Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya

Ayah Ceo Memanjakan Istri Kecil Dan Putranya
Mengikuti Audisi Film


__ADS_3


...-----•°•°•°•°•-----...


Ian mengambil posisi duduk didepan Ariel yang letaknya tepat berada seberang meja. Setelah menghempaskan tubuhnya ke Sofa, dia langsung menyerahkan naskah yang terdiri dari selusin lembaran kertas kepada Ariel.


"Ini adalah naskah film yang Paman janjikan padamu sebelumnya".


Ariel menerima naskah tersebut, dan tanpa disuruh pun dia mulai membacanya dengan hati-hati. Setelah beberapa menit kemudian Ariel mengangkat wajahnya.


"Paman, kenapa hanya ada sedikit adegan dalam naskah ini?".


"Ya... itu karena pihak Kru Film ingin menjaga kerahasian cerita film dan Seniman yang mereka filmkan". Ian mulai menjelaskan, "Tidak usah bingung, tindakan Kru Film bisa dikatakan wajar karena tema Film mereka memiliki hubungan yang erat dengan Homoseksualitas dan Gay".


"Ah, rupanya begitu. Oke, aku mengerti", Ariel mengangguk, dia tidak bertanya lagi karena dia paham bahwa konten dan topik mengenai 'Gay' sangatlan rumit dan kompleks. Meskipun Cina sudah mensahkan pernikahan sesama jenis, namun masih banyak orang yang tidak bisa menerima keberadaan peraturan baru tersebut seutuhnya. Keberadaan Homoseksualitas masih cukup dianggap tabu dan dikencam oleh kebanyakan orang.


Jika ada pasangan sesama jenis yang ditemukan ditengah-tengah masyarakat, pastinya segala macam ejekan dan celaan akan dilemparkan pada pasangan itu tanpa ampun.


Masyarakat tidak mau tau apalagi perduli apakah cinta diantara mereka benar atau tidak, yang mereka tau hanyalah Homoseksualitas adalah virus yang harus disingkirkan dari masyarakat.


"Bagaimana?, apa kamu masih tetap mau memainkan film ini?". Ian menatap lurus kearah keponakannya. Ada keraguan dan keseriusan dimata hijaunya yang seperti lautan Zamrud.


"Ya, aku ingin bermain didalam Film ini". Ariel berkata dengan tegas, sambil menatap balik Pamannya dengan Mata hijau Gioknya.


"Apa kamu yakin?, kamu tau kemungkinan buruk apa yang terjadi jika masyarakat tidak bisa menerima nilai pasar dari Film ini?".


Ian mengetuk permukaan meja, suara 'tak tak' terus bergema didalam ruangan untuk sementara waktu.


"Keponakan, aku sebenarnya sangat senang ketika mendengar kamu ingin memasuki dunia hiburan bersamaku".


"Sama seperti aku, ibumu, atau Kakek dan Nenek kami. Keluarga kami semua adalah keturunan Seniman hebat dari Perancis, wajar saja jika semua keturunannya pandai dan berbakat dalam industri ini".


"Aku selalu tau kamu sangat berbakat dan mandiri, dan kamu lebih mampu dari orang lain dalam bidang ini. Namun, Ariel... dunia. hiburan tidak kekurangan orang-orang berbakat".


"Pusat dari dunia hiburan adalah jurang yang sangat dalam, jika kamu berhati-hati disetiap langkah maka kamu akan aman, tapi jika kamu ceroboh... Walau sedikit saja, kamu akan jatuh ke dalam jurang".


"Apakah kamu tau apa yang akan terjadi jika kamu jatuh kedalam sana?, kamu akan ditenggelamkan oleh kegelapan tanpa batas, lalu orang-orang yang menunggumu dibawah jurang akan sekuat tenaga menarikmu agar kamu tidak bisa naik keatas lagi".


"Dan bersamaan dengan itu, orang-orang yang menonton kemalanganmu dari atas tebing mereka hanya akan menatapmu dengan mata dingin tanpa mau mengulurkan tangan".


"Dan yang lebih buruk, mereka mungkin akan menginjak-injakmu, dan membuat harapanmu hancur seutuhnya".


