Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya

Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya
Makan Malam Yang Menyenangkan


__ADS_3


...-----+-----+-----+-----...


Angin musim semi bertiup kencang, rasanya benar-benar nyaman dan melegakan. Meskipun pemandangan di luar adalah hiruk-pikuk perkotaan yang padat dan ramai, namun itu tidak mengganggu Ariel yang saat ini memiliki suasana hati yang baik.


Dengan Ponsel yang ditempel di telinganya dan seorang anak kecil ditangan satunya, Ariel berjalan perlahan dibawah mata penasaran para Turis yang keluar dari Bandara.


"Ya, aku dan Izekiel baru saja sampai. Oke, kami akan segera kesana".


"Bagaimana dengan Paman?".


"Baiklah, tidak masalah. Maaf merepotkanmu".


Ariel meletakan kembali ponselnya kedalam tas, Izekiel yang bersandar pada pundak ibunya menatap ibunya dengan tatapan rasa ingin tau.


"Bu, kapan kita bisa bertemu dengan Paman Ian?". Suara bayi yang imut dan manis seperti madu menginterupsi Ariel yang sedang fokus berjalan sambil menghindari arus banyak orang.


"Segera sayang, Paman Luke akan menjemput kita didepan, dan dia akan membawa kita menemui Paman Ian".


"Benarkah?", Mata hijau bulat Izekiel menatap ibunya dengan tatapan semangat dan antisipasi. Senyuman manis menghiasi wajah kecilnya, terlihat jelas dia sangat menantikan reunian dengan Pamannya.


"Ya, sayang~", Ariel mengecup pipi gendutnya, dan Izekiel tertawa karena merasa geli.


Kaki Ariel yang panjang dan langsing memudahkannya untuk berjalan cepat, hanya butuh waktu beberapa menit untuknya sampai ditempat Parkir kendaraan.


"Bu, lihat!, itu Paman Luke!".


Ariel menunduk, dia menatap bayinya dengan kepala miring, tatapan matanya lalu mengikuti arah yang Izekiel tunjuk.


Disana Ariel bisa melihat sosok pria berperawakan tinggi dan kekar sedang bersandar pada Pintu Mobil Hammer Hitam.


Pria itu sangat tampan, ketampananya berbeda dari pria Asia, itu lebih seperti pria Kaukasia yang bewajah tajam.


Mungkin itu daya tarik pria asing, pesonanya yang tajam membuat para wanita yang lewat didepannya tidak bisa tidak berhenti sejenak untuk meliriknya.


Ariel mengenal pria itu, dan sangat familiar dengannya. Sejak Pamannya Ian, memperkenalkan status pasangan mereka, pria itu telah diangkat sepenuhnya menjadi anggota keluarga mereka.


---Pria tampan itu adalah Luke Vinson, Asisten sekaligus Pacar Paman Ian.


Luke yang bermata tajam menyadari ada dua pasang mata yang sedang menatapnya. Dia ingin mengabaikan tatapan itu karena dia pikir itu hanya tatapan dari orang biasa. Namun, setelah mendengar suara celotehan anak kecil yang renyah dan manis, dia baru tersadar jika tatapan itu berasal dari orang yang sedang dia tunggu sedari tadi.


"Paman!, Paman Luke~".


Mendengar namanya dipanggil, Luke segera menoleh ke asal suara tersebut. Dan benar saja, dari arah lain menuju arus utama jalan, ada seorang wanita dewasa yang mempesona sedang berjalan menuju kearahnya.


Wanita itu memiliki wajah yang sangat cantik. Kulitnya lembut dan seputih salju, matanya berwana unik- hijau Giok yang langka, bibirnya merah merona seperti Sakura, gaya rambutnya juga sangat menyegarkan, panjang bergelombang dengan warna Caramel, dan senyumnya seperti Femme Fatale yang memiliki pesonanya yang mematikan dan tak tertahankan.


Pakaian fashion ternama membalut tubuhnya yang tinggi dan semampai, meskipun gaya pakaiannya cukup sederhana, namun itu tidak bisa menutupi lekukan tubuhnya yang sempurna.


