
...(Anggap ajah yang diatas Ilustrasi Putranya Ariel. Namanya bakalan muncul di Bab berikutnya!...
...(๑'ᴗ')ゞ💚🌷🌸)...
...-----•°•-----•°•-----•°•-----...
Hangzhou, Mansion keluarga Fu.
Mansion Keluarga Fu adalah hunian yang mewah dan megah yang dibangun diatas permukaan gunung yang rata. Lokasinya berada jauh dari keramaian kota, dan dekat dengan alam dan wilayah perhutanan.
Keluarga Fu adalah keluarga besar berusia seabad. Sejak zaman Kekaisaran Qing, Nenek moyang mereka telah berkontribusi besar pada jasa Militer. Keluarga Fu juga ikut andil dalam Revolusi Cina pada tahun 1911 dalam rangka membebaskan penderitaan dan kesengsaraan rakyat.
Hingga bertahun-tahun berlalu, prestasi keluarga mereka tidak pernah dilupakan, meskipun telah sedikit menurun, namun otoritas Keluarga Fu masih berdiri dengan kokoh dan tak tergoyahkan diposisi lingkaran Bangsawan atas.
Ketika kekuasaan berada di tangan Kakek Fu Jichen, Fu Mingchen, gelar dan posisi Militer yang mereka miliki diserahkan secara sukarela pada generasi lainnya.
Sejak saat itu, keluarga Fu mulai mengikuti tren dan perkembangan zaman dengan membuka diri pada dunia luar. Segala macam investasi telah dilakukan, Perusahan juga mulai dibangun satu demi satu, dan proyek-proyek yang gemilang perlahan berjalan dengan lancar mengikuti perkembangan modal dan arus.
Semua pria dan anak-anak yang lahir dari keluarga Fu adalah orang yang cakap dan jenius. Hanya membutuhkan tiga fase penyerahan kekuasaan, dari Fu Mingchen, ke putra sulungnya, Fu Pingyan, hingga pada Fu Jichen saat ini.
Dibawah kendali perluasan dan kepemimpinan Fu Jichen, Grup Fu akhirnya dapat berdiri dengan kokoh menjadi raksasa Bisnis yang ditakuti di Ibu kota.
Fu Jichen sendiri adalah cucu yang paling memenuhi syarat yang dipilih langsung oleh Kakek Fu. Dibandingkan dengan sepupunya yang lain, Fu Jichen yang jenius, mandiri dan dewasa lebih cepat, jelas dia adalah sosok yang paling layak untuk menopang Grup Fu di bahunya.
Semua orang yang pernah menjadi lawan dan pesaingnya pasti akan tau, betapa beringas dan tak terkalahkannya dia dilingkaran Bisnis ini. Fu Jichen, dia seperti Elang yang kuat dan perkasa, dengan dingin berpatroli diseluruh wilayah kekuasaannya, tatapan matanya yang setajam pedang mampu menghancurkan lawan hingga berkeping-keping. Tidak ada yang berani mengusik wilayahnya, semua orang takut padanya dan lebih mengaguminya.
Untuk melawanmya, menghianatinya, atau mengadu dombanya, orang-orang akan berpikir dua kali sebelum melakukan ketiga hal tersebut. Ya, meskipun memang ada beberapa orang yang cukup berani memainkan trik, itu hanya berarti satu hal.
---Orang-orang itu, sedang mencari kematian.
"Chen Yao, kamu bisa mengirim buktinya pada pihak yang berwajib".
"Ini sudah waktunya untuk sekelompok serangga menjengkelkan itu dibasmi".
Fu Jichen dengan dingin memberi perintah. Perintah singkat yang dia keluarkan kali ini nantinya akan membuat goncangan hebat dan merugikan pada beberapa pihak yang tidak beruntung.
Sepasang pupil hitam yang segelap malam melayang dan jatuh pada pemandangan Autumn yang terbingkai lewat jendela.
"Siap, Boss!". Chen Yao yang berada disisi lain tempat, menjawab dengan semangat.
