Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya

Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya
Terlalu Sibuk


__ADS_3


...-----+-----+-----+-----...


Bertemu kembali dengan Fu JiChen setelah setahun lamanya berpisah, dan dalam keadaan baru saja melahirkan bayi, membuat Ariel menyadari fakta yang rumit.


---Putranya, Malaikat kecilnya, Izekiel, dia adalah anak Fu Jichen juga!.


...Meskipun belum diakui.


Tapi bagaimana jika diakui?, Ariel selalu tau jika Keluarga Fu yang berdiri kokoh dibelakang Fu Jichen adalah keluarga kuno berusia seabad yang sangat menekankan kemurnian darah dan keturunan.


Apa yang akan terjadi jika orang-orang kolot itu mengetahui ada darah kelurga Fu mereka yang lahir diluar pengetahuan mereka?. Tidakkah orang-orang tua itu akan menjadi gila dan berniat merebut Putranya?.


Sebagai seorang ibu yang mengandung bayi selama sembilan bulan dan berjuang menantang maut untuk melahirkan, tidak mungkin Ariel rela membiarkan Putranya diambil begitu saja.


Ariel juga egois, bukan karena dia merasa dirinya yang paling benar, melainkan karena dia merasakan mengorbankan dirinya lebih besar dari siapapun. Bagaimanapun dia telah mengandung bayi dalam keadaan tidak menikah dan tidak memiliki suami, jika orang luar mengetahuinya dia mungkin akan dihina sebagai ****** atau pelacur karena hamil diluar nikah. Ditambah dia juga sudah merasakannya sakitnya melahirkan bayi, dan bahkan sampai sekarang dia masih bisa merasa nyeri yang tumpul ditubuh bagian bawahnya.


Dengan segala macam penderitaan yang sudah atau mungkin akan dia alami, Ariel tidak akan begitu munafik untuk mengatakan dirinya tidak berkontribusi pada Kelahiran Putranya yang aman dan sehat.


Beruntungnya dia masih memiliki Bibi Zhou disisinya, dan juga Paman Ian dan Luke yang selalu sedia m menemani dan memberinya semangat.


Ariel pernah membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka tidak hadir ketika dia sedang membutuhkan, dan nasib seperti apa yang akan menimpanya, seorang ibu hamil yang hanya mempunyai uang, tetapi tidak memiliki Suami atau wali?.


Ariel tidak berani membayangkan lebih jauh, karena dia takut.


Karena ketakutan itu lah saat mengetahui dirinya sedang hamil Ariel langsung memutuskan untuk menelpon Paman Ian dan memintanya untuk mengunjunginya. Sekarang Ariel merasa keputusannya saat itu untuk memanggil Paman Ian adalah benar, dengan Paman Ian disini, kehadiran Bibi Zhou dan kedatangan Luke, dia tidak perlu merasa kegugupan, ketakutan dan kesepian lagi.


Dia sekarang aman dan Putranya juga lahir dengan selamat.


Dan juga Fu Jichen masih hilang ingatan dan tidak mengingatnya, istrinya yang telah dia nikahi selama hampir setahun lebih.


Ariel sangat bersyukur. Tentunya, tidak ada yang lebih bagus dari semua ini.


Setelah bertemu kembali dengan Fu Jichen, awalnya Ariel berpikir dia akan menjadi was-was, cemas dan kehilangan kendali karena takut ditemukan.


Tapi ternyata Ariel terlalu melebih-lebihkan dirinya sendiri, dia bahkan terkesan terlalu berpikiran negatif.


Sejak pulang ke Apartemennya alih-alih panik dan ketakutan, Ariel justru menjadi sibuk, terlalu sibuk sampai-sampai lupa memikirkan pertemuan dengan mantan suaminya yang amnesia!.


Dan hal yang membuatnya sibuk adalah Putranya, Izekiel, yang sering menangis ditengah malam karena ingin minum susu.


"Oooee~ Ooee~".


