
Mereka berempat berjalan dari arah kantin rumah sakit menuju kamar rawat Vida .Sambil menceritakan cara Agnes mengerjai Morgan Agnes tadi berbohong letak kamar rawat Vida.
Setelah sampai di depan kamar Vida ada suara panggilan atas nama Agnes dan suara itu mirip dengan suara Morgan dan yah ternyata benar itu suara Morgan dengan raut muka yang kesal lantas membuat langkah Morgan semakin di percepat.
"Eh maksud luh apa bohongin gue kaya tadi."
"Dih siapa yang bohongin luh." Dengan tatapan tak suka.
"Udah cepet dimana kamar Vida."
"Apaan sih luh maksa amat jadi orang."Ucap Merisa.
"Luh mau ngapain sih ketemu Vida?."Lalu Agnes melihat kearah tangan Morgan dan ternyata Morgan membawa bingkisan yang mungkin untuk vida.
Lalu Agnes mengambil bingkisan dari tangan Morgan.
"Eh punya gue balikin."
"Luh mau ngasih ini ke Vida kan ya udah sama gue aja tenang nanti gue kasihin ke orangnya."
"Udah luh sana pergi." Kata Melisa.
Ardi hanya melihat semua itu dia tak ingin ikut campur dengan orang yang enggak penting seperti Morgan. Keempat orang itupun langsung pergi dari hadapan Morgan.
"Sial awas aja luh pada yah,gue bakal kasih perhitungan." Sambil mengepal kedua tanganya tak terima jika teman-teman Vida bertingkah seperti itu.
Masuk lah mereka berempat ke kamar rawat Vida ternyata disana Vida sudah bangun dan sedang duduk diatas kasurnya.
"Assalamualaikum." Ardi.
"Walaikumsalam." Semuanya.
"Udah pulang kalian, habis dari mana?."
" Ardi habis dari kantin rumah sakit Bun."
"Koh aku nggak diajak sih?."
"Diajak nenek luh." Merisa " Jalan aja susah luh mau sok-sokan ikut."
"Tau nih bocah." Ucap Merisa.
"Eh tau nggak tadi gue ketemu Morgan dan dia bawa ini buat luh." Sambil menyodorkan bingkisan.
"Ngapain dia kesini terus tau darimana kalo gue ada dirumah sakit."
"Aduh vid siapa sih yang nggak tau luh kalo luh masuk rumah sakit,satu sekolah juga tau kalo luh kecelakaan."Melisa.
Keempat cewek itu terus berbincang,mungkin mereka merindukan satu sama lain sehingga tidak mempedulikan jika ruang itu masih ada yang lain juga.Setelah perbincangan antara Vida, Merisa,Melisa,dan Agnes sudah puas akhirnya ketiga sahabatnya itu pamit untuk pulang karena mereka belum sempat izin keorang tua masing-masing.
"Ya sudah kami pamit pulang dulu yah Om Tante. Pamit Melisa.
__ADS_1
"Iya sayang, makasih udah setia jengukin Vida yah."
"Ah Tante kaya sama siapa aja." Agnes.
"Kami pulang Tante."
"Kenapa harus cepet-cepet pulang sih." Rengek Vida.
"Kita nggak enak takut orang tua Ardi mau ngomong penting sama luh.
"Ah kalian mah gituh."Vida.
Selain sikap yang nakal Vida juga termasuk anak yang manja yang harus di turutu setiap kemauanya.
" Jangan kaya gitu sayang,nanti orang tua mereka cemas karena putri-putrinya belum pulang."
"Kan ada Ardi." Ucap Merisa sambil tersenyum membuat Vida melirik kearah Ardi dan dibalas senyuman olehnya.
"Kayanya Ardi suka sama luh dari tadi dia ngeliatin luh mulu."Merisa sambil berbisik.
"Apaan suh luh,udah sana pulang luh."
"Dih ngusir dasar emak lampir."Agnes.
"Ya udah kita pulang yah."Melisa.
"Asalamuallaikum."
"Walaikumsalam."
"Di lihat-lihat anakmu mirip istrimu Vin."
"Iyalah istri saya kan cantik jadi anak saya juga ketularan cantik.
"Papah". Ucap Arumi membuatnya malu.
