
...(Ilustrasi Rumah Kediaman Feng)...
...----------+++++----------...
Bibir merah Ariel mengulas senyum tipis, terlihat jelas jika suasana hatinya saat ini sedang baik.
Dua kalimat yang diutarakan ayahnya, yaitu "Ayah minta maaf" dan "Ayah sangat menyesal", berhasil meluluhkan sedikit keluhan yang selama ini dia simpan di hatinya.
Walaupun sejujurnya bagi Ariel ungkapan maaf dari ayahnya tidaklah cukup, namun itu lebih baik daripada tutup mulut tentang peristiwa masa lalu.
Di ruang belajar, Ayah dan anak perempuan duduk saling berhadapan, mereka berbicara dan berbincang dengan hangat, sambil mengenang peristiwa masa lalu, sesekali juga membahas beberapa keluhan lama.
"Jadi intinya adalah aku tidak diculik ataupun menghilang ayah, hanya....sesuatu yang tidak terduga telah terjadi padaku".
"Sesuatu yang tidak terduga?".
Mendengar ucapan Putrinya, Feng Shang mengerutkan keningnya, "Hal buruk apa yang telah terjadi padamu nak?, katakanlah, ayah pasti akan memberimu keadilan!".
Feng Shang mengambil tangan Putrinya, dan menggenggamnya erat-erat, seolah-olah ingin menyakinkan dan menenangkannya.
"Sebenarnya, dari pada mengatakan aku diculik ataupun menghilang, itu tidaklah benar, tapi...", Ariel berkata dengan nada pelan, nyaris berbisik.
"... Lebih tepatnya, yang terjadi padaku saat itu adalah sebuah kecelakaan, ya kecelakaan yang absurd".
Untuk menenangkan Ayahnya yang termakan cemas dan frustasi karena tidak bisa menemukan keberadaannya selama setahun belakangan ini, Ariel akhinya memutuskan untuk menjelaskan secara rinci tentang apa yang terjadi padanya setahun lalu.
Feng Shang dengan tenang mendengarkan cerita putrinya, sesekali pria tua itu akan mengerutkan keningnya, atau menyela dengan makian marah dan seruan terkejut.
"Pasti sangat sulit untukmu, Ariel. Maafkan ayah nak, tolong... jangan pergi lagi dan tetaplah tinggal disini, rumah ini juga masihlah rumahmu".
Ariel menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak, rumah tanpa ibu bukanlah rumahku lagi". Ucap Ariel dingin, mata hijau zamrud bersinar dengan cahaya gelap.
"Rumah ini, bukanlah lagi rumah yang kukenal".
"Tempat ini memiliki banyak kenangan berharga tentang ibu, namun semua kenangan itu kini telah hilang. Ayah, bahkan tidak ada satupun foto ibu yang tersisa dipajang didinding rumah. Hanya ada foto kamu dan keluarga baru mu. Setiap kali aku melihat bingkai-bingkai foto itu aku merasa sangat asing".
"Ahh... itu". Feng Shang terdiam tak bisa berkata-kata.
Mendengar ucapan dingin, tegas, dan terasing dari Putrinya, Feng Shang akhirnya tidak bisa menahan air matanya, dan mulai menangis lagi.
Hati Feng Shang menjerit kesakitan, dia ingin sekali menjelaskan kepada putrinya, tapi sayangnya mulutnya tidak bisa merangkai kata-kata apapun. Dia pun hanya bisa meringis dan menjerit didalam hatinya.
"Oh, Putriku, bukan karena ayahmu ini tidak mau memajang foto mendiang ibu mu. Hanya saja ayahmu ini... terlalu tidak berguna", batin Feng Shang meringis kesakitan.
Feng Shang yang telah menjadi ayah selama lebih dari lima belas tahun lamanya akhirnya tersadar. Sekarang dia tau, jika dimata Putrinya, ataupun dimata mendiang istrinya di surga, dia dianggap telah gagal total mengemban tugasnya sebagai seorang ayah.
...----------+++++----------...
Melihat tumpukan baju indah, kotak perhiasan, dan aksesoris cantik dan glamor yang menumpuk di depannya, membuat mata Lu Yao terasa menyilaukan hingga pedih. Hatinya merasa masam memikirkan semua barang ini akan dibawa pergi oleh Ariel.
Awalnya, Lu Yao berpikir setelah menikah dengan suaminya, Feng Shang, dia bisa mengambil alih semua properti dan barang-barang berharga milik mendiang Istri suaminya, Brianna, dan menyimpannya sebagai miliknya sendiri.
Sebelum Ariel beranjak dewasa, semua barang-barang itu ditahan dengan kuat di tangan Lu Yao. Dia mengajukan diri menyimpan semua properti itu dengan alasan jika Ariel masih muda dan belum bisa menjaga diri.
Lu Yao berpikir, bahkan jika Ariel sudah cukup umur, tapi selama dia tetap menghilang dan tidak pernah kembali lagi, maka semua barang-barang dan properti ini akan menjadi miliknya dan putrinya.