Bertemu keponakan dari kekasihnya setelah sekian lama berpisah, Luke hampir berpikir dia salah mengenali orang. Jangan salahkan pikirannya, itu dapat dimaklumi, karena semenjak dia pindah dan tinggal bersama Ian di Apartemen Ariel, Luke hanya menyaksikan sosok Ariel yang berpakaian feminim dan sederhana namun elegan, sangat jauh berbeda dengan dirinya yang sekarang, yang lebih terlihat dewasa dan glamor.


Cantik, kuat, menggoda, dan sangat berbahaya.


Itulah deskripsi yang cocok untuk Ariel saat ini.


"Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?". Ariel mendekati Luke dan menyapanya dengan penuh hangat.


"Ya, lama tidak berjumpa. Ngomong-ngomong aku baik-baik saja", Luke membalas sapaan Ariel. Pada saat itu dia menunduk dan menatap anak kecil dalam dekapan Ariel.

__ADS_1


"Halo, Izekiel. Bagaimana kabarmu?".


"Hai, Paman!. Kabar ku baik", Izekiel melambaikan tangan kecilnya, dengan mata berkobar dia menatap Luke dengan kekaguman.


"Paman, apakah kamu membawanya?, kamu sudah berjanji padaku di Telepon".


"Aku membawanya, aku tidak berbohong, lihat ini..."


Ariel dengan sebelah alisnya yang terangkat menyaksikan interaksi Putranya dan Luke dengan rasa ingin tau.


Dibawah pengawasan mata Ariel yang tajam, Luke merogoh saku mantelnya yang lebar, dalam diam dia mengeluarkan kotak sedang yang cukup familiar entah kenapa.


"Debauve and Gallais Le Livre", Luke menyerahkan kotak itu ke Izekiel. "Ini coklat yang Paman janjikan padamu".



...(Kotak coklatnya seperti ini)...


"Horee!", Izekiel berseru senang. Dia tampak sangat bahagia. Senyum manis dan sumringah terlukis diwajah imutnya. Namun, itu hanya sementara. Karena senyumnya sedikit tersendat ketika matanya bertemu dengan tatapan penuh makna dari ibunya.


---Beberapa menit kemudian---


Tatapan memelas dan menyedihkan Putranya tidak menghentikan Ariel untuk memasukan sekotak coklat kedalam ceruk tasnya yang paling dalam.


Ariel dengan penuh perhatian berkata, "Untuk mencegah gigimu berlubang lagi, ibu akan menyita Coklatmu dulu".


Izekiel, "........QAQ"


Luke, "........."


...-----+++-----...


Haicheng, sebuah kota dimana seluruh serangkai peristiwa absurd dalam hidupnya terjadi. Kota yang berisi kenangan selama satu tahun lebih menjadi Istri dari Pria terkaya di Kota ini.


Untuk beberapa saat Ariel mulai bertanya-tanya.


Bagaimana kabar mantan suaminya?.


Apa dia masih amnesia?, apa dia sudah menikah?.


Sudah bertahun-tahun lamanya mereka berpisah, seharusnya dia tidak akan terusik dengan kepergiannya kan?.


Bahkan jika ingatannya telah kembali, dengan sikapnya yang acuh tak acuh dan tempramenya yang dingin dan membosankan, seharusnya dia tidak akan mau repot-repot perduli mencarinya, istrinya yang telah bercerai tanpa alasan.


Ariel menatap pemandangan hiruk-pikuk Perkotaan dari jendela mobil. Izekiel yang tertidur pulas disampingnya mulai mendengkur, Ariel langsung menepuk-nepuk perutnya tanpa mengalihkan perhatian dari jendela. Baru ketika Luke yang sedang menyetir mobil membuka mulutnya, Ariel tersadar dari lamunan panjangnya.


"Ian masih Syuting Film saat ini, menunggunya mungkin akan sangat lama, lebih baik beristirahat sejenak di Apartemen ku".