Pintu kamar di sisi sayab barat terbuka, dan seorang wanita dengan piyama putih berjalan keluar dengan langkah sempoyongan.


Wanita itu menguap lebar, tangannya dengan asal-asalan menguncir rambut coklat panjangnya menjadi sanggul. Untuk mengusir kantuk dia bahkan menepuk-nepuk kedua pipinya agar kesadarannya pulih.


Dengan mata setengah terbuka wanita itu berjalan lurus melewati sebuah ruangan, wanita itu berhenti ditempat ketika mendengar suara hidup seperti teriakan ah~, oh~ dan yah~ yang nyaring dari ruangan tersebut.


Wanita dengan piyama putih yang tidak lain adalah Ariel mengerutkan dahinya. "Ini sudah jam dua malam, kenapa Paman Ian dan Luke masih belum berhenti?. Seberapa kuat ketahanan ginjal mereka?".


Ariel tidak berniat menguping lebih lama lagi, jadi dia mengabaikan teriakan dan ******* tidak senonoh itu dan terus berjalan hingga sampai disudut ruangan.


"Yahh... sekuat apapun mereka berdua, itu tidak akan melebihi ketahan fisik mantan suamiku, aku ingat dia bahkan masih bisa berdiri sampai subuh..."


Ariel membuka pintu kamar Izekiel dan berjalan menghampiri bayinya yang sedang menangis dibuaian.


"Cup cup, sayang, apa kamu lapar?".


Ariel menyentuh popok bayinya, ternyata agak basah. Tanpa pikir panjang Ariel segera bergegas untuk mengganti popok yang baru.


"Sayang~, tunggu sebentar yah, Mommy akan mengganti popokmu dulu".


"Uuuuhh...", Sejak ibunya muncul, bayi Izekiel telah berhenti menangis. Dan ketika melihat Ibunya datang kearahnya bayi Izekiel mulai tertawa dan cekikikan.

__ADS_1


Setelah selesai mengganti popok untuk Izekiel, Ariel segera mengambil bayinya kedalam pelukannya dan mulai menyusui.


Sementara itu diruang samping.


Adegan intens dan panas baru saja berhenti, namun api gairah dan rangsangan yang mendebarkan masih belum surut.


Ian menghela nafas panjang, keringat membasahi rambut pirangngnya, mata hijau zamrudnya yang terselimuti kabut dan air mata diam-diam melirik pria kuat yang sedang bekerja keras.


Diatasnya Luke yang juga berkeringat terlihat siap mendorong masuk lagi, namun sebelum dia berhasil melakukannya kaki Ian melayang dan langsung menendang wajah tampannya.


"Berhenti!, Beruang Grizzly, apa kamu gila?, masih mau melakukannya?!". Ian memarahi dengan kesal, kedua pipinya bersemi dengan warna merah asmara, namun berlainan dari raut wajahnya yang terselimuti kabut gairah, kedua matanya justru berkobar dengan api kebencian dan kekesalan.


"... Dan cepat singkirkan tali ini!, apa kamu mau membuat tanganku putus?!".


Luke tidak mengatakan apapun, dengan patuh dia melepaskan tali merah yang mengikat pergelangan tangan Ian. Setelah membereskan tali dan meletakkannya dengan rapih didalam rak, Luke kembali ke sisi Ian.


"Mau lanjutkan lagi?". Tanya Luke, wajahnya terlihat datar dan tenang namun tubuh bagian bawahnya menghianati ekspresi wajahnya.


Oh, lihatlah pilar yang berdiri tegak bagaikan moncong laras panjang yang siap menembak kapan saja itu, sejujurnya itu terlihat jelek dan aneh, dan untuk Ian yang sudah di permainkan sampai mati dengan laras panjang itu, dia hanya menganggapnya menakutkan.


"Tidak!, cukup sampai disini", Ian dengan tegas menolak, kakinya dengan kejam menginjak dan menghalangi pilar yang masih bediri tegak dan bangga ke langit, dan memaksanya untuk tunduk.


