oh, benar. Apakah kamu memiliki asisten?, apa perlu aku mengatur satu untukmu?".


Ariel berpikir sejenak, karena genre Film yang dia mainan berputar pada kehidupan ras-ras heterogen dalam novel fantasy barat, pastinya latar belakang tempat syuting yang dipilih akan dekat dengan alam seperti hutan, gunung, dan laut. Membutuhkan banyak tenaga untuk menyiapkan keperluan syuting di tempat-tempat terbuka seperti itu, pastinya akan sangat merepotkan jika tidak memiliki seseorang untuk membantu disisinya.


Ya, Asisten kecil sangat diperlukan. Dia membutuhkan kaki tangan untuk disuruh-suruh.


Ariel dengan cepat mengangguk, "Ya, saya sangat membutuhkannya. Jika tidak merepotkan tolong berikan saran untuk kandidat yang cocok".


"Tidak merepotkan sama sekali. Nanti malam saya akan mengirimkan beberapa kandidat yang bisa kamu pertimbangkan".


Ariel menghabiskan satu jam lebih berbincang dan membicarakan rencana kru film dengan Yin Lou, setelah memastikan semua telah dilakukan, Ariel berniat untuk langsung pulang, namun dengan cepat dihentikan oleh Yin Lou.


"Oh, tunggu sebentar Ariel!", Obrolan mengasikkan membuat keduanya mudah akrab, tidak butuh waktu lama bagi Yin Lou yang sebelumnya memanggil Ariel dengan sebutan "Nona Ariel" menjadi "Ariel" yang dekat dan lebih ramah.


Ariel berdiri diam ditempat, dia bertanya sambil memiringkan kepalanya, "Umn?, ada apa?".


"Begini, apa kamu ingin bertemu anggota kru film lainnya?. Jika kamu mau, kamu bisa pergi ke Studio di lantai 16, beberapa anggota kru Film dan artis sedang berkumpul disana".


Ariel bertanya dengan ragu-ragu. "Apa aku boleh hadir?".


"Tentu saja!, kamu juga bagian dari kru film ini!. Jika mau, silakan datang saja untuk mengobrol santai dan mengakrabkan diri dengan yang lainnya".


Ariel akhirnya setuju, "Oke...".


Ini hanya pertemuan kecil antara anggota kru film dan beberapa artis yang memainkan peran, seharusnya tidak akan menjadi yang sulit. Tidak apa-apa, pikir Ariel.


Ariel melangkah masuk kedalam lift, baru saja dia akan menekan tombol untuk menutup pintu Lift, sebelum matanya menangkap sosok yang familiar.


"Hei, Ariel!, wait for me!".


Dengan mengenakan atasan gaun hitam V Neek yang mempesona, Dahlia dengan sudah payah berusaha berjalan dengan anggun namun cepat ke arah Lift. Gerakannya tergesa-gesa tapi tidak terlihat sembrono, kecepatannya stabil hanya untuk mengimbangi sepatu heels tinggi yang dia kenakan.


Setelah Dahlia berhasil masuk kedalam Lift dia menghela nafas lega dan memandang kearah Ariel dengan senyum penuh rasa terimakasih.


"Kita bertemu lagi, Ariel".


"Ya", Ariel mengangguk, dia juga tersenyum. "Kami bertemu lagi, Dahlia".



...(🌸Ilustrasi Dahlia Elmer🌼)...

__ADS_1


...-----+++-----...


__ADS_2