
...(Ilustrasi kamar Ariel (✿❛◡❛)...
...----------+++++----------...
"Ughhh, perutku terasa tidak enak...".
Ariel dengan letih membuka kedua matanya. Tanganya meraba-raba sebentar dan merasakan kasurnya yang empuk dan datar, dengan malas dia bergerak untuk bangun dan menemukan posisi yang nyaman untuk duduk.
Piyama yang dia kenakan sudah acak-acakkan dan tergelincir, memperlihatkan bahu putih dan klavikula yang indah.
Tubuh Ariel basah karena keringat dingin, saking banyaknya keringat yang dia keluarkan bahkan membuat kasurnya menjadi sedikit. lembab.
Kondisi dan penampilan Ariel saat ini bisa dikatakan sangat tidak baik dan tidak terawat. Normalnya untuk orang yang mencintai kebersihan dan kecantikan seperti Ariel kondisi tubuhnya saat ini akan menjadi sangat tidak tertahankan untuknya.
Alih-alih peduli dengan penampilannya saat ini Ariel justru lebih peduli dengan rasa sakit dan kebas di perutnya.
Sambil menyentuh perutnya yang terasa tidak nyaman, Ariel melirik sekilas jam weker di atas meja nakas. Jarum pendek jam menunjuk tepat di angka 10.45, yang menandakan sudah siang hari.
Cahaya matahari samar-samar merambat masuk melewati celah tirai jendela, cahayanya begitu silau sampai-sampai tidak terasa nyaman jika mengenai mata.
Ariel merasa terganggu dengan cahaya itu.
Ariel berniat bangun untuk menutup tirai jendela agar cahaya dapat terhalau. Dia bangun perlahan dan mulai berjalan menuju jendela.
Saat itu baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba saja rasa mual yang teramat sangat menyerang dan mengaduk-aduk isi perutnya!.
"Ugghh, weeekkk------!!!"
Ariel membekap mulutnya rapat-rapat, dengan perasaan campur aduk dan ketidakberdayaan dia memaksa tubuhnya yang letih dengan sempoyongan berlari menuju kamar mandi.
Banggg----!!!
Tanpa menahan diri Ariel membuka pintu kamar mandi dengan bantingan keras.
Ariel bergerak dengan susah payah menuju wastafel, dengan kedua tangan yang menopang tubuhnya Ariel menunduk, dengan sekali gerakan dia langsung memuntahkan semua cairan kental yang tidak tertahankan dari mulutnya.
"Weeekkk----Ughh---Wekkk----!!!".
Tiga puluh detik kemudian, Ariel selesai memuntahkan semua cairan dimulutnya, dia membersihkan sisa-sisa residu di mulutnya dan mulai berkumur dan membilas lagi.
"Hahh...ya ampun. Ada apa denganku?, kenapa tiba-tiba...?".
Ariel menatap pantulan dirinya di cermin dengan syok.
Wajahnya dicermin terlihat sangat pucat, warnanya kulitnya bahkan terlihat jauh lebih putih dari pada setelah memakai make up. Piyama biru yang semalam ia kenakan sekarang acak-acakkan, rambut coklat panjang sepinggangnya tersebar tidak beraturan di punggung dan bahunya. Model rambutnya saat ini telihat seperti rambut Singa setelah bangun tidur.
Singkatnya, penampilannya saat ini terlihat sangat kacau.
Ariel mengeryit, dia merasa bingung dengan kondisi tubuhnya yang tiba-tiba memburuk. Dia bertanya-tanya, apakah dirinya sakit?. Mungkin saja ia, tapi Ariel tidak tau apa penyebab muntahnya.
"Seharusnya itu bukan karena aku makan terlalu banyak Pizza tadi malam kan?". Ariel bertanya bingung.
Dia pun mulai melakukan pemeriksaan tubuh sederhana, seperti menyentuh keningnya untuk memeriksa suhu dan menjulurkan lidahnya untuk melihat apakah warnanya normal.
Dan hasilnya baik-baik saja, dan dia tidak sakit.
Jelas penyebab mual dan muntahnya bukan karena demam, batuk, ataupun pilek.
__ADS_1
"Lalu apa penyebabnya?".
Ariel menunduk, tangannya mencoba menekan titik-titik tertentu diperutnya. Dia ingin memijat pelan perutnya untuk menghilangkan rasa sakitnya, namun alih-alih menjadi lebih baik, kondisinya malah menjadi lebih tak terkendali.
