BAYANG MASA LALU

BAYANG MASA LALU
BML Part 11


__ADS_3

#Bayang_Masa_Lalu_11


Pernikahanku tinggal 2 minggu lagi. Sama seperti sewaktu lamaran. Semua juga dilangsunkan dirumahku. Aku membuka lemari bajuku memasukkan kebaya yang akan kupakai nanti.


Mataku terarah pada jaket kulit yang tergantung di gantungan paling ujung. Ah kenapa ada rasa rindu yang mengelitik hatiku. Aku meraihnya dan kukenakan kemudian, kupejamkan mataku membayangkan hangatnya pelukan mas Firman.


Ah aku buru buru melepaskanya dan mengembalikan ke tempat semula.


Pergi pergi pergi... aku memukul mukul kepalaku untuk mengusir bayangan mas Firman dari otakku.


Rangga selalu menjauh tiap menerima telepon dari seseorang. Aku merasakan perubahannya setelah dia meeting ke kantor pusatĀ  bulan lalu. Aku beranikan diri bertanya padanya, karena aku tau itu bukan kebiasaannya.


"Enggak ada apa apa sayang, cuma masalah kerjaan kok" kilahnya. "Nggak enak ntar ganggu kamu" tambahnya.


Aku tak meneruskan pertanyaanku. Kalau aku tak mendapat jawaban dari Rangga. Aku pasti akan menemukan cara lain untuk menemukan jawabanya.


"Sayang aku minta maaf ya" ucap Rangga sambil mencium tangganku.


Itu sering dia ucapkan tiba tiba dan cukup membuatku heran.


Pernikahanku tinggal minggu depan, rasanya nano-nano.


Akhirnya sebentar lagi kami resmi menjadi pasangan suami istri.


Setelah melewati banyak hal bersama. Aku yakin Rangga bisa membahagiakanku dan menjadikan hariku semakin indah.


"Sayang sebentar ke toilet dulu ya" pamitnya. Suatu siang ketika kami janjian makan siang diluar.


Beberapa hari ini mukanya terlihat tegang, mungkin karena sebentar lagi akan memulai suatu tahapan hidup yang baru pikirku.


Walaupun hampir setiap hari kami bertemu aku juga masih merasakan ketegangan itu.


Ponsel Rangga berdering, aku mengesernya untuk melihat siapa yang menelponnya. Hanya ada tulisan Xxx. Aku membiarkannya sampai pangilan itu berhenti.


Tiba tiba rasa penasaranku mengusik, aku masih inggat dia menjauh dariku saat menerima pangilan dari nama ini.


Ragu kuambil ponsel Rangga, dan membukanya.


Dia masih mengunakan skema yang sama untuk paswordnya.


Aku memeriksa di aplikasi WA nya. Ada pesan dari Xxx yang belum dibuka, entah kenapa jariku jadi gemetaran.


"Mas, aku sudah terlambat 10 hari. Harusnya tanggal 16 aku sudah haid. Bagaimana kalau aku hamil"


Tangganku semakin bergetar, aku scrool layar keatas untuk membaca pesan pesan sebelumnya.


Dadaku sesak sekali, Bramantyo desahku geram. Aku segera menghapus pesan terakhir dengan pilihan hanya untuk saya. Dan mengembalikan ke tempat semula.


Tak berapa lama Rangga datang dan langsung memeriksa ponselnya.


"Ada apa sih?" Tanyaku sambil melongok keponsel yang dipegangnya.


Hambar sekali rasa makanan kesukaanku ini, mungkin kokinya lupa memberinya garam dan rasa lainnya, atau seleraku yang sebenarnya sirna.


Aku bersikap biasa sampai aku turun didepan kantorku. Melambaikan tanganku dan menyungging senyumku.


"Sint, kakak ga balik kantor ya. Titip sampai minggu depan. Kamu hubunggi kakak kalau ada yang penting. Oh ya jangan lupa ajak mama kamu ya hari rabu depan" jelasku panjang lebar pada Sintia.

__ADS_1


Aku menghempaskan tubuhku kekasur,


"Bodoh bodoh bodoh" teriakku semoga tak ada yang mendengarku.


Pesta konyol macam apa itu, dasar Rangga bodoh... aku memukul kasar bantal dipangkuanku. Aku meremas remas rambutku kasar. Entah apa yang aku rasakan sekarang, tak dapat ku uraikan.


Viona yah Viona aku ingat dia sekarang dikantor pusat, pasti tahu tentang wanita itu, aku harus mencari tahu tentangnya.


"Sayang kamu terlihat tidak biasa" tanyaku melihat wajah kusutnya. Antara marah kasihan dan berbagai macam rasa bergelayut didadaku.


"Apa kamu gugup dengan pernikahan kita nanti?",aku bergelayut dilengan calon suamiku itu" aku juga, kamu pasti dapat mendengar dadaku yang bergerumuh" aku mendekap tanganya didadaku.


Rangga memeluk, mendekapku erat, "maafkan aku" bisiknya berulang.


"Untuk apa" tanyaku. Rangga hanya mengeleng dan semakin mempererat dekapannya.


"Mba Nabila ada tamu" ucap Nini ketika aku baru turun dari mobil Rangga.


Aku mengekorinya menuju ruang tamu.


Seorang wanita kemudian berdiri saat melihatku datang.


"Silahkan duduk" ucapku ramah, tapi kenapa tiba tiba tidak perasaan tak nyaman menyergapku"


"Ada perlu dengan saya" tanyaku kemudian.


"Sa.. saya Karin" ucapnya berbata.


