Badgirl Love Story

Badgirl Love Story
Episode 6


__ADS_3

Sesampainya di rumah Vida tidak langsung beranjak masuk kamar,dia malah berjalan menuju ruang keluarga di sana iya duduk dengan tas yanh disimpan diatas meja tak lupa juga dengan selembar kertas yang tadi di berikan oleh Gurunya itu.


Dengan ditemani sebungkus snek yang tadi dia ambil dari dapur, Vida duduk santai di sofa, ada yang asik dari film itu namun Vida mencoba untuk mencerna kata-kata yang di dengar dan dan dilihat sampai-sampai ada seseorang yang berdiri disebelahnya tidak tau.


"Hallo sayang Mamah sudah pulang." Sapa Arumi.


Tak ada jawaban dari Vida,dia tetap asik menonton televisi karena Arumi telah membuatnya kecewa membuat Vida tak ingin berbicara ataupun menatap wajah Mamah nya itu.


"Kamu kenapa sayang, Mamah sudah pulang ayo peluk Mamah dong." Sambil membuka tangannya


"Oh iya Mamah juga beliin kamu oleh-oleh loh,tarahhh liat sayang tas berwarna pink kesukaan kamu."


Namun tetap tak ada jawaban dari Vida,dia tetap asik dengan film dan sneknya itu.


"VIDA." Bentak Arumi.


Vida menoleh kearah wajah Arumi,dan menatap matanya sepertinya Arumi kali ini benar-benar marah pada nya.


"Mamah itu sedang bicara sama kamu."


"Mamah mau bicara apa, Mamah mau kasih tau aku kalo Mamah habis pulang dari luar negeri aku harus menyambutnya dengan happy iya begitu Mah."ucap Vida dengan nada tinggi.


"Atau Mamah mau bilang kalo Mamah bawain oleh-oleh tas mahal untuk aku iya Mah?.Inget mah aku gak butuh itu semua tas baru baju baru mobil baru aku ga butuh itu semua, aku cuma butuh Mamah yang selalu ada buat aku."


"Sekarang aku tanya sama Mamah, dimana Mamah waktu aku sakit? Dimana mamah waktu aku terpuruk dimana mah???Mamah sama sekali gak peduli sama aku Mamah gak tau bagaimana pertumbuhan aku dan Mamah ga tau rasanya rindu sama orang tua sendiri yang mamah pikirkan hanya bisnis bisnis dan bisnis." Vida tak kuasa menahan air matanya.


" Selama ini aku diam Mah karena aku tidak ingin membenci Papah ataupu Mamah, tapi kenapa Mamah selalunya mementingkan pekerjaan Mamah saja tanpa ada rasa peduli sedikitpun sama Vida.


"Ini semua juga demi kamu sayang," sambil menangis.


"Demi aku mah apa Mamah gak salah bicara seperti itu? Semua bukan demi aku Mah itu semua demi kepuasan Mamah dan Papah aja. Aku gak butuh uang banyak mobil dan rumah yang mewah aku hanya ingin Papah dan Mamah selalu ada buat aku." Vida mengusap air matanya.


"Tapi Mamah gak bisa jika harus meninggalkan bisnis Mamah sayang.


"Terserah,Aku benci Mamah." Lalu Vida pergi dari hadapan Arumi.


Arumi masih menangis di ruang keluarga dia tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini,tapi Arumi juga tidak bisa meninggalkan bisnisnya yang sudah dia rintis dari nol.


Tak hanya Arumi yang masih menangis,didalam kamar Vida pun masih menangis dia tidak menyangka jika orang tuanya lebih memilih pekerjaan dari pada anaknya dia juga tidak menyangka bahwa sekarang dia berani berbicara keras kepada orang tuanya.Dia tidak tau lagi harus berkata apa saat ini yang iya bisa hanyalah menangis.


"Kenapa Mamah setega ini,bukankah aku juga anak Papah sama Mamah." Batinya.

__ADS_1


Tak ingin terlarut dalam kesedihan akhirnya Vida memutuskan untuk keluar dia ingin mencari udara segara karena dia rasa rumah ini sudah terasa seperti neraka.


Vida sudah rapih dengan kaos hitam dan celana jens,dengan rambut yang diikat asal Vida keluar dari kamarnya dia berjalan menuruni anak tangga.


Diruang keluarga masih ada Arumi yang sedang duduk melamun, namun Vida sempat melihat Mamah nya itu namun dia tidak berpamitan kepadanya meskipun Arumi menanyakan akan pergi kemana dia tetap saja Vida terua berjalan menuju garasi.


Vida pergi menuju kafe Romantis tempat dimana dia nongkrong itu.Di perjalan Vida sempat akan menabrak seekor kucing yang sedang melintas dijalan untung saja Vida tersadar dari lamunannya.


