Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya

Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya
Ian Fayrisi Tiba Di China


__ADS_3


...(Ilustrasi Ian Fayrisi)...


...----------+++++----------...


Dinggg---donggg-----


"Ya, tunggu sebentar".


Mendengar suara bel berbunyi, Ariel langsung meletakan buku yang sedang dia baca ke dalam rak.


Tanpa tergesa-gesa dia berjalan kearah pintu.


Ckleekk...


"Siapa ya...?".


Pintu apartemen terbuka, dan Ariel bisa melihat dengan jelas sosok orang yang berdiri di luar pintu.


"Hai!, lama tidak berjumpa My beautiful Lady~".


Orang yang berdiri di depan pintu adalah seorang pria tinggi dan ramping. Dia memiliki wajah setampan patung Dewa Yunani, dengan rambut pirang lurus yang bersinar seperti warna Matahari, mata hijau gelap seperti air danau, dan senyum hangat yang selalu menyertai wajahnya yang lembut


Pria itu adalah Ian Fayrisi, adik laki-laki dari Brianna Scarlet, sekaligus Paman Ariel.


Ariel sangat terkejut. Dia tidak menyangka Pamannya akan tiba di China dalam waktu yang begitu cepat. Dia pikir akan butuh waktu lama untuknya menyelesaikan perkerjaannya di Prancis, memesan tiket, dan tiba di China.


Keterkejutan Ariel segera digantikan dengan kebahagiaan. Senyum cerah mekar diwajah cantiknya. Dengan antusias dia menyapa balik pamannya.


"Lama tidak berjumpa, Paman Ian".


"Oh, sudah lama sekali aku tidak melihatmu My sweeat heart. Sekarang kamu sudah dewasa. Kamu tau, paman sangat merindukanmu. Jika kamu tidak meneleponku kemarin ku pikir kamu sudah melupakan pamanmu ini". Rajuk Ian dengan nada suara yang dia buat-buat sedih.


"Haha, mana mungkin aku bisa melupakan Pamanku yang tampan". Ariel tertawa kecil dengan candaan Ian.


"Aiyoo, benar-benar mulut yang manis. Nah, sebagai kompesasi, give your uncle a hug~".


Dengan kedua tangan terbuka lebar Ian menarik keponakan kecilnya ke dalam pelukannya. Kepala Ian dia letakkan bertumpu pada puncak rambut coklat Ariel, dan kedua tangannya melingkari tubuh munyil Ariel seperti Koala.


Di dalam pelukan pamannya, Ariel tanpa sadar tenggelam di dalam kehangatan keluarga yang dia pikir sudah lama hilang. Hatinya yang gelisah perlahan-lahan tenang, dan dia tidak merasa khwatir lagi.


Ariel dengan senang hati membalas pelukan itu. Dia juga berjinjit kecil, menyamai ketinggian Ian lalu memberi ciuman sayang di kedua pipinya.


"Maaf, paman. Seharusnya aku menghubungimu lebih awal, jadi semua hal yang menyebalkan ini tidak akan terjadi padaku".


Mendengar nada bersalah dari keponakan kecilnya, Ian menggelengkan kepalanya, dia berkata dengan nada tanpa keberatan, "Semua itu telah menjadi masa lalu, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Bagaimanapun juga yang harus kita pikirkan sekarang adalah masa depan. Kamu tidak boleh menilai masa depan dengan acuan masa lalu".


Ariel tersenyum masam, tapi dia tetap mengangguk paham "Hmn, kamu benar Paman".


"Bagus, jadi my sweet heart, do not be afraid. I will always be by your side".


Menenggelamkan wajahnya dibahu pamannya, Ariel diam-diam tersenyum lebar seperti anak kecil konyol yang baru mendapat permen favoritnya, "Sungguh, paman... terimakasih banyak".


Takk...


"Aww...", Ariel meringis pelan ketika merasakan dahinya disentil.