Aku menatapnya dengan seksama.


"Sa saya hamil " lanjutnya


"Saya hamil dengan mas Rangga.. ca calon suami kamu" terangnya.


Aku berakting terkejut "omong kosong apa yang kamu bicarakan".


Rangga datang mendekat wajahnya pucat pasi.


"Kamu tanyakan sendiri pada dia" tunjuk wanita itu kearah Rangga.


Ranggga terduduk, seolah tak ada tulang lagi ditubuhnya. Pria malangku bathinku


"Sayang..." pangilku, Rangga hanya tertunduk.


"Aku tak ingat apa apa" jawabnya lemah.


Aku menarik wanita itu keruang kerjaku, aku tak inggin orang lain tau hal ini.


"Mau kamu apa?" Tanyaku kemudian


"Mas Rangga bertangung jawab pada bayi ini" jawab Karin


"Menikahimu?" Tanyaku, Karin menganguk, "Rangga mau?" Tanyaku sedikit sinis, karin mengeleng.


"Dia akan menikahimu" ucapnya kemudian.


Ada kekesalan disuaranya.

__ADS_1


"Maaf tapi bukankah kamu berhubungan dengan banyak pria" Karin menatapkun, saat kuucapkan hal itu.


"Tak perlu menatapku seperti itu" tandasku.


"Tapi ini beneran anak rangga, kami memang sama sama mabuk waktu itu. Aku haid terakhir 2 minggu sebelum kejadian itu. Tak mungkin aku hamil dengan yang lainnya, karena setelah haid aku hanya melakukan hubungan di malam itu" jelas Karin kemudian.


"Sial sekali ya berarti Rangga" ucapku sinis.


"Bayi ini harus memiliki ayah" ucapnya sambil memegangi perutnya.


"Apa kamu baru pertama ini hamil?" Selidikku tatapan tajam kuhujamkan ke matanya. Tanpa mejawab aku sudah dapat membacanya.


"Kamu suka, kamu jatuh cinta kan sama Rangga" Karin hanya terdiam.


"Kalau kamu tak bisa membantuku, aku akan bicara sendiri dengan orang tua Rangga". Tantang Karina.


"Kamu mengancamku?" Mataku mendelik.


"Aku harus bagaimana? Aku hanya minta mas Rangga bertangung jawab menikahiku" nada suara Karin meninggi.


Aku terdiam, entah kekuatan apa yang merasukiku, aku tak setegar ini biasanya.


"Aku sendiri yang akan meminta Rangga menikahimu, tapi setelah dia menikahiku, itupun kalau dia mau" ucapku.


'Hey kamu pikir aku akan menangis meraung raung (walau sudah kulakukan), terus akan bilang pergi Rangga pergi, pergi... aku tak mau melihatmu lagi. Aku benci kamu. Dan misimu berhasil oh tidak... tak semudah itu sayang' tapi itu kalimat itu hanya berhenti dipikiranku.


"Aku akan menemui orang tua mas Rangga" Karina berdiri dari kursinya


"Oh silahkan, setauku kamu tak punya bukti apapun" aku ikut berdiri dan berjalan mendekatinya. Karin kembali duduk.


Aku simpulkan hal itu dari chat WA nya dengan Rangga.


"Tak sulit bagiku untuk membuat Rangga melupakan kejadian yang tak diingatnya. Kamu tau, dia hanya takut kehilangan aku" ucapku percaya diri.


"Kamu ya, gak ada empatinya sesama wanita, gak punya hati aku yang sedang mengandung anak mas Rangga, dia harus bertangung jawab" Karina terlihat semakin emosi.


"Kamu sendiri apa punya hati" balasku" apa kamu pernah mikirin perasaan orang lain, perasaanku?".


"Tapi kamu tidak mengandung, aku yang sedang hamil"


"Aku sudah bilang, aku sendiri yang akan meminta mas Rangga menikahimu, asalkan kamu ikuti semua kata kataku" aku mecengkram bahu wanita itu.


"Jangan pernah muncul lagi sampai acaraku selesai, aku yang akan menemui kamu, dan hilangkan pikiran pikiran konyol dari otakmu ". Aku melepas cengkraman tanganku.


Aku mempersilahkannya pergi tanpa kata.


Rangga masuk keruangan setelah melihat Karina pergi. Aku masih berdiri. Melipat kedua tanganku. Dia menatapku sayu, aku membuang pandanganku.


"Kenapa kamu tak jujur padaku" tanyaku tanpa melihatnya.


"Aku aku masih bingung, aku sendiri tidak tau apa yang sebenarnya terjadi" jelas Rangga sambil mengangkat tangannya.


"Bram dan Decky mengajakku pergi, aku sudah menolaknya tapi mereka memaksaku. Bram mengajak serta Karina, yang aku sendiri baru bertemu untuk ke 2 kali nya waktu itu. Bram mengerjaiku dengan apa aku gak tau aku benar-benar tidak ingat apa-apa, ketika bagun aku dan Karin sudah dikamar itu".


Kualihkan kembali pandanganku ke calon suamiku ini. Aku telah bersamanya lebih dari 3 tahun, hampir setiap hari pasti kami bertemu. Aku tau betul bagaimana sifat dan keseharianya, kelebihan dan kekuranganya.


Tapi semua sudah terjadi, aku tak mungkin membatalkan pernikahan ini, dan akupun tak berniat sama sekali. Tapi bagaimana aku mengatasi Karina selanjutanya. Aku hanya menggertaknya, untuk menahan kenekatannya sampai acara kami selesai saja.

__ADS_1


Next....


__ADS_2