Sesampainya di kafe Romantis, Vida segera berjalan menuju tempat paling pojok tempat favorit dimana dia sedang tidak baik-baik saja.Vida memesan minuman yang biasa dia pesan yaitu kopi latte.


Satu jam berlalu,namun Vida belum meminum kopi pesanannya itu dia hanya mengaduk-aduknya dengan sendok, entah apa yang sedang ada dalam kehidupannya namun Vida merasa dunianya saat ini telah hancur, ketika Mamah yang dia banggakan dan selalu jadi panutan sejak kecil berubah menjadi seseorang yang dia benci.


"Aku benci Mamah" Ucap dengan nada tinggi dan tangan yang ditutupkan kemata.


Membuat pelayan cowok menoleh kearahnya lalu berjalan mendekati Vida dan bertanya "Apakah Mba baik-baik saja?."


Vida membuka tanganya dan melihat siapa yang bertanya kepadanya,dia kaget ternya dia adalah Ardi diketua Osis dingin itu.


"Ardi." Kaget.


"Vida,loh kenapa koh nangis?." Tanya Ardi


"Gue gapapa."


Vida tidak menjawabnya dia malah kembali meneteskan air mata, akhirnya ketika Ardi melihat keadaan Vida yang kembali meneteskan air mata memutuskan duduk didepanya. Kali ini Vida hanya bisa diam ketika melihat Ardi duduk dihadapanya.


"Loh pasti seneng kan ngeliat gue terpuruk kaya gini? secara gue adalah cewek yang paling nyebelin,dan sering buat onar disekolah."


" Gue gak bilang kalo gue suka liat loh sedih, gue malah gak suka kalo liat cewek cantik kaya loh menangis."


Kata- kata Ardi seketika mampu membuat pipi Vida memerah.


" Kenapa pipi loh merah gituh?."


" Dih so tau loh."


" Tuh liat udah kaya udang rebus." sambil tertawa.


Vida menatap wajah Ardi,dalam batinya berkata ternyata Ardi tak sedingin apa yang dia pikirkan dia lalu Vida ikut tersenyum.


"Kenapa? loh kaget yah sama sikapa gue yang suka tegas keorang tiba-tiba jadi baik."

__ADS_1


"Engga gue gak mikir kesitu, asli loh so tau sih orangnya."


Ardi hanya terkekeh melihat tingkah Vida yang salah tingkah kaya gituh.


" Btw, tadi loh nangis kenapa?."


Vida hanya diam saja,dia bingung haruskah dia cerita tentang masalahnya itu kepada orang lain.


" Gapapa loh gak mau cerita juga gue ngerti koh." Ardi tersenyum.


"Ar?." Panggil Vida.


" Iya Vid kenapa?."


" Sebenernya gue ada masalah keluarga gue bingung harus apa?."


Akhirnya Vida memberanikan diri untuk menceritakan masalanya kepada Ardi biasanya dia tidak akan seterbuka ini kepada siapapun kecuali kepada sahabat-sahabatnya.Setelah Vida menceritakan semuanya kepasa Ardi hati Vida merasa tenang.


"Menurut gue sih,Mamah loh tuh sayang sama loh makanya dia rela kerja mati-matian demi buat ngehidupin loh meskipun ada Papah loh tapi dia juga pengin ngabantuin dan ngeringanin beban keluarga Vid, loh gak boleh sebenci itu sama orang tua loh nanti loh akan nyesel dikemudian hari mau loh?."


Vida menggelengkan kepalanya " Gue ga mau nyesel dikemudian hari tapi gue juga belum siap kalo harus bicara lagi sama Mamah gue."


" Gue gak maksa loh harus sekarang, tunggu waktu yang tepat ok."


Vida mengiyakan omongan Ardi tersebut.


Akhinya untuk sekian lama baru kali ini Vida tidak ribut jika bertemu dengan Ardi,biasanya Vida akan ribut jika Ardi selalu memperlakukan nya dengan tidak baik namun kali ini tidak.Vida malah sensng bertemu dengan Ardi karena dengan bertemunya Ardi Vida bisa bercerita padanya dan beban pikiranya yang ada pada dirinya sedikit agak berkurang.


" Eh Ar loh kerja disini,bukanya loh anak orang kaya kenapa loh mau kerja sebagai pelayan disini?."


"Ceritanya panjang Vid." Ardi tersenyum "Kapan-kapan gue ceritain deh yah."


Setelah perbincangan Vida dan Ardi akhirnya Vida memutuskan untuk berpamitan pulang karena hari sudah semakin sore.


"Gue pulang dulu yah."


"Hati-hati di jalan Vid inget jangan nangis lagi."


Kali ini Vida menjawab dengan tangan yang membentuk huruf O lalu pergi dari hadapan Ardi.


Bersambung........

__ADS_1


Ardi Wildan



__ADS_2