Bip!.
Panggilan telepon ditutup.
Fu Jichen meletakan handphonenya diatas nakas, dengan gerakan ringan tubuhnya yang tegap dan kuat bersandar pada sofa hitam.
Cahaya Matahari pada musim gugur terasa sangat suram, rasanya tidak begitu panas atau dingin, melainkan cukup hangat.
Sinarnya yang hangat dan berwarna keemasan secara lengkap menyoroti profil sempurna pria itu.
---Tampan dan kharismatik, dengan kepribadian tenang dan dingin yang dibalut sempurna dengan penampilan misteriusnya.
Dia adalah Fu Jichen, pria dengan penampilan gentleman yang menyembunyikan hasrat, kekejaman dan keganasannya dalam darah dan tulang-tulangnya.
Fu Jichen bersandar pada sofa. Postur duduknya yang santai namun liar membuat kerangka tubuh yang kokoh, garis-garis otot yang kencang dan kekuatan yang tersembunyi dalam ledakan otot tersebut, terekspos dengan jelas.
Gestur yang santai membuatnya terlihat seperti Black Panther yang sedang beristirahat diatas dahan pohon, walaupun sedang memejamkan mata, namun kesadarannya tetap terjaga dan senantiasa waspada akan lingkungan sekitarnya. Tanpa terkecuali dia tidak membiarkan siapapun melanggar batasan wilayahnya. Karena di wilayahnya sendiri, dia adalah "Pemburu", sedangkan orang-orang yang melanggar batasan wilayahnya adalah "mangsa".
Ini sudah tiga hari semenjak Fu Jichen menetap di Hangzhou, meninggalkan urusan perusahaan pada orang-orang kepercayaannya dan pergi berlibur di kediaman utama Keluarga Fu.
Nyatanya semua pusat bisnis dan perusahaan dibawah nama keluarga Fu berada di Haicheng, namun kediaman utama tempat Keluarga besar Fu tinggal berada jauh di Hangzhou.
__ADS_1
Alasan mengapa kediaman Keluarga Fu tidak dipindahkan ke Haicheng, tempat dimana kekuasaan mereka berada adalah karena Kakek Fu, Fu Mingchen ingin menetap selamanya di Kota Hangzhou, kota yang merupakan tempat dimana dia dilahirkan dan dibesarkan.
Sebagai cucu yang cakap dan berbakti, adalah hal yang wajar untuk sesekali datang ke Rumah utama untuk menyapa penatua.
Di Mansion Fu, Kakek Fu hanya tinggal seorang diri, dia tidak terlalu kesepian karena ada kepala pelayanan yang senantiasa melayani dan menemaninya, juga terkadang putra dan putrinya akan mengirimkan anak-anak mereka untuk bermain dan menemani Kakek Fu.
Tok... tok...
"Masuk".
Kepala pelayanan, Hu Xiang berjalan masuk kedalam ruangan dengan postur lurus dan langkah tegab.
Dengan rambutnya yang telah memutih seluruhnya, bekas luka vertikal di mata kiri, dan tambahan beberapa kerutan di sudut wajahnya, kepala pelayan Hu Xiang masih sama seperti dalam ingatan yang samar-samar muncul dikepala Fu Jichen.
"Tuan muda".
"Paman Hu", Fu Jichen mengangguk, dia menatap pria tua didepannya dan bertanya, "Ada apa?".
"Saya disini untuk menyampaikan pesan, Kakekmu sedang menunggu di Paviliun yang ada didekat danau".
"Aku akan segera kesana".
Hu Xiang tersenyum, dia telah selesai menyampaikan pesan yang disuruh majikannya, jadi tidak ada alasan lain untuknya tetap tinggal. Segera dia bergegas keluar ruangan, menutup pintu dengan pelan, dan pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Fu Jichen menghela nafas pelan dan mulai beranjak dari Sofa.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk turun dari lantai tiga, berjalan mengitari halaman rumah, lalu tiba di Paviliun didekat danau.