Alis Ariel langsung berkerut takala rasa mual yang sebelumnya telah reda mulai bergejolak lagi.
Alhasil, Ariel kembali menunduk, dan kembali muntah lagi.
"Weeekkk----!!!"
Disiang hari yang tidak terlalu panas maupun dingin namun sejuk ini, Ariel ditakdirkan untuk menghabiskan waktunya terikat kuat dengan kamar mandi.
Bagaimanapun juga Ariel harus berjuang memuntahkan semua isi perutnya yang tidak ada habisnya itu. Sesi muntah yang panjang akan menguras banyak energinya, setelah ini Ariel pastinya akan sangat kelelahan.
Barulah, setelah setengah jam kemudian Ariel keluar dari kamar mandi.
Kali ini wajah jauh lebih pucat dari sebelumnya.
"Mungkin aku tidak ingat, tapi sepertinya aku telah memakan sesuatu yang salah kemarin".
Membuka lemari, Ariel dengan asal-asalan mengambil sweater putih, legging hitam, dan mantel. Dengan gerakan cepat dia mulai memakai satu-persatu pakaian musim dinginnya.
"Tidak ada jalan lain, lebih baik aku ke dokter saja untuk melakukan cek dari pada harus muntah terus seperti ini, Ugghh....perutku mual lagi!, ah sial!".
Selesai mengikat syal merah dilehernya, mengambil ponsel, dan dompet, Ariel langsung bergegas keluar Apartemennya.
...----------+++++----------...
"Sebenarnya aku telah menikah, namun sekarang aku telah bercerai".
"Apa??!!". Feng Shang terkejut bukan main ketika mendengar ucapan Putrinya.
"Tapi nak, tidakkah kamu merasa dirugikan karena menikah dengan orang asing yang tidak dikenal?", Feng Shang tidak bisa tidak bertanya dengan sedih.
Ariel tersenyum kecil, dia berkata tanpa sedikitpun keluhan, "Tidak masalah. Mantan suamiku adalah orang yang dapat dipercaya dan mantan Ibu mertuaku juga orang yang baik. Aku tidak dirugikan sama sekali dan mereka juga sudah memberiku banyak kompesansi".
"Hahh...". Feng Shang menghela nafas gusar, dia ingin mengatakan sepatah kata lagi tapi segera berhenti ketika melihat ketenangan yang sangat tidak ilmiah diwajah putrinya.
Feng Shang termangu sejenak, dia mengernyitkan dahinya seperti telah mengingat sesuatu yang hampir terlupakan.
"Ah benar, Ayah hampir lupa. Nak, siapa nama mantan suamimu itu?".
Bola mata hijau zamrud Feng Hua sedikit berputar, dan senyum diwajahnya yang cantik menjadi lebih cerah.
"Namanya JiChen", dia lalu melanjutkan, "Mantan suamiku adalah Fu JiChen".
"Hah....", Menghela nafas berat, Feng Shang bersandar dengan lemas di sofa.
Sejenak dia tiba-tiba teringat kembali percakapannya dengan Putrinya kemarin.
Kemunculan tiba-tiba Putrinya sangat mengejutkannya, dia sangat senang sampai-sampai ingin menitihkan air mata, namun dia juga sangat marah dan frustasi dengan apa yang telah dialami Putrinya ketika dia berada di luar rumah.
Sebelumnya, Putrinya berkata jika dia tidak menghilang secara sengaja ataupun diculik, tapi mengalami sedikit kecelakaan.
Tapi Feng Shang tidak berpikir yang terjadi pada Putrinya adalah sebuah kecelakaan semata, dia curiga itu sebenarnya adalah jebakkan yang di buat seseorang. Dari ketika Putrinya bertengkar dengannya, lalu kabur dari rumah, memesan tiket ke Haicheng, dan menghilang sesudahnya, semua itu terlalu rapih dan tanpa cela.
Jika dipikir-pikir, ada banyak celah dalam semua peristiwa itu.
"Mungkin aku harus memeriksanya".
__ADS_1
"Putriku sendiri mengalami kesulitan di luar sana, tapi aku sebagai ayah tidak tau apapun, betapa tidak bergunanya aku!".
Feng Shang tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri, hatinya merasa sedih, dan tanpa tau kapan dia telah jatuh kedalam renungan rasa bersalah lagi.
Sementara itu, dikamar Feng Nian, dia dan ibunya tengah berkumpul sambil membicarakan masalah penting yang sangat mendesak.