Ian selesai menjelaskan semua yang ingin dia jelaskan. Tanpa menunggu jawaban Ariel dia menutup kedua matanya, lalu mendesah lelah.


Ariel menatap wajah Ian yang sedikit pucat tanpa riasan make up, hati kecilnya berdenyut kecil.


"Jurang yang gelap atau apapun itu, aku tidak takut, Paman".


Ian membuka kembali matanya, tatapannya jatuh pada Ariel.

__ADS_1


"Menurutku jatuh kedalam jurang, melakukan kesalahan, atau gagal bukanlah hal tidak bisa diterima. Yang tidak bisa aku terima adalah berhenti dan menyerah sebelum merasakan keberhasilan".


"Paman, menurutku jatuh kedalam jurang bukan berarti semua harapan akan hancur, itu hanya berarti kita membutuh waktu jeda untuk berdamai dengan diri kita sendiri".


"Aku sudah mempertimbangkan Film ini sejak berbulan-bulan yang lalu. Aku benar-benar ingin bermain di film ini, jika aku tidak serius mengapa aku harus terbang ke Kota ini untuk menemuimu?. Dan aku benar-benar tidak takut. Aku tidak akan ragu sama sekali".


"Aku akan mengikuti Audisi Film ini besok!".


Ariel mengepalkan kedua tangannya, matanya yang bersemangat berkibar seperti api. Tidak ada keraguan, kelemahan apalagi rasa takut, hanya ada kekuatan dan kepercayaan diri yang membara.


"Baiklah", Pada akhirnya Ian mengangguk, dia menatap keponakannya dengan senyum lembut. "Apapun keputusanmu, Paman akan mendukungmu".


"Terimakasih Paman, kamu adalah yang terbaik dari segalanya".


Setelah bertukar pikiran dan membuat keputusan, kedua pasangan Paman dan Keponakan itu lalu mulai membicaraan topik dan gosip tentang dunia hiburan yang tidak habisnya.


...-----+-----+-----+-----...


Keesokan harinya, Ariel bangun sangat awal untuk membuat sarapan.


Setelah memastikan dua pria dewasa dan satu pria kecil sudah cukup makan, Ariel mengangguk puas.


Setelah berpamitan Ariel pergi sambil menyampirkan tasnya dipundak dan berjalan keluar Rumah.


Mengikuti petunjuk dan alamat yang diberikan Pamannya, Ariel dengan mulus mengendarai Porsce Lava Orange (milik Luke) menuju tempat Audisi Film.



Dengan sebelah alis yang terangkat Ariel mulai berpikir, "Rupanya hanya sedikit Artis yang mau bermain di Film Gay. Mau bagaimana lagi, kebanyakan Perusahaan Pialang pastinya tidak mau Artis mereka ikut terseret kedalam arus Film terlarang".


Ariel berjalan ke konter untuk mengambil nomor, dia menunduk untuk melihat nomornya. Di kertas ada guratan Nomor '20' yang sangat mencolok.


Mengabaikan mata perserta Audisi dan Staff yang memperhatikannya, Ariel perlahan berjalan dengan anggun ke arah kursi di pinggir ruangan.


Setelah menepati tempat duduk Ariel mulai membongkar tasnya dan kembali membaca ulang naskah film. Ariel fokus pada kesibukannya sendiri, dia masih belum sadar jika kemunculannya ditempat telah mencuri beberapa pasang mata yang penasaran.


"Siapa dia?, apakah artis pendatang baru?".


"Dari Perusahaan Film mana dia?".


"Heh, dia datang sendiri tanpa Asisten, sungguh..."


"Dia sangat cantik, apa kalian melihat warna rambut dan matanya?, sepertinya dia ras campuran".


"Apanya yang baik tentang hal itu, cantik saja tidak cukup, setidaknya bakat aktingnya juga harus bagus".


Orang yang terakhir kali berbicara menatap Ariel dengan mata iri. Ada kecemburuan yang kuat dimatanya. Secara Psikologis dia tidak seimbang ketika menemukan ada wanita yang lebih cantik dan menarik darinya.