Ketika Fu Jichen sampai di Paviliun, dia melihat sudah ada seseorang yang duduk disana.
Ada seorang pria tua tengah duduk bersandar sambil menikmati secangkir teh. Postur duduknya terlihat elegan dan alami, namun juga tangkas dan berwibawa. Meskipun dia tidak memakai kain dan pakaian terbaik, namun itu tidak menutupi aura yang terpancar dari tubuhnya. Aura disekeliling tubuhnya adalah tekanan yang hanya bisa dimiliki oleh orang yang pernah memegang kekuasaan tertinggi dan Otoritas yang tak tergoyahkan.
Fu Jichen berjalan mendekat, dengan hormat dia memanggil pria tua itu, "Kakek".
Tak...
Denga sorot mata menindas yang terpancar dari pupil hitamnya yang gelap, pria tua itu memindai sosok Fu Jichen dari atas sampai bawah.
"Hm, cukup bagus. Untungnya kamu tidak kehilangan kaki atau kehilangan tangan, yah meskipun kamu telah kehilangan ingatan, namun setidaknya nyawamu masih berada di tubuhmu".
Kakek Fu berkata dengan senyum yang bukan senyum. Mata hitam gelapnya menatap profil sempurna cucunya dengan kebanggaan yang tak tersembunyikan.
"Jadi, apakah kamu masih mengingatku?, Kakekmu yang tua dan renta ini?".
"Kakek, jangan katakan hal seperti itu", Fu Jichen memasuki Paviliun dan duduk dikursi yang berada tepat didepan Kakek Fu, "Ingatanku berangsur-angsur telah pulih. Jadi tentunya aku bisa mengingatmu".
"Huh... baguslah", Kakek Fu mendengus, dia mencibir dengan nada jijik, "...Ku pikir aku harus memainkan adegan reunian emosional antara kakek dan cucu yang tidak saling mengenal untuk bisa memulihkan amnesiamu itu".
Fu Jichen, "........."
Fu Jichen terdiam, dia menghela basa berat.
Setelah beberapa saat dia berkata, ".... Itu tidak akan terjadi, Kakek. Karena diantara kamu dan aku tidak ada hubungan emosional yang berarti".
Kakek Fu, "........" Cucunya ini, mau kehilangan ingatan atau tidak, sifatnya masih sama saja, sama-sama menyebalkan.
...-----+-----+-----+-----...
"Bibi Zhou, apa ayahku sudah pergi?".
"Tuan Feng?. Ya, beliau berkata harus kembali lebih awal karena ada urusan penting yang mendesak".
"Oh, begitu...", Ariel tidak bertanya lagi, dia tidak tertarik mengetahui urusan mendesak apa yang sangat dipentingkan Ayahnya.
__ADS_1
Bibi Zhou mengambil selimut tebal dari rak, setelah itu dia berjalan menuju Ariel dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tersebut.
"Hati-hati Nona, cuaca terkadang menjadi sangat dingin dan tidak menentu, jangan sampai masuk angin".
"Ya, Bibi. Terimakasih".
Bibi Zhou memperhatikan raut wajah Ariel. Majikannya tampal tersenyum, namun senyumnya terlihat muram dan kusut.
Bibi Zhou merasa khawatir. Dia khawatir Ariel akan merasa sedih karena Ayah kandungnya hanya menyisikan sedikit waktu untuk menjenguknya, melihat cucunya sebentar, lalu pergi begitu saja setelah menyerahkan hadiah dan bunga.
Sebagai seorang Ayah, bagaimana mungkin dia tidak menyisihkan waktu lebih banyak untuk menemani Putrinya yang baru melahirkan?. Apa seorang ayah di zaman sekarang bisa sesibuk itu?.
"Hah... ini benar-benar...", Bibi Zhou menghela nafas gusar, dia menyesali nasib majikan kesayangannya.
Tidak ada seorang suami yang bisa dipercaya untuk melindungi dan mencintainya, tidak ada seorang ibu untuk membagikan pengalaman dan kasih sayang, juga tidak ada figur seorang ayah untuk menggantikan posisi Suami yang kosong.