"Tidak ada kata 'Terimakasih' di dalam kamus keluarga kami, ingat?".


"Haha, oke, aku ingat...ah ya!, paman masuklah dulu, diluar sangat dingin ba".


"Hoho, tentu".


...----------+++++----------...



...(Ilustrasi Ruang Tamu Ariel)...


Ukuran ruang tamu di Apartemen Ariel tidak terlalu luas, namun juga tidak terlalu kecil.


Lantainya dilapisi dengan permadani yang tebal dan hangat, sofa bergaya Cabriole dipilih untuk membuat suasana ruangan lebih hidup, vas dan bunga Hydrangea pink yang masih segar diletakkan di atas meja, dan ada juga beberapa rak yang berisi buku novel dengan berbagai genre, seperti fantasy, Roman, dan horror.


Kesan seseorang setelah melihat ruang tamu Ariel adalah rasa takjub karena nuansanya yang nyaman dan indah, dengan nilai estetika dan seni yang tinggi, persis sama dengan pemiliknya sendiri.


"Aku sudah mengambil cuti satu tahun, jadi aku bisa sepenuhnya menemanimu sambil memantau perkembangan kandunganmu".


Setelah menghempaskan tubuhnya di sofa yang empuk, Ian mulai membuka topik pembicaraan.

__ADS_1


Dia telah melepas mantel coklat dan syal abu-abunya, hanya menyisakan kaos putih dan cardigan kream yang membalut tubuh bagian atasnya.


Ian menghela nafas lega takala merasakan pemanas mulai berkerja dan mengurangi hawa dingin yang melekat di tubuhnya.


Setelah meletakkan secangkir teh dandelion dia atas meja, Ariel juga mengambil tempat duduk di seberang sofa.


Mengambil cangkir teh miliknya, Ian mulai menyeruput pelan.


"Aku berpikir paman akan sibuk, bukankah September nanti akan diadakan Paris Fashion Week?, apa tidak ada Desainer yang ingin merekrut Paman sebagai model mereka?".


Menghirup aroma teh dandelion yang harum membuat syaraf Ian perlahan menjadi rileks. Alisnya yang tegang juga perlahan mengendur. Rasa lelahnya karena penerbangan panjang dari Paris ke China seperti telah tersapu bersih, yang tersisa hanya rasa kantuk dan tentunya sedikit rasa lapar.


Meletakan cangkir teh di atas meja, Ian menjawab dengan antusias pertanyaan dari keponakannya.


"Tentu saja, aku tidak akan melewatkan Semaine des Createurs du Mode. Jangan khawatir Sweetie~, Pamanmu ini pasti akan menyisihkan sedikit waktu untuk acara tersebut, tentunya tanpa melupakan untuk merawatmu".


"Sebenarnya tidak masalah, acara Fashion Show nya hanya seminggu kan?. Paman bisa pergi dengan tenang ke acara itu, dan biarkan saja perawat atau pengasuh yang mengurusku. Lagipula, ini tidak seperti Paman mau menonton dan membantuku disaat melahirkan kan?".


"Uhukk---!!", Ian terbatuk, hampir saja dia memuntahkan teh dimulutnya ke wajah Ariel.


Ian mendesah didalam hatinya: Keponakannya tidak pernah berubah, dia selalu mampu membuat orang yang dia ajak bicara tidak bisa berkata-kata, paling parah dia mungkin bisa membuat orang muntah darah karena termakan emosi sendiri.


"Tempramennya lembut dan anggun, namun kalimat yang keluar dari mulutnya sangat blak-blakan. Sifatnya agak mirip seperti Kak Scarlett", pikir Ian dengan sedikit nostalgia dihatinya ketika mengingat mendiang Saudari perempuannya.


"Ada apa Paman?, apa kamu baik-baik saja?".


Ian dengan santai melirik keponakan kecilnya, dan menjawab dengan suara 'Hmn' yang kecil.


