
Hari ini Vida berangkat sekolah dengan muka yang sangat lesu, sebenarnya dia ingin sekali tidak masuk sekolah namun dia sudah berjanji tidak akan jadi anak yang pembangkang dan nakal lagi.
Vida sampai didepan gerbang,jika lima menit lagi dia tidak datang mungkin dia bakal merasakan terlambat sekolah lagi.Untung saja tadi dijalan tidak begitu macet.
Dia turun dari mobil dan langsung berjalan dengan tas yang di gendong di pundaknya.
"Hallo ka Vida." Sapa salah satu adik kelas.
"Hallo." Jawab Vida.
Tiba-tiba dari belakang datang seorang cowok.
"Hai Vid." Sapa Morgan.
"Eluh,mau ngapain?."
"Jalan bareng sama calon pacar gue." Jawab Morgan sambil tersenyum.
"Amit-amit deh."
Lalu di depan Vida ada Ardi yang sedang mengobrol dengan temanya dan tiba-tiba.
"Ardi." Panggil Vida.
Membuat Ardi menengok kearah sumber suara
"Nanti mau ikut pulang kerumah Bunda." Pintar Vida.
"Ok."
Lalu Ardi pun pergi meninggalkan Vida dan Morgan.
"Apa luh bilang Bunda." Tanya Morgan.
"Iya Bunda Rani." Jawab Vida.
"Sejak kapan luh panggil nyokap nya Ardi dengan sebutan Bunda?."
"Sejak gue sakit, kenapa?."
"Luh ada hubungan apa sama dia?." Tanya lagi Morgan.
"Au ah kaya emak-emak luh kepo." Lalu Vida berlari meninggalkan Morgan.
" Vida gue belum selesai ngomong." Teriak Morgan.
"Kapan-kapan aja gue buru-buru." Ucap Vida sambil berlari.
Vida pun pergi daru hadapan Morgan,dia tidak mau bicara terlalu panjang lebar dengan dirinya karena dia tidak mau jika nantinya akan menimbulkan masalah antara Morgan dan Ardi.
Kini Vida tidak lagi berlari seperti orang dikejar-kejar anjing kini Vida berjalan menyusuri koridor sekolah di tengah perjalanan lagi-lagi dia bertemu dengan Chintiya bersama dua orang temannya.
"Eh ketemu lah sama miss perebut." Ucap tya pada Vida.
Namun Vida tidak mendengarkan kata-kata Tya tersebut.
"Woy miss perebut takut luh." Teriak Tya membuat semua siswa yang ada di koridor melihat kearahnya.
__ADS_1
Namun tetap saja Vida tak mendengarkan Tya saat ini dia sedang tidak ingin mencari masalah dengan siapapun terutama Tya, pasal nya dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan melakukan hal yang membuat dia dan keluarganya malu.
Sampailah Vida di kelas, di sana ada tiga sahabatnya yang sedang bergosip.
"Selamat pagi guys." Sapa Vida.
"Pagi cinta." Jawab anak-anak.
Setelah beberapa saat Vida masuk,bel masuk pun berbunyi kini ruangan menjadi hening kecuali suara guru yang sedang menjelaskan materi.
Vida Merisa Melisa dan Agnes dengan baik menyimak semua penjelasan dari Guru nya entah paham atau tidak.
Sudah sekitar tiga jam mereka berada di dalam kelas kini jam istirahat pun.
Waktu istirahat meraka kini dipakai untuk mengganti baju mereka dengan baju olahraga,karena setelah istirahat giliran kelas mereka yang kebagian pelajaran penjaskes pelajaran yang sangat Vida sukai.
"Udah ayo ganti baju " Ucap Merisa.
"Gue males ah."Jawab Vida.
"Luh cari mati sama pak Sucipto?."Tanya Melisa.
"Ah,kalian mah kaya nggak tau gue kalo pelajaran penjas pasti nggak pernah ikut." kesal Vida.
"Dan sejak itu juga luh sering di hukum sama pak Sucipto karena nggak pernah ngikuti pelajaran nya." Ucap Merisa.
"Udah ayo cepet ah kita ganti baju nanti telat kelapangan nya." Ucap Agnes sambil berjalan kearah toilet.
Akhirnya Vida mun mengikuti ketiga sahabatnya itu,kali ini Vida sangat terpaksa mengikuti semua pelajaran.
Mereka pun sudah siap dengan baju olahraga nya,kini mereka sudah ada dilapangan menunggu Guru mata pelajaran olahraga datang.