Mata Luke menjadi gelap, nafasnya perlahan-lahan menjadi kacau.


"Jangan membuat masalah, besok ada audisi untuk peran Pria nomor dua milik Sutradara Wang, aku berniat mengikuti audisi itu, dan untuk mengikutinya aku tidak boleh lelah, tubuhku harus cukup istirahat dan sehat".


"Kamu hanya berbaring diam sambil menikmati, jadi apa yang membuatmu lelah?". Luke menyapu rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya, matanya yang coklat dan gelap menembak lurus kearah Ian.


"Ginjalku lelah!", Selesai mengatakankan itu Ian langsung melemparkan bantal ke arah Luke, tanpa memperdulikan wajah pasangannya yang menghitam seperti pantat panci, dia berbalik, menarik selimut dan tertidur.


Luke yang ditinggalkan dalam keadaan menyakitkan, "........"


...-----+-----+-----+-----...


Ketika pagi tiba Ariel turun dari lantai atas dengan lingkaran hitam besar dibawah matanya.


"Pagi keponakan", Ian menyapa balik, dia lalu melanjutkan, "Ada pekerjaan yang harus dilakukan", Ian duduk dengan anggun sambil menyeruput secangkir kopi, kacamata dengan bingkai emas yang dia kenakan membuatnya tampak lebih dewasa, pantang dan berwibawa.


"Pekerjaan macam apa yang akan Paman lakukan?, menjadi Model?. Setahuku tidak banyak Model pakaian Brandly di Negara ini".


"Tidak bukan itu, aku akan bermain Film". Ian menyangkal dan meluruskan jawaban yang benar.


"Paman mau beranting film?", Ariel terkejut, dia tidak menyangka Pamannya juga tertarik menjadi Bintang Film, dia pikir Pamannya hanya tertarik menjadi Model Fashion.


"Paman, apakah kamu bisa berakting?". Tanya Ariel, dia menatap Pamannya dengan ekspresi ragu-ragu.


"Kemampuan aktingku tidak jauh lebih buruk dari artis Hollywood". Ian menjawab dengan penuh percaya diri.


"Hooh", Ariel membuka mulutnya lebar-lebar, dalam hatinya dia berujar, sangat sulit untuk dipercaya.


Ariel tiba-tiba teringat sesuatu, dia buru-buru bertanya lagi, "Paman, lalu bagaimana perkerjaanmu di Perancis?, dan apa massa cutimu belum berakhir?".


"Masalah itu...", Ian meletakkan cangkir kopinya, dia berkata dengan ekpresi serius, "Awalnya aku hanya berniat menemanimu ketika sedang hamil dan pergi setelah kamu selesai melahirkan. Tapi untuk beberapa alasan aku memutuskan untuk menetap sebentar di Cina".


"Untuk menetap di negara ini sambil memperpanjang cuti, visa dan paspor adalah proses yang sangat merepotkan. Tapi untungnya aku punya dia, Asisten Manajer yang sangat handal", Ian mengangkat tangannya, dengan keras dia memukul punggung Luke, alhasil perilakunya tersebut berhasil membuat pria setinggi beruang itu gagal memasukan sesendok Strawbery Cake ke dalam mulutnya.


Luke mengangkat wajahnya, dia melirik Ian disampingnya dengan tatapan maut. Wajahnya terlihat sangar, namun ekspresi mengerikannya langsung hancur karena secolek krim putih yang menempel di hidungnya.


Ian tidak bisa menahan diri lagi, di membungkuk memegangi perutnya dan tertawa terbahak-bahak, "PuaWaHahahahaha---!!".


"Ian...", Luke menggeram, dia melototi pria berambut pirang itu dengan kesal, kesal karena sesuap cemilan manisnya terbuang sia-sia.


"Kamu seperti Beruang badut dari Film kartun!. Hahahaha---!!!".