Itu terjadi dalam sekejab, mata hijau zamrud Ian seketika memincing tajam, senyuman sehangat Malaikat diwajahnya kini telah digantikan dengan senyum jahat bak Setan.


"Nah, jangan berbicara tentang perkerjaanku lagi. Sekarang ayo kembali ke topik".


"...???", tanda tanya muncul di kepala Ariel


Ariel mengedipkan kedua matanya dan menatap Ian dengan senyum polos.


Dengan wajah tidak bersalah dia bertanya, "Hah?, apa?".


Ian sama sekali tidak terpengaruh dengan wajah polos dan tak bersalah yang dibuat-buat Ariel. Hatinya yang lembut sudah lama kebal dengan wajah memelas dan memohon seperti itu.


"Ceritakan semuanya, dari awal hingga akhir. Dan jangan coba-coba menutupi detail sekecil apapun. Juga beritau Paman mu ini penjelasan rinci tentang mantan suami basta*dmu itu".


Ariel, ".....Haha".


...----------+++++----------...


Dia tidak tau siapa dia, dimana dia berada, dan apa yang sedang dia lakukan.


Setiap langkah yang dia ambil, dan setiap jalan yang dia lalui, semuanya sama saja.


Gelap, kusam, dan suram.


Sejauh manapun matanya memandang hanya ada kegelapan yang pekat, keputusasaan tanpa akhir, dan rasa kesepian dan keheningan yang sangat menyiksa.


Dia tidak tau seberapa cepat waktu berlalu, dan sudah berapa lama dia berada ditempat ini.


Setiap saat pertanyaan yang sama selalu terngiang dikepalanya.


"Apakah aku bisa keluar dari sini?".


Tinggal ditempat ini tanpa bisa melihat apapun membuatnya merasa seperti orang buta.


Batas emosi dan moralnya juga diuji sedemikian rupa hingga dia perlahan menjadi lelah dan acuh tak acuh terhadap sekitarnya.


Dikurung di dalam sangkar kegelapan perlahan membuat kesadaranya mengikis tajam, hatinya yang semula acuh tak acuh mulai berfluktuasi dengan kebencian yang ekstrim.


Segala macam emosi yang kacau dan keinginan primitif untuk melawan, menaklukan, dan membantai mulai terpicu.


Bukannya mustahil untuk membuatnya bertransformasi menjadi gila seperti binatang buas jika terus menerus tinggal ditempat ini.


Dia selalu ingin keluar dari sini, dia sudah merasa lelah dan bosan.


Juga dia merasa sangat tidak nyaman tinggal ditempat ini.


Alasan ketidaknyamanan bukan karena dia takut, melainkan karena dia benci perasaan dikekang dan dikendalikan.


Dan alasan yang lain adalah karena dia tidak mau menjadi binatang buas, dia tidak ingin menjadi binatang buas yang jelek dan dibenci!.


Karena itulah dia sangat membutuhkan cahaya, cahaya yang bisa membawanya keluar dari keputusasaan ini.

__ADS_1


Dikegelapan tanpa akhir, perlahan-lahan muncul sosok bayangan seorang wanita cantik dengan gaun putih yang membalut tubuhnya.


Wanita itu memiliki rambut coklat panjang yang ikal, dengan warna mata sehijau permata zamrud, dan senyuman indah yang mekar diwajahnya yang putih dan cantik.


Wanita itu menatapnya dengan matanya yang bersinar seperti bintang, dia mengulurkan tangannya yang putih dan ramping kearahnya dan berbisik dengan suaranya yang manis.


Wanita cantik itu membuka bibir merah sakuranya.


"Apa yang kamu tunggu, Fu JiChen....".


Memiringkan kepalanya kesamping, wanita berambut coklat itu cekikilan sambil menatapnya dengan senyum main-main.


"Jangan hanya berdiam diri disana, kemarilah honey~".


"Kemarilah, dan..."