Feng Nian duduk sambil meremas jari jemarinya, wajahnya penuh dengan tampilan gelisah. Dia diam-diam menatap Ibunya yang sedang duduk termangu di kasur, menunggu keputusan ibunya.
Namun, setelah beberapa saat, Lu Yao masih belum angkat bicara. Feng Nian tidak tahan lagi dan akhirnya membuka mulutnya untuk bertanya.
"Bu, apa kamu sudah menemukan jalan keluarnya?. Apa yang harus kita lakukan?, Ariel itu tiba-tiba kembali ke rumah dalam keadaan selamat, semua rencana kita telah gagal total!".
Sambil mendesah, Lu Yao menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tau".
Semua yang telah terjadi sudah diluar ekspektasinya. Lu Yao awalnya berpikir setelah Ariel menghilang dari rumah Feng dia dan Putrinya dapat berdiri dengan kokoh sebagai Nyonya Feng dan Putri sah di rumah ini.
Dari awal dia memulai rencana ini, Lu Yao tidak pernah berpikir dia akan gagal. Lagipula rencana ini telah dia buat sebelum dia menjadi Nyonya Feng, semua sudah diatur dengan baik, dan orang yang mengatur dibelakang layar juga memiliki pemahaman yang jelas tentang rencana ini.
Tapi siapa yang menyangka, Ariel bisa kembali dalam keadaan selamat tanpa sedikitpun luka. Lu Yao tidak bisa memikirkan cara apa yang digunakan Ariel untuk bisa keluar dari rumah Bordil yang telah dijaga ketat itu.
"Bu, bagaimana ini?, apa yang harus kita lakukan jika Ariel ingin balas dendam dan mengadu pada ayah?!. Jika ayah tau ini semua rencana. kita dia pasti akan sangat marah dan akan mengusir kita dari sini!".
"Itu juga yang ku takutkan!". Lu Yao berteriak marah, dia melanjutkan dengan nada meringis.
"Sekarang, kita tidak ada bedanya dengan daging di atas talenan yang siap di sembelih, dan Ariel lah si tukang daging yang akan mencincang kita!".
Mendengar ucapan Ibunya, Feng Nian seketika merasa merinding. Dia tiba-tiba teringat ekspresi seperti apa yang ditunjukkan Feng Hua ketika menatapnya saat itu.
---Tatapan mata setajam pisau, dengan pupil berwarna hijau seperti ular berbisa, senyum jahat bak setan, dan gerakkan isyarat memotong leher.
"....!!!!". Feng Nian merasa tubuhnya mati lemas. Dia lalu terhuyung dan jatuh kelantai, wajahnya sekarang sangat pucat.
Berakhir, sudah berakhir. Kali ini dia dan ibunya telah terjebak di dalam rencana yang mereka buat sendiri. Entah apa yang menunggu mereka dimasa depan. Mungkin saja mereka nanti akan diusir dari Rumah Feng atau mendapat balas dendam dari Ariel.
Intinya adalah akhir yang menunggu mereka tidak akan pernah menjadi hal yang baik.
...----------+++++----------...
Kota Hangzhou, Rumah sakit Zhejiang.
Dokter tampan dengan senyum lembut menatap wanita muda yang duduk di depannya dengan tatapan halus.
"Saya ucapkan selamat Nona, segera anda akan menjadi seorang ibu".
Mendengar ucapan Dokter muda berjas putih yang duduk didepannya, Ariel langsung terkesiap.
Dia membulatkan kedua matanya, tatapan matanya penuh teror dan ketidakpercayaan.
Ragu-ragu, Ariel kembali bertanya dengan gugup, "Emn...apa maksudmu, Dokter Yan?".
"Ah, maaf. Maksud saya adalah anda sedang hamil Nona", Dokter Yan sama sekali tidak menghiraukan raut wajah Ariel yang terdistorsi dengan ketakutan dan terror.
Dia masih dengan santai melanjutkan ucapannya, "Hasil pemeriksaan medis telah mendeteksi bahwa anda sudah hamil selama dua minggu".
Kali ini Ariel benar-benar syok, alhasil tubuhnya pun menegang seperti batu yang kaku dan mati rasa ditempat.
Masih dengan senyum lembut, Dokter Yan kembali berkata, "Selamat, Nona".
Ariel, ".........."
__ADS_1
Ariel, "Apaa-apaan ini----??!!!".