
...-----•°•-----•°•-----•°•-----...
Pada akhirnya perdebatan mereka dihentikan secara sepihak oleh Bibi Zhou. Dengan sungguh-sungguh wanita tua itu mengingatkan mereka bertiga, "Masalah wallpaper kamar itu bisa ditentukan nanti. Sekarang kalian bertiga harus berhenti berdebat. Karena ini sudah waktunya untuk Nona menyusui bayi".
Ian yang masih ingin berdebat dan Luke yang ingin membantah, segera tutup mulut dan berhenti memperdebatkan masing-masing kelebihan warna yang mereka sukai.
Ian mengangkat tangan pertanda menyerah, sedangkan Luke, pria itu memiliki raut wajah menyesal dengan sedikit keluhan dimatanya.
"Ah?, sudah waktunya?". Ariel terkejut, dia melirik kearah jam, dan dia pun terkejut ketika melihat sudah pukul 2 siang. "Wow, waktu berjalan cukup cepat!". Serunya terkejut.
Dari perdebatan mereka kali ini tidak ada yang dianggap menang ataupun kalah, semua orang tergolong seri. Pada akhirnya masalah menentukan Wallpaper kamar harus ditunda untuk sementara waktu. Dan masalah warna wallpaper apa yang dipilih itu tergantung oleh siapa yang lebih cepat bergerak untuk menghiasi kamar.
Ian mengangkat bahunya, dia berkata dengan santai, "Oke, perdebatan berhenti sampai disini. Tapi, nanti kita akan melanjutkannya lagi".
Setelah berkata seperti itu, Ian segera melangkahkan kakinya mengikuti Luke yang berjalan kearah Balkon.
Ariel duduk sambil bersandar pada kepala ranjang, dari posisi ini dia dapat dengan jelas melihat punggung Pamannya yang ramping dan punggung kuat dan tegak Luke yang berdiri beriringan. Berdiri bersama dibawah sinar Matahari yang hangat, membuat keduanya terlihat seperti kombinasi pasangan yang sempurna dan serasi.
Ariel diam-diam tersenyum, tidak mau mengintip dua orang pria yang sibuk merokok diluar, di buru-buru mengalihkan pandangannya.
Ariel menunduk dan mulai sibuk melepas satu-persatu kancing baju bagian atasnya.
Beberapa menit kemudian pintu bangsal kembali dibuka, dan bibi Zhou memasuki ruangan dengan senyum ceria diwajahnya.
Dengan lembut dan hati-hati Bibi Zhou menyerahkan bayi kecil dalam bedongan kedalam pelukan Ariel.
"Pelan-pelan, ayo beri dia makan perlahan".
"Tenang saja, serahkan padaku~". Ariel berkata dengan percaya diri. Untungnya Bibi Zhou telah memberikannya banyak sesi pelajaran perihal teritorial cara mengurus anak selama masa kehamilan dulu.
Jadi walaupun ini pertama kalinya dia menyusui bayi, gerakan Ariel tidak kaku, dan dia tidak gugup ataupun bingung harus melakukan apa dari awal hingga akhir.
Ketika sedang menyusui, samar-samar Ariel bisa mendengar Bibi Zhou sedang bergumam dengan nada rendah.
".... Seandainya Suami Nona masih ada, dia bisa membatu memeras untuk melancarkan air susu..."
Saat itu Ariel ingin bertanya, apa yang sedang digumamkan Bibi Zhou, namun dia terpaksa harus tutup mulit ketika merasakan sensasi aneh dari bayi yang sedang meminum susunya.
Ariel tertegun sebentar, namun segera dia kembali tersenyum.
Ini sangat hebat, pikirnya. Putranya makan dengan sangat lahap dan cepat, hampir mengejutkannya, seorang Ibu baru.
Didalam hatinya yang paling dalam Ariel berharap, semoga bayi kecilnya dapat cepat tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat.
Mata Giok hijau Ariel dengan lembut jatuh pada penampilan Putranya. Berbeda dari penampilannya saat dia baru lahir yang merah dan berkerut, putranya saat ini telah banyak berubah. Saat ini dia memiliki penampilan yang imut dan lucu. Lihatlah kulit yang lembut, putih dan kenyal seperti Pudding, matanya yang besar, pipinya yang tembem dan bulat, tangan dan kaki yang mungil....
"Ughh... Ini benar-benar", Saking imutnya, Ariel bahkan tidak bisa menahan diri dari memeluk, mencium dan menggigit putranya yang harum ini!.
Ariel, wanita yang baru saja dibaptis menjadi ibu, tidak bisa menahan diri dan mulai melahap tangan mungil putranya.
"Uh, Oooee~", Si Malaikat kecil merasakan ibunya sedang menggertaknya, dia pun berhenti menyusui dan mulai menangis dengan keras.