Dia terhenyak dengan panggilan itu, tanpa sadar dia pun mulai menggerakkan kakinya. Dengan tergesa-gesa dia berjalan kearahnya.


Semakin dekat, perlahan-lahan dia semakin dekat dengan wanita itu. Dan hanya butuh beberapa langkah lagi di bisa tiba didepan wanita itu, untuk menariknya kedalam pelukannya, dan memilikinya!.


Ketika kedua tangan mereka akan bertautan, sesuatu yang tidak terduga tiba-tiba terjadi.


Cahaya suci yang sangat terang tiba-tiba muncul dan menimpa tubuhnya.


Dia sangat terkejut, dan tanpa sadar mulai berteriak.


"Aaaaakkk---!!!"


Sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya, dia masih bisa mendengar kalimat terakhir yang diucapan wanita berambut coklat itu.


Wanita itu berkata kepadanya untuk...


"Bangunlah !!!".


...----------+++++----------...


"....Apa!!!".


Di dalam kegelapan bangsal Rumah sakit, sepasang mata hitam legam terbuka lebar dengan keterkejutan.


"Hahh...hahh..."


Pemilik sepasang mata hitam itu terengah-engah dengan nafas sesak dan ketidaknyamanan yang jelas tertulis diwajahnya.


Alis pria itu berkerut, seperti tengah menahan sesuatu yang memuakkan. Kedua tangannya mengepalkan selimut erat-erat, jelas sekali emosinya sangat terguncang.


Namun, tidak butuh waktu lama bagi pria itu menguasai emosinya dan mengendalikan tubuhnya.


Keterkejutan dimatanya langsung menghilang dan digantikan dengan kedinginan dan ketenangan yang acuh tak acuh.


"Hahh... mimpi yang sama lagi".


Pria itu mendesah panjang seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang rumit.


Sudah dua hari semenjak Fu JiChen terbangun dari komanya. Semenjak bangun dari koma hingga sekarang dia selalu terusik dengan kemunculan seorang wanita didalam mimpinya


Fu Jichen menatap kearah jendela dimana disuguhkan pemandangan bintang-bintang yang bersinar menghiasi langit malam.


"Siapa kamu?".


Dengan wajah yang nyaris datar, Fu JiChen bertanya dalam keheningan.


Hening...dan tidak ada yang menjawab tentunya.


Fu JiChen merasa sangat gelisah, dia tidak bisa menenangkan rasa penasaran dan keingintahuan yang sudah menjadi darah daging di hati dan jiwanya.


Tanpa jawaban yang dia inginkah, Fu JiChen merasa seolah-olah jiwanya hampa dan hatinya sakit.


Sejak terbangun dari koma dia selalu memikirkan wanita itu, sosok wanita cantik dengan rambut coklat ikal panjang dan mata hijau zamrud yang indah.


Wanita itu bagaikan Malaikat pembawa cahaya suci yang dikirim Tuhan untuk menghancurkan mimpi buruknya.


Fu JiChen masih ingat dengan jelas bagaimana ekspresi wanita itu ketika dia sedang tersenyum, tertawa, ataupun sedang cemberut.


Bagaimana dia menari dipadang bunga hanya untuknya, bernyanyi seperti burung kenari hanya untuk menghiburnya.


Dengan bebas dia mengulurkan tangannya, menggoncang tubuhnya dan menyuruhnya untuk bangun.


Tidak ada yang tau betapa Fu JiChen ingin sekali berjumpa dengan wanita itu, wanita yang bahkan tidak dia ketahui namanya, ataupun keberadaanya yang nyata atau tidak.

__ADS_1


Namun, tidak peduli apa, yang jelas hanya satu hal yang terpikir dikepala Fu JiChen.


"Aku merindukanmu, mencintaimu, dan ingin sekali berjumpa denganmu, wahai wanita cantik dengan mata seterang bintang-bintang".


__ADS_2