"Ya, tidak masalah. Untuk beberapa hari kedepan aku dan Putraku akan merepotkanmu, Pak Asisten", Ariel berkata dengan nada sedikit bercanda diakhir.


Luke tidak menjawab, hanya sudut bibirnya yang sedikit terangkat.


Hummer hitam dengan mulus berjalan ditengah-tengah keramaian Kota.


...-----+----+-----+-----...


Baru saat sore harinya Ian kembali dari Lokasi Syutingnya.


"Oh, Pangeran kecilku~, apa kamu merindukan Paman?".

__ADS_1


Setelah memasuki ruangan Ian langsung melompat dan memeluk Izekiel, tanpa terkecuali dia mengabaikan keberadaan Beruang coklat besar yang tengah membuka tangannya lebar-lebar, menunggu pelukan.


"Paman, aku sangat merindukanmu!".


"Paman juga sayang~".


".........", Luke yang dilupakan disudut.


"Pffff----", Ariel tidak bisa menahan tawa dengan perilaku dramatis Paman dan cucu keponakannya.


Ariel menatap jam, rupanya sudah masuk waktu makan malam.


"Apa ada bahan masakan di dapur?", tanya Ariel tiba-tiba.


"Ya, ada", jawab Luke. "Setiap hari ada Bibi pengasuh yang mengganti dan mengisi bahan makanan di dapur".


Ariel berjalan ke arah Dapur, dia mengambil celemek yang digantung didinding dan perlahan mulai memakainya. "Aku lapar, apa kalian lapar?. Mau masakan Barat atau China?".


Izekiel lebih menyukai masakan Lokal, jadi tentunya dia lebih memilih masakan Cina, "Bu, aku mau masakan Cina".


"Chinese food is better~". Ian adalah orang Barat, namun dia sudah lama bosan makan masakan barat. Lidahnya sudah mati rasa mencicipi Stick dan Roti setiap hari.


"Masakan Cina, terimakasih". Sedangkan untuk Luke, semenjak tinggal dengan Ian di Cina dia sudah lama jatuh cinta dengan cita rasa masakan Cina yang otentik.


Ariel membuka Kulkas dan mengeluarkan semua bahan-bahan yang dia butuhkan. Tanpa berbalik dia berkata, "Oke, tunggu saja, malam ini Perut kita akan berpesta ria".


Malam ini Ariel memasak Hot Pot dengan wajan besar, sepotong ayam Kung Pao, Dim Sum, dan nasi Hainan.


Ketika semua makanan telah ditata dengan rapih diatas meja, ketiga pria yang terdiri dari satu anak kecil dan dua pria dewasa tidak bisa menahan air liur yang mengalir disudut mulut mereka.


Ariel melepas celemeknya lalu melakukan gerakan sederhana untuk meregangkan pinggangnya.


"Apa yang kalian tunggu, cepat makan!".


"Baik, Bu!".


"Oke~".


"...Selamat makan".


Mereka bertiga dengan antusias mulai mencicipi satu persatu hidangan diatas meja. Baru sampai semua hidangan diatas piring habis dan wajan berisi Hot Pot kosong tanpa menyisakan setetes kuah pun, barulah makan malam yang memuaskan dinyatakan berakhir.


Ariel meletakan sumpitnya, dengan puas dia menatap tiga pria yang bersendawa dengan perut buncit didepannya.


"Sungguh, makan malam yang menyenangkan". Ucapnya didalam hati.


...-----+-----+-----+-----...


Disebuah Restoran Perancis, Fu Jichen duduk dengan sikap anggun sambil menikmati hidangan mewah karya Koki ternama.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia mulai memotong stick dengan pisau dan memakannya potongan demi potongan kedalam mulutnya.


Baru setengah kenyang dia mulai meletakan peralatan makannya.


"Sungguh, makan malam yang membosankan".


Lampu gantung Kristal menyoroti wajah tampannya yang dingin seperti es.


Matanya gelap dan suram, tanpa emosi ekstra, hanya ada dekadensi dan kebosanan.

__ADS_1


...-----+-----+-----+-----...


__ADS_2