"Eh, eh?, ada apa?. Jangan menangis nak, Ibu hanya bercanda!, ibu tidak bermaksud menggigitmu, sungguh~".
Melihat Putranya berhenti menyusui dan mulai menangis, Ariel panik, seketika dia langsung meludahkan tangan putranya dan mulai membujuk si bayi untuk melanjutkan minum susu.
__ADS_1
"Cup, cup... Malaikatku sayang~, jangan menangis, jangan menangis sayang~, kalau menangis nanti digigit mamah~".
"Ya, ampun. Ada apa?, kenapa bayi menangis lagi?. Apa susunya tidak keluar?". Bibi Zhou kembali lagi dengan nampan berisi empat gelas minuman sehat. Dia meletakan dua gelas diatas nakas, dan sisanya diberikan pada Ian dan Luke.
"Hehe... Bukan Bi~, tadi aku menggigit tangannya dan si bayi langsung menangis". Ariel tertawa garing, tanpa memperhatikan wajah Bibi Zhou yang gelap, dia masih cekikikan.
"Aduh!, Nona, kamu sekarang adalah seorang Ibu. Jangan menggertak bayimu seperti itu terus". Dengan tidak berdaya Bibi Zhou mengingatkan Ariel. Terus terang saja, Bibi Zhou sebenarnya merasa bingung dengan mentalis Ariel. Sebenarnya ada seorang ibu yang gemar menggoda bayinya sampai menangis?.
Ariel menggangguk, dengan lembut dia mengangkat bayinya sejajar dengan lehernya, lalu dia pun menunduk, dan dengan "Muu~aahh", sebuah ciuman penuh cinta dan kasih sayang jatuh pada dahi si bayi.
"Habisnya, siapa yang membuat Malaikat kecilku terlihat kenyal dan enak, seperti beras ketan!, oh, si bayi juga manis, aku jadi merasa gemas ingin menggigitnya, hehe~".
"Aiyo...", Melihat tingkah laku Ariel, Bibi Zhou hanya bisa menepuk dahinya, dan mendesah panjang.
Setelah selesai menyusui, Ariel tidak segera menyerahkan bayinya untuk dikembalikan keruangan perawatan, melainkan menahannya sebentar disampingnya.
Ariel berbaring menyamping, dengan hati-hati dia menyisikan ruang yang aman dan luas untuk menempatkan bayinya disampingnya.
Menatap fitur bayinya, Ariel tidak bisa menahan diri dari perasaan terpesona, rumit, dan terharu.
Ini adalah anaknya, putranya, yang sudah dia kandung selama 9 bulan.
Dia lahir dari rahimnya, datang ke dunia ini dengan usaha mati-matiannya.
Dia adalah keberadaan yang muncul karena sebuah kecelakaan. Kedatangannya tidak pernah diprediksi ataupun diharapkan siapapun, baik itu olehnya, ibu mertuanya, ataupun mantan suaminya.
Ariel berpikir dengan pahit. Anak ini terlahir tanpa mempunyai Ayah, dimasa depan setelah anak ini dewasa apa yang harus dia katakan jika anak ini bertanya siapa ayahnya?.
Haruskan dia menjawab dengan kalimat, "Ayahmu adalah pria terkaya di Haicheng, saat ini dia sudah menikah dengan wanita kaya raya dan berbudi luhur dan telah dianugerahi banyak anak-anak yang manis".
Lalu jika Putranya yang dewasa bertanya lagi, mengenai siapa mereka dimata Ayahnya?.
"Hahh... Ini menjadi sedikit rumit", Ariel bergumam pelan.
Mendengar ******* panjang Ibunya, bayi dengan mata merah yang masih berbaring telentang perlahan menggerakan tubuhnya yang kecil. Pupil hijaunya yang bulat dan cerah menatap sosok ibunya yang cantik dalam diam.
Ariel menemukan bayinya sedang menatapnya, lantas dia pun juga menatap balik putranya.
Jadi, sepasang mata hijau Giok yang sama saling bertemu dan bertatapan diudara.
"Apa yang harus kulakukan nak?, sejujurnya kamu terlihat sedikit menyedihkan karena tidak memiliki seorang ayah".
"Ibu berharap kamu tidak akan kecewa setelah mengetahui semua hal ketika kamu dewasa nanti".
Suara Ariel yang lirih dan pelan secara tidak sengaja masuk ke telinga Bibi Zhou.
"Nona, ada apa?, apa kakimu sakit lagi?".
"Tidak Bi", Ariel dengan lemah menjawab, dengan alis yang mengernyit dia berkata, "Aku hanya... sedang memikirkan nama yang cocok untuk si bayi, menurutmu lebih baik menggunakan nama Inggris atau Cina?".