Seharusnya seperti itu, tapi siapa yang akan menyangka, satu-satunya Putri Brianna Scarlett, Ariel Scarlett, tiba-tiba muncul dan bertindak tegas mengambil semua barang-barang dan property sekaligus.
Memikirkan semua barang berharga dengan nilai ratusan juta, Lu Yao tidak bisa menahan rasa masam dan keinginan tamak untuk mengambil semua barang-barang itu.
Tapi...dia tidak berani memulai. Dia takut, jika dia telihat mengingini properti milik Brianna, Suaminya akan jijik dan menganggapnya wanita yang rakus.
__ADS_1
Bisa-bisa citranya sebagai ibu yang baik hati dan penyayang akan runtuh di depan suaminya. Akan sangat buruk jika Feng Shang mengetahui wajah aslinya, dia bisa saja diceraikan, Lu Yao sama sekali tidak berani mengambil resiko.
Di samping Lu Yao, ekspresi wajah Feng Nian juga sama jelek.
Hatinya terasa gatal melihat semua gaun-gaun cantik yang sedang dikemas dan akan dibawa pergi oleh Ariel. Iri dan dengki tercetak jelas diwajahnya.
Feng Nian berpikir, "Jika saja Ariel tidak pernah kembali, semua gaun-gaun ini akan menjadi miliku!"
Kenapa?!, kenapa si ****** Ariel itu harus muncul lagi dirumah ini?!!, seharusnya dia mati saja di rumah pelacuran itu!. Ya, seharusnya dia mati saja!.
Ibu dan anak perempuan sama-sama menggertakan giginya menahan kebencian dan iri di hati mereka. Mereka berdua ingin bertindak, dan melakukan beberapa skema lagi, namun sayangnya mereka ditakdirkan untuk tidak akan mendapatkan apa-apa hari ini.
Pada akhirnya, semua barang-barang yang ingin mereka renggut telah diangkut kedalam mobil truk pemindah barang. Sopir truk dan beberapa pelayan dan tukang yang disewa untuk mengangkat barang sedang menunggu dihalaman depan. Mereka sudah menyelesaikan setengah tugasnya. Setelah ini mereka hanya perlu menunggu Nona muda Ariel dan mengantarnya pindah.
...----------+++++----------...
"Aku sudah menjelaskan semuanya, jadi aku akan pergi dulu".
Ariel berdiri, dia merapihkan pakaian dan roknya yang kusut, setelah itu mengambil tas selempangnya dan menyampirkannya dengan santai di atas pundaknya.
Feng Shang berdiri, dia bertanya dengan gugup, "Kemana kamu akan pergi, nak?, apa kamu memiliki tempat untuk tinggal?".
"Ada", jawab Ariel, dia lalu melanjutkan dengan nada ucapan yang menenangkan, "Jangan khawatir ayah, aku akan tinggal di Apartemen milik ibu".
Setelah mengucapkan perpisahan singkat, Ariel langsung berbalik dan berjalan menuju pintu.
Baang-------
Pintu dibanting tertutup, menghalau cahaya terang dan kebisingan dari luar memasuki ruang belajar.
Hanya ada bayangan suram yang tersisa di dalam ruang belajar.
Duduk di sofa adalah seorang ayah tua yang sudah rentan dan tidak berdaya.
Ayah tua itu mencengkram kepalanya yang sakit, mengerang dan terpuruk dalam kesedihan.
...----------+++++----------...
Semua barang-barang yang ingin dikemas telah dikemas, pelayan yang Ariel sewa untuk merapihkan dan mengangkut barang telah melakukan perkerjaan sangat cepat dan baik.
Ariel berpikir, dia mungkin harus memberi uang bonus untuk sopir dan pelayan itu. Anggaplah bonus itu sebagai ucapan terimakasih karena sudah berdedikasi membantunya mengangkut banyak barang ditengah malam begini.
Melihat Ariel turun dari lantai dua, dan berjalan tanpa sepatah kata melewati mereka, Lu Yao dan Feng Nian tidak bisa tidak merasa kesal.
Lu Yao dan Feng Nian tidak berani memprovokasi Ariel, karena itulah mereka tidak mengambil inisiatif mendekat ataupun berbicara dengannya. Sepasang Ibu dan Anak tiri hanya bisa menatap punggung Ariel yang berjalan pergi dengan tatapan bengis seperti Hyena tamak yang kelaparan.
Ariel sendiri juga tidak mau repot-repot peduli dengan Lu Yao dan Feng Nian. Tindakannya kali ini seharusnya sudah cukup untuk mengajari mereka berdua pelajaran berharga agar tidak berkhayal memiliki barang milik orang lain.
Ariel tidak akan gegabah untuk melaksanakan rencana balas dendamnya. Dia akan menunggu waktu yang tepat untuk membuat mereka berdua membayar kembali semua perbuatan mereka padanya berkali lipat.