Sementara dua pasangan itu aktif bermain dan menggoda satu sama lain, Ariel yang duduk diseberang mereka merasa seperti telah menjadi orang ketiga yang tidak dibutuhkan keberadaannya.

__ADS_1


"Nona Ariel, ini sarapanmu, ayo cepat makan, makan yang banyak agar bisa menghasilkan susu yang banyak untuk Tuan kecil".


"Oke, Bibi Zhou". Ariel dengan patuh mulai menghabiskan sarapannya.


Oh, sarapan hari ini sangat menggugah selera. American Breakfast dengan empat bahan yang lengkap dan bergizi seperti telur, kacang merah, sosis sapi dan roti tawar. Sebagai tambahan ada juga sepiring Muesli dan pisang yang kaya akan serat, rendah gula dan cocok untuk mendukung ibu setelah melahirkan yang ingin melakukan diet longgar.



...(American Breakfast)...



...(Muesly dan Pisang)...


"Terimakasih untuk sarapan yang menggugah selera ini, Bibi Zhou. Aku dan Luke akan pergi dulu, tolong jaga Keponakanku dan cucuk keponakanku juga". Ian berkata dengan lembut pada wanita tua yang energik dan ramah itu.


"Aiyahh... serahkan padaku Tuan Ian". Bibi Zhou tersenyum, dia membusungkan dadanya dengan penuh percaya diri.


Ian dan Luke berdiri, keduanya bersiap untuk pergi.


"Hati-hati dijalan!", Ariel melambaikan tangannya.


"Yayaya, jangan khawatir".


.


.


.


.


.


.


.


.


"Cuacanya cukup bagus, apa Nona mau berjemur sebentar?".


Ariel melihat langit biru dan Matahari yang bersinar cerah, dia berpikir sebentar sebelum mengangguk. "Oke".


"Bagus, kalau begitu Bibi akan menyiapkan kursi dulu".


"Oh, kalau begitu aku akan mengambil Izekiel dulu".


...-----+-----+-----+-----...


Pria itu dengan tidak sabaran melepas dasi yang melilit kerahnya, dia membuka dua kancing paling atas memperlihatkan tulang selangka yang kuat dan berotot.


Lin Hanyu menempelkan layar ponsel ditelinganya, dia bertanya dengan datar pada orang disisi lain saluran Telepon. "Ada apa?, kenapa tiba-tiba menelponku?".


"Kakak!, kakak aku mohon padamu, tolong lakukan sesuatu. Aku benar-benar tidak mau membatalkan pertunangan ku dengan Fu Jichen!".


Lin Hanyu mengerutkan dahinya, dia berkata dengan nada kesal. "Masalah pertunanganmu sudah selesai dibahas. Itu semua sudah berakhir, dan Fu Jichen sendirilah yang mengakhirinya".


"Kapan?, kapan itu berakhir?. Aku tidak tau!, tidak ada yang memberi tahuku!".


Pertanyaan yang dilontarkan secara gembar-gembor membuat kepala Lin Hanyu sakit, kali ini dia benar-benar nyaris kehilangan kesabarannya. "Kamu tidak tahu karena saat itu kamu sedang bermain ke Hawaii dan ponselmu tidak aktif seharian penuh!".


"Tidak!, pokoknya aku tidak mau pertunangan ini dibatalkan!, aku mau----".


"CUKUP!, BERHENTI BICARA!!!". Benar-benar kehilangan kesabaran, Lin Hanyu meraung dengan marah.

__ADS_1


"Lin Nuan!, aku memperingatkanmu, jangan membuat masalah untukku. Jika kamu berani membuat masalah Ayah dan aku tidak akan mau membereskan kekacauan yang kau buat!. Dan... bukannya pada awalnya kamu sendiri yang ingin membatalkan pertunangan lebih dulu, jadi kenapa kamu baru menyesal sekarang, huh?!!".


...-----•°•°•°•°•-----...


__ADS_2