"Siang Pak."Jawab anak-anak.
"Kamu Vida tumben hadir di mata pelajaran saya." Tanya Pak Sucipto.
"Hehehe si Bapak suka kaya gituh kalo ngomong deh,sekarang kan Vida udah jadi anak baik." Jawab Vida.
"Kamu ini bisa aja alasannya."
"Ya sudah terserah kamu,ok anak-anak hari ini kita belajar bola besar yaitu basket."
"Iya Pak."Jawab semua murid.
Pak Sucipto mulai memberikan materi kepada murid kelas IPS 2, sebenarnya Vida tidak begitu mengertilah dengan permainan bola besar namum Vida pernah memainkan meskipun asal-asalan.
"sekarang kalian coba sendiri-sendiri." Ujar Pak Sucipto.
"Baik pak " Jawab anak-anak.
"Kita mulai sesuai urutan absen Andi." Panggil Pak Guru.
Vida menunggu begitu lama karena nomor urutan absen Vida berada di akhir.Setelah Vida menunggu akhirnya Vida di panggil juga oleh Pak Sucipto.
"Oxvida Titania Aromantika."Panggil Pak Sucipto.
Lalu Vida pun berdiri dan berjalan kearah bola basket.Banyak sekali anak-anak yang memanggil namanya bukan karena permainan bolanya yang bagus namun karena kecantikan Vida yang membuat siap saja yang melihatnya sedang bermain bola sangat keren.
__ADS_1
"Prrtttt." Bunyi suara priwitan.
"Ok cukup Vida, permainan kamu cukup bagus." Ucap beliau.
" Makasih Pak."
Vida pun balik duduk bersama teman-temanya.
"Keren juga luh vid belajar dari mana?." Tanya Agnes.
"Rahasia dong." Jawabnya.
"Ok sekarang kalian akan bermain dengan kelas IPA 3,kamu Merisa Andin Livi Ana sama Oxvida kamu main dengan kelas sebelah, kebetulan kelas sebelah juga dengan olahraga." Ucap Pak Sucipto
Vida kaget mendengar namanya akan bermain basket dengan kelasnya Ardi.
"Gue???." Ucap Vida kepada tiga sahabatnya itu.
" Ya iya lah luh siapa lagi yang namanya Oxvida Titania Aromantika disini." Ucap Melisa.
Vida mendengus dengan kesal pasalny dia sangat malas jika harus bertanding macam ini.
Vida dan empat temanya pun berjalan ketengah lapangan ternyata Tya juga ikut dalam permian itu membuat Vida tambah kesal.
"Hallo miss perebut"Ucap Tya kepada Vida.
"Berisik luh." Ucap Vida kesal.
Kemudian Pak Sucipto meniupkan priwitan menandakan permainan akan segera di mulai.
"Kalian siapa,ingat jangan curang jangan main fisik paham?."Ucap Pak Sucipto dengan tegas.
"Paham Pak."
Setelah Pak Sucipto memberikan aba-aba kepada semua pemain akhirnya permainan pun dimulai.
Permainan kali ini begitu seru karena didalam tim masing-masing ada seorang cewek yang sangat diidolakan oleh semua kaum.
Di tengah permainan dengan jelas Tya bermain curang dia menyenggol bahu Vida membuat Vida tersungkur.
prrtttt....
"Suara priwitan Pak Sucipto,kan Bapak sudah bilang jangan bermain curang. sudah permainan ini cukup sampai disini aja." Ujar Pak Sucipto.
"Huhhhh sorak anak-anak semua." Mereka kecewa karena tadi pertandingan sedang tegang kenapa harus di berhentikan.
Di pinggir lapangan ada Ardi yang melihat Vida tersungkur karena ulah Tya membuat raut wajah Ardi menjadi kawatir.Lalu Ardi memutuskan untuk melihat keadaan Vida.
"Luh mau kemana?."Tanya salah satu teman Ardi.
"Gue mau liat keadaan Vida." Jawabnya.
Sekarang Vida berada di pinggir lapangan dia merasalan sakit di bagian lututnya.
"Kamu nggak papa?." Tanya Ardi.
"Nggak usah sok peduli sama gue,ini semua gara-gara pacar luh." Jawab Vida kesal.
__ADS_1
Teman-teman Vida pun langsung membawa Vida ke UKS sedangkan Ardi masih diam berdiri sendiri entah apa yang harus dilakukanya supaya Tya berhenti untuk menggagu Vida.
Bersambung.....