Pipi Vida saat ini sudah memerah dia tersipu malu mendengar pujian dari ayah Ardi.
"Nak Tante mau ngomong sesuatu boleh?."
"Boleh Tante."
"Tante kan dari dulu pengin banget punya anak perempuan,pas Tante hamil Ardi Tante kira tante bakal nglahirin seorang putri cantik tapi ternyata tante nglahirin jagoan yang ganteng ini." Sambil menatap Ardi.
"Terus Bunda nyesel gituh nglahirin Ardi."Celetuk Ardi Membuat orang-orang yang ada didalam ruangan terkekeh mendengar Ardi berbicara.
Vida melihat kearah Ardi ternyata dari sikap dingin Ardi terdapat sikap kekanak-kanakan dia akan jadi seperti anak kecil ketika Bundanya berusaha direbut orang.
"Bunda nggak nyesel nglahirin putra bunda yang satu ini, Bunda malah bangga punya anak seperti kamu udah ganteng,pinter rajin lagi lima waktunya terus Bunda nyesel dari mananya iya nggak Yah."Dengan di Jawab anggukan oleh Doni
Vida sedikit tertawa melihat Tante Rani berbicara seperti itu.
__ADS_1
"Tapi Bunda juga pengin punya anak perempuan biar kalo Bunda shoping- shoping bisa di temenin." Dengan muka berharapnya.
Vida hanya mendengarkan ucapan demi ucapan yang dikatakan Rani.
"Udah deh Bun keintinya aja kasian tuh Vida udah nungguin maksud dari semua ucapan Bunda." Seru Doni.
"Tante pengin mulai sekarang kamu panggil Tante dengan sebutan Bunda."
Lalu Vida langsung menatap Arumi Mamahnya,dia tidak mungkin memanggil orang tuanya Ardi dengan sebutan Bunda dan Ayah nanti apa kata orang-orang jika mereka mendengar semua itu,batinnya.
Arumi lalu langsung mengaguk-anggukan kepalanya bertanda Arumi tidak papa jika Vida harus memamggil Rani dengan sebutan Bunda, toh juga Rani dan Doni sudah di anggap seperti keluarga sendiri.
"Bagaimana sayang kamu mau panggil Tante dengan sebutan Bunda?."
Vida pun menjawab"Iya Tante."
"Ko Tante lagi sih."Rani
"Iya Tante eh maksudnya Vida Bunda."Dengan tersenyum.
"Makasih sayang udah,udah mau terima Bunda jadi orang tua kedua buat kamu." Ucap Rani.
"Tapi maaf yah jeng Vida ini anaknya sedikit agak susah dibilangin."Arumi.
"Mamah."Gerutu Vida
Membuat orang-orang tertawa.
"Nggak papa jeng berlahan putriku ini juga pasti akan berubah iya kan sayang?."
"Iya Bun bener,tuh mah bener kata Bunda Rani."
"Oh jadi Mamah dilupain nih."
"Engga dong Mah,Mamah masih jadi orang tua Vida yang paling baik dan paling cantik dan Papah masih jadi Papah Vida yang paling keren seperti Ayah Doni."
Ucapan Vida membuat Jovin dan Doni tersenyum.
Ardi hanya bisa duduk dan mendengar semua ucapan Vida yang menurut dia sangat tidak penting,Ardi merasa saat ini Vida sedikit berubah tidak seperti biasanya yang selalu kasar dan tidak sopan terhadap siapapun.
"Ar kamu baik-baik saja kan?." Tanya Arumi.
"Luh cemburu yah nyokap luh sekarang lebih sayang sama gue dari pada luh?."
"Ngapain gue cemburu gak penting amat."Kesal Ardi.
"Terus putra Bunda kenapa ko dari tadi diem terus sih."Rani berjalan kearah arey yang sedang duduk di sofa bersama Jovin dan Doni.
"Ardi nggak papah Bun." Jawabnya sambil tersenyum.
Hari ini Vida sangat bahagia selain Papah dan Mamah nya sudah kembali menjadi perhatian sama Vida kini Vida punya keluarga baru Ayah Doni dan Bunda Rani dan terakhir Vida jadi sedikit akrab dengan si tuan dingin.kali ini hidup Vida merasa sangat beruntung sekali.
__ADS_1
Bersambung.....