Intinya, tidak ada seorang pun dari ketiga orang penting tersebut yang dapat hadir untuk memberikan rasa aman dan kepedulian pada Nona Ariel.
Bibi Zhou sangat cemas, dia takut Nona Ariel akan merasa kesepian dan tidak dihargai. Ibu yang baru melahirkan biasanya sangat sensitif dan mudah mengalami gangguan kecemasan karena perubahan suasana hati dan kondisi emosional yang tidak stabil.
Akan sangat buruk jika Nona Ariel mengalami stress pasca melahirkan, tetapi tidak ada seorangpun disisinya yang bisa memberinya rasa aman dan ketenangan.
Sejak Ayahnya pergi, Ariel tidak berbicara, dia hanya duduk diam dan tenggelam dengan pikirannya sendiri. Dan untuk Bibi Zhou, saat ini dia tengah sibuk bergulat dengan emosi batinnya yang penuh dengan warna dan imajinatif.
Suasana dibangsa pun menjadi sunyi.
....Sampai pintu bangsal dibuka, dan dua orang pria dewasa berjalan masuk kedalam ruangan.
Ian dan Luke berjalan beriringan, kedua tangan mereka membawa berbagai selusin jenis tas belanjaan. Semua tas itu berisi pernak-pernik eksotis yang sengaja dikumpulkan keduanya dari kegiatan "berburu" mereka di Mall.
"Hei!, Sweet Bear, sudah ku katakan, wallpaper Biru adalah warna yang cocok untuk cucu keponakan ku!". Ian dengan tidak sabaran menampar punggung Luke, dia kesal karena tidak bisa membeli hiasan dengan warna yang dia sukai.
Luke mengabaikan tamparan Ian yang terasa seperti goresan kucing dipunggungnya, dengan penuh percaya diri dia berkata, "Merah muda juga tidak buruk, merah muda sangat lucu".
"Cucu keponakanku adalah laki-laki!".
"Dia masih bayi, untuk saat ini dia sendiri tidak tau jika dirinya adalah laki-laki".
Bibi Zhou yang mendengarkan percakapan, "........", Tsk, anak dewasa zaman sekarang....
Ariel, "Kalian... Jelas-jelas aku yang melahirkan bayi, tapi kalian yang menentukan kamar bayi ku!?. Mustahil kan!, aku ingin emas!, kamar bayiku pokoknya harus berwarna emas!!!".
"Keponakanku tersayang, emas terlalu norak, biru jauh lebih cocok, halus dan elegan!".
"Warna biru terlalu membosankan!". Ariel dengan kesal membantah, dia tidak suka biru, melihat warna biru membuatnya tidak nafsu makan. Dan dia tidak ingin bayinya tidak nafsu makan juga.
"Jadi bagaimana dengan merah muda?". Luke diam-diam menyela berdebatan kedua Paman dan keponakan dari samping.
Ariel dengan tegas menolak, "Aku bilang... Tidak!!!".
Bibi Zhou duduk di Sofa kulit coklat, diam-diam dia menyaksikan bergulatan dan tingkah kekanak-kanakan dari tiga orang tersebut.
Senyum santai dan penuh kelegaan menghiasi wajah paruh bayannya.
"Nona Ariel, Bibi merasa kamu tidak membutuhkan lagi kehadiran seorang suami ataupun figur seorang ayah".
Kamu tidak perlu menoleh kesana-kemari untuk mencari orang yang bisa memberimu kebahagiaan, karena orang-orang itu sendirilah yang akan mencari dan menghampirimu.
"Kamu jauh lebih kuat dari Bibi, kamu adalah strong woman yang sesungguhnya".
Jangan khawatir ah. Orang-orang yang mencarimu pasti akan mencintaiku dengan tulus.
Ketulusan merekalah yang akan memberimu rasa aman dan ketenangan batin yang sebenarnya.
__ADS_1