Jika Ibu dan anak tiri ****** itu tidak kapok dan menyerah juga, maka Ariel tidak akan ragu-ragu menggunakan tangannya (kekerasan) untuk berbicara.
Keluar dari Rumah Feng, Ariel lekas berjalan menuju truk pengangkut barang, dia membuka pintu mobil depan dan masuk ke dalam.
"Nona, apa semua sudah beres?", Tanya sopir Lin dengan sopan.
"Ya, mulailah berkendara". Ariel tersenyum, dia menggangguk.
"Oke, baik Nona!".
...----------+++++----------...
Hangzhou adalah kota yang terletak di barat laut provinsi Zhejiang, di ujung selatan dari Grand Canal, menuju ke Beijing.
__ADS_1
Karena Hangzhou sekarang tengah memasuki musim dingin, cuacanya perlahan menjadi lebih ekstrim, ditambah dengan angin kencang, hujan, dan sedikit awan dan kabut.
Setelah meninggalkan Haicheng, Ariel segera memesan tiket pesawat menuju kampung halamannya, kota Hangzhou.
Alasan mengapa Ariel memilih pulang ke Hangzhou bukan karena dia ingin kembali ke kediaman Feng, tapi karena salah satu apartemen yang ditinggalkan ibunya ada di Hangzhou.
Dan Ariel berniat tinggal disana untuk bersantai dan menghabiskan uangnya yang sekarang nominalnya tidak terbatas.
Kota Hangzhou, Distrik Jianggang 18F, Jl. Xinye, Ascott Raffles City.
Ruang Apartemen yang akan ditepati Ariel ada di unit 5, lantai 7, dengan nomor ruang 676.
Ariel berjalan perlahan menyusuri lorong, dia menatap dengan cermat nomor yang tertera di setiap pintu.
"674...675...dan 676...Ah!, disini!".
Setelah menemukan ruangannya, Ariel berseru dengan antusias.
Tanpa basa-basi dia pun mulai memasukkan kode, kode yang dia masukkan cocok dengan pengaturan system keamanan, dan pintu apartemen pun terbuka tanpa masalah.
"Semuanya, silakan bawa masuk barang-barangnya!".
Dua pelayan, dan tiga tukang pengangkut barang berseru serentak, "Yaa!!!".
"Letakkan saja semua kotak di pojok sana dan susun yang rapih!".
Salah satu pelayan membuka mulutnya dan bertanya, "Nona, apa kami perlu membantumu mengeluarkan isinya untuk merapihkannya?".
Ariel menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak perlu. Ini sudah sangat larut. Besok aku akan merapihkan barang-barangku sendiri. Untuk sekarang...mari semuanya berhenti berkerja dan kita makan terlebih dahulu!, aku sudah memesan Pizza, hari ini aku yang traktir!".
"Yeeeyyy!!!".
"Hidup Nona!!!".
"Welcome to your new house!!!".
"Hahahaha..."
Dengan begitu, Ariel menghabiskan sisa jam malamnya menghabiskan lima box pizza bersama para tukang dan pelayan.
Suasana menjadi sangat hidup di ruangan itu, meskipun ruangannya sedikit berantakan, dan banyak barang-barang masih bertumpuk disana sini, namun itu tidak mengurangi kebahagiaan semua orang setelah melepas penat mereka.
Sejam kemudian, semua orang puas dan bersiap untuk kembali. Sebelum tukang dan pelayan pergi, Ariel tidak lupa memberi mereka uang bonus, yang tentunya dibalas dengan pujian murah hari dari mereka semua.
"Selamat tinggal, terimakasih atas kerja kerasnya hari ini!". Ariel mengucapkan terimakasih, dan melambai sebagai salam perpisahan.
Salah satu tukang menjawab dengan antusias.
"Tidak masalah, nona!".
"Tolong berhati-hati!".
"Jangan lupa aktifkan kunci pengamanmu Nona!"
Menanggapi salam dan nasihat mereka, Ariel tersenyum lembut.
"Meskipun mereka hanyalah sekelompok orang yang baru ku kenal, namun sikap mereka sangat baik. Bukanlah hal yang buruk menghabiskan sedikit waktu bersama orang-orang dengan hati tulus seperti mereka".
Ariel berkata dengan seringai kecil di wajahnya.
"Terkadang, seseorang yang baru saja singgah di hidupmu akan membawa kenyamanan yang singkat, namun hangat dan berarti dihidupmu. Namun, seseorang yang telah lama kamu kenal hanya akan membawa kedinginan dan rasa sakit tak beralasan untukmu".
Ariel tertawa mencela, "Hahaha...takdir dan pengaturan dunia ini sangat rumit yah".
__ADS_1
Ariel menutup pintu, tidak lupa dia juga mengaktifkan kunci pengaman, setelah yakin pengaman sudah aktif dia pun langsung berjalan memasuki ruangan Apartemennya.
"Baiklah, mulai sekarang Apartemen ini akan menjadi rumah baruku!".