Menentukan nama untuk bayi adalah perkara yang sulit dan harus dianggap serius. Ini juga menjadi masalah yang dianggap paling penting oleh Ariel bahkan sebelum dia melahirkan.
Setiap orang tua pastinya ingin memilih nama yang terbaik untuk buah hatinya. Karena nama yang baik merupakan perwujudan dari doa, harapan dan cita-cita dari orang tua untuk anak-anaknya.
Dengan nama yang terbaik semua orang tua berharap anak-anaknya dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri dan membanggakan.
Begitu juga dengan Ariel, dia ingin memberikan nama yang indah dan sempurna sebagai hadiah bagi putranya untuk menyertai proses kehidupannya yang panjang dan mencapai masa depannya yang gemilang.
__ADS_1
Bibi Zhou sejak awal sudah mengetahui jika Ariel adalah ras campuran Cina-Jerman, jadi adalah wajar untuknya memilih nama anak dari Barat. "Kalau menurut Bibi, lebih baik menggunakan nama Cina Han. Tapi jika untuk nama panggilan, Inggris jauh lebih cocok".
"Oke, berarti sudah diputuskan, bayiku akan bermarga "Feng" seperti namaku!".
"...Dan untuk nama tengah dan nama Inggrisnya, lebih baik kita memilih dengan perlahan dari kamus". Ucap Ariel dengan hati-hati dan penuh perenungan.
Bibi Zhou menanggapi dengan tertawa dan mengangguk dengan sepenuh hati.
"Oh, kalian sedang membicarakan apa?, terlihat sangat seru".
Ian dan Luke kembali dari balkon, keduanya masuk kembali kedalam ruangan sambil membawa aura dingin musim gugur ditubuh mereka.
"Paman, aku dan Bibi Zhou sedang memutuskan nama untuk bayiku!".
"Nama?, apa sudah ditentukan?". Perihal masalah penamaan cucu keponakannya, Ian tentunya merasa tertarik dan ingin campur tangan kedalamnya.
"Iya, aku akan menggunakan marga Feng dan memilih nama Cina, namun untuk nama panggilan aku akan memilih nama Inggris". Ariel menjelaskan dengan sungguh-sungguh.
Ian mengangguk, dengan mudah dia berjalan menuju sisi ranjang, dan mendekati cucu keponakannya yang sedang tidur telentang.
Jari telunjuk Ian dengan lancang menoel pipi tembem cucu keponakannya. Si bayi yang terbaring telentang tidak bisa mengindari tusukan, dia tidak berdaya, dia hanya bisa pasrah membiarkan tangan jahil pamannya mempermainkan pipinya hingga memerah.
"Hm... nama Inggris yah, bagaimana dengan Alder, Elm atau Cedar?".
"Tidak, itu terlalu biasa". Ariel menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak akan setuju Putranya memiliki nama panggilan yang biasa-biasa saja.
Ariel menyentuh dagunya dan mulai melantunkan nama-nama yang menurutnya bagus, "...Menurutku Indigo, Leo, atau Owen lebih bagus".
"Ketiganya terdengar seperti nama pasaran".
"Pasaran apa?, jelas-jelas itu nama yang keren".
"Tidak, menurutku itu tidak keren sama sekali".
Dari sini, Paman dan Keponakan akhirnya memulai ronde kedua perdebatan, kali ini masalah perdebatannya adalah untuk memilih nama.
"Bagaimana dengan Noah, Jasper, Francis, atau Evan?", Satu-persatu Ian mulai mengeluarkan nama-nama unggulannya.
"No, no, no!. Tidak, itu jelek!".
"Tidak?, bagaimana bisa?, itu jelas-jelas cocok untuk cucu keponakanku".
"Aku bilang tidak kan!".
".........."
Sementara keduanya sibuk berdebat, disisi lain Sofa, telihat Bibi Zhou dan Luke sedang duduk diam sambil meminum secangkir minuman sehat yang hangat.
Keduanya menatap pertunjukan lawakan garing antara Paman dan keponakan dengan wajah semi datar.
"Tuan Luke tidak ikut berdebat untuk memilih nama juga?". Tanya Bibi Zhou.
"Aku tidak", Luke dengan datar menjawab.
Mendengar jawaban pragmatis dari Luke, Bibi Zhou menatap pria dewasa disampingnya dengan tatapan menyelidik. Ketika Bibi Zhou mengira Luke tidak berniat berbicara, sebuah suara mulai menyebutkan satu-persatu nama-nama yang cantik.
"... Menurutku, Azelie, Vivica, dan Marbel terdengar lebih Oke".
__ADS_1
Bibi Zhou, ".......", Hei, tunggu. Tidakkah mereka terdengar seperti nama perempuan?.