Itu memang sifat seorang wanita yang suka membandingkan kelebihan dirinya dengan kekurangan orang lain. Jika dirinya lebih baik dari orang lain maka dia akan puas, tetapi jika orang lain lebih bagus darinya maka hatinya akan merasa tidak nyaman dan gatal.

__ADS_1


Orang-orang disekitarnya tidak mengatakan apa-apa namun mereka tetap mengangguk. Dengan mata menyelidik dan meremehkan mereka melontarkan tatapan permusuhan yang terang-terangan kearah Ariel yang duduk seorang diri disudut.


Disisi lain, Ariel yang sedari tadi fokus membaca naskah sama sekali tidak memperdulikan cemoohan orang-orang disekitarnya. Bukan karena dia tidak mempunyai semangat juang untuk bertarung, hanya saja dia terlalu malas untuk berdebat dengan sekumpulan lalat hijau yang berisik.


Waktu terus berjalan, dan peserta wanita yang mengikuti Audisi mulai masuk satu persatu sesuai urutan, setelah beberapa menit kemudia mereka keluar dengan wajah yang penuh emosi dan corak wajah yang tidak bisa dimengerti. Beberapa saat yang lalu bahkan ada peserta wanita yang keluar ruangan dalam kondisi menangis...


Ariel menutup naskah ditangannya dan mengembalikannya kedalam tas. Sambil menahan kantuk dia diam-diam berpikir, kapan gilirannya akan tiba?.


"Gila!, tidak masuk akal!, ini tidak masuk akal!".


"Silakan kembali, lebih baik tidak pernah berakting jika anda menganggap peran ini sulit untuk dimainkan".


"Hmp!, ya!, lagipula siapa yang mau memainkan film menjijikan ini, sungguh aku mau muntah!".


Wanita dengan gaun kuning angsa keluar dengan wajah penuh kemarahan. Sebelum membanting pintu dia bahkan masih sempat mengumpat beberapa ratus kata kepada Staff Kru Film yang berada dalam ruangan.


Ada keheningan sejenak, sebelum nomor kembali dipanggil.


"Berikutnya, No. 20. Silakan masuk".


"Yaa!".


Kali ini adalah gilirannya. Ariel sangat bersemangat dan gugup. Meskipun dia penuh percaya diri dan sangat yakin dengan bakat dan penampilannya, namun dia masih menyimpan kegelisahan kecil dihatinya.


Ariel mengingat kembali wajah-wajah peserta wanita yang keluar dari ruang Audisi. Jika Ariel tidak salah ekspresi yang mereka miliki saat itu adalah keengganan, rasa takut, dan jijik?.


Ariel sangat penasaran, jenis Audisi macam apa yang membuat semua peserta wanita keluar dari ruangan audisi sambil membanting pintu?.


"Permisi, saya masuk".


Ariel membuka pintu dan berjalan masuk kedalam ruangan, tidak lupa dia juga menjaga sopan santun dengan menutup pintu terlebih dahulu.


Setelah itu dia berjalan beberapa langkah kedepan sambil mengedarkan pandangannya.


Ada setidaknya lima juri yang duduk di kursi, Ariel menebak mereka sebagai penulis skenario atau produser film, dan sisanya mungkin Investor utama film ini.


Dari lima juri yang paling membuat Ariel terkesan adalah seorang wanita berparas cantik dan sexy, dengan rambut pirang pendek, mata biru seterang langit.


Dengan mata kagum Ariel menyaksikan wanita berambut pirang tersebut berdiri dan berjalan dengan anggun kearahnya.


Setelah berdiri tepat didepannya wanita berambut pirang itu membuka bibir merahnya yang sexy.


"Hai!, Namaku Dahlia Elmer. Aku akan menjadi patner bermainmu dalam audisi ini".


"Kali ini kami akan memainkan adegan ciuman, apakah kamu siap?".


Ada senyum main-main diwajah Model cantik Dahlia, melihat senyumannya yang menggoda dan jahat, Ariel berpikir dengan halus, sekarang dia tau apa penyebab peserta audisi sebelumnya keluar dari ruangan dengan ekspresi horror diwajahnya.


...-----+-----+-----+-----...

__ADS_1


__ADS_2